
“Ya, pi. Ada apa?” jawab Violetta saat menerima telepon dari papinya di negeri sebrang sana.
“Vi, kamu harus menyiapkan diri segera untuk menangani perusahaan di sini. Papi yang akan mengurus perusahaan di sana. Kalau tidak papi akan meminta Farel untuk memegangnya”, kata papi dari sambungan teleponnya.
“Tapi papi, Vio baru bekerjasama dengan perusahaan A&W Group beberapa hari yang lalu. Vio tidak boleh tidak professional bukan? Saat bekerja di Pusat Kota saja papi sudah membuatku resign seenaknya saja. Vio tidak mau itu terjadi lagi. Dengar ya papi, Vio itu ingin mengembangkan mode di sini. Percayalah sama Vio, anak papi yang cantik ini sangatlah cerdas” ucap Vio mencoba menolak permintaan papi dengan suara manja yang memelas.
“Tapi, nak, hanya kamu yang bisa memegang kendali di sini. Di sini kamu akan belajar mengasah otakmu yang sudah seperti hacker itu sama Mr. Erick Malow sekaligus Janet Ernesta. Bukankah mereka idolamu?” bujuk papi supaya Vio mau menuruti permintaan papinya itu. Mengelola perusahaan di negara asal dunia IT dan fashion. Memang saat itu Vio berharap bisa belajar dari mereka. Namun saat ini kariernya di sini sangatlah penting. Tapi juga hatinya tidak bisa dibohongi bahwa dia berlonjak seru di dalam hatinya. Akhirnya papinya menuruti keinginannya sejak kecil. Bertemu dengan idolanya. Vio merasa bingung. Pilihan mana yang harus dia pilih?!
“Papi, seharusnya papi tidak memberikan pilihan yang sulit bagi Vio anak kesayangan papi ini” jawab Vio ingin menangis keras.
“Hahaha..jadi bagaimana? Putri papi siap kan?” tawa papinya Vio suka mengerjai putri semata wayangnya.
“Ya bagaimana lagi. Tapi biarkan Vio menyelesaikan urusan di sini terlebih dulu ya, pi” pinta Vio dengan bibir manyun.
“Oke. Selesaikan urusanmu segera di sana. Serahkan pada Ranti” ucap papi.
“Ya” jawab Vio singkat lalu mematikan sambungan teleponnya selesai menjawab salamnya.
“Haaahhhh. Disuruh pulang buat ngurusi perusahaan yang disini. Setelah semakin terkenal, sekarang gentian suruh ngurus perusahaan di sana. Papi itu benar papiku atau bukan sih?! Pandai sekali memanfaatkan anaknya yang cerdas ini. Huft!” gerutu Vio lalu bangkit dari duduknya dan pergi menuju kamar mandi.
Selesai mandi, Vio bersiap untuk berangkat ke kantor. Sebelum berangkat dia menelpon Ranti.
“Ran, aku ingin bicara nanti di kantor. Kamu tolong siapkan semua berkas kerjasama dengan A&W Group” dari mimic wajah yang datar dan suara yang tegas, membuat sungkan Monti yang saat ini mengantarkan bosnya ke kantornya. Panggilan itu diterima Ranti dan Ranti menjawabnya dengan patuh.
Ranti adalah sekretaris sekaligus asisten yang dapat dipercaya. Dia juga jago bela diri hanya masih dibawah Monti. Sama-sama berwajah datar tanpa ekspresi, Ranti dan Monti bagi Vio mereka itu sangat kaku. Bahkan ketika lawan yang dihadapinya merasa menyinggung Vio, maka tak segan-segan mereka berdua langsung bertindak. Bagi mereka pengabdian adalah kesetiaan yang tidak bisa mereka ingkari.
