Pacar Online Yang Tertukar

Pacar Online Yang Tertukar
Bab 58 Bersyukur memiliki sahabat sepertimu


__ADS_3

Esok pagi pun tiba.


“Uhhh” Vio bangun dengan menggeliatkan tubuhnya untuk merenggangkan otot-ototnya. Kemudian dia beranjak ke kamar mandi dan berwudlu untuk menunaikan kewajibannya sesuai perintah Allah.


“Alhamdulillah, Engkau bangunkan aku dengan badan yang terasa amat segar Ya Robb” ucapnya menengadahkan kedua tangannya sebelum pergi ke kamar mandi kemudian melanjutkan aktivitasnya kembali.


Hingga setelah subuh, Vio yang tidak lupa untuk membaca Al Qur’an, mengalunkan suara merdunya hingga memenuhi kamarnya. Setelah mengaji, Vio keluar kamar untuk melihat baby Re.


“Assalamu’alaikum, Ren, kamu sudah bangun?” sahut Vio mengetuk pintu.


“Wa’alaikum salam” Rena membuka pintu kamarnya.


Rena dan Vio saling melemparkan senyum dengan Rena rambut yang masih acak-acakan pertanda dia baru bangun dari tidurnya akibat kelelahan mengurus baby Re sendirian tanpa seorang suami meskipun dibantu baby sitter.


“Baby Re masih tidur?” tanya Vio menerobos masuk kamar tamu yang sekarang ditempati Rena dan baby Re.


“Hm” jawab Rena lalu merebahkan kembali tubuhnya ke atas kasur terlihat lelah dengan mata terpejam kembali.


“Hei! Ayo sholat dulu. Lalu mandi biar segar ASImu buat baby Re nanti” ucap Vio menarik tangan sahabatnya itu untuk bangun dan melaksanakan sholat subuhnya.


“Iya iya..tapi aku masih mengantuk Vi. Bentar aja ya” dengan mata terpejam Rena malas untuk bangun.


“A’uudzubillaahi minashshoitoonirrojiim. Pergi kau!” ucap Vio berpura-pura meniupkan ke seluruh badan Rena.


“Emangnya aku setan apa? Enak aja kamu gituin aku. Iya nih aku bangun. Ntar kalo kamu udah punya anak baru tahu rasa. Huh!” Rena lalu beranjak untuk melaksanakan kewajibannya sambil memanyunkan bibirnya.


“Hahahaha” Vio pun tertawa, namun naas, baby Re terbangun karena merasa terganggu ketawanya.

__ADS_1


“Oekk oeekk oeekkk” tangis baby Re.


“Uhh, mami nakal ya, cayang. Eleh eleh cayangnya Momy” gendong Rena yang mengurungkan jalannya menuju kamar mandi.


“Eleh eleh langsung diam dipeluk Momy kamu ciiiihh. Emeshhh emeshh baby Mami. Sini sama Mami dulu ya. Momy mau sholat dulu” ucap Vio menyodorkan tangannya untuk menggendongnya kemudian Rena mengulurkan baby Re ke Vio.


“Tanggung jawab harus diemin baby Re loh. Awas aja dia rewel. Huh” jewer Rena ke telinga Vio.


“Aduh. Momy nakal ya Re” Vio mengaduh memegang telinganya dengan tangan kanannya.


Mereka berdua tertawa setelah melihat baby Re menggeliat tersenyum ketika berada di gendongan Vio. Tampak baby Re tertidur kembali dengan pulas. Wajah yang tampan dan menggemaskan. Wajah yang sangat mirip dengan Rena versi kecilnya namun dengan bentuk alis yang mirip dengan ayah biologisnya.


Setelah dua jam menemani dan bermain bersama baby Re, kini Vio menyerahkan baby Re pada baby sitternya untuk segera dimandikan biar bertambah wangi dan segera berjemur di halaman belakang mansion bersama Mami. Setiap pagi baby Re berjemur dengan Mami atau Papi. Hal itu seolah sudah menjadi tugas mereka berdua. Mami sama Papi sangat bahagia mendapat seorang cucu meskipun bukan dari darah dagingnya sendiri. Bagi mereka Rena yang saat ini sebatangkara itu, adalah anak angkat keduanya setelah Farel.


Triing triiing triiing


Bunyi ponsel Vio terdapat panggilan dari Farel.


“Hei adik donut! Ucapin salam kek dapat telpon dari kakak. Gak langsung nerocos nanyain ini itu” ucap Farel gemas.


“Hehe. Assalamu’alaikum Kak Farel! Kakakku yang ganteng dan tukang marah, kenapa baru menelponku? Beberapa waktu yang lalu telponku tidak diangkat dan membalasnya. Huh! Kejamnya dirimu, Kak!” jawab Vio kesal.


