Pacar Online Yang Tertukar

Pacar Online Yang Tertukar
Bab 66 Gelisah


__ADS_3

Di lain tempat.


“Kenapa kalian tidak bisa menemukannya!” gertak Vrish terhadap anak buahnya di sambungan telepon. Jefry yang mendengar itu, merasa sangat tertekan. Seolah nafasnya terasa sesak. Semarah-marahnya tuan muda Pramudya, selama ini tidak pernah melihatnya semarah dan semengerikan ini auranya.


“Kemana dia? Kenapa bisa tak terlihat?” gumamnya menggertakkan giginya. Dia merasa sangat marah. Kini dia sadar bahwa dia telah jatuh cinta padanya. Dia merasa bahwa wanita itu sangat berbeda dengan yang lainnya. Wanita perkasa yang judes.


“Dasar, tuan muda. Hanya karena seorang wanita, dia sangat kelimpungan seperti ini. Bagaimana jika jadi menikah dengan nona muda Atmadja. Seposesif apa dia ya?! Kuakui nona muda, kau memang the best. Ternyata seekor singa masih ada sesuatu yang dia takuti” batin Jefry agak geli.


“Tidak usah memakiku” ucap Vrish menatap Jefry dingin. Kemudian dia meraih laptop di atas meja kerjanya di apartemennya.


“Pergilah!” titahnya yang tidak mau konsentrasinya terganggu karena ingin menyelidikinya sendiri.


Setelah kepergian Jefry, jari jemari Vrish dengan lincahnya mengotak-atik banyak angka. Dan setelah dia menemukan jejak mobil milik Vio itu, Vrish terkejut.


“Hm. Rubah kecilku, kau sangat lincah. Kau sangat lihai rupanya” menampilkan senyum miringnya.


“Tapi kemana dia? Sial kenapa terputus? Apakah dia pergi keluar kota?” seru Vrish kesal. Dia tidak menemukan apapun sekarang.


Kini pikirannya tampak kacau. Bahkan dia belum sempat makan malam. Waktunya dia habiskan dengan mencari dan mencarinya. Tubuhnya dan pikirannya sangat lelah hingga tak terasa dia tertidur di sofa di ruang kerjanya hingga sinar matahari pagi melalui celah jendela terasa hangat di badannya. Dia terbangun dengan kepala yang tiba-tiba terasa pusing.


“Arrghh” namun Vrish tetap berjalan menuju kamarnya. Rasa pusingnya itu dikarenakan posisi tidurnya di sofa dan pikirannya. Segera dia membersihkan dirinya. Saat ini Jefry juga tiba-tiba muncul dari dapur. Ternyata Jefry semalam tidak pulang. Dia tidak tega melihat tuan mudanya sedang ada masalah tinggal seorang diri. Apartemennya juga tidak ada maid. Hanya tukang bersih-bersih apartemen yang dia pekerjakan untuk membersihkan apartemennya di kala dia butuhkan. Jefry menyiapkan sarapan nasi goreng untuknya dan tuannya.


Sedangkan di sebuah vila tepi pantai.


“Nakal sekali kau. Tidak pernah berubah. Cepat pulang! Dan segera urus kepergian kita. Papi sudah memberi amanat yang sangat lama” ucap Rena dibalik sambungan telepon.


“Entahlah, Ren, aku sangat membencinya. Apalagi si nenek sihir itu” ucap Vio jengkel.

__ADS_1


“Apakah kau cemburu?” goda Rena.


“Tidak! Siapa bilang?” sangkal Vio. Tapi memang sebenarnya dia juga tidak tahu ada apa dengan dirinya. Hingga pagi ini pun hatinya masih merasa sakit dan kesal mengingat kejadian semalam. Tanpa sadar meremas selimut putihnya. Kamar dengan nuansa serba putih itu tampak rapi dan hangat.


Setelah berteleponan selama setengah jam itu, dan sudah mendengar suara baby Re, hatinya semakin bersemangat. Kemudian dia berjalan melangkahkan kakinya keluar kamar dan menuju dapur mencari makanan karena perutnya terasa sangat lapar.


“Nona sudah bangun?” sapa Wuri. Sapaan Wuri dijawab Vio dengan anggukan dan senyuman hangat.


“Nona ingin makan?” tanyanya sekali lagi. Dan pertanyaan itupun dijawab dengan anggukan lagi. Selalu begitu irit bicara nona mudanya. Meskipun irit bicara tapi nona mudanya memperlakukan para maidnya seperti keluarganya sendiri.