Saat tiba di perusahaannya, para pegawainya menyapanya dengan ramah. Vio tidak ingin disambut dengan banyak pegawai yang berjejer di sepanjang pintu masuk kantor. Dia tidak suka. Baginya dia hanyalah manusia biasa yang sama dengan mereka. Setelah memasuki ruangannya, segera Ranti mengikutinya dari belakang dan menutup pintu dengan pelan.
“Tolong kamu siapkan semua berkas kerjasama dengan A&W Group hari ini juga. Aku harus segera menandatanganinya segera supaya ini semua bisa segera terselesaikan” kata Vio pada Ranti yang dijawa dengan anggukan kepala patuh.
“Baik, nona. Permisi” jawab Ranti. Lalu segera berjalan kembali ke ruangannya.
“Aku kangen banget sama si montok” gumamnya tersenyum riang.
“Assalamu’alaikum, Raykanda sayangnya mami. Eleh eleh emesshhh banget mami ma kamu. Nanti sore mami pulang kerja ke situ ya. Tunggu mami sayang. Emmmuuachh!” ucap Vio disambungan video callnya.
Bayi yang genap berusia sebulan itu tumbuh sangat sehat dan pandai bahkan wajahnya yang tampan menurun dari Rena. Seolah sudah bisa mengerti lawan bicaranya, bayi Raykanda menoleh ke arah sumber suara dengan memonyong-monyongkan bibirnya.
__ADS_1
“Wa’alaikumsalam, mami sayang. Iya, Re tunggu ya mami. Jangan lupa bawa makanan yang enak dan bergizi ya” jawab Rena menirukan suara anak kecil.
“Itu yang minta mah emaknya bukan anaknya. Huu” ejek Vio.
“Ya emak lah. Kan ntar yang makan Re juga mami” jawab Rena tertawa.
“Ren, mungkin dalam waktu deket ini aku aku akan pergi mengurusi perusahaan papi yang di luar negeri sana. Sekaligus belajar lagi mendalami dunia fashion dan komputerku. Papi yang minta”
“Hmm begitu ya kalo perusahaannya banyak kali. Di luar negeri aja udah banyak. Ini yang dimana?” goda Rena.
“Di negerinya Mr. Erik Malow dan Janet Ernesta sana”
“What’s? Benarkah? Serius lo?” teriak Rena syok mendengarnya membuat Baby Re menangis karena kaget mendengar teriakan ibunya.
“Owekkk oweeekkkkk”
“Rena, kamu ngagetin Baby Re aja. Ibu macam apa kau?! Apa kamu lupa kalo kamu ini seorang ibu?” seru Vio tampak memarahi Rena.
“Iya iya sayang, maafin mama ya Re. Eleh eleh gantengnya mama” ucap Rena pada bayinya.
“Wah beruntung sekali kamu bisa bertemu dengan mereka. Ya sudah ya, Vi. Aku mau meny***i Bbay Re dulu. Jangan lupa ntar sore ya, mami. Bye bye. Wassalamu’alaikum” lanjutnya kemudian pada Vio lalu mengakhiri dengan salam dan dijawab Vio dengan salam juga lalu menutupnya.
“Besok pagi kamu antarkan ke A&W Group. Serahkan ke tuan Albert” titahnya pada Ranti setelah Ranti dipanggil untuk kekantornya mengambil berkas-berkas itu kembali.
“Baik, nona” jawab Ranti patuh.
“Satu hal lagi, mulai besok pagi kamu yang mengurusi semua kerjasama itu. Awasi dan jalankan dengan baik. Jika tidak, kamu tahu resikonya” ucapnya lagi.
“Baik, nona” meski baru mengikuti bosnya ini, Ranti sudah paham mengenai Vio. Bosnya itu tidak akan memberikan tanggung jawab besar ini jika tidak ada hal yang sangat penting.
“Aku akan melihat cara kerjamu menangani kerjasama ini. Meskipun kemmapuanmu tidak diragukan lagi tapi aku akan tetap mengawasi dari jauh. Lakukan sesuatu jika ada yang ingin bertindak curang. Laporkan padaku. Kamu harus tetap awasi supermodel itu” titahnya lagi.
