Pacar Online Yang Tertukar

Pacar Online Yang Tertukar
Bab 94 Pulang dari rumah sakit


__ADS_3

Sore harinya setelah kakinya yang bengkak itu perlahan mengempes, Vio diijinkan pulang oleh dokter Issa. Apalagi Vio yang keras kepala itu memaksa untuk pulang. Ranti yang dari pagi menungguinya lebih cerewet dibandingkan biasanya.


"Nona, jika kau tidak mengikuti perintah dokter maka kau akan celaka sendiri" ucap Ranti kesal.


"Hei! Kau menyumpahiku?" sewot Vio.


"Bukan menyumpahi. Tapi lihatlah kaki nona itu. Lubang itu masih menganga beberapa hari lagi karena heels si nenek sihir itu. Aku bersumpah akan mematahkan kakinya saat bertemu nanti. Ckk..apakah luka ini bisa hilang dokter? Karena nona mudaku ini akan segera menikah. Bagaimana jika jodohnya itu lari setelah melihat kakinya nona mudaku ini bolong dan jelek begini?" ejek Ranti.


"Kau berani mengejek kakiku. Kaki mulusku akan kembali seperti sebelumnya. Lagipula tidak masalah jika tidak ada yang mau. Karena Re akan selalu menemani maminya ini. Huh! Dasar kau sahabat yang buruk" kesal Vio dengan memonyongkan bibirnya beberapa centi.


"Hahaha. Kalian seperti tom and jerry saja. Lihatlah nona mudamu ini. Jika dia tak baik hati padamu, maka kau akan dipecat" tawa dokter Issa membuat Ranti semakin jengkel. Mereka bertiga sekali bertemu langsung bisa membaur satu sama lain.


"Kau ini dokter macam apa mengajak pasiennya untuk berbuat jahat pada temannya" sewot Ranti.


"Maaf, nona-nona apakah kedatangan saya mengganggu waktu bercanda kalian?" tiba-tiba dokter Rony masuk dan menyela candaan mereka bertiga.


"Sangat!" jawab Ranti kesal.


"Kau..!" ucap mengambang dokter Rony.


"Kau apa ha?" tanya Ranti menantang.


"Kau yang akan tinggal di sini menggantikan nona mudamu" jawab dokter Rony meledek Ranti yang selalu berekspresi serius setiap bertemu dengan laki-laki.

__ADS_1


"Memangnya aku pasien?" protes Ranti. Pemandangan itu menjadi sangat lucu bagi Vio dan Issa.


"Hei, Dokter! Jangan kau meledeknya. Bisa-bisa kau terpikat olehnya. Lalu bagaimana dengan dokter Issa yang cantik ini? Hm" celotehan ceplas ceplos Vio itu membuat Ranti salah tingkah karena merasa tidak enak dengan dokter Issa.


"Nona muda! Apa yang kau bicarakan? Tenang saja dokter Issa, aku tidak akan memungutnya. Cukup buat dokter Issa saja. Jika aku bersamanya bisa-bisa aku disuruh jadi pasiennya terus" jawaban Ranti ini membuat Issa dan Vio tertawa terbahak-bahak.


"Apakah saya mengganggu?" tiba-tiba suara berat itu terdengar di telinga ke empat orang yang ada di dalam ruangan itu.


"Ohoooo. Tuan Muda Pramudya sudah datang. Apakah kedatangan tuan muda ini ingin menjemput sang putri?" sahut dokter Rony menghampiri Vrish dan meraih pundak Vrish untuk berjalan maju bersamanya mendekati Vio.


Kali ini Vio tertunduk malu. Tiba-tiba dia terdiam. Entah kenapa jika Vrish hadir maka tiba-tiba jantungnya berdebar tak karuan. Perutnya seakan terasa ada kupu-kupu terbang menggelitiknya. Selama ini jika dia memiliki pacar dia tidak pernah merasakan hal seperti ini. Entah kenapa baginya jika berada di dekat Vrish hidupnya merasa nyaman dan damai. Dia merasa bahagia jika Vrish ada di dekatnya.


"Ehemmm. Sepertinya ada yang malu. Ayooo kita pergi dari sini" ajak dokter Rony pada Issa juga Ranti.


Dokter Rony seketika melotot pada Ranti. Issa yang melihat itu hanya menggelengkan kepalanya. Dia tahu mereka hanya bercanda. Issa melihat Ranti dari sorot matanya saat Vio tadi mengolok dokter Rony tentang keterpikatannya, dilihat jelas oleh Issa bahwa Ranti memiliki cintanya sendiri. Maka ia tidak perlu mengkhawatirkan itu. Kedepannya mungkin inilah yang dinamakan sahabat sejati. Itulah pemikiran dokter Issa.


