Pacar Online Yang Tertukar

Pacar Online Yang Tertukar
Bab 29 Rena yang malang


__ADS_3

Waktupun berlalu begitu cepat. Seminggu sudah berlalu. Vio dan Farel selama itu berkantor di perusahaan keluarga Pramudya. Dua hari sekali mereka berdua berada di kantor mereka sendiri. Jadi dua hari di kantor Vrish sehari di kantor Vio dan Farel. Farel yang kabarnya akan di mutasipun tertunda dikarenakan proyek kerjasama ini sangat membutuhkan dirinya. Bersyukurlah bagi Siska dan Farel. Sambil bisa lebih dalam lagi melatih asisten WO nya Siska.


Di akhir pekan pun Vio pulang ke Kota Besar bermaksud untuk hadir ke acaranya weddingnya Rena sahabat kecilnya.


"Assalamu'alaikum, mami papi!" salam Vio mengejutkan mami papinya yang sedang berada di halaman belakang menikmati kopinya. Ya Vio berangkat sebelum subuh. Jadi Vio sampai di kotanya setelah subuh. Dan perjalanan menuju rumahnya dari bandara memakan waktu satu setengah jaman. Vio menjalankan kewajibannya di dalam pesawat tentunya.


Mami dan papi yang terlonjak kaget bahwa Vio pulangpun membuat mereka berdua semringah. Mami papi tahu jika Vio akan pulang namun tidak akan mengira secepat itu.


"Wa'alaikumsalam, nak. Alhamdulillah kamu pulang. Kenapa tidak memberi tahu kami? Mami papi bisa menjemputmu di bandara sayang" mami memeluk Vio lalu bergantian papi memeluknya. Namun Vio yang lebih dekat dengan papinya memeluk papinya sangat erat bermanja seperti anak kecil merindukan belaian orang tuanya.


"Sudah sudah peluk papi kamu. Cuci kaki sama tangan kamu dulu sana!" perintah mami sambil tersenyum dan membelai kepala Vio lembut. Meskipun cerewet dan bawel, tapi bagi Vio mami segalanya hidupnya akan terasa sepi dan hampa jika tanpa mendengar suara bawel maminya.


"Bentar, Vio masih kangen sama papi" peluk erat Vio menatap sekilas wajah tampan papinya yang masih tampak gagah itu. Lalu sebuah kecupan kecil di keningnya meluncur oleh papinya. Mami terlihat bahagia. Dia tidak pernah meminta apapun. Hanya menginginkan keluarga kecilnya dilimpahi kebahagiaan meski itu sekecil ini. Berkumpul dengan keluarga kecilnya.


"Papi sama mami nanti malam datang dong ke weddingnya Rena" ucap Vio menatap mami papi dengan senyum girang.


Namun, ada yang aneh menurut Vio. "Kenapa mami papi diam dan tampak sedih?" Vio menatap bergantian mami papinya.


"Mi, ada apa? Rena baik-baik saja kan?" hati Vio sudah merasakan sesuatu yang tidak enak.


Vio memang jarang menghubungi Rena karena kesibukannya. Namun sebelum Vio pulang, Vio sudah sering menghubungi Rena. Tapi Rena selalu mengatakan baik-baik saja.


"Vi.." mami tidak tega melanjutkan kata-katanya.


"Nak, Rena sedang mengalami musibah. Jadi pernikahannya dibatalkan" jelas papi Vio.


"Ta..tapi..kena..kenapa, pi? Apa yang terjadi dengan Rena, pi?" seketika kaki Vio menjadi lemas dan mulutnya bergetar. Dia mendadak menangis terisak.


"Rena bilang baik-baik saja, mi pi, sebelum Vio pulang. Tidak. Tidak mungkin. Mami papi pasti salah. Aku akan ke rumah Rena sekarang" Vio pun segera meluncur ke rumah Rena.

__ADS_1


"Vio, tunggu! Papi mami akan mengantarkanmu. Tenangkanlah dirimu dulu, nak" bujuk mami mengelus punggung Vio penuh kasih.


Vio hanya sanggup menganggukkan kepala. Sambil menunggu papi berganti pakaian dan mami juga, Vio mencoba untuk menghubungi Rena. Namun ponselnya tidak aktif.


