
“Selidiki Clara Bastian!” perintah Vio pada Monti saat Vio akan memasuki mobil yang pintunya sudah di buka oleh Monti.
“Baik!” jawab Monti singkat. Lalu berlari mengitari mobil menuju kursi kemudi. Mobil pun melaju dengan kecepatan sedang. Setelah dari toko Rena, Vio merasa sangat lelah. Namun tiba-tiba dia teringat dengan Fifi.
“Antarkan Ranti dulu” titahnya pada Monti. Dan diangguki Monti.
Mobil melaju menuju apartemen Ranti. Apartemen yang tak kalah mewah. Hanya letaknya yang ada masih di dalam kota tapi bukan di kawasan para elit. Setelah mengantarkan Ranti, Vio memerintahkan Monti untuk memutar balik ke arah markas dimana Fifi disekap di sana.
“Kita ke markas!” perintah Vio.
Sampai di markas, Vio melangkahkan kakinya lebar-lebar.
“Assalamu’alaikum, bos!” sapa bawahan yang menjaga markas tersebut.
“Wa’alaikumsalam. Bagaimana dia?” tanya Vio.
“Mari, saya antarkan ke dalam”
Ajakan itu diangguki Vio. Setelah berjalan melewati beberapa ruangan, tampak Fifi berada di ruangan paling ujung dimana ruangan itu diperuntukkan bagi orang yang benar-benar kejam tidak mau mengakui kesalahannya.
“Dasar kau iblis! Penampilanmu saja yang alim tapi perilakumu sungguh biadab! Menyiksa orang seenaknya saja. Kamu tidak jauh lebih baik dari seorang iblis! Cuih” teriak Fifi memaki dan meludah ke depan Vio. Sebelum mengenai tubuhnya Vio berhasil menghindarinya.
“Jika aku iblis yang sedang menyiksamu, lalu apa bedanya denganmu yang sudah membunuh saudaranya sendiri? Apakah kau juga lupa bahwa kau juga iblis? Mari, kita sama-sama iblis bagaimana jika aku memberimu pelajaran terlebih dahulu? Bukankah kamu tidak pernah jera dengan perbuatanmu?” ucap Vio dengan senyum dan tatapan kejam.
“Kau sudah memisahkan anak dari ayahnya. Kau sudah memisahkan orang yang saling mencintai. Kau memang manusia berhati iblis!” cengkeraman dagu Fifi dihempaskan Vio dengan kasar. Lalu, Vio berjalan keluar dan memanggil Monti.
“Layani dia sesuai dengan perbuatannya” perintah Vio menoleh ke arah Monti. Monti menganggukkan kepalanya patuh dan berjalan meninggalkan Vio di luar ruangan.
Tak lama setelah Monti masuk terdengar suara mengerikan.
“Aaaaaarghh!!!” suara teriakan seorang wanita yang sedang kesakitan.
“Aaaarrrggggghhh!! Sialan kau…!” teriaknya lagi.
“Huhuhu..huhuhu” suara jerit tangis Fifi kemudian setelah memaki. Sepertinya yang dimaki adalah Vio.
“Aaaargghhhh…..” suara itu semakin lama semakin lemah.
Tidak lama setelah suara lemah itu sudah tidak terdengar lagi, Monti kembali dengan beberapa cipratan darah di area kemejanya.
__ADS_1
“Pulanglah!” ucap Vio pada Monti.
“Bagaimana nona akan pulang? Karena hari sudah mulai malam?” tanya Monti.
“Baik” jawabanya kemudian setelah mendapatkan tatapan tajam Vio.
Dengan senyum smirk Vio, dia berjalan berputar membalikkan badannya menuju ruangan Fifi. Melihat kondisi Fifi yang babak belur itu, hati Vio merasa masih belum puas jika dibandingkan kepedihan hati Rena.
“Bereskan dia!” perintahnya pada bawahannya yang berjaga di sana. Seperti biasanya, yang dimaksud membereskan musuhnya yang dimaksud adalah mengasingkannya ke sebuah hutan yang paling dalam. Bagaimanapun kejamnya Vio, dia tidak akan melampaui batasannya.
