
Hari ini adalah waktunya tiba Vio akan mengirimkan surat pengunduran dirinya atas titah sang papi. Saat perjalanan akan menuju ke kantornya, kendaraan Vio dihadang sebuah mobil.
Ciiiit...Braakkk...
Suara tabrakan yang diakibatkan terhadangnya mobil Vio secara dadakan membuat Vio tidak bisa mengerem dan berhenti. Hasilnya monyong mobil Vio remuk. Hal ini otomatis membuat Vio marah dan ingin memaki pengemudi mobil didepannya. Vio langsung turun dari mobilnya. Tak lama kemudian empat orang laki-laki keluar dari mobil itu lalu menerjang Vio begitu saja. Vio yang terlahir jago bela diripun spontan melawannya. Beruntung jalanan masih sepi jadi tidak banyak pengendara anak sekolah yang berlalu lalang.
Satu lawan empat. Pertarungan yang seimbang. Tampaknya pembunuh bayaran itu bela dirinya lumayan juga. Tiba-tiba dari arah yang berlawanan sebuah mobil sport berhenti. Pemilik mobil sport itu adalah Farel. Farel yang lumayan jago bela diripun ikut membantu. Meskipun bela diri Vio lebih jago. Hanya setelah Vio melihat mobil Farel, Vio berpura-pura lemah dihadapan para cecunguk itu.
"Vio!" teriak Farel lalu berlari membantu Vio bertarung. Naas Vio pun terkena tendangan di perutnya. Sang preman pun dihajar habis-habisan oleh Farel. Farel yang melihat adiknya ditendang menjadi murka. Ia tidak ingin kejadian pada adiknya dulu terulang kembali jadi Farel harus sekuat tenaga melindungi Vio.
"Kamu minggir Vi, biar kakak yang menghadapinya" Viopun minggir atas perintah Farel. Perutnya yang terasa sakitpun ia pegang "Siapa yang berani menghadangku? Perasaan aku tidak punya musuh di kota ini". Vio mengernyitkan keningnya berpikir sambil menatap lawan Farel.
Tak kurang akal Viopun menelepon panggilan darurat polisi. Pertarungan yang tak terelakkan itu sebanding dengan kekuatan Farel. Sebenarnya sebelum mobil Farel terlihat Vio hampir mengalahkan mereka. Namun, Vio tidak ingin Farel mengetahui kekuatannya.
Saat melihat musuh hendak menikam Farel dari belakang, gerakan Vio yang gesit itu spontan menendang musuhnya hingga terpental beberapa meter. Farel yang tidak menyadarinya itu masih melawan musuhnya yang lain. Beberapa menit kemudian polisi datang. Kemudian para begundal itu pun diseret ke kantor polisi. Niat hati ingin berangkat pagi untuk membereskan barang-barangnya, malah Vio mendapatkan kejutan yang sangat membahayakan dirinya tentu beralih ke Farel juga karena sudah membantunya. Akhirnya Vio dan Farel ikut ke kantor polisi memberikan keterangan atas kejadian itu.
Setelah menyelesaikan urusannya di kantor polisi sekarang Vio harus mengurusi mobilnya yang sudah penyok-penyok itu. Diperbaikipun pasti hanya akan mengeluarkan banyak biaya sedangkan harga mobil itu tidaklah semewah mobil sport kesayangannya di mansion papinya. Jika diperbaiki maka harganya hampir sebanding dengan harga mobilnya. Akhirnya Farel menelpon truk derek untuk menderek mobilnya ke tempat penampungan mobil yang sudah menjadi rongsokan tersebut.
Vio harus mencari siapa dalangnya. Segera dia menelpon Jimy pengawal pribadi papinya. Kemudian Jimy mengutus seseorang kepercayaannya untuk menyelidikinya. Pastinya akan memakan waktu yang agak lama karena para pelaku itu bungkam.
"Vi, jika ada yang membuatmu sakit atau syok lebih baik kamu ijin dulu" kata Farel sambil menyetir mobilnya menuju kantor. Vio yang menumpang mobilnya Farel awalnya diajak Farel ke rumah sakit memeriksakan keadaan mereka berdua. Namun Vio tidak mau. Karena tujuan Vio hari ini harus terselesaikan.
"Gak, kak. Aku baik-baik saja kok. Atau kak Farel ada yang luka? Kakak ke rumah sakit dulu aja aku turun disini naik taksi juga bisa. Karena aku harus segera mengirim surat pengunduranku hari ini juga kak. Kalau tidak papi bisa mengeluarkan taringnya. Bisa-bisa semua fasilitasku dicabut. Gimana dong jika aku mau jalan-jalan" ucap Vio sambil terkekeh geli.
"Heleh kamu itu akhirnya tunduk juga kan sama papi kamu. Makanya gak usah sok ingin mandiri. Dengan mengelola usaha papi kamu saja sudah bisa membuatmu mandiri nantinya. Apalagi kamu perempuan" ucap Farel sambil mengemudi tetap menatap ke depan tanpa menoleh pada Vio.
