Pacar Online Yang Tertukar

Pacar Online Yang Tertukar
Bab 63 Jantung yang berdebar


__ADS_3

Keesokan harinya di mansion keluarga Atmadja.


"Baiklah. Kamu tunggu disana. Nanti aku akan menyusul" jawab Vio menerima telepon dari Ranti asistennya.


"Ada urusan yang belum kelar?" tanya Tuan Atmadja pada putrinya setelah menyeka mulutnya dengan serbet makan. Setelah seharian penuh kemarin merenungi penyesalannya, kini hati Vio merasa lebih baik. Begitu merasa lebih baik, Vio minta dijemput papinya sepulang papi dari kantornya. Pagi ini mereka menghabiskan sarapannya dengan lahap setelah seharian penuh menguras pikirannya.


"Tuan Albert meminta bertemu siang nanti. Alhamdulillah kerjasama brand Vio sudah berakhir dengan A&W Group. Jadi beliau meminta bertemu di restoran milik keluarga Pramudya. Setelah itu Vio siap berangkat ke luar negeri, pi" jawab Vio menjelaskan pada papinya sesuai apa yang disampaikan Ranti.


"Selamat pagi, Opa, Oma, Mami. Re sudah siap nih mau diajak jalan-jalan" sapa Rena menuruni tangga dengan menggendong Baby Re yang sudah tampan. Seketika semua orang disana menoleh dan tersenyum bahagia.


"Eleh eleh cucu Oma. Sini ikut Oma ya. Momy mau sarapan dulu. Biar nanti makananmu penuh" ucap Mami yang kini mengalihkan gendongan baby Re ke gendongannya. Dengan gemas Oma mencium pipi gembulnya. Bayi yang kini berusia menginjak tiga bulan itu terlihat montok dan menggemaskan. Kini tidak hanya mami yang gemas, giliran Vio mencium gemas pipi gembulnya.


"Uhhh anak mami gemess" gemas Vio dan berhasil membuat baby Re menunjukkan lengkungan dibibirnya. Semua yang ada di meja makan tertawa gembira melihat itu.


Setelah beberapa jam berlalu, Mami, Papi dan Rena serta baby Re keluar untuk berjalan-jalan. Dan kini Vio pun berangkat ke kantor.


Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul dua siang. Kini waktunya bertemu dengan pemilik perusahaan fashion.


Setelah tiga puluh menit menempuh perjalanan, Vio tiba di restoran yang sudah ditentukan. Tentunya Ranti sudah tiba terlebih dulu.

__ADS_1


"Selamat datang, Nona Atmadja" sapa Albert berdiri membungkukkan setengah badannya.


"Terimakasih, Tuan Albert" sapa Vio.


Ranti yang sudah tiba terlebih dahulu pun membungkukkan badannya juga menyapanya.


"Bagaimana kabar anda, Nona? Setelah malam itu mohon maaf, Nona, saya baru sempat mengajak anda untuk bertemu" ucap Albert.


"Alhamdulillah kabar saya baik, Tuan. Tidak apa-apa, Tuan" ucap Vio ramah menampilkan senyum terbaiknya.


"Segala sesuatunya sudah saya jelaskan pada Nona Ranti asisten anda barusan" ucap Albert menjelaskan perjanjian kerjasamanya.


"Ya. Saya akan memeriksanya. Bagaimana perjalanan acara anda di luar negeri, Tuan Albert?" tanya Vio hanya berbasa basi karena merasa canggung tidak ada yang dibahas.


"Hei, bro!" tiba-tiba sosok tinggi gagah bak seorang model itu menyapa Albert dari arah belakang Vio. Tentu saja Vrish tidak tahu jika wanita dihadapan Albert itu Vio.


"Halo juga, bro! Kemana saja kau ini? Baru nampak hari ini. Sombong sekali kau sekarang tak menghubungiku. Sungguh kau tidak sopan. Kau sudah mengganggu acaraku siang ini disini dengan tamu agungku" ujar Albert yang bertemu dengan sahabat dinginnya itu.


"Siapa suruh kau bertemu ditempatku" jawab Vrish lalu menengok tamunya kawannya itu. Vrish tersontak kaget. Berbeda dengan Vio. Semenjak mendengar suara Vrish, Vio sudah bisa menebak bahwa itu adalah Vrish. Hanya jantung Vio berubah sangat mengguncang seluruh tubuhnya. Entah kenapa jantungnya tiba-tiba berdebar saat mendengar suara Vrish yang tiba-tiba. Tapi dia berusaha bersikap tenang.

