
Hari berganti minggu minggu berganti bulan. Vio dan Rena sudah meninggalkan Pusat Kota dan kini kembali lagi ke Kota Besar. Kembali pada hidupnya masing-masing seperti sedia kala. Sejenak Vio menghela nafas lega sudah meninggalkan Pusat Kota meski banyak kenangan buruk. Terakhir di Pusat Kota Vio mendengar bahwa dirinya menjadi trending topik lagi. Waktu itu judulnya isu kehamilan tunangan tuan muda Pramudya. Namun, dalam sekejap mata berita itu musnah bak ditelan bumi. Entah siapa yang menghapus berita itu Vio merasa bersyukur dan berterimakasih. Padahal yang mengawasi aktivitas Vio adalah orang suruhan Vrish. Meskipun Vrish jauh di luar negeri tapi dia benar-benar memenuhi ucapannya kala di cafe itu. Bagaimanapun itu dia harus benar-benar bertanggung jawab atas perbuatannya. Tentu saja semua itu dilakukan tanpa diketahui Vio.
"Nona, ada tawaran kerjasama dari sebuah perusahaan yang bergerak dibidang pakaian. Mereka memiliki toko pakaian ternama di Pusat Kota" ucap sekretarisnya Vio, Ranti melalui telepon. Ya sekarang Vio sedang mengelola usaha terbesar papinya di Kota Besar. Selain mengelola perusahaan papinya, Vio juga menangani bisnisnya sendiri di dunia mode.
"Apa nama perusahaannya?" tanya Vio.
"AW Group" jawab Ranti.
"Kirim CVnya ke emailku hari ini" jawab Vio kemudian.
"Baik, nona" kemudian sambungan itu diakhiri.
Segera Vio mencari data mengenai perusahaan AW Group. Di sana Vio tidak menemukan kecurigaan apapun. Menurutnya perusahaan itu termasuk profesional di dunia bisnis. Apalagi perusahaan itu memiliki model yang profesional. Dan mereka sudah berani menghubunginya. Itu artinya mereka memiliki selera seni yang tinggi.
"Albert Wilson Group nama yang bagus" lirihnya.
"Baiklah. Sepertinya mereka bekerja dengan profesionalitas yang tinggi" lanjutnya pada dirinya sendiri.
Lalu segera menelpon Ranti. "Ranti, sekarang juga kamu hubungi AW Group. Kita adakan pertemuan dengan mereka".
"Baik" jawab suara Ranti dari seberang telepon.
Vio tidak tahu jika yang akan diajak adalah perusahaan di dunia modeling dimana yang akan dijadikan brand ambassador nantinya adalah Clara.
Jadwal sudah diatur. Tiga hari sudah berlalu semenjak menentukan hari bertemu dengan AW Group. Kini Vio bersama Ranti sedang menunggu kliennya. Dan setelah lima menit menunggu kliennya datang didampingi asistennya.
"Selamat datang, Tuan Albert Wilson dan Tuan Morgan!" sapa Vio dengan berdiri dan menangkupkan kedua tangannya di depan dadanya saat pemilik AW Group menyodorkan tangan kanannya untuk berjabatan tangan. Morgan adalah asisten Albert.
"Oh, maaf" balas segera Albert dengan menangkupkan kedua tangannya juga.
"Mari silahkan duduk Tuan Albert" ucap Vio mempersilahkan kliennya untuk duduk di depannya. Kemudian kliennya pun duduk memenuhi permintaannya.
__ADS_1
"Permisi" ucap pelayan salah satu restoran paling elit di Kota Besar itu menyajikan menu makanan yang paling enak dan sudah dipesan Vio dari kemarin tentu saja utusan Ranti.
"Ya, silahkan" jawab Vio pada pelayan itu sambil tersenyum.
"Selamat menikmati makan siangnya, nona-nona, tuan-tuan" ucap sang waiter/pelayan itu kemudian berlalu meninggalkan mereka berempat.
"Terimakasih, Tuan Albert atas kedatangannya yang sudah jauh-jauh hanya untuk bertemu dengan kami. Mohon maaf jika jamuannya kurang berkenan di hati Tuan Albert" ucap Vio dengan senyum manisnya yang mempesona Albert juga Morgan itu setelah makannya selesai.
