
Di lain sisi bertepatan saat pesawat pribadi keluarga Atmadja mendarat, salah satu bawahan Vrish menghubungi tuan mudanya, Vrish.
“Tuan, orang yang anda cari selama ini sekarang sudah kembali. sekarang dia sedang berada di bandara”
“Bagus. Bagaimana keadaannya? Terus pantau dia dari jauh” tanya Vrish pada bawahan kepercayaannya itu, Jefry.
“Dia..dia pulang membawa seorang anak laki-laki kecil tuan. Usianya kisaran 4 tahun 5 tahunan, Tuan. Dan anak itu sangat tampan. Bahkan wajah ibu dan anak itu bagai pinang di belah dua” dengan ragu-ragu Jefry menjelaskan apa yang dia lihat. Kebetulan dia sedang mengurus paspor tuan mudanya yang akan berkunjung ke negeri sebelah untuk urusan bisnisnya. Padahal selama lima tahun ini dia selalu mencarinya atas perintah tuan mudanya itu, namun ternyata tunangan tuan mudanya itu dengan rapi menyembunyikan keberadaannya. Saat Jefry melihat nona muda Atmadja di bandara senyumnya mengembang. Karena dia merasa sudah sangat menyukai nona muda Atmadja untuk tuan mudanya. Pertama kali melihatnya di bandara saat itu, Jefry sempat kaget karena kini nona muda Atmadja wajahnya semakin bersinar dan semakin cantik. Hanya sayang satu yang dia sesali adalah dia membawa seorang anak laki-laki yang sangat tampan dan wajahnya juga mirip dengan nona muda Atmadja.
“Selidiki siapa anak itu” perintah Vrish pada Jefry. Kemudian tak berselang lama sebuah pesan muncul di layar ponselnya. Dua buah foto. Setelah Vrish membukanya, sebuah foto menampilkan senyum yang merekah dengan wajah yang semakin cantik bak boneka hidup. Sudut bibirnya mengembang merekah. Jantungnya berdebar tak karuan.
“Setelah lima tahun kau pergi meninggalkanku, tanpa alasan yang jelas kini kau telah kembali. Kini kau semakin cantik dan semakin elegan” senyum dibibirnya itu kini beralih dingin setelah melihat sebuah foto seorang anak laki-laki tampan yang berwajah mirip dengan pujaan hatinya.
“Anak ini sangat tampan. Tidak mungkin dia telah menikah” wajahnya kini tampak masam. Kemudian dia segera beranjak ke kursi kebesarannya dan mulai mengetik menggerakkan jari jemarinya untuk mencari semua informasi tentang nona muda Atmadja dan anak kecil itu.
“Apa?! Jadi anak itu memang anaknya. Tapi disini kenapa tidak menyatakan bahwa dia sudah menikah? Lalu anak kecil itu anaknya sama siapa? Apa yang terjadi dengannya?” bergegas Vrish bangkit dari kursinya dan pergi meninggalkan kantornya.
“Kenapa wajah tuan muda kita?” ucap salah seorang karyawannya setelah bosnya itu menghilang dari kantornya.
“Iya, sekarang wajahnya terlihat sangat marah. Pasti ada yang sudah membuatnya marah” jawab salah seorang temannya yang lain.
“Kalau tuan muda kita bisa menampilkan senyum terbaiknya, maka dunia ini pasti sedang runtuh” ucap yang lain lagi.
“Meskipun dia selalu marah dan memasang wajah yang dingin, tapi dia masih tetap tampan” ucap karyawan yang lain, wanita seksi di kantor itu.
“Ehemm” deheman Martin membuat semua karyawan yang sedang menggibah itu terkejut. Kemudian secara serempak mereka pergi ke kursinya masing-masing.
“Jika kalian ulangi lagi, semua perusahaan tidak aka nada yang mau menerima kalian” ancam Martin. Martin memang sekarang membantu Vrish mengelola perusahaan di Kota Besar. Karena perusahaan tuan muda Pramudya yang ada di Pusat Kota, sudah ditangani oleh manager kepercayaannya yang lain. Sedangkan Jefry sekarang ikut membantu Vrish. Untuk perusahaan di luar negeri Tuan Besar Pramudya yang menghandlenya langsung.
__ADS_1
Kini tampak Vrish berada di sebuah café. Dia bertemu dengan Albert. Albert yang kebetulan ingin melaporkan sesuatu pada sahabatnya itu merasa gembira karena setelah sekian purnama dia diasingkan oleh papanya Vrish, tuan besar Pramudya.