__ADS_1


"Rubah kecilku" batin Vrish tersenyum senang. Gelagat itu diperhatikan Albert. Kini Albert jadi tahu bahwa hati temannya yang dingin itu sudah ada yang melelehkannya. Lirikan Albert bergantian antara Vrish sahabatnya itu dan Vio, koleganya.


"Ehemm" deheman Albert sontak membuat Vrish kaget karena tatapannya ke Vio sangat dalam dan matanya tak berkedip. Seketika Vrish salah tingkah dan Vio yang dilihat Albert dan Ranti tetap pada duduknya yang tenang.


"Kenapa kau tidak mengenalkannya padaku jika Nona Atmadja ini tunanganmu?" kata-kata Albert itu sontak membuat keduanya saling bertatapan dan salah tingkah.


"Sudah tidak usah jaim begitu padaku. Aku sudah tahu. Meskipun baru beberapa waktu yang lalu" ucap Albert lagi. Albert mengetahuinya dengan tidak sengaja saat melihat cincin yang dipakai Vio waktu pertama bertemu. Karena cincin itu adalah hasil rancangannya pertama kali dia mendesain perhiasan. Dan itu dia hadiahkan pada sahabatnya itu. Lalu dia menyelidiki berita trending itu dan ternyata dia tidak menyangka jika koleganya Nona Atmadja itu adalah tunangan dadakannya sahabatnya itu. Apalagi dia pernah memergoki Clara yang sedang berdebat dengan Vio saat di kantornya waktu itu.


"Maaf, Tuan. Berhubung sudah selesai kerjasama kita, jadi kami mohon undur diri. Terimakasih atas semua kerjasama ini, Tuan Albert. Tuan sudah membantu perkembangan perusahaan kami. Sekali lagi kami ucapkan terimakasih" ucap Vio bangkit diikuti Ranti lalu membungkukkan setengah badannya. Kemudian mereka berpamitan. Vrish yang melihat Vio melangkahkan kaki keluar dari restorannya itu, ingin menyusulnya namun langkahnya tertahan karena tangannya dicekal oleh Albert.


"Jelaskan padaku" tatapan Albert meminta penjelasan pada sahabatnya itu. Akhirnya Vrish duduk dan menjelaskannya semua tanpa ada yang ditutupi.


"Apa? Kamu gila? Hei! Masih waras kan kamu? Cari pacar kok di game. Hei! Kemana Tuan Muda Pramudya yang ku kenal selama ini? Sungguh seleramu sangat rendah" ejek Albert dengan tertawa terbahak-bahak.


"Lebih rendah mana seleraku atau seleramu? Wanita licik aja kau tiduri" ucap Vrish membuat kaget Albert. Ternyata sahabatnya itu sudah tahu. Tapi keterkejutannya tidak berlangsung lama. Albert mampu menetralkan rasa terkejutnya itu segera.


"Bukankah kau berutang budi padaku? Dengan begitu kau bisa terbebas dari perjodohan konyol itu bukan?" jawab Albert yang masih menertawakan kekonyolan sahabatnya itu. Setahu dia, temannya itu pilih-pilih dalam mengenal seorang wanita. Tidak tahunya dikadali seorang wanita dalam sebuah game. Hal ini sangatlah lucu bagi Albert.


"Tak usah kau berbuat begitu aku juga tidak akan pernah menanggapinya. Wanita licik dan tamak seperti itu bukan tipeku. Silahkan kau ambil sepuasnya" ucap Vrish juga datar.

__ADS_1


"Awal aku bertemu dengan Nona Atmadja sempat aku menyukainya karena dia wanita yang sangat berkelas. Namun setelah aku mengetahuinya. Rasanya aku tidak akan sanggup bersaing denganmu" ucapan Albert itu mengundang kemarahan Vrish.


"Apa kau bilang? Kau tertarik padanya? Awas saja kau mengambil milikku. Aku tidak akan mengijinkan dia disentuh oleh laki-laki lain. Siapa yang berani maju akan aku habisi" jawab Vrish marah menarik kerah baju Albert. Sedangkan Albert hanya tertawa bahagia. Akhirnya melihat temannya yang hatinya bagaikan sebongkah gunung es leleh juga.


__ADS_2