“Wa’alaikumsalam. Maaf Kakak bener-bener sibuk banget. Baru sempat sekarang makanya langsung nelpon kamu. Alhamdulillah semua sehat. Mami gimana kabarnya dan semua?” jawab Farel tertawa.


“Kakak gak jadi dimutasi kan?” tanya Vio.


“Nah itu, Vi. Kakak bingung. Gimana Raka sama Siska jika aku tinggal sekarang? Sedangkan Siska sekarang tidak mau diajak. Karena ibunya kini sering sakit dan harus rutin control. Kamu tahu sendiri kan siapa yang akan membantu ibunya jika Siska aku ajak mutasi” ucap Farel terdengar bimbang.

__ADS_1


“Sedangkan jika tidak mau dimutasi, maka kakak harus mengundurkan diri bukan?! Kakak tidak usah bimbang. Kebetulan Perusahaan Papi disini membutuhkan seseorang untuk mengelolanya. Kakak, Kak Siska sama mama pindah aja ke Kota Besar. Nanti biar aku yang mengurus kepindahan kakak sekeluarga. Sekaligus nanti mama bisa control di rumah sakit kami. Kakak ataupun Kak Siska tidak kepikiran. Bagaimana? Jika mau aku akan bilang sama Papi sekarang. Sedangkan aku harus segera menangani perusahaan Papi yang ada di luar negeri” ucapan Vio itu semakin menambah ragu-ragu Farel.


Dulu dia tidak mau saat ditawari oleh papinya Vio, tapi sekarang, disaat dia harus memilih antara mutasi dan mengundurkan diri, dia menjadi bimbang padahal ini adalah kesempatan yang bagus.


Sedangkan usaha WOnya kini sedang mengalami krisis akibat ada WO lain yang menjatuhkan namanya.


“Nanti aku akan bicarakan dulu sama Siska dan mama. Ya sudah ya, Vi, lain kali kita sambung lagi. Assalamu’alaikum” ucap Farel menjadi lesu.


“Baiklah, Kak. Tenang saja tidak usah dipikirkan. Aku tidak memaksa kok. Wa’alaikumsalam” Vio menutup panggilan telepon itu.


“Ada apa denganmu, Kak?” lirih Vio memegang ponselnya didepan dadanya sambil berpikir.


“Tolong selidiki, Kak Farel. Semuanya dan laporkan padaku malam ini!” titahnya melalui ponselnya pada bawahannya.


“Aku yakin ada sesuatu yang kamu sembunyikan, Kak” batinnya.


Triiing triiing. Bunyi ponsel Vio yang beberapa hari ini dia aktifkan nada deringnya setelah mendapat semprot dari maminya gara-gara ditelpon maminya beberapa kali Vio tidak mendengarnya.


“Ya, Jim. Ada apa?”


“…….”


“Baiklah” jawabnya lalu pergi menuju meja makan bersiap untuk sarapan dan berangkat kerja. Vio selalu sarapan ditemani Rena setiap pagi jika akan berangkat kantor karena Mami dan Papi selalu menjemur baby Re.


“Sarapan sudah siap. Ayo segera sarapan dulu. Nanti perut kamu sakit jika tidak sarapan. Pagi ini aku masakin sarapan enak dan sehat buat kamu sama mami papi” ucap Rena menata semua lauk pauk di atas meja makan.


“Alhamdulillah aku bersyukur sekali memiliki sahabat seperti kamu. Kamu selalu pengertian dan perhatian terhadapku” air mata Vio hampir lolos membasahi pipi mulusnya. Namun langsung diseka oleh Rena yang tersenyum manis.

__ADS_1


“Kamu sudah seperti adikku sendiri. Aku yang beruntung memilikimu. Sudah menganggapku yang orang lain ini sebagai saudaramu dan dengan kebaikan mami dan papi yang sudah menerimaku sebagai putri angkatnya. Hidupku kini tak sendiri lagi. Kamu tahu itu, keluarga adalah segalanya bagiku” ucapan Rena dengan wajah sedih namun tetap tersenyum itu, lagi-lagi membuat Vio menangis dan memeluk Rena.


“Sudah sudah. Ayo kita sarapan dulu. Biar perutmu tidak sakit dan baby Re mendapatkan ASI yang segar” ucap Rena lagi lalu melepas pelukan itu. Kemudian mereka sarapan dengan lahapnya. Sementara baby Re berjemur bersama Oma dan Opanya di halaman belakang. Setelah sarapan selesai tak lupa Vio berpamitan sama mami dan papinya juga baby Re. Kemudian dia berangkat ke kantor dikawal oleh Monti.


__ADS_2