Pacar Online Yang Tertukar

Pacar Online Yang Tertukar
Bab 70 Disuruh pulang papi


__ADS_3

“Mami!” teriak Re memanggil Vio.


“Ada apa sayang?” jawab Ranti, karena saat ini Vio berada di dalam kamar mandi.


“Onty! Kenapa onty tidak bilang jika kita menginap di sini? Padahal hari ini Re kan sekolah” bangun tidurnya Re dengan rambut lurusnya yang seperti oppa-oppa itu terlihat acak-acakan tapi tetap tampan.


“Maafin onty sayang. Ternyata mami Re sudah minta ijin sama gurunya Re di sekolah kemarin. Jadi hari ini Re tidak masuk sekolah dulu” bujuk Ranti. Ranti tahu jika Re sudah ngambek sudah tidak ada yang bisa menenangkannya hanya Vio yang mampu membuatnya tenang.


“Ada apa sayang? Bangun tidur sudah ngambek begini? Nanti tampannya hilang loh” Vio yang datang dari kamar mandi itu masih berbalut kimono handuk itu menghampiri Re yang manyun.


“Mami kenapa tidak bilang Re dulu kalo hari ini Re tidak masuk sekolah? Padahal kemarin onty sudah bilang kalo hari ini Re sekolah” Re yang mengoceh itu memalingkan kepalanya dari Vio. Vio melirik Ranti yang merasa bersalah.


“Sayang, maafin mami ya. Onty kan tidak tahu karena mami baru bilang onty semalam waktu Re sudah tidur. Nanti kita lanjutkan jalan-jalannya gimana? Nanti kita beli oleh-oleh buat semua guru Re di sana. Bagaimana anak tampannya mami?” bujuk Vio. Dan akhirnya berhasil seperti biasa.


“Benarkah mami? Kita akan jalan-jalan kemana lagi? Lalu semua guru akan dibelikan apa?” tanya Re polos seperti usianya.


“Terserah Re mau kemana dan mau dibelikan apa. Re yang memilih. Oke, boy?” ucap Vio mengacak kepala Re dan membuat kesal Re.


“Mami, rambut Re jadi berantakan lagi” Vio dan Ranti hanya tertawa mendengarnya.


Setelah mereka bercanda sepanjang pagi dan bersiap untuk pergi melanjutkan healingnya. Sebuah telepon berbunyi. Ponsel Vio. Di sana tertera nama papi dan foto papi mami. Spontan Re yang melihat panggilan itu langsung mengangkatnya.


“Assalamu’alaikum opa! Gimana kabar opa sama oma di sana?” sapa Re gembira melihat opanya. Sudah lama opa dan omanya tidak mengunjunginya.


“Wa’alaikum salam, sayangnya opa oma. Alhamdulillah opa dan oma sehat. Gimana kabar Re sayang?” jawab papi Vio yang masih terlihat awet muda. Meski usianya yang sudah paruh baya dan putri semata wayangnya juga sudah memasuki usia pernikahan, tapi mami papinya tidak pernah mempermasalahkannya. Bagi Vio Re yang terpenting. Itu sudah pernah Vio singgung pada kedua orang tuanya. Maka bagi orang awam yang tidak tahu tentang kehidupan Vio, setahu mereka Re adalah anak dari Vio. Hanya dari pihak sekolah yang tahu bahwa Re adalah putra angkat Vio. Karena Vio tidak ingin menyembunyikan identitas Re yang sebenarnya dari pihak sekolah. Re juga tahu itu dan bisa memahaminya. Bahkan Re yang usianya masih kecilpun pernah meminta Vio untuk mencari papi untuknya. Tapi Vio masih menolaknya. Karena ingin melihat tumbuh kembang Re yang masih kecil.

__ADS_1


“Kamu sedang dimana ini, sayang? Kenapa seperti di hotel? Wah kalian jalan-jalan tanpa mengajak opa oma nih?” lalu muncul wajah oma yang juga masih awet muda dengan perawatan yang terbaik.


“Iya, opa oma. Mami nakal. Sudah tahu hari ini Re masuk sekolah tapi mami malah minta ijin sama gurunya Re dan itu tidak ijin dulu sama Re” kedua orang tua dari sebrang pun tertawa geli mendengar celotehan cucunya itu.


“Kalo mami nakal, kamu jewer aja sayang. Kalo mami di sini pasti oma sudah menjewernya” kata-kata itu didengar oleh Vio dan Ranti. Ranti yang mendengar itu pun tertawa lebar.


“Tidak usah tertawa kamu” lirik Vio tajam. Tapi hal itu tak membuat Ranti takut lagi.


