
Keesokan harinya.
Setelah berkas di tanda tangani, Vrish dan Martin pergi menuju bandara meninggalkan Kota Besar menuju Pusat Kota. Setelah dua jam perjalanan, mereka berdua langsung pergi menuju kantor cabangnya yang ada di Pusat Kota.
“Selamat pagi, tuan Pramudya!” sapa managernya memberikan hormat. Seluruh karyawan pagi ini berjajar menyambut kedatangan pemilik perusahaan ternama itu. Mereka semua menundukkan kepala dan membungkukkan badannya.
Vrish hanya melewati mereka dengan dingin. Setelah duduk di kursi singgasananya, tiba-tiba ingatan Vrish tertuju pada tunangan dadakannya itu.
“Apakah kamu sudah menemukannya?” tanyanya pada Martin yang sedari tadi mengikutinya.
“Maaf, tuan” jawab Martin menunduk.
“Selidiki wanita bernama Clara dan Albert” titahnya lagi.
“Tuan Albert?” tanya Martin heran. Kenapa harus menyelidiki Albert? Bukankah dia sahabatnya sendiri?!, pikirnya.
“Ya aku tahu dia sahabatku. Selidikilah mereka berdua. Ada apa dengan mereka” ucapa Vrish tanpa menatap Martin, seolah dia sudah memahami jalan pikiran Martin.
Kemudian Martin berjalan mundur keluar menelpon seseorang. Setelah itu, dia berjalan kembali masuk ke dalam ruangan Vrish.
Tok tok tok
“Masuk!” jawab Martin.
Ceklek. Pintu dibuka sekretarisnya.
“Maaf, tuan. Ada tuan Farel dari Perusahaan Property”
“Baiklah, suruh masuk!” perintah Martin setelah diangguki Vrish.
Kemudian tampaklah Farel dan sekretaris barunya. Saat sekretaris baru itu masuk, wajahnya begitu kaget saat melihat Vrish.
“Wah sungguh tampan sekali tuan Pramudya ini. Lebih tampan aslinya daripada di foto-foto itu” tatapan liar sekretaris itu seakan-akan ingin memangsa mangsanya. Pakaian dengan belahan dada yang menonjol dan rok di bawah lutut press body itu akan mengundang mata keranjang para lelaki buaya tentunya. Sedangkan yang ditatap tidak mengindahkan tatapan wanita liar itu.
“Ehemm” deheman Martin menghenyakkan sekretaris liar itu dan mengagetkan Farel dari pikirannya. Tampak wajah sekretaris itu memerah malu merasa ketahuan.
“Kenapa kamu menatap tuan Pramudya seperti itu, Karin? Dan itu, kenapa pakaianmu itu kurang bahan juga? Kenapa aku baru menyadarinya sekarang? Untung kerjasama ini sudah selesai” batin Farel.
“Silahkan duduk tuan Farel!” kata-kata Vrish semakin membuai wanita yang ada disamping Farel itu.
“Suara yang sangat merdu” batinnya tanpa sadar membuatnya tersenyum sendiri.
“Terimakasih, tuan Pramudya” lalu Farel duduk di depan Vrish.
Kemudian Vrish memberikan dokumen kerjasama itu kepada Farel.
__ADS_1
“Selamat tuan Farel. Semoga proyek perusahaan anda berhasil untuk kedepannya” ucap Vrish berdiri dan menjabat tangan Farel begitupun Farel lalu menyambutnya tersenyum lega. Ketika Karin sang sekretaris liar itu ingin ikut berjabatan tangan dengan Vrish, Vrish tanpa menghiraukannya, menarik tangannya dari Farel.
Karena tidak tahan dengan kelakuan buruk sekretarisnya Farel itu, Vrish bermaksud menyudahi pertemuan itu.
“Baiklah tuan Farel, karena kami akan mengadakan meeting pagi ini, kami permisi dulu” ucap Vrish membuat Farel paham maksudnya.
“Baik tuan Pramudya, kami permisi dulu” ketika Farel ingin melangkah menuju pintu keluar, terdengar suara Martin memanggilnya kembali.
“Maaf, tuan Farel, tuan Pramudya ingin berbicara dengan anda” dilihatnya tatapan Martin itu membuat Farel memahami maksudnya. Kemudian Farel memerintahkan Karin untuk menunggunya di lobi. Karin pun berjalan keluar menuju lobi.
