Pacar Online Yang Tertukar

Pacar Online Yang Tertukar
Bab 76 Si Penguntit


__ADS_3

Setelah mengantar Re pergi ke sekolah, Vio mampir ke supermarket terdekat dengan sekolah Re. Kota seberang yang letaknya melewati perbatasan pinggiran kotanya Vio tepatnya daerah seberang Kota Besar, kota yang berlawanan arah menuju area perkotaan di Kota Besar. Ya tepatnya lagi di belakang Kota Besar. Dan letak sekolah Re ada di kota ini. Kota yang sangat padat dan ramai. Disana banyak aktivitas namun tidak seperti di Kota Besar yang sangat Besar dan terkenal penghasil minyak bumi terbesar di dalam negeri. Nama kota ini adalah Kota Agoda. Kotanya memang kecil namun terlihat seperti sebuah kota pusat perbelanjaan dan pendidikan. Di kota ini memang banyak kampus ternama dan sekolah-sekolah elit.


Di supermarket itu Vio membeli kebutuhan Re dalam beberapa hari ke depan. Supermarket di sana sangatlah lengkap. Apalagi jarak dari vila ke Kota Agoda lebih dekat dibandingkan ke Kota Besar.


Cekrek cekrek.


Suara shooter kamera handphone dari seseorang yang tidak diketahui seseorang yang menjadi obyek tujuannya. Tentu saja gambar itu diambil dari jarak yang lumayan jauh dan agak ramai jadi tidak terdengar oleh obyeknya. Hasil gambar itu dikirimkan pada seseorang. Setelah orang itu mengirimkan hasil jepretannya, dia mengikuti kemana Vio berjalan. Ya seorang wanita yang sudah mengambil gambarnya dan kini sedang mengikuti Vio. Vio tidak sadar telah diikuti seseorang.


"Ikuti dia" titah seseorang dibalik sebuah balasan pesan itu.


"Total semua Rp. 15.500.000,-, Kak" ucap sang kasir wanita.


"Saya bayar pakai ini, mb" ucap Vio menyodorkan kartu debitnya.


"Silahkan pinnya" ucap sang kasir lagi.


"Sudah" balas Vio setelah mengetikkan beberapa digit angka pin kartunya.


"Ini barangnya ya, Kak. Terimakasih. Selamat berbelanja kembali" ucap sang kasir menangkupkan kedua tangannya dengan senyum ramahnya.


Vio membeli beberapa baju, sepatu untuk ganti untuk Re, juga makanan kesukaan Re. Masih asyik menikmati jalannya, Vio tanpa sadar terus berjalan menuju parkir kendaraannya. Hingga tibalah ia di samping mobilnya dan segera dia masuk. Vio mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang. Hingga setelah lampu merah, Vio secara tidak sengaja melihat di kaca spion depannya ada sebuah mobil yang mengikutinya. Vio kemudian sengaja berputar arah untuk menghindari penguntitnya. Dia sebenarnya belum terlalu mengenal daerah di Kota Agoda itu. Apalagi dia sangat jarang ke sana sebelum ke luar negeri dan sekarang sudah banyak bangunan baru dan berkembang pesat. Vio mengandalkan maps. Masih mengemudi dengan kecepatan sedang supaya tidak dicurigai, Vio menelpon Hasan.


"Wa'alaikumsalam. San, datanglah ke cafe di Jalan Merak sekarang" titahnya pada Hasan.


"Baik, Nona" jawab pria jangkung dari seberang telepon.

__ADS_1


Vio lalu menghentikan mobilnya di sebuah cafe di Jalan Merak.


Vio masuk ke dalam cafe dan menunggu kedatangan Hasan. Setelah hampir setengah jam, dengan kecepatan tinggi, Hasan memasuki cafe itu dengan berjalan santai seperti yang diperintahkan oleh nona mudanya melalui pesan.


"Nona muda!" sapa Hasan setelah menemukan meja nona mudanya.


"Duduklah" perintah Vio.


"Berpura-puralah untuk berbicara dengannya untuk mengalihkan pandangannya. Aku akan membawa mobil yang kamu gunakan. Dan ingat saat dia lengah lagi kau pulanglah" ucap Vio dengan bertukar kunci mobil.


"Baik, Nona" jawab Hasan.


