
Di tengah perjalanan Vrish.
"Terimakasih sudah mengantarkan kami pulang ke rumah, nak. Dan..berkat bantuanmu juga keluargamu, Vio selamat. Mereka para pelaku juga tertangkap. Kau sudah menyelamatkan nyawa putriku" ucap nyonya Atmadja yang kini memangku Re yang tertidur lelap. Setelah mobil berjalan tidak berselang lama, Re tertidur.
"Tidak perlu sungkan begitu tante. Semua itu sudah menjadi tanggungjawabku karena..kalau bukan aku putri tante tidak akan seperti ini" jawab Vrish merasa bersalah atas kejadian yang menimpa Vio itu.
Lalu suasana dalam keadaan hening kembali. Vrish melajukan kendaraannya dengan kecepatan sedang.
'Sepertinya ada yang mengikutiku' batin Vrish yang melihat spion didepannya. Tanpa persiapan senjata apapun karena setelah tragedi tadi membuatnya menyerahkan semua senjatanya pada Hendrik. Lalu dia menyalakan bluetoothnya untuk menghubungi Jefery.
"Cepat kau kemari!" ucap Vrish pada sambungan teleponnya. Kemudian Jefery mengikuti petunjuk lokasi yang sudah dikirimkan Vrish. Segera dia meluncur dengan kecepatan tinggi. Jefery kali ini mengajak Jimy. Dan Monti diminta untuk berjaga bersama tuan besarnya. Sedangkan Hasan diminta untuk berjaga dimansion keluarga Atmadja.
"Ada yang mengikuti kita?" tanya nyonya Atmadja yang kini menoleh ke belakang melihat sebuah sedan hitam mengikutinya.
"Tante merunduklah" perintah Vrish. Lalu diikuti nyonya Atmadja.
Merasa nyawanya nyonya Atmadja terancam, Vrish melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Dia menghubungi papanya. Tak berselang lama mobil papanya terlihat dari belakang. Mobil mereka saling kejar-kejaran. Kemudian Vrish mencoba mengalihkan lajunya ke arah pusat kota dimana disana terdapat keramaian. Mobil sedan hitam itu masih mengikutinya.
'Siapa dia berani macam-macam denganku' batinnya lagi.
'Selidiki mobil berplat nomor xxxxx' pesan Vrish lewat ponselnya pada Hendrik.
'Segera' jawab pesan Hendrik.
"Berhati-hatilah, nak" ucap nyonya Atmadja.
"Tante tenang saja" jawab Vrish yakin.
"Kau keluarlah dari pusat keramaian. Akan sangat berbahaya untuk orang lain" sambungan telepon dari papanya Vrish.
"Baik, pa" kemudian Vrish pergi dari pusat keramaian kota. Dia mengalihkan ke daerah pinggiran kota.
Dorr Dorr.
__ADS_1
Tuing tuing.
Bunyi tembakan dan peluru yang menghantam mobil Vrish. Beruntunglah mobil Vrish dilapiji anti peluru.
"Tante maafkan saya karena melibatkan tante dan Re. Tolong berpeganganlah yang kencang" ucap Vrish sambil menatap ke depan. Ucapan itu diangguki nyonya Atmadja.
Mobil semakin melaju kencang. Vrish memang lihai. Papanya Vrish membalas serangan tembakan yang ditujukan ke mobil putranya itu dari belakang. Tak berselang lama dari aksi itu, Jefery datang bersama Jimy.
Melanjutkan aksi tembak-tembakan tiga mobil, tembakan musuh selalu meleset. Bahkan kaca mobil musuh sudah banyak lubang akibat tembakan dari Jimy juga papanya Vrish. Karena merasa kalah, kini mobil sedan hitam itu mengeluarkan senjata sejenis bom mencoba untuk memborbardir mobil yang ditumpangi Vrish. Sadar akan aksi musuh, Jefrey bertindak lebih cepat.
"Cepat kau tembakan ke roda mobilnya!" teriak Jefery pada Jimy yang saat ini mendekati mobil musuh.
Dorrr!
Tepat waktu papanya Vrish menembak seseorang musuh yang akan menembak Jimy dari dalam mobil.
"Cepat!" teriak Jefery sekali lagi karena melihat Jimy kesusahan untuk mengambil posisi yang tepat.
Jimy yang menembak dengan tepat sasaran, membuat mobil musuh itu berguling-guling dan duoorrrr. Meledak.
Setelah mobil Vrish berhenti di jarak yang sangat jauh dari ledakan itu, dia bernafas lega. Begitu pula dengan nyonya Atmadja. Re yang tertidur lelappun terbangun saat terjadi baku tembak. Re tampak takut dan hal itu terlihat sedang terpaku didalam dekapan nyonya Atmadja.
