
Sudah hampir satu minggu, Vio tinggal di villanya bersama Re juga Ranti seperti atas permintaan Vio. Vio juga sudah mulai bekerja. Hanya dia bekerja dari balik layar. Semua pekerjaan di kantor dilakukan oleh Ranti. Setelah Monti bekerja di perusahaan, Hasan menjadi sopir pribadi sekaligus bodyguard Vio. Re yang masih menunggu pendaftaran masuk sekolah, sangat senang bermain di rumah. Maminya menyiapkan semua permainan yang dia sukai. Dia sangat suka tinggal di vila. Meskipun letaknya jauh dari kota, tapi Re tidak pernah merasa bosan. Apalagi setiap hari dia bisa memandangi lautan bahkan bermain bersama maminya. Dia lebih suka jika maminya berada di rumah tidak bekerja di kantor seperti saat ini, karena baginya maminya adalah tempat ternyamannya. Apalagi Vio tidak pernah menganggapnya anak angkatnya, maka dari itu, Vio tidak pernah memposting atau memberi pernyataan tentang identitasnya secara terbuka. Bagi Vio, Re adalah segalanya.
“Tuan kecil, tuan dipanggil Nona Muda untuk makan siang” panggil Wuri yang sangat gemas dengan Re.
“Baik, kak” Re memang lebih suka memanggil Wuri kakak karena Wuri masih sangat muda menurut Re. Jadi Wuri lebih pantas dipanggil kakak. apalagi Wuri orang yang sangat menyenangkan. Dia bisa diajak bermain oleh Re. Meskipun baru satu minggu berada di vila tapi kedekatan Re dan Wuri sudah seperti kakak dan adik. Apalagi Re adalah anak yang humble jika dia merasa sudah cocok. Tapi jika dia dari awal sudah tidak suka maka dia juga tak segan untuk tidak menyukainya. Menurutnya para maid juga bodyguard disini sangatlah ramah juga tulus. Maminya tidak pernah salah dalam memilih orang. Hanya kehidupan percintaannya yang selalu salah. Re selalu menghela nafas jika mengingat nasib percintaan maminya. Dia bahkan tidak percaya seorang maminya bisa di tipu laki-laki. Memang menurut Re, maminya orang yang polos mengenai hal percintaan. Re tahu itu setelah mendengar dengan tidak sengaja perbincangan Vio dengan orang tuanya di telepon.
Re segera melangkahkan kaki kecilnya masuk ke dalam vila menuju ruang makan. Di sana sudah menunggu maminya.
“Hei sayang! Sudah mencuci tanganmu?” tanya Vio dengan senyum mengembang. Selalu menunjukkan senyum merekahnya di depan Re. Itu yang Re suka dari maminya. Maminya selalu terlihat bahagia. Meskipun Re tahu maminya pernah menangis ketika sujud pada Sang Pencipta. Itulah pertama kalinya Re melihat maminya menangis. Entah apa yang diminta oleh maminya pada Sang Pencipta sehingga membuat maminya yang cantik itu menangis.
“Sudah, mami!” jawab Re tersenyum riang.
“Kamu suka kan tinggal di sini?” tanya Vio menggoda Re.
“Sangat suka, mami. Apalagi ada mami di rumah setiap saat seperti sekarang. Re sangat senang” jawab Re sambil melahap makanannya.
“Jika tidak ada sesuatu yang penting, mami akan bekerja dari rumah buat kamu, sayang” Vio mengelus kepala si bocil Re.
__ADS_1
“Mami, jika mami mengajak Re bicara, kapan mami akan makan? Re juga lagi makan. Kata mami, makan itu tidak boleh sambil bicara. Sekarang mami diamlah” nadanya memerintah seolah Re kecil adalah tuan besar. Hal itu membuat Vio tertawa gembira. Lalu keduanya menyantap makan siangnya dengan lahap. Interaksi itu disaksikan oleh Bi Hawa juga Wuri. Karena Wuri kini juga sedang menikmati makan siangnya bersama mereka. Mereka pun tersenyum bahagia melihat nona mudanya kini hidupnya bahagia. Mereka sudah tahu ceritanya karena mereka juga tahu jika Rena adalah sahabat rasa saudara. Dan mereka juga mengenal Rena. Wanita baik hati lemah lembut juga sangat menyayangi nona mudanya seperti seorang kakak. Bahkan saat Rena meninggalpun, Vio bercerita. Hanya saja nona mudanya meminta mereka semua tidak pernah berpikir bahwa Re adalah putra angkatnya. Tapi anaknya sendiri. Bahkan jika orang-orang mengetahuinya mereka semua diminta Vio untuk tutup mulut. Dan mereka juga dengan senang hati menurutinya karena bagi mereka kebahagiaan nona mudanya adalah kebahagiaan mereka. Nona mudanya sudah sangat baik membantu keluarga mereka. Wanita tegas, tangguh namun sangat hangat hatinya.