“Siap!” jawab bawahannya lalu berjalan masuk ke dalam ruangan Fifi. Sebelum membawa keluar Fifi dari markas, Fifi dibius terlebih dahulu. Setelah pingsan, mereka membawa Fifi ke hutan yang sangat dalam dimana banyak binatang buas. Di sana diharapkan Fifi bisa bertobat jika dia bisa selamat dari kejaran binatang buas. Setelah Fifi dibuang ke dalam hutan, para bawahan langsung meninggalkan lokasi tersebut dan mengirimkan video pada bosnya, Violetta.
“Kerja bagus!” Vio tersenyum lebar. Kemudian Vio melangkah meninggalkan markas dengan hati puas.
Jimy menjemput Vio ke markas.
“Silahkan, Nona!” ucap Jimy membukakan pintu untuk Vio.
Setelah masuk dalam mobil, Vio bertanya pada Jimy. “Bagaimana kabar papi?”
“Baik, nona!” jawab Jimy.
Keesokan harinya.
Vio pagi-pagi sudah melakukan jogging keliling komplek apartemennya.
“Selamat pagi, Vi!” sambut Prisa saat melihat Vio keluar dari apartemennya ketika dia juga sedang membuka pintu apartemennya.
“Selamat pagi!” balas Vio dengan senyum ramah.
“Apakah mau berlari pagi?” tanya Prisa.
“I..yaa” jawab Vio gugup saat kaget melihat kehadiran Prayoga di belakang Prisa dengan memeluk Prisa dari belakang dan bersamaan dengan jawaban Vio.
“Kamu mau keman sih? Pagi-pagi udah mau pergi? Temani aku a…jaa” kata Prayoga sambil memeluk Prisa dari belakang dengan menciumi rambut Prisa yang berbau wangi aroma shampoo. Saat itu dia terlihat kaget dengan kenyataan bahwa tak pernah dia sangka bisa bertemu dengan Vio pacar onlinenya yang selama ini dia coba lupakan. Prayoga masih ingat betul bagaimana wajah Vio meski lewat Video call. Begitu juga sebaliknya dengan Vio. Dia juga masih sangat ingat bagaimana rupa kekasihnya itu meski lewat layar ponselnya.
“Mm maaf permisi dulu!” ucap Vio yang terlihat geram dan juga malu melihat perlakuan mereka berdua dihadapannya. Lalu dia berlalu berlari ke luar apartemennya. Tanpa menghiraukan jawaban apa yang akan terlontar dari mulut Prisa.
“Yankk. Aku kan mau berlari juga. Mumpung bertemu Vio tadi. Aku bermaksud untuk ikut dengannya. Karena aku belum mengenal wilayah sini” nadanya manja pada Prayoga tanpa menyadari ekspresi muka Prayoga setelah bertemu dengan Vio.
__ADS_1
Karena yang diajak bicara tak kunjung juga menjawabnya, maka Prisa mendongakkan kepalanya menatap kekasihnya itu. dia merasa heran ada apa dengan kekasihnya itu.
“Kamu kenapa menatap kesana? Hei! Kamu kenapa diam?” tanyanya mulai curiga.
“Ah tidak. Ayo masuk ke dalam” lalu Prayoga masuk terlebih dahulu dan diikuti oleh Prisa. Dia tidak mau Prisa tahu tentang isi hatinya yang sebenarnya. Prayoga menjadikan Prisa kekasihnya karena Prisa telah berjasa dalam usahanya yang sekarang melambung tinggi. Mini marketnya sekarang tersebar kemana-mana. Termasuk di Kota Besar yang saat ini sudah mulai beroperasi.
“Yank, kota ini lebih menyenangkan dari pada di sana. Bagaimana kalua kita pindah ke sini saja? Kayaknya aku lebih betah di sini. Kita beli apartemen di kota sini saja ya” bujuk Prisa bergelayut manja di lengan Prayoga.
