
Vrish mengatur strategi setelah mengetahui dimana letak lokasi pujaan hatinya. Setelah mengotak-atik kode pelacak bersama Re, kini Vrish telah menyiapkan semuanya untuk keselamatan Vio nanti jika terjadi sesuatu pada Vio. Karena musuh yang akan dia hadapi adalah musuh yang sangat kejam yang tidak mengenal pandang bulu.
“Apa kau sudah siap tuan muda?” tanya Re dari balik ponsel Vrish.
“Hm” jawab Vrish.
“Hei! Apa kau bisu? Jawablah dengan baik dan sopan. Kata mamiku, jika ada orang bertanya dengan sopan, maka jawablah dengan baik dan sopan” kata-kata Re itu membekukan tubuh Vrish. Dia lupa jika pujaannya kini sudah memiliki anak. Setelah mendengar kata “mamiku” Vrish sadar bahwa kini dia tidak mempunyai kesempatan lagi untuk mendapatkannya. Namun demi membantu orang yang dia cintai, dia tidak boleh egois. Semua ini karena salahnya. Dia harus bertanggungjawab. Dia belum tahu apa motif penculikan itu.
"Kenapa anak ini bisa secerdas ini?" batin Vrish.
"Hei, Tuan Muda! Tidak usah kau mengataiku" jawab Re dari seberang ponsel. Namun Vrish tidak menggubrisnya. Vrish langsung mematikan sambungan teleponnya.
Sedangkan ditempat lain.
Setelah diguyur air es, Vio yang menggigil itu tetap berusaha untuk melepaskan ikatan tangannya. Setelah berusaha dengan keras, akhirnya ikatan di tangannya itu lepas juga. Setelah dia mendengar derap langkah kembali, dia membenarkan posisinya kembali seperti semula. Kali ini terdengar seperti sepatu heels seorang perempuan dan sepatu lainnya. Jadi seperti ada beberapa orang yang berjalan ke arahnya.
Tek tek tek tek. Suara itu semakin mendekat.
Kemudian suara derit pintu dibuka dari luar. Pintu yang terbuka itu menampakkan penampakan seorang laki-laki tadi yang mengguyurnya dengan air es lalu muncul seorang wanita di belakangnya. Wanita cantik dan glamor namun dengan jalan yang cacat. Wanita itu semakin dekat dan mencekal pipinya Vio.
“Apa kabar, nona? Sudah lama kita tidak bertemu. Bagaimana, apakah kamu sudah mengingatku? Hahahaha” tawa itu mengandung arti tawa kesedihan dan ancaman.
“Aku tahu kau masih hidup. Bahkan kau bisa hidup dengan layak sekarang. Apa kau ingin membalas dendamku?” kata Vio. Ya wanita itu adalah Fifi.
“Hahaha. Kau begitu cerdas. Tapi kau sangat naif. Setelah kejadian itu, kau membuangku di tengah hutan yang sangat jauh dan dingin. Kau tahu disana aku menderita. Kau menyiksaku begitu kejam. Kau membuatku cacat seperti ini. Tapi beruntunglah diriku ditemukan seseorang yang mau menolongku dengan sukarela. Bagiku dia malaikat penolongku. Kau. Aku akan membuatmu cacat sepertiku sehingga kau akan merasakan bagaimana rasanya tersiksa” ucap Fifi menghempaskan wajah Vio.
__ADS_1
Dengan senyum ironi, Vio sudah bisa memprediksi kejadian ini akan mengancamnya. Karena dengan alat pemantau yang dipasang anak buah Vio kala itu di anting Fifi. Tapi memang Vio jarang memantaunya langsung. Kesehariannya sudah ia sibukkan hanya untuk bekerja dan mengurus Re.
“Kau sudah tahu jika aku baik-baik saja?” tanya Fifi mengernyitkan keningnya melihat ekspresi Vio.
“Seperti yang kau tanyakan” senyum miring Vio. Lalu Fifi menampar Vio dengan keras sehingga mengakibatkan bibir Vio robek sedikit dan mengeluarkan darah.
“Bagaimana rasanya? Apa masih kurang?” Fifi kemudian menendang tulang kering Vio yang membuat Vio merintih kesakitan. Dengan masih berpura-pura terikat, Vio tidak akan melawan terlebih dahulu. Dia hanya ingin tahu apa motif Fifi menculiknya dan siapa saja yang membantunya. Dia sudah pernah berada di dunia bawah begitu lama sehingga membuatnya selalu berpikiran waspada.
“Sakit? Atau..dukk” Fifi sekali lagi menendang kaki Vio tepat di tulang keringnya. Vio yang merasa kesakitan, mengerang menahan rintihannya. Jika sudah tiba saatnya dia akan membalas dan tidak mengampuni perbuatan Fifi lagi.