“Mami, Re sudah selesai makan. Re mau ke atas dulu ya mau bermain game” ijin Re pada Vio yang diangguki Vio.
“Jangan lama-lama bermain gamenya ya. Setelah itu tidur sianglah” ucap Vio mencium pipi gembulnya gemas.
“Baik, mami” jawab Re malas jika disuruh untuk tidur siang atau tidak boleh lama-lama bermain game. Padahal dia akan berselancar mengotak-atik computer. Rencananya dia akan membuat aplikasi game untuk dijual. Dia meskipun masih kecil, tapi bakatnya itu diajarkan oleh Vio secara tidak langsung. Saat itu Re yang sedang bersiap untuk tidur menyusul Vio di ruang kerjanya. Dia duduk dipangkuan Vio yang sedang mengotak-atik berbagai macam kode yang awalnya dia tidak memahaminya. Namun, karena dia tumbuh menjadi anak yang cerdas, dia meminta gurunya mengajari computer. Kebetulan guru home schoolingnya di rumah dulu sangat pandai bermain computer.
Re yang melangkahkan kakinya berlari cepat menaiki tangga. Vio yang melihat itu berteriak.
“Re, hati-hati, nak! Jalan pelan-pelan, nak!” Vio melihat Re hanya mengangkat tangannya seraya menganggukkan kepalanya.
Ssetelah makan siang selesai, Bi Hawa dan Wuri membereskan semua peralatan bekas makan siang mereka ke dapur. Selama Vio di rumah, Vio yang selalu memasak untuk Re. Karena Re lebih suka masakan maminya.
“Kamu pasti akan senang dan bahagia, Ren. Melihat Re tumbuh seperti saat ini. Dia anak yang sangat menggemaskan juga cerdas. Tapi entah kenapa justru aku tidak menemukan sisi lembutnya juga ramahnya sepertimu. Justru dia cenderung menuruni sifatku. Padahal kamu yang melahirkannya, Ren” gumam Vio setelah melihat Re menghilang dari pandangannya. Dengan terduduk masih di ruang makan. Guman Vio itu didengar oleh Bi Hawa.
“Semua itu bisa terjadi, Non. Secara fisik tuan kecil memang terlihat seperti Nona Rena. Lihatlah cara berjalannya, senyumnya, bentuk wajahnya persis seperti ibunya. Tapi, sifat, perilaku bisa meniru orang yang merasa dia dekat seperti anda, nona. Apalagi nona muda yang merawatnya dari bayi. Otomatis yang dia lihat dia tiru. Dan mungkin saat nona Rena mengandung tuan kecil Re, membatin nona muda, merindukan nona muda, atau yang selalu dia ingat anda. Itu juga bisa terjadi, Nona” ucap Bi Hawa sambil mencuci piring kotor.
__ADS_1
“Benarkah, Bi?” tanyanya polos.
Hal itu dilihat oleh Bi Hawa. Melihat raut muka nona mudanya, membuat Bi Hawa tersenyum menggelengkan kepalanya. Baru tahu dan melihat sendiri, ada seorang nona muda yang hidupnya bergelimang harta, namun orangnya sangat polos. Dia tahu nona mudanya memang polos, meski tangguh di luar, kejam dengan orang-orang di luar sana yang sudah berbuat jahat, namun untuk hal-hal seperti ini dan percintaan yang sangat polos. Bi Hawa hanya menanggapinya dengan anggukan.
“Iya, Nona”
“Kau tahu, Bi. Aku sangat beruntung memiliki Re. Re adalah perwujudan Rena untukku. Aku tidak akan pernah bisa melupakan kasih sayang Rena dari awal yang dengan tulus membantuku dari bullyan itu. Rena yang sudah membuatku menjadi diriku yang tangguh. Dengannya aku memiliki seorang teman dekat. Hanya karena aku selalu sendiri dan diam jika diejek, mereka membullyku. Meskipun aku tidak takut dengan mereka, tapi Rena selalu membelaku. Dulu aku sempat acuh tak acuh dengannya juga. Tapi karena kulihat ketulusan di matanya, aku tak segan berteman dengannya. Ternyata setelah aku mengenalnya lebih dekat, ternyata dia adalah gadis yang rapuh. Pasti dia sangat bahagia melihat putranya tumbuh seperti sekarang, Bi. Oleh karena itu, aku tidak akan membiarkan siapapun mengatakan bahwa dia hanya putra angkatku. Aku sudah berjanji pada Rena, akan menjadikan Re laki-laki yang tangguh sepertiku. Namun, aku juga tidak mau kehidupan percintaan putraku akan bernasib sama denganku, Bi, yang selalu disakiti para pria” Vio menjelasakan semua itu berurai air mata.