“Kita lihat saja dulu bagaimana perkembangan usaha kita di sini” jawab Prayoga yang tiba-tiba merasa jengah dengan Prisa setelah menemukan cintanya.
“Kita lihat saja, Prayoga. Jika kamu tidak bisa melupakan masa lalumu itu, maka aku akan menghancurkan semua usahamu itu” batin Prisa menatap Prayoga yang sedang memeluknya.
“Tuhan, ternyata jauh-jauh aku cari dan berusaha melupakannya saat aku lelah mencarinya, kenapa kami bertemu di saat aku memeluk wanita lain? Dia pasti sudah salah paham dan kecewa. Aku harus bertemu dengannya dan kali ini aku harus menjelaskan padanya. Aku tidak mau kehilangan dia lagi” batin Prayoga memeluk Prisa sambil mengelus kepala Prisa.
Disisi Vio.
Saat Vio keluar apartemen dan bersiap berlari, Vio berlari sangat kencang tanpa menoleh ke kanan dan ke kiri bahkan tatapan matanya tidak focus menatap ke depan. Pikirannya ikut berlari ke pemandangan tadi saat keluar apartemen, Prayoga.
“Ya Allah, kenapa di saat aku sudah belajar memendam semua ini dia tiba-tiba muncul dengan seorang wanita yang dipeluknya tadi. Apakah ini jawaban dari-Mu? Baiklah jika ini adalah jawaban darimu, maka bantulah aku untuk melupakannya sepenuhnya” pinta Vio mendongakkan kepalanya ke atas langit saat berhenti dari larinya dan kini Vio duduk menghadap matahari terbit. Sunrise yang sangat indah. Tapi tidak seindah hatinya pagi ini.
“Semangat, Vi! Kamu harus kuat! Dia sudah menunjukkan belangnya bukan?! Jadi…move on! Kamu bisa, Vi! Bisa!” serunya dengan tangan kanannya diangkat lalu diturunkan dengan tanda yes! Dan tersenyum dipaksakan.
“Semangat!” suara seorang laki-laki tiba-tiba mengagetkannya.
“Dokter Indra!” ucap Vio kaget mendapati laki-laki itu dibelakangnya.
“Kelihatan bersedih lalu menyemangati diri sendiri. Hmm bisa cerita kalo kamu mau bercerita” kata dokter Indra itu menyadarkan Vio bahwa dokter Indra itu sudah mendengar keluh kesahnya sedari awal.
“Kamu..mendengarkan semuanya?” tanya Vio penasaran.
“Mmm…ya. Tapi jika kamu tidak mau cerita tidak masalah” jawab dokter Indra tersenyum merekah menatap sunrise dihadapannya yang sangat indah sesuai dengan kondisi hatinya saat ini. Bagaimana tidak, sudah lama sejak melakukan perjalanan ke luar negeri waktu itu, dia tidak bertemu dengan wanita yang sudah lama mencuri hatinya itu. hanya saja dia takut mengutarakan isi hatinya. Dia merasa belum siap jika ditolak.
“Tidak apa-apa. Hanya kesedihan kecil saja. Masih bisa aku tangani. Apa dokter tinggal di komplek ini?” tanya Vio mengalihkan pembicaraan.
“Iya. Aku tinggal di lantai dua” jawab dokter Indra. Tapi hanya sementara” ucapnya.
“Wah sama denganku ya ternyata. Tapi kenapa kita tidak pernah bertemu ya? Lalu, kenapa memangnya sementara?” tanya Vio.
“Karena kawanku sedang menempatinya. Dia ingin mencari tempat tinggal di kota ini. Karena dia membangun usahanya di kota ini. Wah ternyata kita dekat ya. Tapi aku memang jarang tinggal di sini. Aku lebih nyaman berada di rumahku yang terletak di perkampungan. Disana bisa banyak berinteraksi. Aku akan tinggal disini jika aku ingin berpikir saja” ucap dokter Indra sambil tertawa yang memperlihatkan giginya yang rapi.
__ADS_1
“Oh” hanya ditanggapi Vio dengan ber-oh ria.