
“Kita pergi dari sini” ucap Vrish pada asistennya, Martin. Kemudian tanpa sepengetahuan orang-orang disana Vrish berjalan melalui pintu belakang yang tadi sempat ia lihat sosok yang selama ini dia cari.
“Aku harus segera menemukannya” batinnya ketika berjalan.
“Kemana dia pergi?” batinnya sambil menoleh kesana kemari mencari sosok yang tadi dia lihat setelah keluar dari gedung supermarket itu dan berlari kesan kemari.
“Siapa yang tuan muda cari?” batin Martin mengikuti arah pandangan tuan mudanya juga mengikuti tuannya berlari.
Keduanya terengah-engah membatin dengan pandangan masih mencari sosok yang dia cari, “Harusnya dia belum pergi bukan karena harus menunggu jemputan mobil”.
Kemudian dia tak sengaja saat menoleh ke arah belakang dia melihat sosok itu masuk dalam mobilnya. Tak lama setelah itu Martin menghampirinya dan diapun memasuki mobil.
“Jangan sampai dia lolos lagi” ucapnya dengan nafas terengah-engah.
“Jadi tebakanku benar ada dia disana” batin Vrish.
Ketika Vrish berlari kesana kemari mencari dan mencari sosok itu, Martin langsung berlari ke parkiran untuk mengambil mobilnya, sesuai dugaannya, tuannya melihat sosok itu.
“Tuan muda tidak pernah bersikap seperti ini, meskipun dulu dengan mantan kekasihnya, Liona, yang sudah lama meninggal. Bahkan dengan pacar onlinenya, tuan muda saja tidak bingung mempersalahkannya untuk mencarinya. Apakah dia sudah jatuh cinta?” batin Martin.
Martin melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh supaya tidak ketinggalan. Sedangkan mobil didepannya yang ditumpangi oleh Vio, Ranti dan Monti itu tidak menyadari ada mobil yang mengikutinya. Selang tak berapa lama, mobil Vio berhenti. Mobil Vrish pun juga ikut berhenti dengan jarak yang lumayan agak jauh dikarenakan supaya tidak mencolok. Sosok yang dia cari tampak turun dari mobil yang ditumpanginya dan masuk ke dalam sebuah restoran.
Kemudian mobil itu melaju meninggalkannya. Martin tampak agak maju memarkirkan mobilnya sesuai perintah tuan mudanya. Kemudian setelahnya, Vrish keluar dari mobil mewahnya dan membawa kakinya berjalan memasuki sebuah restoran yang tampak sederhana. Dia mencari sosok wanita itu, Vio.
Saat ditemukan sosok itu, ternyata Vio sedang bertemu dengan seorang laki-laki. Vrish yang ingin mengetahuinya itu, duduk agak jauh dan mengamatinya tanpa berkedip.
“Oh jadi dia bertemu dengan seorang pria. Siapa dia? Dan ngapain mereka bertemu?” batinnya dengan memperhatikan tindak tanduk mereka berdua.
Vio masih belum menyadari hal itu. Tampak dilihat oleh Vrish, terkadang mereka tertawa dengan lebar. Namun, karena letak duduk yang agak jauh, Vrish tidak mendengar pembicaraan mereka berdua.
“Permisi, tuan, anda mau pesan apa?” tanya pelayan restoran laki-laki.
__ADS_1
“Tolong berikan aku menu utama di sini” jawabnya tanpa menoleh ke arah pelayan itu. Karena khawatir pandangannya akan meleset hilang.
“Baik, Tuan, mohon untuk menunggu sebentar, akan segera kami siapkan” jawab pelayan laki-laki itu.
Tak lama, pelayan itu kembali lagi dengan menu pesanan Vrish.
“Silahkan menikmati hidangannya, Tuan” ucap pelayan itu lalu pergi meninggalkan Vrish.
Diam-diam Vrish memotret keberadaan Vio dan laki-laki misterius itu. Setelah mendapatkan fotonya dengan jelas, Vrish mengirim pada seseorang untuk menyelidikinya. Tiba-tiba dia melihat Vio beranjak dari kursinya tanpa diikuti laki-laki itu. Sepertinya Vio akan pergi ke toilet. Lalu Vrish pun mengikuti kemana Vio pergi.
“Hei, Tuan! Anda salah masuk. Di sini toilet wanita. Tampan-tampan tapi tidak bisa baca” sewot seorang gadis yang baru keluar dari dalam toilet. Sedangkan Vrish yang dimaki hanya diam sambil berdiri menunggu kedatangan Vio dengan mendelik memasang tampang dingin. Hal itu membuat takut gadis itu. Kemudian bergegas untuk segera meninggalkan toilet itu.