“Hai, bro!” sapa Albert.
Dengan wajah datarnya, Vrish malas membalasnya. Dia hanya membalasnya dengan berjabat tangan.
“Ada apa, tuan muda yang tampan? Harusnya aku yang menekuk wajahku. Bukan kau” ejek Albert.
“Selama hampir lima tahun papamu mengasingkanku ke negeri orang. Dengan memberikan tanggungjawab yang sangat besar. Bahkan nyawaku taruhannya. Sungguh papamu orang yang tega padaku. Cekkk” Albert mencebik kesal.
“Katakan padaku. Siapa yang sudah membuatmu galau seperti ini?” lanjutnya hingga mendapatkan pelototan dari sahabtnya itu.
“Jika kau tak galau, lalu apa namany itu? Wajah di tekuk seperti orang yang habis patah hati saja” memangnya raut-raut seperti raut mukamu itu aku tidak tahu. Katakan dengan siapa kau patah hati? Jika aku menebak Clara si wanita licik itu, sepertinya impossible. Haha” ejek Albert hingga Vrish bertambah kesal.
“Dia sudah kembali. Tapi dengan seorang anak kecil” ucapnya singkat.
“Apakah kau tidak akan memberiku selamat atasa kinerjaku? Berkat jasaku, kini bisnis keluargamu menjadi aman terkendali. Kau tahu bahwa pemerintah di sana sungguh sangat mempersulitku. Sungguh payah dunia bawah papamu itu. Giliran susah aku yang maju. Aku benar-benar harus menyamar menggunakan identitas lain supaya mereka para bedebah itu tidak mengenaliku. Mereka sungguh cerdik dan pintar. Pimpinan mereka tidak bisa diremehkan. Berbagai transaksi harus aku mainkan. Sampai-sampai beberapa kali polisi setempat hampir menangkapku. Jika sampai aku tertangkap maka habis riwayat keluargamu” jelas Albert. Dia memang pakarnya dalam menyamar. Untuk bisnisnya sendiri dia serahkan pada asistennya.
Sedangkan Clara yang saat itu dia tinggalkan begitu saja tanpa ssepatah katapun merengek meminta penjelasannya saat mengetahui Albert akan pergi ke bandara. Namun, Albert tidak mau mengatakannya. Setelah dia kembali, dia juga berniat ingin menghampiri Clara si wanita yang menggairahkan itu. Namun setelah dia kembali, dia menemukan berita bahwa kini Clara sedang dekat dengan sahabatnya ini. Dia tahu pasti sahabatnya ini sudah dijebak oleh si wanita ular itu.
“Selamat. Terimakasih atas kinerjamu selama lima tahun ini. Kau sungguh sahabat terbaik” Vrish tersenyum tipis kemudian merangkul temannya. Memang dalam hal menyamar menjadi agen rahasia tepatnya, hanya bisa dilakukan oleh Albert. Dia laki-laki yang sangat licik dan penuh strategi.
“Bagaimana hubunganmu dengan Clara? Apakah dia membuat ulah selama ini?” tanya Albert dengan senyum miring.
“Tanyakan langsung padanya. Aku tidak akan pernah sudi mengakui hubungan itu” jawab Vrish mengepalkan tangannya. Dia masih ingat waktu itu.
Waktu itu..
__ADS_1
Saat Vio pergi meninggalkan Vrish dari toilet lima tahun lalu dan meninggalkannya tanpa alasan yang jelas, Vrish hampir setiap hari memiliki pikiran yang kacau. Hari-harinya selalu dipenuhi bayangan Vio. Sungguh dia sudah jatuh cinta terlalu dalam pada rubah kecilnya itu. Saat ada acara reuni dari alumni universitasnya, Vrish yang hadir sebagai donator itu tidak tahu jika Clara juga ikut menghadiri karena Clara diundang sebagai tamu special untuk memperagakan busana model terkini. Kebetulan tema reuni itu adalah musim semi. Namun berbeda dengan Clara. Dia selalu mencari tahu tentang pujaan hatinya itu. bahkan dia rela membayar mahal seseorang untuk terus mencari informasi tentang tuan muda Pramudya itu. Clara yang tahu Vrish akan hadir, dia membayar seseorang untuk membubuhkan sebuah obat pera****ng pada minuman Vrish.