Beberapa menit kemudian, papi, mami dan juga Vio segera meluncur menuju rumah Rena. Begitu sampai di rumah Rena, Vio langsung keluar dari mobil dan bergegas menuju pintu masuk rumah Rena. Vio melihat pekarangan rumah Rena terpampang beberapa karangan bunga dengan ucapan turut berduka cita. Ya Haris dan ibunya Rena telah meninggal dunia.


Kejadian itu terjadi kemarin siang saat ibu dan Haris sedang menuju ke rumah sakit untuk pergi kontrol sakit ibunya. Sebenarnya ibunya Rena sudah tidak mau dibawa ke rumah sakit. Namun Rena dan Haris memaksa untuk periksa karena penyakit ibunya tiba-tiba kambuh lagi.


Tanpa terasa Vio menitikkan air matanya di pipinya yang mulus itu. Segera Vio masuk tanpa mengetuk pintu. Karena pintu tidak terkunci. Di situ masih ada beberapa ibu-ibu yang berkumpul untuk menemani Rena. Mereka adalah tetangga Rena. Juga terdapat dua pegawai toko roti Rena.


"Nak, kamu pasti temannya Rena kan? Bujuklah dia agar mau makan dan minum. Dari kemarin dia tidak mau melakukan apapun kami bingung mau melakukan apa untuknya. Kami khawatir terjadi sesuatu dengannya, nak. Jika dia sampai sakit, almarhumah ibu dan almarhum calon suaminya pasti ikut sedih. Dari kemarin Rena tidak mau keluar dari kamarnya. Tolong bujuklah dia ya" ucap seorang ibu bernama Bu Ros.


Dua pegawai Rena itupun menatapku juga dengan tatapan memohon. Seolah-olah aku adalah seorang dewi penolong yang bisa menyembuhkan luka Rena sahabatku. Kemudian Vio pun ijin berlalu menuju kamar Rena.


Setelah Vio menemukan keberadaan Rena di dalam kamarnya, "Ren" seru Vio menemukan Rena sedang menelungkupkan tubuhnya. Seketika Rena terkejut mendengar suara sahabatnya itu.


"Kenapa kamu gak ngabarin aku? Kenapa kalian jahat padaku? Mami papi kamu. Kenapa tidak ada yang memberitahuku? Huuuhuuhuu.." Vio menangis tersedu-sedu.


"Kenapa kamu bilang baik-baik saja?" sekilas Vio melepas pelukannya dan menatap sahabatnya itu yang sudah membengkak matanya karena menangis tanpa henti. Kemudian memeluknya kembali.


Rena yang dipeluk pun hanya bisa menangis keras seperti anak kecil yang berusaha memgadu pada ibunya.


"Menangislah sampai kamu merasa puas, Ren" ucap Vio menenangkan.


Mereka berpelukan sampai Rena merasa puas dan menangisnya berhenti. Violah sandaran ternyaman buat Rena saat ini setelah ibunya juga Haris.


"Ibu dan Haris adalah orang baik. Doakan mereka supaya mereka husnul khotimah" ucap Vio sambil mengusap air mata Rena setelah Rena melepas pelukannya.


"Vi, jangan tinggalin aku sendiri. Aku takut, Vi. Aku takut kamu juga akan ninggalin aku sendiri. Kini aku sudah tidak punya siapa-siapa, Vi. Mereka yang menyayangi dan mencintaiku tulus telah pergi meninggalkanku. Semua ini kesalahanku, Vi. Jika bukan karena aku yang meminta ibu untuk pergi periksa untuk kontrol maka kecelakaan maut itu....huuhuhu" Rena kembali terisak mengingatnya. Viopun kembali memeluknya.