Tak lama kemudian, Vio keluar dari dalam toilet wanita. Tanpa menghiraukan orang yang ada di luar tanpa dia ketahui ada Vrish, Vio berjalan menuju wastafel bermaksud mencuci tangannya. Setelah tak sengaja melihat cermin di depannya, ia melihat sosok yang selama ini ingin ia hindari. Dengan wajah yang kaget, ia menoleh ke arah Vrish. Lalu Vrish berjalan ke arahnya. Kemudian Vrish menarik tangannya Vio dan menyeret Vio keluar dari restoran. Diparkiran Martin sudah menunggu tuannya. Vio diseret masuk ke dalam mobil.
“Lepaskan! Apa yang kau lakukan?” teriak Vio.
“Diam!” bentak Vrish seperti yang dia lakukan saat pertama kali dulu dengan tanpa melepaskan genggaman tangannya.
Vrish hanya terdiam menatapnya. Hati Vio menciut kala melihat tatapan mata dingin itu. Kemudian mereka berdua diam menciptakan keheningan di dalam mobil mewah milik Vrish. Setelah menempuh perjalanan kurang lebih hampir tiga puluh menit, mereka telah sampai di apartemen milik Vrish. Vio yang sebenarnya kelelahan itu, sudah tertidur dan tanpa sadar bersandar di bahu Vrish. Vrish hanya meliriknya tersenyum senang. Entah kenapa saat pertama kali dia bertemu dengan gadis disampingnya ini, hati dan pikirannya terasa damai dan tenang. Seolah segala permasalahan hidupnya menjadi hilang dalam sekejap.
Vrish mengangkat Vio dengan hati-hati dan mulai berjalan pelan ketika Vio menggeliatkan kepalanya sepertinya mencari sandaran tempat ternyaman dari Vrish yaitu, dada bidangnya. Kemudian Vrish melanjutkan langkahnya masuk ke apartemennya. Vrish meletakkan Vio ke atas ranjang di kamar tamunya dengan pelan. Setelah meletakkannya, Vrish memandangi wajah cantiknya itu yang tampak sangat polos dan alami.
“Cantik” ucap Vrish tersenyum bahagia bisa memandang wanita yang akhir-akhir ini mengganggu pikiran dan kerjanya. Saat hendak mencium bibirnya tiba-tiba dia teringat bahwa gadis diranjangnya saat ini sangat menjaga sikapnya. Kemudian dia beringsut menjauh dan pergi ke kamarnya sendiri.
Matahari pagi menyapa dengan menyibakkan sinarnya melalui kaca jendela disamping ranjang yang Vio tempati saat ini. Korden di jendela itu sudah disibakkan oleh ART Vrish yang sekarang menganggu tidur Vio.
“Mami, Vio masih pengen tidur, Mi. Ini masih pagi. Vio juga lagi halangan jadi gak sholat” gumam Vio dengan mata terpejam lalu menggeliat miring dan menutup tubuhnya dengan selimut tebal yang terasa hangat. Dia belum sadar jika saat ini dia berada di apartemen Vrish. Karena biasanya maminya yang membuka korden jendelanya ketika dia tertidur kembali. Dirasa aroma ruangan yang berbeda, dan seluruh badannya terasa aneh dan berat serta leher yang terasa tercekik karena masih memakai hijabnya, dia tersadar dari tidurnya lalu membuka kedua bola matanya yang sangat indah dan terperanjat kaget melihat seisi kamar jauh berbeda dari kamarnya. Hal itu diamati Vrish dengan seksama dan terlihat menggemaskan baginya.
“Di..dimana aku? Kenapa kamar ini berbeda dengan kamarku? Dan aku, kenapa aku masih memakai baju pesta?” Vio masih bingung mengamati kamar dan dirinya bergantian.
“Kau saat ini berada di apartemenku” ucap Vrish tiba-tiba mengagetkan Vio hingga menoleh padanya. Vrish yang berjalan menuju Vio, Vio dibuat khawatir dan mundur dari duduknya.
__ADS_1
“Bagaimana tidurmu? Nyenyak? Sehingga kau tidak sadar aku mengangkatmu? Sepertinya kau kelelahan semalam sehingga kau tak merasakannya” ucap Vrish duduk di tepi ranjang memandang Vio yang ketakutan.
“Kau sangat cantik meskipun bangun tidur” ucapnya lagi menggoda Vio.
Vio yang merasa digodapun tak kalah menjawab.
