
Di apartemen sederhana Vio.
Sampai di apartemen, Vio langsung berjalan menuju kamar mandi dan segera membersihkan diri. Tidak disangka bahwa hari ini adalah hari yang sangat melelahkan bagi Vio. Bagaimana tidak?! Melelahkan dalam artian karena menguras banyak pikiran dan tenaga saat berdebat tadi dengan gadis kencan butanya si Vrish terus datang jauh-jauh dari kantornya jika pada akhirnya untuk menemui laki-laki bermasalah itu kemudian belum lagi kata-kata Vrish.
"Hahhh! Rasanya ingin sekali berendam di sini lama-lama" lirih Vio sambil berusaha merilekskan otot-otot tubuhnya.
Drrrttt drrrttt
Namun panggilan itu Vio abaikan. Siapa lagi kalau bukan si pengganggu Vrish itu. Kurang kerjaan aja kan?!
Vio meraih handphonenya. Sebenarnya ia ingin menghubungi Prayoga. Tapi hatinya diliputi akan keragu-raguannya.
Setelah berpikir terlalu banyak Vio menyudahi berendamnya. Kemudian keluar dari kamar mandi. Sambil memegang ponselnya dan berpikir yang terbaik akhirnya Vio mengklik tombol hijau itu. Lalu mengambil posisi duduk di sofa dekat ranjangnya dengan nyaman.
"......" suara sebrang telepon mengucapkan salam.
"Wa'alaikumsalam. Ma..af su..dah mengganggu waktumu malam-malam. Aku...ingin minta maaf atas kejadian tadi siang. Kumohon kamu jangan salah paham. Aku se..."
"Aku melihat semuanya. Tidak apa-apa. Lupakan!" sela Prayoga dengan nada dingin. Vio tahu itu dari suaranya.
Hening beberapa detik.
"Aku.."
"Besok..."
Ucap mereka berdua bersamaan.
"Lady's first" Prayoga berujar.
"Aku..." Vio menarik nafas panjang dan menghelanya pelan supaya tidak terdengar dari ujung telepon.
__ADS_1
"Aku minta maaf atas kesalahpahaman waktu itu. Aku tidak langsung menghubungimu karena kupikir kamu mempermainkan aku menyuruh cowok lain yang menemuiku. Dan kamu..kenapa nomorku sempat kau blokir? Apa salahku?" lanjut Vio.
"Lupakan!" Prayoga hening beberapa detik.
"Besok aku akan pulang. Ternyata di sini pun aku tidak bisa bertemu denganmu. Walau hanya ingin mengucapkan beberapa kata. Mungkin kita memang tak berjodoh. Kini kau sudah bertunangan. Selamat buat kalian. Ini terakhir kalinya aku menghubungimu. Semoga kamu bahagia dengan tunanganmu" ucap Prayoga dengan raut muka sedih. Mengarahkan pandangannya ke arah apartemen Vio. Ya Prayoga kini berdiri di depan apartemen Vio. Ternyata Prayoga tadi mengikuti Vio dan Vrish sekeluar dari cafe Cinta tadi.
"Aku masih sangat menyayangimu, Vi. Kamu berbeda dengannya. Bukan wanita materialistis. Maafkan aku, Vi. Dengan story-storyku itu yang sengaja ku buat agar kau bisa melupakanku. Biar kesalahpahaman itu berlanjut dan kamu mendapat kebahagiaanmu" ucap Prayoga dalam hati setelah menutup panggilan di ponselnya.
Sebenarnya siang tadi Prayoga akan mengatakan bahwa story-storynya itu adalah sengaja dibuat oleh Prayoga dan meminta maaf pada Vio karena rasa cintanya terlalu dalam untuk Vio. Dia merasa bahwa tidak bisa melanjutkan kesalahpahaman itu. Maka dari itu ia ingin meminta maaf pada Vio.
Di sisi Vio.
"Ha.." tut tut tut. Saat Vio ingin mengatakan hati-hati sambungan telepon sudah dimatikan.
Dengan malasnya Vio bermaksud berjalan menuju balkon apartemennya ingin menghirup udara segar. Disibakkan korden pintu ke arah balkon lalu menggeser pintu itu. Vio mengedarkan pandangannya. Pandangan tak sengaja itu mengarah pada sosok laki-laki berdiri tegap dengan setelan pakaian santai dipadukan jaket tebal warna coklat terlihat tampan dan manis. Meski tidak setampan Vrish tapi Prayoga mampu menggugah hati Vio. Kehangatan cintanya yang membuat Vio merasa bahwa kasih sayang Prayoga itu benar-benar tulus.