“Ada apa mami papi telepon? Pasti ada perlu kan? Apa ada perusahaan papi yang bermasalah lagi? Sepertinya semua sudah berjalan lancer dan bahkan semua perusahaan papi berkembang meningkat. Apalagi perusahaan papi yang diurus sama kak Farel. Eeeehhh berkembangnya sangat maju malah. Papi harus memberikan hadiah buat kak Farel. Dia sudah berjasa sama papi tuh. Kasih aja lah perusahaan itu padanya” kini Vio yang bicara sambil menjalankan aktifitasnya kesana kemari. Ya perusahaan yang dulu bermasalah, semenjak ditangan Farel kini justru berkembang sangat maju.


“Kamunya aja yang belum tahu. Justru mami sama papi menelepon mau memberi tahu kamu kalo perusahaan itu sudah papi berikan kepada Farel. Dia orang yang tekun dan terpercaya. Kamu tidak salah dalam memilih dia sebagai kakakmu. Hanya saja ada seseorang yang ingin menjegalnya. Tapi Farel tidak tahu itu” ucapan papi membuat Vio penasaran.


“Apa? Menjegalnya? Apa maksud papi? Dan siapa dia? Apakah papi tahu orangnya?” tanya Vio menjadi tegang.


“Jika papi tidak tahu papi tidak akan cerita sama kamu. Hanya papi dan anak buah papi yang tahu. Farel tidak tahu menahu itu. Dan papi sudah menempatkan utusan papi untuk mengawasi orang itu dalam perusahaan. Karena bagi Farel dia adalah orang kepercayaan Farel. Utusan papi saat ini sedang mencari bukti untuk membuka kedoknya. Karena jika Farel tidak melihat buktinya dia tidak akan percaya itu. Kamu tahu sendiri Farel bukan?” kata papi membuat Vio jengkel.


“Hei! Kenapa ekspresi kalian bisa sama? Dasar kalian kaka adik ibu dan anak sama saja. Wassalamu’alaikum” papi langsung menutup teleponnya.


Vio merasa kesal sama papinya itu. Yang selalu seenaknya menyuruhnya pergi dan datang.


“No..na muda, benarkah kita akan pulang kembali?” tanya Ranti yang terlihat bahagia. Akhirnya selama lima tahun dia akan bertemu dengan keluarganya kembali. Berkat pengabdiannya selama ini kini kehidupan keluarganya jauh diatas sebelumnya. Namun begitu keluarganya tidak merasa di atas angin. Mereka selalu bersyukur dan selalu berbagi. Baik atas nama mereka sendiri atau bahkan mengatasnamakan nona mudanya.


“Kamu senang?” tanya Vio menatap Ranti tajam. Dia sebenarnya senang, namun banyak kenangan buruk tentang sahabatnya itu juga tentang dirinya. Yang saat itu dia pergi meninggalkan Vrish padahal dalam hatinya dia sudah merasa bahagia saat tuan muda Pramudya mengkhitbahnya malam itu. Hanya gengsinya yang kebesaran jadi dia menggoda tuan muda Pramudya. Dan bahkan sampai sekarang khitbah itu masih berlaku menurutnya. Kata-kata itu selalu dia ingat. Sebenarnya banyak lelaki yang ingin melamarnya, tapi dia selalu menolaknya dengan alasan dia sudah memiliki kebahagiaan bersama putranya. Banyak dari mereka yang memuji namun juga banyak dari mereka yang menghinanya karena mereka yang berpikiran buruk tentangnya pasti mengeluarkan suara yang buruk juga. Entah hamil diluar nikah atau memiliki anak tanpa suami. Bahkan ada yang menyebutnya simpanan seorang miliarder. Tapi dia tidak pernah menanggapi omongan-omongan buruk tentangnya karena baginya itu hal biasa. Bahkan dia berasal dari keluarga miliarder. Kekayaan orang tuanya bahkan tidak akan habis tujuh turunan.


Ranti yang dapat membaca pikiran dan hati nona mudanya itu selalu memberikan dukungan dan semangat. Semenjak pindah ke luar negeri dan hidup bersama nona mudanya, dengan perlahan nona mudanya sendiri bercerita dan berawal dari saat dia memergoki nona mudanya menangis tersedu-sedu. Entah kenapa dia menghampiri nona mudanya dan merangkulnya memberikan pelukan hangat. Berawal dari situ nona mudanya menceritakan semuanya tanpa ada yang ditutupi. Pernah Vio melarang Ranti memanggilnya nona muda lagi. Vio memintanya untuk memanggil kakak. Tapi Ranti menolaknya. Karena baginya nona muda adalah sumber hidupnya. Jika tidak ada nona muda yang saat itu sedang lewat, mungkin mahkotanya bahkan nyawanya tidak tertolong lagi. Akhirnya Vio mengembalikan semua pada Ranti.