“Baik, nona. Akan saya lakukan tugas dengan baik” jawab Ranti.
“Jangan kau perlihatkan kemampuan lainmu didepan orang banyak jika keadaan itu tidak genting”
“Baik, nona”
__ADS_1
“Baiklah, aku pergi dulu. Ingat jangan pulang terlalu malam. Jika belum selesai, selesaikan besok pagi. Aku tidak mau dianggap sebagai atasan yang tidak tahu diri” lalu menyambar tas bermereknya itu dan meninggalkan Ranti sendirian.
Selepas meninggalkan parkiran kantornya, Vio memerintah monti untuk mengemudikan arah rumah Rena. Dia sudah rindu pada anak angkatnya itu. Rasanya dia ingin membawanya pulang sebagai obat rasa lelahnya, namun, tidak mungkin baginya mengambilnya dari sahabatnya yang sudah seperti saudara kandungnya itu.
Tanpa di duga, saat akan sampai di halaman rumah Rena, terlihat keributan entah siapa itu Vio belum melihatnya dengan jelas. Mobilpun berhenti di luar halaman tepatnya di depan pintu pagar rumah Rena. Saat Vio turun yang dibukakan oleh satpam, barulah dia melihat dengan jelas. Vio terbelalak kaget melihat keributan itu yang sudah seperti sebuah opera yang dimainkan oleh ahlinya.
“Jika kamu mendekatinya, maka aku tak segan-segan untuk membunuhnya, Rio!” teriak wanita gila itu yang ternyata Fifi. Fifi sedang menodongkan sebuah pisau pada bayi yang sudah berada di tangannya itu. Entah bagaimana ceritanya, baby Re bisa di tangan wanita gila itu.
“Jangan! Jika kau berani menyentuh anakku, akan ku bunuh kau!” teriak laki-laki itu yang tak kalah kerasnya suaranya hingga beberapa tetangga ada yang berkerumun ingin melihatnya karena terhalang mobil Vio. Lalu segera Vio menoleh dan menatap tajam para tetangga itu. Merekapun pergi. Laki-laki itu adalah Rio. Hari ini memang jadwalnya dia sudah bisa bebas. Karena penyesalan dan kebaikannya itu membuat hukumannya di proses dengan cepat dan mendapatkan potongan hukuman.
“Jangan kau sakiti anakku! Dia tidak tahu apa-apa!” teriak seorang wanita yang suaranya tidak asing bagi Vio yaitu Rena. Rena berusaha mendekati Fifi agar anaknya tidak disakiti wanita gila itu. Tapi semakin didekati, Fifi malah semakin mundur dan semakin menodongkan pisau itu semakin dekat dengan baby Re, yang membuat bayi itu menangis meraung-raung, mendengar teriakan para orang dewasa yang kini sedang memperebutkannya. Mungkin dia merasakan bahaya atau dia bisa merasakan bahwa pelukan kasar itu bukanlah pelukan ibunya.
Vio yang tidak tega mendengar tangisan baby Re, semakin geram mengepalkan kedua tangannya. Raut wajah yang tajam dan kejam kini memenuhi wajah cantik Vio.
“Nona, lebih baik kita hati-hati. Sepertinya wanita gila itu bisa merasakan gerak gerik anda. Lebih baik kita awasi dia dulu” ucap Monti mengingatkan Vio ketika Vio akan maju melangkah dan diikuti tolehan tatapan Fifi. Fifi yang merasakan kakinya gemetaran melihat Vio, merasakan ketakutan yang mencekam. Namun, tekadnya sudah bulat dikarenakan kematian Haris yang menyalahkan Rena. Menurut Fifi, Haris meninggal karena Rena memaksanya untuk pergi mengantar ibunya berobat. Itu membuat marah dan gila Fifi. Fifi mendengar berita itu karena memiliki koneksi yang bisa memberikan kabar setiap saat padanya.
