Pacar Online Yang Tertukar

Pacar Online Yang Tertukar
Bab 92 Ilustrasi para pemeran


__ADS_3

Assalamu'alaikum readers ❀


Yuuukkk yuukk dukung coretan-coretan author yuuukkk. Gak hanya dibaca lohhh tapi juga beri like vote bintang ulasan dan komen πŸ€—


Sebelum ke Bab baru author mo lanjutin ilustrasi para pemerannya yahhh hihihi 😁😁



Tuan Besar Pramudya, papanya Vrish. Udah mirip kan sama anaknya? 😁😁



Tuan Besar Atmadja, papinya Vio.



Nyonya Atmadja, mami Vio



Ranti, asisten pribadi sekaligus sahabat Violetta



Asisten pribadi/bodyguard Violetta, Monti.


Naahh ini ilustrasi pemeran Raykanda ya..



Itu dulu yah readers hehe..nanti kita lanjut lagi.


Author mo lembur tugas negari duluπŸ€—


Yuuukk kasih sedikit ulasan. Cerita ini akan "end" lohh


Salam sehat dan semangat buat readears πŸ’ͺπŸ’ͺ


Wassalamu'alaikum


*******************************************************


Lanjutan Bab 93


Sinar mentari pagi membangunkan tidurnya Re kecil. Dia menggeliat ke sana dan kemari. Sangat menggemaskan. Hangatnya menusuk kulit wajahnya yang sangat tampan. Sudah beberapa hari ini dia tidak masuk sekolah dikarenakan hanya ingin menjaga maminya. Dibujukpun tidak akan mempan.


"Ayo bangun sayang. Hari ini kau harus berangkat sekolah. Mami tidak mau mendengar apapun alasannya. Nanti pulang sekolah Re bisa langsung ke sini. Okay!" ucap Vio membangunkan Re yang tidur disampingnya.


"Huhh. Aku tidak suka mami" rajuk Re.


"Baiklah jika kamu tidak mau sekolah. Lebih baik Re pulang bersama Oma juga Opa. Atau biar paman Hasan yang menjemputmu?" ucap Vio berbalik mengancam Re.


"Mami gak asyik" kata Re sambil berlalu beringsut turun dari bed dan berjalan menuju kamar mandi dan memonyongkan bibirnya. Vio tersenyum merekah.

__ADS_1


Tanpa disadari, Vrish yang sudah datang pagi-pagi sekali membawakan bubur itu melihat suguhan pagi-pagi bagaimana senyum Vio. Dan dia melihat betapa indahnya rambut Vio saat tergerai. Vrish melihat itu semua dari sebuah celah pintu yang terbuka sedikit. Vio tidak tahu jika pintu menganga sedikit. Karena pagi-pagi sekali papinya pulang ke mansion untuk menyiapkan berkas untuk rapat nanti siang. Sedangkan mami Vio sedang keluar untuk berbicara dengan dokter Issa di ruangan dokter Issa tentang kepulangan Vio apakah bisa hari ini atau menunggu kondisi Vio benar-benar membaik.


'Maasyaa allah cantik sekali' batin Vrish.


Seolah ada yang memberi tahu, Vio merasakan kehadiran seseorang. Dia menoleh dan melihat Vrish sedang menatapnya dari celah pintu akses keluar masuk. Segera dia meraih-raih mencari hijabnya. Setelah tangannya berhasil meraih hijab naas hijabnya terjatuh dr atas nakas dan saat tangan Vio hampir menjamah lantai dari atas bednya, Vio nyaris terjatuh. Namun beruntung tubuh Vio diraih oleh Vrish dengan cepat. Bagaimana jika Vio terjungkal sedangkan luka di kakinya masih terlihat memar dan membengkak.


Dengan rambut panjang hitam kecoklatan yang lebat terurai itu menutupi wajah Vrish yang tadi berhasil menopang tubuh Vio yang hampir terjungkal. Harum bau shampoo di rambutnya mampu menghipnotis Vrish (meskipun sudah beberapa hari Vio belum keramas tapi rambut Vio memang selalu harum. Re saja sampai suka menciumi aroma tubuh Vio). Vrish diam membeku menatap Vio tajam. Lalu Vio spontan juga membalas tatapannya.


'Sungguh bidadari dunia wal akhirat' batin Vrish.


'Duh ternyata dia sangat tampan' batin Vio bersamaan dengan suara hati Vrish.


"Mami! Paman!" panggil Re yang sudah selesai mandi membuat keduanya kaget dan saling melepaskan pelukan mereka.


Vio memakai selimutnya untuk dijadikan hijabnya sementara.


"Kau keluar dulu aku ingin pakai hijabku!" usir Vio merasa malu dan berdosa.


Vrish yang melangkah keluar itu hanya diam tanpa menjawab. Namun dia membisikkan sesuatu ditelinganya.


"Dosamu itu akan kita bayar dengan menikah sebentar lagi" bisik Vrish.


