Pacar Online Yang Tertukar

Pacar Online Yang Tertukar
Bab 85 Vrish membujuk Re


__ADS_3

Di rumah sakit, keadaan Violetta kritis. Tuan Atmadja juga Tuan besar Pramudya masih menunggu kabar dari dokter mengenai Vio.


"Bagaimana kondisi putri anda, Tuan?" tanya Vrish yang tiba-tiba datang mengejutkan kedua orang tua laki-laki itu.


"Kami masih menunggu kabar dari dokter" jawab Tuan Atmadja.


"Bagaimana urusan disana, nak?" tanya Tuan Pramudya.


"Semua aku serahkan pada Hendrik dan yang lainnya, pa" jawab Vrish.


"Papi!"


"Opa!" panggil Re dan nyonya Atmadja berbarengan sambil berlari.


"Pelan-pelan sayang!" ucap Opa menghampiri Re juga istrinya lalu menggendong Re kecil.


"Opa gimana keadaan mami Re?" pertanyaan ringan itu yang terdengar oleh Vrish membuat telinganya memanas. Karena pujaan hatinya sudah memiliki anak dan menikah. Itu yang ada dipikiran Vrish saat ini.


Hasil penyelidikannya tentang Vio tidak membuahkan hasil. Yang ada adalah Re memang benar anaknya Violetta. Hatinya sangat sedih jika mendengar kata-kata anak kecil yang saat ini berada dalam gendongan Tuan Atamdja itu memanggil dengan sebutan mami.


"Kita berdoa ya buat mami Re. Supaya mami cepat sadar dan sembuh" jawab Tuan Atmadja.


"Re memaksa untuk menyusul ke sini saat mendengar kabar tentang maminya, pi. Aku tidak bisa berbuat apa-apa untuk mencegahnya" ucap Nyonya Atmadja.

__ADS_1


Vrish yang mendengar obrolan itu perlahan minggir berjalan menuju sebuah taman di dalam rumah sakit itu. Taman yang sangat luas dan terdapat sarana bermain untuk anak-anak juga tempat untuk terapi berjalan pasien.


"Bersyukurlah dia tidak mengalami cedera yang parah. Pelipisnya hanya robek akibat pukulan benda tumpul. Dan itu membuatnya harus menjalani beberapa jahitan. Dia memang sempat kritis. Itu karena dia kehabisan tenaga. Hampir tiga hari dia tidak mendapat asupan apapun. Dia wanita yang sangat kuat. Jadi tidak perlu ada yang dikhawatirkan. Istirahatlah dengan tenang. Pulanglah. Disini sudah banyak yang menjaga dan merawatnya" tiba-tiba sahabat dokter spesialisnya itu menepuk pundak Vrish yang hampir membuat Vrish kaget bangun dari lamunannya.


"Syukurlah. Terimakasih sudah membantunya dengan baik. Aku hanya merasa bersalah. Jika bukan karena sikapku padanya malam itu, kejadian ini tidak akan terjadi" jawab Vrish menatap lurus ke depan dengan pandangan yang sangat sedih namun tersenyum tipis.


"Pergelangan tangannya juga robek karena dia berusaha untuk melepaskan ikatannya. Sepertinya juga perutnya mendapatkan tendangan yang sangat keras. Tapi beruntung tidak mengenai organ dalamnya. Sehingga tidak ada yang perlu di khawatirkan" lanjut sahabatnya itu dokter Willy.


"Periksa lebih detail lagi. Aku tidak mau pemeriksaanmu itu ada yang kau lewatkan!" titahnya tampak semakin khawatir setelah mendengar berita itu.


"Siap! Komandan!" canda dokter Willy lalu menepuk pundak temannya itu lalu bangkit berdiri dan pergi meninggalkannya seorang diri.


"Bolehkah papa duduk di sini?" Tuan besar Pramudya menghampiri putranya.


"Duduklah, pa. Untuk apa papa minta ijin sama anak papa sendiri?" senyum tipis Vrish melirik papanya.


"Ikhlaskanlah jika dia memang sudah memiliki yang lain. Tanggung jawabmu sudah selesai. Dia sudah selamat dan lolos dari bahaya. Tapi..." kalimat yang dilontarkan papanya Vrish itu membuat terkejut Vrish sehingga membuatnya menoleh menatap lekat papanya. Hal itu membuat papanya Vrish terjeda dari kalimatnya.