“Ya, tuan Pramudya. Apa yang ingin anda sampaikan?” tanya Farel ragu-ragu khawatir akan pertanyaannya itu salah.
“Carilah sekretaris yang bisa menjaga kehormatannya, tuan Farel” hanya itu ucapan Vrish.
Setelah Farel memahaminya, Farel menjawabnya, “Baiklah, tuan. Terimakasih. Kami mohon undur diri” lalu Farel berjalan keluar menuju lobi dimana Karin menunggunya dan tetap berjalan lurus ketika sudah melihat Karin duduk disana. Segera Karin mengejarnya setelah melihat atasannya itu keluar.
Setelah kepergian Farel juga Karin, Martin menerima telepon. Setelah menutupnya, Martin menyampaikan apa yang sudah dia dapat.
“Tuan, anak buah saya sudah mendapatkan apa yang tuan minta mengenai tuan Albert”
“Katakanlah!”
“Tuan Albert memang memiliki hubungan dengan nona Clara, tuan. Setelah tuan Albert mengetahui berita tentang tunangan anda waktu itu, tuan Albert marah pada nona Clara karena nyaris membuat bangkrut perusahaannya. Karena tuan Albert tahu maksud Clara, maka tuan Albert hanya ingin mempermainkan nona Clara saja, tuan. Tidak ada yang lain” jelas Martin.
“Hm, baiklah” setelahnya Vrish dan Martin keluar ruangan dan meninggalkan perusahaannya kembali ke Kota Besar. Dia tidak ada rapat hari ini hanya tadi ketika ada Farel, Vrish membuat alasan agar dia tidak menodai mata lelakinya.
Drrrttt drrtt. Getaran ponsel Martin membuatnya menengok kembali. Dilihatnya nomor yang sama dari bawahannya.
“Halo” jawab Martin di perjalanan menuju perusahaan.
“Hm” lanjutnya.
“Tuan, saya sudah mendapatkan informasi tentang tunangan anda” beritahu Martin pada Vrish yang duduk di kursi penumpang.
“Apa yang kau dapat?” tanya Vrish.
Martin menyodori ponselnya untuk diberikan pada Vrish. Lalu Vrish melihat dan membacanya. Semua data tentang Violetta ada diponselnya Martin. Tak lama kemudian Vrish memberikan ponselnya kembali pada Martin.
“Kita putar arah menuju ke kantornya sekarang” perintah Vrish yang diangguki Martin.
“Lihat rubah kecil, kamu mau kemana lagi? Aku akan mendatangimu. Kau tidak akan lepas lagi dariku” batin Vrish dengan bibir tersungging. Hal itu dilihat Martin dari spion depan dengan tatapan heran.
“Kenapa jadi tersenyum bahagia setelah mendapat informasi itu?” batin Martin.
Vrish yang mengetahui jika asistennya itu bingung hanya diam saja.
__ADS_1
Sampai di sebuah perusahaan besar dengan bangunan gedung yang tinggi, Vrish langsung berjalan masuk ke dalam perusahaan Vio.
“Atmadja Group. Hm” ucapnya dalam hati setelah sampai di depan perusahaan papinya Vio yang tidak di dengar oleh asistennya itu.
“Jadi kau menjalankan perusahaan orang tuamu, rubah kecil? Selain itu kamu menggunakan kerjasama brand pakaianmu dengan nama perusahaanmu sendiri. Hmm cerdik juga kamu, rubah kecilku” batinnya lagi, lalu keluar dari mobil mewahnya setelah dibukakan pintunya oleh Martin.
“Selamat siang, tuan! Apakah sudah membuat janji dengan pimpinan kami?” tanya sang resepsionis pada Martin dan Vrish yang berjalan menuju meja resepsionis. Bisa saja Martin mengatakan jika dia adalah tunangan pimpinannya dan tuan muda Pramudya. Namun karena resepsionisnya tidak mengenalinya, maka Vrish memberikan kode pada Martin.
“Belum, nona. Apakah kami bisa bertemu dengan pemimpin anda? Kami ada perlu, nona” ucap Martin dengan wibawanya. Tampak resepsionis itu gemetar dengan aura mencekam Martin yang tampak lebih garang dibandingkan orang yang ada di belakangnya, yaitu Vrish. Karena Vrish hanya mencoba bersikap natural supaya tidak ada yang mengetahui identitasnya.