Vio hanya menoleh menatap Monti lalu menatap kembali Fifi. “Tampaknya wanita gila ini nekad sekali bersinggungan denganku. Sedang mengantarkan nyawanya rupanya. Beruntung aku datang kesini untuk mengetahuinya” batin Vio.
“Fi, tolong kembalikan bayinya pada ibunya. Kumohon, Fi. Dia itu ponakanmu juga” ucap Rio memelas dan bersimpuh.
Namun bukan Fifi namanya jika hatinya akan luluh melihat sikap sepupunya itu. “Hahahaha! Aku sudah mengira bahwa kamu akan membela wanita busuk ini, Rio! Kamu laki-laki lemah! Betapa bodohnya kamu mencintai wanita yang tidak pernah mencintaimu. Dia tidak akan membalas cintamu itu. buka matamu dan ambillah anaknya ini!” seru Fifi masih mendodongkan pisau itu pada bayi Rena.
“Jangan! Jangan kau sakiti anakku! Tolong lepaskan anakku! Apa yang kau inginkan padaku?” ucap Rena pada Fifi yang mencoba negosiasi asalkan anaknya selamat.
“Hahahaha! Aku ingin nyawa dibalas dengan nyawa. Kau tidak pantas untuk bahagia, Rena perempuan j****g!” teriak Fifi membuat bayi itu menangis semakin kencang. Hal ini tidak bisa Vio abaikan. Hatinya semakin geram melihat perlakuan Fifi. Dia berlari dan memikirkan bagaimana caranya menyerang. Saat akan lari, tiba-tiba tangannya ada yang mencekalnya. Vrish. Ya sedari tadi Vrish memang mengikutinya semenjak Vio keluar dari kantornya. Saat itu Vrish akan menghampirinya namun ternyata mobil Vio sudah berjalan menuju arah jalan raya. Kemudian Vrish mengikutinya.
“Kamu” gemelutuk suara deretan gigi Vio yang geram dan marah itu terdengar Vrish.
“Tunggu dulu” bisik Vrish.
Tiba-tiba terdengar suara teriakan seorang laki-laki yang memekikkan telinga semua orang yang ada di sana.
“AAAAAAAAAA!!” suara Rio menghampiri Fifi yang saat itu lengah menatap Vio dan Vrish.
Lalu disusul suara jeritan seorang wanita.
“AAaaaaa! Tolong!!” teriak Rena yang mengundangku dan semua orang yang ada di sana berlari mendekat ke arah Rena dan baby Re.
__ADS_1
Saat Fifi lengah, Rio menghampirinya dan merebut bayinya dan Rena untuk diberikan pada Rena sebagai penebus kesalahannya. Namun, tidak berselang lama hanya sekian detik, saat Fifi sadar, Fifi berlari dan menghujamkan pisau itu ke punggung Rio sepupunya sendiri saat memberikan baby Re pada Rena. Laki-laki itu tersungkur ke lantai dan langsung dengan gerakan cepat aku menahan Fifi dan menghajarnya tanpa babibubebo. Tak lama, Vrish mencegahku untuk bertindak keji. Dan Fifi tubuhnya ditahan oleh Monti. Wajah dan tubuh yang lebam setelah dihajar oleh Vio itu tampak menyedihkan. Tapi lukanya itu tak menyurutkan senyuman licik di wajahnya yang babak belur itu.
“Bawa dia..” perintah Vio pada Monti dengan memberikan kode pada Monti. Dan dijawab dengan anggukan oleh Monti tanda mengerti. Bergegas Monti membawanya menuju markas bawah tanah milik keluarga Atmadja. Vrish yang tidak tahu itu pun tidak menyadarinya. Lalu Vrish membantunya berdiri dan mengikuti langkah Rena menuntun Vio.