“Tenangkan dirimu. Biarkan bos kita yang bertindak” ucap cecunguk itu pada Fifi sambil menahan pergerakan Fifi.
“Beruntunglah kau. Aku tidak menghabisimu sekarang. Tapi kau akan lihat nanti. Hahahaha” ucap Fifi tertawa lebar menggemakan seluruh ruangan sambil berlalu pergi meninggalkannya sendiri.
“Pssstt. Errrgghh. Arrghhh. Astaghfirullah. Ya Robb. Selamatkan aku dari sini. Kirim siapapun yang melihat tanda itu diponselku” doa Vio merasa sedih. Jika dia tidak mengingat ada Re, dia pasti akan menghabisi mereka berdua. Namun, jika dia melawan seorang diri itu juga tidak akan mungkin karena pasti para anak buah mereka apalagi bekerja sama dengan black gangster yang memiliki anak buah yang sangat banyak. Dia tidak akan sanggup melawannya seorang diri.
Dia merasa sangat lapar. Namun musuhnya tak kunjung memberinya makan. Bahkan dia sangat kehausan. Dengan tangan yang sudah bebas dari ikatan dia tidak berani bergerak terlalu banyak karena dia tahu ada sebuah kamera cctv yang terus memantaunya. Entah siapa orang dibalik ini. Karena merasa ada yang sedang mengawasinya.
“Re, kamu pasti khawatir dengan mami sekarang. Fifi tidak boleh tahu tentang Re” batin Vio sedih mengingat Re. Dia harus kuat demi Re.
Ditempat lain.
“Mami!” teriak Re yang baru bangun tidur. Karena Vio menghilang, Re tidak masuk sekolah terlebih dulu.
“Ada apa, sayang? Apa kamu mengigau?” tanya Oma yang berlari menghampiri Re di kamar.
__ADS_1
“Oma, Re bermimpi mami sedang dalam bahaya. Re harus menyelamatkan mami, Oma. Re takut terjadi sesuatu dengan mami, Oma. Haaa” seru Re menangis histeris yang langsung mendapat pelukan Omanya.
“Tenang, sayang. Berdoalah untuk mami kamu ya. Semoga mamimu tidak kenapa-kenapa” kata-kata Oma diangguki Re yang masih menangis itu.
“Ada apa, Mi? Re kenapa?” tanya Papinya Vio yang berlari ke kamar Re dan menghampiri maminya Vio.
“Re mimpi Vio, Pi” jawab nyonya Atmadja.
“Sekarang Re sarapan dulu ya. Sebelum itu, Re bersihkan diri dulu biar segar ya. Atau Re mau makan di kamar saja?” ucap nyonya Atmadja.
“Iya, Oma. Re mau makan disini saja ditemani sama Opa” jawab Re yang menatap Opanya dengan sedih.
“Bawakan sarapan untukku ke sin iya, Mi” pinta papi.
“Baiklah. Oma akan membawakannya untuk kalian” jawab mami.
Sedangkan Vrish di tempat lain di markas milik keluarga Pramudya.
Jimy dan Monti yang pergi bersama Vrish juga Jefrey ke markas milik keluarga Pramudya merasa kagum. Sebuah markas yang dijaga begitu ketat juga banyak anak buah yang mengawasi lingkungan sekitarnya juga memantau siapapun yang datang. Lalu mereka pergi ke sebuah ruangan yang sangat rapi seperti sebuah ruangan rapat namun luas. Dipojokan terdapat sebuah ruangan gelap seperti penjara.
Vrish yang sudah menyusun strategi bersama Jimy dan Monti serta Martin juga dibantu oleh Jefrey yang selalu memantau keberadaan Vio melalui ponsel Vio. Vrish bersiap pergi menggunakan mobil iring-iringan dengan jarak yang tidak terlalu dekat. Karena Vrish tidak mau menjadi sorotan netizen dan musuh meskipun musuh tidak tahu jika Vrish bakalan menyelamatkan seorang nona muda putri dari keluarga Atmadja.
“Kau pergi bersamaku terlebih dulu. Baru kau ikuti aku dari belakang bersama Monti” ucap Vrish kepada Martin.
“Baik, Tuan” jawab Martin.
__ADS_1
“Ayo” ucap Vrish mengajak Jimy dan beberapa anak buahnya yang lain. Kemudian mereka semua pergi meninggalkan markas keluarga Pramudya. Dengan mobil yang sudah dipersiapkan juga peralatan untuk menjaga diri juga sudah lengkap berada di dalam mobil mereka masing-masing. Mobil berjalan keluar beriringan lalu berpencar.