"Kau imut sekali dengan selimut itu" bisiknya lagi dengan tersenyum lalu melangkah melenggang keluar.


"Dasar!" gumam Vio menyolot.


"Mami tidak apa-apa? Kenapa mami ceroboh sekali?" sewot Re lalu berjalan ke arah maminya.


"Iya maafin mami. Mami juga tidak tahu jika dia datang kemari. Sudah ayo sini mami sisiri rambutmu" ucap Vio mengalihkan pembicaraannya Re. Dia tahu jika Re pasti akan berbicara yang tidak-tidak.


"Sayang, maafin Oma ya. Oma sangat lama. Wah cucu oma sudah tampan dan sudah bersiap untuk pergi sekolah ya? Nah begini kan tampan. Berangkat sekolah dengan benar. Paman Monti sudah menunggumu di luar, nak. Kamu sarapan dulu ya. Itu sudah oma siapkan" tunjuk oma pada sarapan yang sudah tersaji sejak tadi.


"Baik Oma!" jawab Re patuh. Lalu menikmati sarapan rotinya dengan segelas susu.


"Pagi-pagi sekali dia datang kemari hanya untuk mengantarkan bubur ini?" maminya Vio berpura-pura bertanya pada putrinya yang sepertinya kini tampak malu dengan wajah yang bersemu merah dikulitnya yang putih itu dengan menundukkan kepalanya. Padahal maminya sudah tahu saat mau masuk kamar inap putrinya dia menemukan Vrish di depan pintu kamar inap putrinya dan menyapanya.


"Tuan muda Pramudya! Pagi-pagi sekali sudah datang? Apakah ada sesuatu yang diperlukan?" sapa nyonya Atmadja.


"Ah..iiya, tante. Saya datang hanya untuk mengantar bubur. Tadi pagi sewaktu saya joging melihat ada orang yang jualan bubur. Katanya enak. Jadi..saya membelinya buat tante juga Vio sarapan. Mungkin yang lainnya juga" jawab Vrish gugup. Dia merasa malu sudah terpergok oleh nyonya Atmadja. Dia pikir nyonya Atmadja ikut pulang suaminya. Namun ternyata justru dari ruangan dokter Issa.


"Vio tidak tahu mami. Tadi saat dia datang kemari Vio juga tidak tahu. Tahu-tahu dia sudah berdiri di depan pintu. Dan...semua ini gara-gara mami. Dia melihat Vio tanpa hijab. Bagaimana ini mami?" ucap Vio yang masih nampak malu akibat ulah Vrish yang sudah melihatnya tanpa hijab tadi lalu mengeluhkan pada maminya.


"Kenapa jadi mami yang disalahkan?" maminya tidak terima.


"Jelas saja tadi mami kan yang membuka pintu tidak menutupnya dengan rapat? Jadi...dia melihatku mami!" manyun Vio.


"Mami itu seperti anak kecil saja. Begitu saja diributkan. Bukankah kalian akan menikah? Seperti yang Re baca, jika kita dilamar jodoh kita, itu artinya jodoh kita boleh melihat kita terlebih dulu apakah ada kecacatan atau tidak. Asalkan dia tidak membuka aibnya" jelas Re yang sudah seperti orang dewasa saja.


"Hei bocil! Kau ini malah membelanya ya. Kamu itu anak mami atau bukan sih?" ucap Vio manyun dan berkacak pinggang.


"Mami kan tahu. Kenapa harus tanya sama Re sih?! Mami, ini masih pagi. Makanlah dulu bubur itu. Dia sudah membawakannya untuk mami. Atau perlu Re panggilkan dia?" lagaknya seperti orang tua mengeluarkan kata-kata itu lalu mengusap mulutnya dengan tisu secara elegan.


"Kau ini. Kau sudah menguping pembicaraan orang tua?" Vio yang mendengar perkataan putranya menjadi semakin gemas pada Re.

__ADS_1


"Mami itu lucu. Jika Re tidurnya tidak di sini itu artinya Re tidak akan tahu" jawab Re lalu bangkit dari tempat duduknya dan berjalan ke arah maminya.


"Mami, Re akan berangkat sekolah dulu bersama oma juga paman Monti. Mami sarapan dulu terus minum obatnya ya biar Mami cepat sembuh kakinya" lanjut Re. Namun tiba-tiba diam termenung sedih menundukkan kepalanya.


"Kenapa, nak, kamu sedih?" tanya Vio ikut sedih melihat putranya bersedih.


"Re takut jika nanti mami menikah, mami akan melupakan Re. Seperti teman Re di sekolah. Papanya yang menikah lagi dan berpisah dengan mamanya, dia dilupakan oleh orang tuanya" ucap Re sedih saat mengingat cerita salah satu temannya di sekolah.


"Kemarilah. Re jangan khawatir. Tidak boleh berpikiran seperti itu ya. Mami tidak akan menikah jika Re takut. Mami kan sudah punya Re" ucap Vio sedih mendengar pengakuan putranya dengan memeluk putranya erat.