__ADS_1
"Ck..kakak ini. Meskipun aku perempuan aku juga bisa mandiri. Aku bisa menjual brandku di negeri ini. Tanpa bantuan papi. Buktinya bran pakaianku di luar negeri jadi ternama"
"Bahkan dicari sedunia kan?! Di negeri ini pun juga mencarimu. Tapi kamu tidak muncul juga. Ayo muncul biar aku bangga punya adik sepertimu. Dan orang-orang yang meremehkanmu itu akan kaget melihatmu" tawa Farel.
"Bahkan mungkin mati berdiri. Hahah" tawa Vio.
Akhirnya mereka sampai di kantor mereka. Rena tidak tahu akan kejadian tadi pagi. Karena bagi Vio jika Rena tahu pasti akan khawatir apalagi saat ini Rena sedang mengandung.
Setelah beberapa jam berlalu Vio akhirnya setelah jam makan siang selesai membereskan semua barangnya. Surat pengunduran dirinya sudah dia kirim semenjak pagi sebelum sampai di kantor. Dan selesai jam makan siang suratnya itu mendapat balasan dari HRD. Surat pengunduran diri Vio diterima oleh perusahaan dikarenakan alasan yang kuat yaitu merawat orang tuanya yang sendirian dirumah. Sebenarnya sangat disayangkan karena Vio adalah pegawai yang cerdas dan berkatnya perusahaan mendapatkan proyek kerjasama dengan keluarga Vrish. Vio juga sudah mengirimkan surat pengunduran dirinya di perusahaan Vrish berikut balasan HRD perusahaannya, dan itupun sudah disetujui oleh asisten Martin. Vrish yang masih mengurusi perusahaan papanya di luar negeri itupun mengirim email pada Vio.
Namun, Vio tetap menolaknya dikarenakan alasan orang tuanya sudah mengancamnya. Karena Vrish tahu Vio yang sebenarnya maka Vrishpun menyetujuinya. Karena Vrish tahu tidak ingin bersinggungan dengan keluarga Atmadja.
Akhirnya jam pulang kantorpun selesai waktunya pulang. Besok pagi adalah hari terakhir Vio bekerja. Dia ingin mentraktir teman-temannya mungkin untuk yang terkahir kalinya. Namun setelah melangkahkan kakinya di luar pintu perusahaan terdengar suara tidak mengenakkan telinga Vio.
"Syukurlah dia mengundurkan diri. Jadi tidak ada yang sok lagi di sini. Hasil designnya saja tidak ada bagusnya" cibir ratu gosip perusahaan.
"Coba kalian lihat becik ketitik olo ketoro. Siapapun itu yang berbuat curang pasti terlihat juga kan? Huh. Rasain itu pelakor!" maki ratu gosip itu.
"Iya dasar pelakor!" timpal yang lainnya. Sebenarnya ratu gosip itu memang suka membuat gosip yang buruk. Dia adalah teman Clara. Waktu itu Clara tidak sengaja melihat Vio masuk ke dalam perusahaan tempat Vio bekerja ketika sedang mengantarkan temannya si ratu gosip itu. Akhirnya Clara tahu dari si ratu gosip itu. Dengan bumbu-bumbu tak sedap pun ratu gosip siap menyebarkannya. Hanya untuk mengusir Vio dari perusahaan tempatnya bernaung.
Tak tak tak..bunyi sepatu high heelsnya Vio mendekati si ratu gosip.
"Oh ya? Siapa si pelakor itu sebenarnya? Hati-hati mulutmu harimaumu" kemudian Vio melenggang pergi dari sana.
Si ratu gosippun merasa marah emosinya serasa naik ke atas ubun-ubunnya.
__ADS_1
Vio pergi menuju apartemennya. Di sana tampak tercium aroma masakan khas Rena ketika membuka pintu apartemennya. Begitu menggoda. Perut Vio yang tadinya kenyang akan makian si ratu gosipun mendadak merasa lapar.
Setelah Vio membersihkan diri dia segera pergi ke ruang makan. Tampak Rena menyajikan semua masakan enak.
" Hmm..enak sekali. Perutku sudah lapar. Ayo kita makan sekarang" ucap Vio kemudian duduk.
Rena hanya menggelengkan kepalanya tersenyum.
"Bagaimana hari ini? Berjalan lancar?" tanya Rena.
"Hmmm.. Alhamdulillah lancar. Bahkan si ratu gosip itu akan merindukanku. Hahaha" tawa Vio enteng tak menanggapi ocehan si ratu gosip. Dipikir-pikir buat apa meladeninya.
Merekapun makan dengan lahap. Terutama Vio. Siapa yang bumil makannya justru yang lahap bukan bumil.
Ting
Sebuah pesan masuk.
"Nona Atmadja. Kejadian tadi pagi adalah ulah dari seorang wanita. Hanya saja nama wanita itu masih kami selidiki" dari utusan Jimy.
"Selidikilah" balas Vio.
"Dari siapa? Pentingkah sehingga kamu makan dengan bermain ponsel?" pertanyaan Rena tiba-tiba mengagetkannya.
"Ya benar. Dari mami. Kamu tahu kan kalo mami tidak segera dibalas pesannya maka akan mengomel panjang kali lebar" ucap Vio berkilah sambil terkekeh.
__ADS_1
"Oh. Baiklah" jawab Rena. Rena adalah sahabat yang dari dulu jika waktu makan tidak suka melihat orang sambil memainkan ponselnya. Waktunya makan ya makan nanti setelah makan baru boleh bermain ponsel.