"Sudahlah aku tidak mau berdebat. Katakan padaku Issa. Apakah dia sudah diijinkan pulang? Lalu apakah kakinya sudah membaik? Bukankah akan lebih aman jika dia masih dirawat saja di sini?" ucapan Vrish ini membuat keadaan seketika hening. Entah aura apa yang dimilikinya sehingga membuat para lawan bicaranya merasa sungkan jika berlama-lama disisinya.


"Tuan muda yang terhormat! Tidak perlu kau tanyakan dan aku tidak membutuhkan pendapatmu! Aku ingin pulang. Titik!" jawab Vio kesal dibuatnya.


"Tentu saja kau butuh pendapatku. Jika luka di kakimu itu semakin parah bagaimana? Apa kau tidak ingin secepatnya bisa jalan lagi? Di sini dokter bisa langsung merawatmu dengan baik. Menurutlah!" ucap Vrish juga kesal menghadapi wanita yang keras kepala di hadapannya ini.


"Kau ini. Yang sakit bukan kau. Tapi aku. Kakiku sudah sembuh. Hanya butuh beberapa hari pemulihan. Jika kau tidak paham tentang penyakit maka diamlah. Lagi pula kenapa kau ke sini? Urusi saja kantormu itu dan para klien pentingmu itu. Aku tidak butuh kehadiranmu. Ada Ranti juga Jimy yang menjemputku. Tidak perlu kau" seru Vio. Yang tanpa disadari perdebatan mereka berdua menimbulkan gelak tawa dokter Rony juga Issa.

__ADS_1


"Kalian diamlah!" ucap Rony lalu tertawa.


"Disini rumah sakit. Jika ingin berdebat silahkan keluar! Apa kalian tidak sadar bahwa kalian ini sedang jatuh cinta? Payah kalian ini" ucap dokter Rony lalu berlalu pergi menggandeng Issa dan meninggalkan mereka bertiga dengan geleng-geleng kepala dan tersenyum merekah. Dia tidak pernah melihat sahabat dinginnya itu bertingkah seperti ini meskipun itu bersama kekasihnya yang sudah meninggal itu, Liona.


"Nona, saya akan membawakan semua ini ke mobil dan memanggil Jimy untuk mengangkut semuanya" ucap Ranti yang merasa sungkan karena keberadaannya ditengah-tengah orang yang sedang jatuh cinta. Ranti lalu keluar dan memanggil Jimy untuk bersiap membereskan kamar inap nona mudanya setelah nona mudanya keluar.


"Aaa..apa yang kau..." Vio yang kaget karena dibopong ala bridal style oleh Vrish itu belum sempat meneruskan kalimatnya sudah dipotong oleh Vrish.


"Menurutlah. Aku tidak akan berbuat macam-macam. Jadi tenanglah" ucap Vrish dingin. Seketika Vio pun terdiam.


Lalu mereka keluar dari rumah sakit dengan diikuti banyak pengawal keluarga Atmadja juga keluarga Pramudya. Ternyata banyak para wartawan yang bersembunyi untuk meliput tuan muda Pramudya untuk keuntungan perusahaan mereka.


"Tuan! Tuan Muda Pramudya! Siapa wanita yang kau gendong ini, Tuan? Apakah tunangan anda? Setahu kami tunangan anda tidak berhijab. Siapa dia? Katakan pada kami Tuan!" lontar salah satu wartawan dan disambut dengan ocehan wartawan lainnya juga. Beruntung Vio masih memiliki sikap waspada yang tinggi jadi begitu keluar pintu, dia membenamkan wajahnya di dada bidang Vrish yang dibalut setelan jas yang rapi. Dan pandainya Vrish, sebelum keluar pintu, Vrish melepas jasnya untuk menutupi wajah Vio disandarannya. Wartawan itu tahu jika yang digendong itu seorang wanita berhijab dilihat dari ujung hijab Vio yang tidak tertutup jas Vrish dari belakang.


Dengan isyarat mata, para pengawal itu berhasil menyingkirkan para wartawan secepatnya sebelum mereka semua menyerbunya. Tak lama kemudian mereka telah sampai ke dalam mobil besar Vrish. Tak lupa Vrish memerintah semua anak buahnya untuk segera membereskan lokasi di rumah sakit ini. Mobil berjalan melaju ke mansion Tuan Atmadja.


Yuuu yuuk yuuuuuuuukkkk readers 🤗🤗🤗☺☺


Jangan lupa ya dukung author terus ya biar semangat mengetik dan berpikirnya


Ketik komen, klik like and votenya


Terimakasih 🥰🥰

__ADS_1


(Maaf ralat nama author kelupaan🙏🙈)


__ADS_2