"Mami janji ya tidak akan membuang Re setelah mami menikah? Jika mami membuang Re maka Re akan menghajar paman itu!" ucap Re kecil penuh semangat.


"Sayang cucu Oma. Re jangan khawatir ya. Mami tidak akan pernah melupakan Re. Karena Re adalah segalanya buat Mami, Oma, Opa bahkan onty Ranti. Kalo mami Re lupa maka Oma yang akan melupakan mamimu jika mamimu itu putri oma. Okay sayang. Yuuk kita berangkat sekarang. Khawatir kita terlambat" ucapan Omanya membuat Re lega dan tertawa. Hal itu membuat Vio bisa bernafas lega. Apapun akan dia lakukan selama bisa membuat Re bahagia.


"Mami, Re berangkat dulu ya. Jika dia menyakiti mami, bilang pada Re ya. Bye bye mamiku sayang. Cup cup cup. Assalamu'alaikum" pamit Re tak lupa menciumi kedua pipi dan kening maminya seperti kebiasaannya. Begitu pula sebaliknya yang dilakukan Vio.


"Wa'alaikumsalam. Bye bye. Dengerin bu guru dan tidak boleh nakal ya sama temanmu, nak!" seru Vio menjawab salam dari Re yang sudah berlalu meninggalkannya sendiri.


"Mami tinggal dulu ya, sayang. Kamu baik-baik saja ya. Sebentar lagi Ranti akan datang kemari bersama Jimy yang akan menemanimu. Dia akan bekerja dari sini. Tadi papi kamu sudah memberitahunya. Nanti sore mami akan kembali ke sini menjemputmu" jelas maminya Vio.


"Sungguh? Vio sudah diijinkan pulang? Sungguh bosan di sini, mi. Alhamdulillah akhirnya Vio akan mencium bau kamarku yang sesungguhnya. Tapi mami tidak usah ke sini. Mami nemenin Re saja. Biarkan Vio pulang bersama Ranti juga Jimy saja. Bukankah semua sudah diurus mami sama papi administrasinya?! Tinggal pulang kan?" tanya Vio senang yang mendapat ciuman dari maminya.


"Semua sudah diurus sama papimu semalam. Tapi dokter Issa akan menjengukmu dulu nanti. Melihat kondisi kakimu itu. Makanya segeralah makan dan minum obatnya ya. Biar bengkaknya kempes. Kamu hati-hati ya. Jangan ceroboh. Bye-bye. Assalamu'alaikum" maminya Vio langsung pergi keluar meninggalkan Vio sendiri.


"Mamii!! Huh mami memintaku buat makan tapi kenapa tidak diambilkan dulu makanannya kemari? Gimana jalanku masih susah. Alat bantu buat jalanpun juga g ada. Gimana sih mami" gerutunya sambil menurunkan kakinya perlahan. Hal itu dilihat Vrish yang sudah masuk ke dalam kamar inap Vio.


"Biar kubantu. Kamu tetaplah disitu" ucapnya penuh dengan kelembutan tidaj sedingin waktu pertama kali bertemu dengannya.


"Tapi.." sahut Vio.


Ucapan itu mendapatkan tatapan tajam Vrish hingga Vio kembali menutup mulutnya untuk protes. Kini Vrish yang sudah membawa mangkuk bubur ditangannya bersiap menyuapkannya pada Vio.


"Akk" ucap Vrish membuka mulutnya seperti mau menyuapi anak kecil.


"Nak, titip Vio dulu ya minta tolong sarapannya. Terimakasih" pinta nyonya Atmadja saat keluar kamar inap putrinya pada Vrish.


"Ayo buka mulutmu!" perintahnya tegas membuat Vio kelabakan gugup.


'Bagaimana bisa orang ini menyuapiku?' batin Vio.


Namun lagi-lagi sayang, Vrish yang melihat itu mengetahuinya dari tatapan mata Vio padanya.


"Tentu saja aku bisa menyuapimu. Ayo cepat buka mulutmu! Apa perlu aku suapi dengan mulutku?" perkataan Vrish membuat Vio terbelalak kaget dan semakin takut. Kini mulutnya terbuka bersiap menerima suapan bubur dari Vrish.


"Begini kan bagus. Mudah ya ternyata mengancammu" ucap Vrish tersenyum miring.


"Sini biar aku makan sendiri saja" Vio bersiap merebut sarapannya namun ditangkis Vrish.


"Menurutlah. Lagipula sebentar lagi kita akan menjadi terbiasa seperti ini. Dan kamu akan ketagihan padaku" ucapnya memerintah lalu membisikkan kalimat terakhirnya. Hal itu membuat Vio merona malu. Vio memalingkan wajahnya tertunduk malu.


Jangan lupa kasih dukungannya ya Readers...πŸ€—


Vote, komen, like juga hadiahnya πŸ₯°πŸ₯°πŸ˜˜πŸ˜˜

__ADS_1


Terimakasih


Happy Reading🀩🀩


__ADS_2