“Aku tidak akan membiarkan mami menangis lagi. Aku tidak akan membiarkan siapapun menyakiti mami lagi” Re ternyata mendengar perbincangan maminya dengan Bi Hawa. Saat itu Re hendak mengambil air minum dalam botol karena air minumnya habis. Daripada nanti saat dia haus harus naik turun lagi lebih baik sekalian saat bokongnya belum dia daratkan pada kursi kebesarannya. Kemudian dia masuk kembali ke dalam kamarnya tidak jadi mengambil air minum.
“Nona, pasti akan mendapatkan laki-laki yang lebih baik lagi dari sebelum-sebelumnya. Oleh karena itu, Allah memberikan takdir seperti itu pada Nona. Pasti ada hikmah dibalik itu semua, Non. Percayalah pada Allah. Karena sesungguhnya iman itu dibagi dua. Iman untuk sabar dan iman untuk syukur. Saya yakin Nona adalah orang yang selalu bersyukur atas semua yang dimiliki nona. Nona melakukan itu dengan berbagi pada sesama. Pasti Allah akan mengabulkan permintaan Nona Muda itu. Hanya waktunya yang belum tepat waktu itu, Nona. Sedangkan, Nona diminta Allah untuk bersabar menunggu buah manis yang datang pada nona” ucap Bi Hawa yang seolah menceramahi Vio itu. Tapi bgai Vio, kata-kata seperti itulah yang menyejukkan hati dan pikirannya. Dia selalu bersyukur berada di tengah orang-orang yang selalu mengingatkannya.
“Iya, Bi. Terimakasih atas wejangannya. Aku ke atas dulu, ya Bi. Jika nanti Ranti sudah pulang, tolong siapkan air untuknya mandi” ucap Vio tersenyum hangat pada Bi Hawa.
“Oiya, Suruh Hasan jangan menunda makannya jika tak mau sakit. Kerja disini tidak ada yang makan terlambat. Aku tidak mau jika nanti Karena telat makan akhirnya jatuh sakit karena bekerja di sini. Hasan selalu menunda makannya. Tolong Bibi marahi dia” ucapnya lagi dengan tertawa sambil menaiki tangga. Bi Hawa hanya menggelengkan kepalanya mendengar kata-kata nona mudanya barusan. Jahilnya nona muda kembali lagi. Dia sudah sangat mengenal nona mudanya semenjak nona masih kecil. Dulu dia juga bekerja untuk nyonya besar Atmadja, namun setelah Vio memiliki vila sendiri, Vio mempercayakannya pada Bi Hawa. Mami papinya awalnya menolaknya, karena ingin Vio tinggal bersama mereka. Tapi karena keinginan Vio yang kuat maka mereka hanya bisa menyetujuinya.
Kemudian Bi Hawa pergi meninggalkan ruang makan dan memanggil Hasan untuk makan siang. Ternyata benar Hasan sedang membersihkan mobil nona mudanya. Dan mengecek mesin mobil. Seketika Bi Hawa menasehatinya namun karena dirasa belum kelar urusannya, Hasan menolak. Hingga akhirnya Bi Hawa memarahinya. Dan menyampaikan apa yang disampaikan oleh nona mudanya tadi. Hasan pun akhirnya menurut. Kebetulan juga itu perintah nona mudanya. Jadi dia tidak mau menggunakan nama nona mudanya tanpa alasan.
__ADS_1
“Menggunakan nama nona muda ternyata mempan juga” batin Bi Hawa tertawa dalam hati. Dia memang tidak bisa bersikap arogan seperti nona mudanya, tapi alasan menggunakan nama nona mudanya selalu mujarab untuk Hasan. Karena Hasan adalah pemuda patuh sebenarnya. Padahal Hasan adalah laki-laki lulusan universitas. Lelaki jangkung itu, tidak pernah berharap lebih. Karena melamar pekerjaan kemana-mana tidak diterima, saat itu dia berusaha menolong Bi Hawa dari jambret saat sedang berbelanja di pasar maka dia direkomendasikan Bi Hawa untuk bekerja pada nona mudanya yang kebetulan waktu itu, nona mudanya sedang membutuhkan seorang sopir pribadi untuk aktivitas orang di vila. Setelah Hasan diterima oleh Vio, Hasan langsung sujud syukur tanda dia bersyukur pada Sang Pencipta. Akhirnya dia memiliki pekerjaan juga untuk membantu finansial keluarganya. Kebetulan Vio memberikan gaji yang tinggi. Jadi sedikit demi sedikit dia juga bisa memiliki tabungannya sendiri. Apalagi dia bekerja di vila menginap sangat jarang mengeluarkan uang karena makan sudah ditanggung dari nona mudanya. Dan dia juga bukan pemuda perokok, jadi sisa gaji yang dia berikan pada orang tuanya dia tabung untuk masa depannya sendiri.