“Maaf, tuan kalau begitu anda harus membuat janji terlebih dahulu dan bisa meninggalkan pesan jika ada sesuatu yang perlu disampaikan” jawab resepsionis itu ramah.
Hampir saja membuat Martin emosi. Tuannya tidak pernah diperlakukan seperti itu. namun, Vrish sudah menyelanya.
“Baiklah kalau begitu tolong sampaikan pada atasanmu bahwa ada temannya yang sedang mencarinya. Kami akan menunggu di lobi” lalu Vrish berjalan menuju lobi menunggu tunangannya datang.
Martin yang mengikutinya merasa heran dengan atasannya. Atasan yang kaku dan dingin itu tidak biasanya bersikap seperti ini. “Tuan apa sebaiknya kita pulang dulu. Nanti saya akan meminta pada manager perusahaan ini untuk segera menyampaikan pesan anda tadi. Anda..” perkataan Martin itu disela Vrish. Martin bermaksud untuk membantu tuannya supaya tidak menunggu lama karena hari ini sudah membuatnya sibuk dan kelelahan.
“Aku akan menunggunya keluar” ucap Vrish enteng dan melipat kaki kanannya bertumpu di kaki kirinya sambal membaca tabloid di sana.
“Duduklah. Apa kamu tidak capek berdiri terus?!” lanjut Vrish tanpa menatap Martin.
Setelah satu jam menunggu, terdengar langkah heels masuk dalam gedung dimana Vrish sudah menunggu pemiliknya dengan tenang dan santai. Karena dia merasa senang bisa menemukan tunangan dadakannya itu alias si rubah kecil.
Tak tak tak
“Maaf, nona Atmadja, ada yang menunggu anda dari satu jam yang lalu. Katanya teman anda” kata resepsionis itu yang sudah bangkit berdiri sedari melihat kedatangan bosnya itu.
“Siapa? Apa sudah bikin janji dengan kita?” tanya Vio berhenti dari langkahnya. Setahunya hari ini sudah jadwalnya tidak ada tamu lagi.
“Apakah aku harus bikin janji dulu untuk bertemu denganmu?” tanya Vrish menghampiri rubah kecilnya di meja resepsionis membuat Vio kaget dirinya. Suara asing yang pernah ia dengar dan suka berdebat dengannya kala itu. Entah kenapa jantung Vio berdebar tak karuan. Dia harus menenangkan hatinya yang bergejolak begitu saja tanpa diundang. Perlahan diapun menoleh melihat pria aneh persis berada di belakangnya.
“Ka..mu” ucap Vio terbata.
“Iya, ini aku” jawab Vrish memasang senyum manis yang tidak biasanya Vio lihat selama bertemu dengan pria aneh di depannya ini.
“Ikut aku!” ucap Vio pada akhirnya meminta Vrish karena dia tidak ingin para karyawannya melihatnya gemetaran.
Selangkah demi selangkah, Vrish mengikuti langkah Vio dengan terpesona akan kecantikan rubah kecilnya itu. Bibir yang selalu tersenyum itu membuat Vio rishi.
“Kenapa dengan orang ini? Sedari tadi senyam senyum sendiri. Matanya juga kenapa melototin aku terus sih. Iiiihhh!” batin Vio yang dibaca oleh Vrish.
“Tidak usah memakiku” ucap Vrish membuat Vio membelalak kaget.
“Apa orang ini cenayang yang bisa mengetahui isi otakku?” batin Vio lagi.
__ADS_1
“Sudah dibilang jangan memakiku. Masih saja memakiku” ucapan Vrish itu berhasil membuat Vio salah tingkah malu tertangkap basah berpikiran tentangnya seolah dia adalah pencuri. Tentu saja pencuri hati. Ya gak?! Hehe..
Tanpa terasa pintu lift sudah terbuka dan Vrish masih mengikuti langkah Vio hingga masuk ke dalam ruangan Vio. Martin pun tidak ketinggalan di belakang Vrish. Sedari tadi sudah melihat bosnya yang seperti orang gila tersenyum sendiri sedari mendapat informasi tentang nona Atmadja sampai saat ini. Hal ini membuat geleng-geleng kepala Martin. “Pasti bosku sudah gila kan?” batinnya.