Beberapa saat setelah acara di mulai dan setelah Vrish memberikan sambutannya bermaksud untuk pergi, namun dia tidak tahu jika minuman yang dia minum di awal acara kini sudah bereaksi. Dia tahu jika ada seseorang yang berniat jahat padanya. Kemudian dia segera pergi setelah acara pergaan busana yang menampilkan Clara. Ketika Clara tampil ke depan, Vrish yang kebetulan sedang berjuang antara hasrat terpendamnya dan pikirannya untuk tetap tersadar, berjalan gontai dengan wajah merah padam menuju parkir mobilnya. Setelah berhasil masuk dalam mobilnya, Dia tiba-tiba merasa samar melihat pujaannya berjalan mendekatinya.
“Rubah kecil” gumamnya pelan saat itu. Vrish pergi sendiri tanpa sopir.
Sosok itu mendekati mobil Vrish lalu masuk mobil Vrish.
“Biarkan aku yang menyetir” kata sosok itu.
Setelah beberapa menit, mereka berdua telah sampai di sebuah hotel. Ya, sosok itu adalah Clara. Dia membawa Vrish ke sebuah hotel. Vrish yang melihat Clara adalah Vio, sang pujaan hatinya, apalagi saat itu diliputi dengan hasrat yang menggebu ingin segera menerkam mangsanya itu, menciumi Clara penuh gairah. Setelah masuk sebuah kamar yang begitu indah dan luas, Clara merobohkan tubuh Vrish di sebuah ranjang di kamar hotel itu. Setelah dengan susah payah Clara berusaha menekan keinginannya yang menggebu untuk memiliki tuan muda Pramudya itu, Clara bersiap menanggalkan semua pakaiannya. Dengan nafas yang menggebu, Vrish pun yang melihat Clara sebagai Vio itu menarik tangannya sehingga tubuh Clara menindih tubuhnya Vrish. Kemudian Vrish menggulingkan tubuhnya berganti menindih tubuh Clara.
“Kau sangat cantik sayang” ucap Vrish tersenyum menggoda dan mencium aroma tubuh Clara. Di saat puncak hasratnya, Vrish tersadar bahwa aroma tubuh wanita yang sedang dia tindih itu berbeda dengan pujaan hatinya. Kemudian Vrish bangkit dan marah. Dia pergi ke toilet dengan keadaan setengah badannya sudah telanjang dada. Dia segera menuntaskan hasratnya di dalam toilet. Akhirnya si wanita ular itu gagal memilikinya. Namun, bukan ular jika dia tidak licik menggunakan triknya. Ternyata semua sudah dia persiapkan. Saat Vrish mencumbunya dengan mesra sebelum tersadar, seseorang suruhannya sudah memotretnya. Sehingga Clara mengancamnya dengan berpura-pura telah ternodai dihadapan tante Lisa. Hal itu membuat tante Lisa mempercayainya. Dan terjadilah kedekatan yang terpaksa itu, karena Vrish berniat untuk menghancurkan bukti ssemua foto-foto itu.
Kembali lagi ya…
Setelah bertemu selama hampir satu jam, akhirnya Vrish dan Albert pergi meninggalkan café itu. saat keluar café, Vrish tidak sengaja bertabrakan dengan seorang wanita yang selalu berada di samping rubah kecilnya itu. Langkah Vrish berhenti dan menarik tangan Ranti. Ya Ranti saat ini pergi ke café atas perintah nona mudanya itu, karena nona mudanya sangat merindukan makanan dari café tersebut.
“Kau asistennya bukan?” mendengar pertanyaan itu, langkah Albertpun ikut terhenti. Ranti yang ditarik tangannya pun kaget. Namun dia kembali berusaha setenang mungkin.
“Maaf, ada apa?” tanya balik Ranti. Dia tahu pasti tuan muda Pramudya akan menanyakan nona mudanya.
“Katakan dimana dia?” seru Vrish marah.
“Maaf, saat ini saya tidak tahu yang anda maksud” Albert menghampiri mereka berdua dan menatap tajam pada Ranti.
“Katakan dimana nona muda Atmadja saat ini?” kini Albert yang bertanya.
__ADS_1
“Silahkan cari sendiri saja. Saya tidak tahu” jawab Ranti lalu segera pergi dari sana. Ranti bermaksud pulang ke rumahnya. Untuk masalah pesanan nona mudanya dia akan mengirimnya lewat pesan antar saja. Karena dia tidak mau tuan muda Pramudya curiga padanya.