"Sebenarnya kita tidak tahu bukan siapa ayah dari cucunya Tuan Atmadja itu? Atau lebih tepatnya menantu keluarga Atmadja itu. Karena setahu papa, Tuan Atmadja terlihat biasa-biasa saja dan tidak pernah memusingkan status putrinya itu. Tiba-tiba putrinya yang pergi ke luar negeri untuk melanjutkan perusahaan keluarganya itu, dan dengar-dengar pergi dengan membawa seorang bayi. Menurut papa, kapan Vio hamil dan menikah? Padahal malam dimana terakhir kalinya bertemu denganmu itu dia tidak dalam keadaan hamil atau menikah atau dekat dengan laki-laki lain bukan? Coba selidikilah lebih dalam lagi atau bertanyalah pada keluarga Atmadja. Hanya itu yang papa tahu dengan pikiran papa saja. Jika hatimu mengatakan sesuatu. Maka lakukanlah. Jangan ragu maupun putus asa" kata-kata papanya membuatnya kembali bangkit dan seolah mendapat semangat baru. Hanya dengan penjelasan papanya itu, Vrish sudah paham.


"Terimakasih Pa. Papa adalah yang terbaik untukku" Vrish tersenyum bahagia dengan mendengar penjelasan papanya itu lalu bangkit berdiri kembali ke ruang gawat darurat dimana Vio dirawat.


"Kemana saja kamu, paman? Kenapa pergi tidak pamit?" tanya Re kecil yang sudah duduk di bangku tunggu bersama opa omanya.

__ADS_1


"Kemarilah. Duduklah disini bersama paman" ajak Vrish dengan nada lembut.


Sedangkan Re yang diajak, menoleh ke oma opanya meminta persetujuan. Opanya menganggukkan kepalanya. Begitu pula omanya tersenyum hangat. Baru kemudian Re bangkit dari tempat duduknya dan berjalan ke bangku tempat Vrish duduk tepatnya diseberang duduk Re tadi.


"Jika kamu capek dan mengantuk katakanlah, paman akan mengantarkanmu. Bukankah besok pagi kamu harus pergi ke sekolah? Biarkan orang dewasa yang menunggu mamimu. Besok pagi paman akan mengantarkanmu juga pulang sekolah akan menjemputmu. Bagaimana? Kamu mau?" bujuk Vrish pada Re karena hari sudah menjelang malam dan merasa kasihan melihat Re yang masih kecil berada di rumah sakit.


"Gak mau! Re akan menemani mami. Re sudah kangen sama mami. Re harus menemani mami. Re ingin jika mami sadar nanti yang pertama kali dilihat mami adalah Re" Re menolak diajak pulang.


"Jika Re berada disini terus, dan mami Re tahu apakah mami akan menyukainya?" pertanyaan Vrish itu membuat Re bingung. Karena maminya memang tidak suka jika Re berada di rumah sakit lama-lama jika tidak untuk pergi berobat. Vrish yang melihat Re memonyongkan bibirnya membuat Vrish semakin gemas dan malah sangat menyukai Re. Entah kenapa tiba-tiba saat ngobrol sama Re, Vrish merasa sangat nyaman dan juga jatuh hati. Hal itu membuat Vrish tersenyum tipis.


""Mami tidak akan menyukainya. Tapi Re ingin sekali menunggu mami" jawab Re sambil terisak kecil. Tampak dari raut mukanya menunjukkan bahwa dia sangat sedih sekali.


"Besok pulang sekolah Re bisa menjenguk mami sebentar. Paman janji paman akan mengantar dan menjemput sekolah Re selama mami Re sakit. Dan tiap pulang sekolah kita akan menjenguk mami Re. Bagaimana? Mami Re juga pasti tidak suka jika Re bolos sekolah terus menerus bukan?" ucapan Vrish itu membuat Re berpikir dan akhirnya setuju untuk diajak pulang.


"Baiklah. Re akan pulang" jawab Re menganggukkan kepalanya sedih.


"Nah itu baru anak solih" jawab Vrish mendapat lirikan maut Re. Namun Vrish tidak menggubrisnya.


"Oma Opa, Re pulang dulu ya sama paman ini"pamit Re pada oma dan opanya.


"Iya sayang hati-hati ya" jawab opa.


"Mami, ikutlah pulang bersama mereka. Mami juga butuh istirahat. Jika nanti Vio sudah sadar, papi akan menelpon mami" lanjut opa pada istrinya.

__ADS_1


"Baiklah. Tapi berjanjilah. Jagalah putri kita dengan baik. Jangan sampai kau luput dari pengawasan dokter. Kami pulang dulu ya" ujar Nyonya Atmadja pada suaminya sembari mencium pipi kanan dan pipi kiri suaminya itu.


"Titip mereka sampai rumah ya, nak. Terimakasih sudah mengantarkan mereka. Dan tolong katakan pada papa kamu, supaya pulang saja. Aku akan menelpon Jimy untuk menemaniku" ucap Tuan Atmadja saat Vrish pamit padanya. Kebetulan papanya Vrish juga datang jadi langsung diseret pulang Vrish juga. Akhirnya mereka pulang dengan tujuan yang berbeda.


__ADS_2