“Ya iyalah orang aku dari semalam tidak membersihkan make up ku. Dasar laki-laki jelalatan lu” maki Vio sewot. Sedangkan yang dimaki hanya tersenyum senang. Justru itu membuat Vio heran. Bukannya tuan tiu selalu dingin dan arogan padanya. Kenapa ketika berhadapan dengannya selalu bersikap hangat?.
“Bersihkanlah dirimu, bibi sudah menyiapkan semua kebutuhanmu. Lalu keluarlah dan sarapan denganku” ucap Vrish menunjukkan dengan kepalanya ke arah pakaian yang sudah disiapkan di atas nakas.
Vio yang menoleh kaget dan protes.
“Aku tidak mau. Aku mau pulang. Astaghfirullah. Dia pasti mencariku. Gara-gara kamu aku tidak memberikan dia kabar! Dan keluargaku pasti menungguku di rumah” teriak Vio menatap jengkel pada Vrish. Lalu dia meraih ponselnya di dalam tasnya. Ternyata tidak ada. Vrish yang mendengar itu merasa marah. Entahlah, sepertinya ada rasa cemburu di hatinya. Lalu memasang wajah cemberut. Namun hal itu tidak disadari Vio.
“Hm” tunjuk Vrish dimana ponselnya discharge karena semalam ponselnya mati saat Vrish hendak menghubungi keluarga Vio dengan bermaksud menggunakan ponsel Vio. Segera Vio meraih ponselnya yang sudah terisi penuh lalu menyalakannya. Tak berapa lama, terlihat banyak pesan dan panggilan. Dari laki-laki di restoran itu ataupun dari keluarganya termasuk Rena.
“Siapa laki-laki itu?” tanya tiba-tiba Vrish.
“Hm” Vio mendongak melihat Vrish sejenak lalu pandangannya tertuju ke ponselnya.
“Dia temanku. Teman SMA yang meminta bantuan untuk kemajuan restorannya. Dulu dia yang selalu membantuku dari bullyan, kini saatnya aku membantunya disaat kemarin tidak sengaja bertemu di mall” jawab Vio polos dan tanpa sadar hal itu membuat lega hatinya Vrish. Namun, kelegaan itu belum sepenuhnya ia rasakan. Karena temannya itu seorang pria.
“Apa dia tidak bisa meminta bantuan ke temanmu yang lain? Kenapa harus kamu?” tanya Vrish yang terlihat tidak suka.
Dengan masih menatap dan sibuk membalas pesan-pesan di ponselnya itu, Vio menjawab apa adanya.
“Karena memang tidak ada. Dulu kami bertiga, Aku, Rena, dan Ardi. Ardi itu artisnya sekolah dulu. Dan dia sudah punya pacar. Restoran itulah milik pacarnya. Ardi hanya bermaksud membantu pacarnya itu untuk memajukan restoran milik pacarnya” setelah menjawab panjang lebar, Vrish yang tampak lega dengan senyum mengembang sedangkan Vio sadar bahwa sebenarnya dia tidak perlu menjelaskan itu semua. Kemudian dia kembali terdiam. Vrish yang sudah merasa lega pun bangkit dari tepi ranjang, berjalan keluar kamar tamu.
Setelah hampir satu jam menunggu, akhirnya Vio keluar dengan pakaian yang sudah Vrish sediakan dan bersiap untuk pulang. Vrish yang melihatnya keluar kamar langsung takjub dan menyambutnya.
“Ayo sarapan dulu denganku baru ku antarkan kau pulang” kata-kata Vrish tidak digubris Vio. Apa yang akan terjadi jika dia pulang nanti. Vrish yang melihat itu, tampak kesal dan mengancamnya.
__ADS_1
“Jika tidak mau sarapan denganku jangan harap kau bisa keluar dari sini!” ucap Vris lagi dan membuat Vio akhirnya duduk dan ikut sarapan karena sebenarnya semua makanan yang disajikan itu adalah makanan kesukaannya juga. Air liurnya seakan tidak dapat ditampungnya lagi, Vio segera membalikkan piringnya dan bersiap untuk makan. Kemudian Vrish menyeringai senang karena berhasil mengancamnya. Akhirnya keduanya makan dengan keheningan dan hanya suara sendok dan piring yang saling beradu. Tak lama setelah selesai makan, Vrish pun berangkat ke kantornya sekalian mengantarkannya pulang. Rasanya Vio ingin marah namun entah kenapa setiap ingin marah, mulutnya justru terkunci bungkam seribu bahasa. Hal ini membuatnya merasa kesal sendiri.