__ADS_1


“Nona, apakah nona takut bertemu dengan tuan muda Pramudya lagi? Jika nona takut bertemu kembali, lalu kapan nona akan bangkit demi Re, nona. Dan memang di sana banyak kenangan buruk tentang nona Rena. Tapi kehidupan ini terus berjalan dan tidak dapat kita hindari. Bahkan aku, nona. Jika aku pulang, maka kilasan-kilasan itu akan muncul kembali di ingatanku, nona. Tapi keluargaku lebih utama. Jika aku selalu mengingat itu, maka aku tidak akan bisa bertemu mereka kembali karena aku tidak mau pulang hanya karena kejadian buruk itu. Jika kita hindari itu sama saja kita pengecut, nona. Mari kita hadapi bersama-sama. Lihatlah Re, dia juga butuh mamanya sendiri. Dia juga ingin melihat pusara mamanya neneknya juga papanya. Dia juga ingin merasakan tinggal di kota mamanya, ada kakeknya, opa omanya juga. Bukankah berkumpul dengan keluarganya adalah membuatnya bahagia?” Ranti dan Vio melihat Re yang saat ini makan dengan lahap. Vio pun tersenyum dan memeluk Ranti.


“Kamu yang terbaik setelah Rena. Terimakasih. Kamu sudah menggantikan Rena dengan tulus” ucapan Vio membuat Ranti menitikkan air matanya.


“Kenapa kamu menangis? Cengeng” Viopun mengejeknya.


“Nona tidak tahu kalo aku terharu jika nona memelukku. Aku tidak pernah berani membayangkan kehidupanku akan seperti ini nona. Nona sudah mengangkat derajad keluargaku. Ibuku selalu berterimakasih akan hal itu, nona. Apalagi jika aku sudah bercerita mengenai nona. Ibuku paling bersemangat” ucap Ranti tulus dan gembira lalu menghampiri Re yang sedang makan.


“Sudah kamu jangan selalu bercerita tentangku pada keluargamu. Itu namanya istidraj. Tidak boleh membanggakan manusia” jelas Vio karena dia memang tidak suka selalu dipuji.


“Maaf nona. Tidak lagi lain kali. Aku dan keluargaku hanya selalu bersyukur saja bisa menjadi keluarga nona muda” ucapan Ranti itu mendapat teguran dari Re.


“Onty. Kenapa onty selalu memanggil mami nona muda. Panggil mami itu namanya saja atau semau onty” kata-kata itu membelalakkan mata kedua orang dewasa disana.


“Apa kamu bilang? Nama saja? Tidak. Mami tidak suka. Usia ontymu itu jauh lebih muda dari mamimu ini. Panggil aku kakak. Itu lebih pantas” sewot Vio. Dan itu membuat ketawa Re dan Ranti.


Setelah perjalanannya menginap di sebuah kota besar itu, malamnya mereka sampai rumah mereka kembali. meskipun mereka sudah menghabiskan waktu liburan mereka, mereka bertiga tidak pernah merasa lelah. Apalagi Re yang bersemangat setelah mendengar kabar dari maminya jika mereka akan dijemput oma opanya untuk pulang kembali.


Keesokan harinya, di sekolah Re, dengan sedih Re berpisah dengan teman-temannya di sekolah yang dia rasa mereka semua sangat baik padanya. Guru yang mengasuhnya pun menangisi kepergian Re pulang kembali ke Negara asalnya.


Setelah opa dan omanya tiba, mereka bertiga menjemput oma opanya di bandara. Diantara bertiga yang paling bersemangat adalah Re. Karena akhirnya setelah hampir lima tahun dia akan mengunjungi pusara mamanya.


“Oma opa” teriak Re di bandara setelah melihat kedatangan oma dan opanya.


“Cucu oma sama opa semakin ganteng saja kayak bule aja sih” sapa Oma langsung menggendong Re. ya. Wajah Re yang seperti bule berambut lurus kayak oppa-oppa korea itu, bisa dibayangkan sendiri ya readers, memang sangatlah tampan. Padahal Rena dan ayah biologis Re bukanlah keturunan orang luar. Tapi entah kenapa wajahnya sekarang cenderung mirip dengan Vio. Makanya orang yang sudah tahu tidak akan percaya jika Re hanyalah anak angkat Vio.

__ADS_1


Setelah temu kangen di bandara mereka semua pergi meninggalkan bandara menuju rumah Vio. Di sana Ranti memasang penghangat untuk mereka. Kebetulan sekarang akan memasuki musim dingin. Jadi udaranya sudah mulai terasa dingin. Mereka berkumpul hangat. Re yang berceloteh riang itu selalu mengundang tawa para orang dewasa di dalam rumah itu.


__ADS_2