“Bi Hawa memasak apa?” tanya Vio tiba-tiba dan mengambil makanan di piringnya.


“Bi Hawa, Wuri, ayo kita makan bersama. Panggil juga Hasan” ajak Vio dengan ramah.


“T..” Bi Hawa ingin berucap namun dihentikan oleh Vio.


“Tidak ada penolakan” sela Vio.


“Ya” jawab Vio.


“Bi Hawa, kenapa Vio tiba-tiba merasa aneh ya?” tanya Vio pada Bi Hawa. Vio memang lebih banyak bicara dengan Bi Hawa karena merasa Bi Hawa orang yang lebih tua darinya.


“Aneh gimana, Non?” tanya Bi Hawa yang menjadi bingung.


“Ya aneh aja. Ketika bangun tidur tiba-tiba pikiran dan hati Vio merasa tidak enak” jawab Vio mengernyitkan kening.


“Seperti gelisah begitu, Non?” tanya Bibi.

__ADS_1


“Iya” jawab Vio lagi.


Tak berselang lama Hasan datang dan pembicaraan Vio terhenti di situ. Semua mulai makan dengan tenang. Setelah selesai sarapan mereka pun kembali pada aktivitasnya masing-masing.


“Kamu tidak usah datang kemari” klik. Vio menelepon Monti untuk tidak datang ke vilanya. Karena khawatir Vrish akan menyelidikinya. Dan benar saja, setelah melakukan panggilan telepon dengan Monti, dia mendapat pesan bahwa Vrish sedang mencarinya dan bahkan membongkar datanya.


“Ranti, tolong kamu handle semua pekerjaan di kantor ya. Nanti jika papi datang ke kantor, tolong kamu laporkan semuanya pada papi” isi chat Vio pada Ranti asistennya.


“Baik, Nona” balas Ranti.


“Apa yang kamu lakukan disana, anak nakal? Kamu membuat ulah apalagi?” kali ini yang meneleponnya adalah papinya dengan nada kesal.


“Kamu itu anak perempuan papi satu-satunya, tapi kamu selalu membuat ulah seperti anak laki-laki saja. Empat hari lagi kamu harus pergi meninggalkan negeri ini untuk menyelesaikan masalah perusahaan disana” ucap papi kesal.


“Pagi-pagi itu jangan marah mulu, Pi. Ntar tensinya tinggi loh. Lagian gak ngucapin salam dulu kek tapi malah langsung marah-marah. Beri Vio waktu buat liburan dulu disini ya, Pi. Vio ingin menyegarkan otak Vio dulu. Lagian kenapa sih papi selalu ngasih pekerjaan Vio yang berat-berat? Tiap ada masalah perusahaan pasti Vio yang maju” sewot Vio.


“Hahahaha..wajar dong papi minta bantuan anak papi yang jenius ini?” tawa papi terdengar sangat keras dan memekakkan telinga Vio.


“Jangan lupa mandi. Jangan jadi anak pemalas. Kebiasaan” titah papi disertai tawa lalu menutup panggilannya.


“Tahu aja Papi” gumam Vio sendiri lalu menaruh ponselnya di atas sofa dan pergi ke kamar mandi. Selama di vila dia ingin memanjakan dirinya menikmati hidup dengan menghirup aroma laut yang menyegarkan.


Setelah beberapa menit berlalu, Vio keluar dari kamar mandi lalu merebahkan tubuhnya di sofa empuknya. Ada chat dari Rena.


“Vi, aku mau berbelanja. Kamu ingin dibelikan apa buat nanti di sana?” isi chat Rena.


“Tumben dia tanya aku. Biasanya aja dia tahu apa yang aku inginkan. Tumben-tumbenan Rena nanya” gumam Vio setelah membaca pesan Rena.

__ADS_1


“Tumben kamu nanya aku mau apa? Biasanya aja kamu tahu apa yang aku inginkan” kali ini balas Vio.


“Ya gak tahu lahi pengen aja nanya mumpung aku mau keluar nih. Aku udah nitip baby Re sama Mami. Karena mami tidak mau ikut. Jika mami mau ikut aku juga akan mengajak baby Re. Sekalian aku keluar membeli persediaan buat baby Re” balas Rena. Tiba-tiba hati Vio merasa tidak enak lagi. Entah kenapa dia merasa gelisah sejak tadi.


__ADS_2