"Ini bawalah" ucap Vio menyerahkan bungkusan pesanan dari cafe tersebut. Kemudian Hasan bangkit dari kursinya menuju pintu keluar. Vio yang bersiap keluar dari pintu samping cafe yang sudah terdapat mobilnya yang dibawa Hasan terparkir dekat pintu samping cafe. Mobil yang didesain dengan interior yang begitu mewah. Mobil itulah yang dibawa Hasan sesuai perintahnya. Setelah Vio berhasil masuk lalu Vio mengemudikan mobilnya itu dengan berjalan perlahan. Kebetulan kaca mobilnya tidak akan terlihat dari luar. Jadi Vio terlihat aman. Mobil Vio melewati mobil penguntitnya itu. Vio ingin tahu siapa yang sudah berani mengikutinya. Mobil Vio berhenti setelah keluar pintu gerbang cafe tersebut. Dilihatnya Hasan secara sengaja berjalan dan menjatuhkan dirinya mengenai mobil penguntit itu berpura-pura tersandung.


"Hei! Kau apa-apaan! Kau membuat lecet mobilku!" teriak suara penguntit itu terdengar oleh Vio dari dalam mobilnya yang ternyata teman kantornya dulu si ratu gosip dikantornya dulu, Margareta turun dari mobilnya.


"Jimy, tolong selidikilah Margareta Wibowo" ucapnya pada Jimy dari seberang ponselnya.


Kemudian Vio kembali melajukan mobilnya setelah melihat Hasan meminta maaf pada Margareta. Hasan tampak berjalan menjauh dari cafe kemudian menyusul mobil Vio di depan gerbang cafe yang tanpa disadari Margareta. Awalnya Hasan akan mengambil mobil milik nona mudanya yang terparkir di halaman parkir, namun Vio meneleponnya untuk ikut dengannya saja. Karena mata Margareta selalu mengawasi ke dalam cafe dan mobilnya yang sebelumnya diminta untuk menemui manager cafe tersebut. Biarlah mobilnya dia parkir dulu disana. Sebelum Hasan menghampiri mobil Vio didepan gerbang, Hasan berjalan masuk memberitahu manager cafe bahwa nona mudanya titip mobilnya dulu nanti setelah penguntit itu bosan, dia akan mengambilnya.


"Mari, Nona" ucap Hasan setelah masuk pintu mobil.


Vio yang sudah berpindah kursi itu menganggukkan kepalanya.


"Berhati-hatilah dengannya. Baca pesan yang ku kirim" ucapnya pada Hasan dengan raut muka datar.

__ADS_1


"Nanti sebelum kau menjemput Re pulang sekolah, ambillah mobilku lalu pergilah menjemput Re. Disana banyak belanjaan untuk Re" titahnya lagi.


"Baik, Nona" jawab Hasan yang sudah paham.


Ting. Sebuah pesan masuk ke dalam ponselnya.


Vio melihat pesan itu. Dia sudah mendapat riwayat mengenai Margareta Wibowo itu.


"Hm, ternyata dia hanyalah orang biasa yang memiliki tingkat perilaku yang setara dengan para kaum sosialita. Kedua orang tuanya hanyalah seorang buruh kecil di sebuah garment. Kau masih berpihak pada wanita licik itu. Baiklah, kau yang memulai ini semua.


Setelah beberapa menit berlalu, Vio turun dari mobilnya kemudian masuk ke vila yang disambut oleh Bibi Hawa.


"Bi, tolong buatkan aku minuman jus jeruk ya. Hasan juga. Terimakasih, Bi" pintanya setelah merebahkan tubuhnya di atas sofa empuknya pada Bi Hawa.


"Baik, Non" jawab Bi Hawa.


Setelah beberapa menit, jus jeruknya diberikan pada Vio. Juga Hasan di meja dapur seperti biasanya.


"Alhamdulillah. Terimakasih, Bi" ucapnya menyodorkan gelas kosongnya.


"Sama-sama, non. Nona mau makan apa?" tanya Bi Hawa.


"Tidak, Bi. Terimakasih. Tolong nanti ingatkan Hasan untuk menjemput Re jam 12 siang ya, Bi" ucap Vio pada Bi Hawa.


"Siap, Nona" jawab Bi Hawa memberikan senyum terbaiknya untuk nona mudanya.

__ADS_1


Vio yang berada di ruang tamu itu segera bangkit dan berjalan meninggalkan Bi Hawa sendiri ke lantai atas ke kamarnya. Dia bermaksud untuk membersihkan tubuhnya karena merasa lengket.


__ADS_2