__ADS_1


"Sabar dan ikhlas ya. Jangan menyalahkan dirimu sendiri. Semua ini sudah takdir. Allah tidak akan menyukai hamba-Nya yang menyalahkan dirinya sendiri atas kematian seseorang yang disitu sudah menjadi takdirnya. Dan ibu serta Haris pasti akan ikut bersedih melihatmu seperti ini. Rena yang selama ini ku kenal adalah orang yang kuat. Boleh kok bersedih tapi jangan berlarut. Itu sama halnya meratapi takdir. Meratap itu tidak ridha dengan takdir Allah. Termasuk juga sampai tidak mau makan. Boleh menangis tapi tidak melampaui batas bukankah kamu juga tahu bahwa sudah dijelaskan dimana ada hadits yang menyebutkan bahwa meratapi mayit atau orang yang sudah meninggal akan membuat mayit itu mendapatkan azab di alam kuburnya" ucap Vio.


"Aku memang mengalaminya sendiri tapi bukankah semua orang akan mengalaminya entah bagaimana caranya hanya Allah yang memiliki takdir itu. Aku bisa merasakan apa yang kamu rasakan, Ren. Bagiku ibu sudah seperti ibuku sendiri. Aku juga bersedih. Tapi jika melihatmu terpuruk seperti ini maka aku lebih sakit lagi" lanjut Vio.


"Pasti kamu belum makan bukan dari kemarin? Sekarang bagaimana kalau kita makan bareng. Hm?" bujuk Vio.


"Aku belum lapar, Vi" geleng Rena menolaknya. Rena saat ini belum lapar dan tidak bernafsu untuk melakukan apapun. Toko rotinya pun langsung ditutup semenjak kemarin. Dan mungkin akan tutup selama hati Rena belum merasakan ketenangan kembali. Namun, tidak bagi Vio. Vio akan bertindak membantu usahanya untuk tetap berjalan meskipun Rena masih berkabung. Bagaimana tidak, dua orang yang tulus mencintainya yang sangat Rena sayangi hanya mereka berdua yang paling tulus dengan Rena selain keluarga Vio sudah pergi selamanya meninggalkannya sendirian dalam keterpurukan kembali. Vio tidak akan membiarkan hal itu terjadi lagi. Vio harus bisa memberikan senyum baru pada Rena. Bagi Vio, Rena sudah seperti kakak perempuannya. Jadi Vio akan melakukan apapun untuknya.


"Baiklah jangan makan dan jangan minum. Biarkan saja tubuhmu lemah. Aku akan menemanimu" jawab Vio dengan cemberut.


Rena yang sangat menyayanginya itu, tidak akan membiarkan Vio yang sudah seperti adik kecilnya itu ikut merasakan kesedihannya.


"Tidak. Kamu tidak boleh mengikutiku. Sungguh, Vi, aku belum bernafsu"


"Baiklah. Aku juga tidak bernafsu. Kamu jangan memaksaku. Ok?!" jawab Vio menganggukkan kepalanya dan memberi tanda ok pada jari telunjuk dan ibu jari yang membentuk lingkaran.


"Baiklah. Aku akan makan tapi sedikit saja ya. Kita makan bareng" akhirnya Rena menyerah jika Vio yang mengatakannya.


"Siap. Aku akan menyuapimu. Kita akan makan bersama seperti waktu dulu" segera Vio keluar meminta sepiring nasi serta lauknya.


Akhirnya Rena pun makan disuapi Vio. Karena selalu seperti itu jika Rena sedang ngambek pasti susah makan maka tugas Vio akan menyuapinya.


Orang-orang akhirnya merasa lega melihatnya. Hari itu Vio tinggal menemani Rena. Vio pun ijin sama mami papinya. Mereka pun mengijinkannya.


Kedua orang tua Vio akhirnya pulang tanpa Vio. Membiarkan anak gadisnya menemani sahabat kecilnya itu sampai Rena merasa baikan.


"Kasihan Rena ya, pi. Kita sudah membujuknya untuk tinggal bersama dengan kita tapi tetap saja anak itu tidak mau. Rena memang gadis yang kuat dan mandiri. Tidak mau merepotkan orang lain. Sungguh luar biasa didikan dari ibunya ya, pi" ucap mami kepada suaminya ketika di dalam mobil di perjalanan menuju mansionnya.


"Ya, kita hanya bisa mendoakan yang terbaik saja buatnya, mi. Itu tugas kita sebgaai orang tuanya sekarang" jawaban papi diangguki oleh mami.

__ADS_1


__ADS_2