"Tenanglah boys. Sudah selesai. Mari kita pulang" itulah yang dikhawatirkan Vrish. Mengganggu psikologi Re.
"Tenanglah, Re. Jangan takut. Oma disini. Om juga sudah dibantu papanya juga para pengawalnya" ucap Oma. Re mengangguk lemas. Akhirnya dengan tepukan Oma pada punggungnya, Re tertidur kembali. Perjalanan Vrish juga Nyonya Atmadja dikawal oleh Jefery juga papanya Vrish hingga sampailah mereka di sebuah mansion mewah yang tampak asri dan indah. Berbagai macam bunga tertanam rapi berjajar seolah menyambut kedatangan para tamu.
"Alhamdulillah. Sekali lagi terimakasih, nak, tuan Pramudya juga kalian. Berhati-hatilah" pesan nyonya Atmadja yang merasa khawatir jika musuh masih mengintai.
Re yang sudah dibopong Hasan karena sudah menyambut tuan besarnya membawanya masuk ke dalam kamarnya Re.
"Bawa orang-orang yang selamat itu padaku!" ucap Vrish pada Jefery dengan geram mengepalkan kedua tangannya hingga buku-buku jarinya nampak memutih.
Sedangkan di rumah sakit.
__ADS_1
Vio yang sudah tertidur dari masa kritisnya tiba-tiba terbangun.
"Sshhhh. Arrgh. Emmhhh" Vio yang tersadar dari masa kritisnya menggeram mengagetkan papinya setelah dini hari. Saat ini papinya menungguinya di dalam ruang perawatan.
"Nak! Apa yang kamu rasakan? Papi akan panggil dokter sebentar ya" kemudian tuan Atmadja keluar memanggil dokter. Segera dokter masuk dan memeriksa keadaan Vio.
"Putri anda sudah sadar dan melewati masa kritisnya, Tuan. Saya akan memeriksanya kembali" ucap dokter pada Tuan Atmadja lalu memeriksa kondisi Vio sekali lagi.
"Tuan, sepertinya tulang kering kaki putri anda memar akibat benturan. Sepertinya akibat tendangan sebuah heels. Sudah saya obati dan semoga memarnya dan lukanya juga tidak membekas dapat segera hilang. Beruntunglah tidak terjadi infeksi dan luka tidak terlalu dalam. Tiga jam lagi saya akan memeriksanya kembali. Berilah minum secara perlahan, Tuan" ucap sang dokter kemudian mengangguk dan pergi keluar.
"Terimakasih, dokter" jawab Tuan Atmadja.
Setelah dokter pergi keluar, Tuan atmadja mendekati putrinya yang terlihat sangat pucat.
"Haus, papi" ucap Vio perlahan dan lemah. Segera Tuan Atmadja mengambilkan air minum hangat.
"Ini, nak. Pelan-pelan minumnya sayang" ucap Tuan Atmadja membenarkan posisi kepala Vio.
"Papiiii! Hikkss.." tangis Vio pun pecah pada akhirnya usai menenggak minumnya perlahan.
"Tenang sayang. Kamu sudah aman dan baik-baik saja" kata-kata Tuan Atmadja menenangkan hati Vio.
"Vio hanya khawatir, pi sama Re. Re pasti khawatir karena selama ini Re tidak pernah jauh dari Vio, pi. Alhamdulillah akhirnya Vio bisa bertemu papi mami Re juga semuanya nanti" terang Vio sedih.
"Ya sayang. Kamu jangan khawatir. Apakah kamu tahu siapa yang menyelamatkanmu? Re-mu" ucap papi.
"Re? Bagaimana bisa?"
"Saat Ranti melihat ponselmu berkedip-kedip, Re langsung mengambilnya dan tahu bahwa itu adalah pelacakmu. Jadi Re melacak keberadaanmu. Lalu dia menelpon Vrish dan semuanya dikerahkan untuk menyelamatkanmu, Vi. Papi sangat bangga sama Re kita, nak. Sudahlah kita lanjutkan nanti ceritanya. Sekarang kamu pulihkan dulu tenagamu ya. Istirahatlah kembali. Papi akan memberitahu mami dulu" ucap papi lalu menyelimuti putrinya itu kemudian pergi keluar untuk menelpon istrinya.
"Assalamualaikum, mami! Putri kita sudah sadar mi" ujar papi dari sambungan telepon.
"Waalaikumsalam. Alhamdulillah, pi. Mami akan memasakkan masakan yang enak-enak buatnya. Mami akan mengirimkan ke rumah sakit. Papi tunggu ya" jawab mami bahagia dari seberang telepon.
__ADS_1