"Pra..Prayoga" pandangan mata itu bertemu satu sama lain. Seolah melepas rasa rindu di hati masing-masing individu itu tanpa disadari setetes demi setetes air mata mereka keluar tanpa ijinnya.
Saat hendak pergi meninggalkan balkon dan berbalik, Prayoga pun segera pergi meninggalkan apartemen Vio. Vio pun berbalik kembali hanya sanggup menatap punggung laki-laki yang singgah di hatinya. Dengan derai air mata. Lalu terbersit di pikirannya.
"Tolong jangan pergi. Tetaplah di situ" kira-kira seperti itu isinya.
Namun, tampak centang garis dua masih abu-abu itu belum terbaca. Padahal pesan itu sudah dibaca Prayoga hanya dipengaturan saja tidak terbaca. Kini Prayoga sudah berada di dalam mobil. Mobil yang dia pinjam dari temannya yang seorang dokter bekerja di Pusat Kota. Ya Prayoga menginap di apartemen temannya itu. Dengan perasaan sedih dan kacau Prayoga meninggalkan tempat itu.
Di lain tempat.
Setelah Vrish meninggalkan Vio di gerbang apartemen Vio, langsung menuju kediaman Pramudya dan mencari tantenya. Dia yakin bahwa wanita itu sudah mengadu pada tantenya adik dari papanya Vrish itu. Tante yang sudah dia anggap ibunya sendiri, tante yang sudah mengurusnya semenjak ibunya Vrish meninggal.
"Vrish, kau sudah pulang" sapa tantenya yang sedang duduk di sofa menikmati dan menyesap secangkir teh buatan maid.
"Apa maksud tante membuat acara dadakan itu?" sungut Vrish.
__ADS_1
"Aku tidak suka tante mengatur jodohku. Aku sudah dewasa. Aku bisa mencarinya sendiri" lanjutnya.
Vrish berpikir bahwa dia sudah dewasa jadi untuk hidupnya sekarang yang menentukan hanyalah dirinya bukan tantenya, papanya atau bahkan orang lain.
"Bagaimana Clara menurutmu?" tanya tante Lisa tantenya Vrish. Tante Lisa tipikal orang yang sangat lembut terhadap Vrish. Dia sudah menganggap Vrish sebagai anaknya sendiri. Namun dibalik kelembutannya dia orang yang sangat tegas dan lugas dalam mengambil tiap keputusan.
Hanya mendengus jawaban Vrish. Tante Lisa sudah tahu bagaimana karakter Vrish.
"Tante hanya ingin kamu secepatnya menikah. Dengan begini tanggung jawab tante terhadap mama kamu sudah selesai" jawabnya tegas dengan meletakkan cangkir tehnya.
"Usiamu sudah cukup untuk menikah. Jadi kini saatnya kamu memikirkannya. Lalu tunangan dadakanmu mana? Siapa yang kau culik itu?" lanjut Tante Lisa kemudian mengambil sebuah tabloid bisnis lalu membacanya.
"Aku tidak menculiknya. Lain kali pasti tante tahu" sambil beranjak berdiri meninggalkan tantenya menuju kamarnya duduk sendirian yang masih membaca tabloid.
Di dalam kamarnya Vrish.
Segera dia membersihkan diri. Keluar kamar mandi dengan memakai handuk sepinggangnya memperlihatkan tubuhnya yang gagah perutnya yang six pack dadanya yang bidang kulitnya yang bersih.
Siapapun kalau melihatnya pasti tergoda dan terpesona. Wajah tampannya yang terpahat bak patung lilin di museum Madame Tussauds (itu loh yang kayak di luar negeri itu gaess).
Aura yang mendominasi tapi sedikit lugu sih namun jangan salah kalau dia termasuk pria dingin. Gayanya yang seperti itu tetap memberikan kesan dan pesona tersendir bagi kaum hawa.
Setelah mengeringkan badannya dan kepalanya dengan hair dryer dia merobohkan tubuhnya di ranjang empuk dan lebar yang mampu memuat empat hingga lima orang itu. Jari tangan yang lentik itu memainkan ponselnya. Saat hendak ingin membuka email dari beberapa kliennya, dinotif terdapat berita terpopuler. Disitu tertera judul "Munculnya tunangan tuan muda Pramudya" menjadi trending topik.
"Segera lakukan atas berita trending itu sekarang!" perintah Vrish seketika menegakkan tubuhnya dengan smirk yang penuh arti pada bawahannya diseberang telepon sana.
~ Apa yang akan dilakukan Vrish ya? 🤔 ~
Mohon dukungannya ya man teman..like..komen..vote..dan jangan lupa subscribe😉
Yukk kak ikuti cerita selanjutnya...
__ADS_1
Sabar ya kak...
To be continue