"Sama-sama, Nona Violetta. Kami juga mengucapkan terimakasih atas jamuannya hari ini. Tentu saja kami akan merelakan waktu kami untuk mengajukan permohonan kerjasama dengan perusahaan brand anda ini. Kami berharap bisa mendapatkan kerjasama ini, Nona. Saya sudah mendengar bahkan melihat brand yang Nona Violetta design sendiri. Semua kualitas brand anda akan mendukung performa bagi perusahaan kecil kami, Nona Violetta. Saya jamin kita akan saling menguntungkan" jawab Albert dengan senyum ramahnya. Tampak laki-laki didepannya ini sangat mempesona. Wajahnya yang tampan khas seperti pemeran drakor dengan jari jemari yang lentik dan kulit yang sangat putih itu. Mungkin tingginya juga sekitar 182 cm.
"Kami sudah melihat CV perusahaan anda, Tuan Albert. Dan setelah saya mempelajarinya, dengan tingkat profesionalitas yang tinggi dan sangat meyakinkan bagi brand kami, baiklah kita akan melanjutkan pertemuan kita hari ini dengan penandatanganan kerjasama. Bagaimana, Tuan?" sahut Vio tak kalah tersenyum ramah. Dan senyuman itu membuat Albert tertarik.
Dengan senyum tipisnya Albert menatap bola mata Vio yang sangat menawan. "Wanita yang cerdas dan elegan. Di usianya yang masih sangat muda sudah memiliki brand pakaian ternama" batin Albert.
Pertemuan itu akhirnya kelar juga. Vio yang merasa lelah akhirnya pulang ke rumah mami papinya atau mansion orang tuanya. Sebenarnya Vio memiliki sebuah villa yang berada di dekat pantai. Villa yang sangat mewah dengan hasil design Vio sendiri. Ya Vio memang multitalent. Namun villa itu hanya dipergunakan ketika dia merasa penat dan butuh dunia menyendiri.
"Assalamu'alaikum, mami. Vio pulang!" teriaknya pada orang yang ada di rumah.
"Ya sudah, Bi. Terimakasih. Vio mau ke atas dulu aja ya. Badannya bau dan lengket. Mau mandi. Dada Bi Ani" melambaikan tangan Vio berjalan menaiki tangga menuju kamarnya di lantai dua.
Di tempat lain.
Kini Vrish sudah berada di bandara Pusat Kota. Dia telah kembali setelah berbulan-bulan meninggalkan Pusat Kota untuk menangani bisnis papanya yang terkena masalah.
"Selamat datang, tuan!" sapa Martin yang sedang menjemputnya di bandara.
"Hm" jawab Vrish. Kemudian mereka menuju mobil jemputannya. Kedatangan Vrish dikawal beberapa orang kepercayaan papanya. Papanya tidak mau Vrish terjadi apa-apa.
Mereka langsung menuju kantornya Vrish.
"Bagaimana kerjasama dengan perusahaan itu?" tanya Vrish pada Martin (perusahaan property tempat Vio bekerja dulu).
__ADS_1
"Baik tuan. Pengerjaannya 20% lagi" jawab Martin.
"Siapa yang bertanggung jawab atas proyek itu?" tanyanya lagi.
"Tuan Farel, Tuan" jawab Martin tanpa ekspresi di wajahnya.
"Besok antarkan aku meniliknya" sahut Vrish kemudian.
"Lalu bagaimana tunanganku?" tanyanya lanjut.
"Mohon maaf, tuan. Kami kehilangan jejak. Nona Vio sepertinya tahu, tuan jika ada yang mengawasinya. Sepertinya dia tidak suka diawasi" jelas Martin tampak gurat penyesalan.
Ditatapnya asistennya itu. Tampak kejujuran dan penyesalan yang mendalam seolah-olah sudah membuat kecewa tuannya.
"Baiklah. Tidak apa-apa. Yang penting dia baik-baik saja. Lain waktu kita pasti akan menemukannya" ucapnya dengan senyum seringai di salah satu sudut bibirnya.
Martinpun tampak menghembuskan nafas lega. Dilihatnya tuannya sedang tersenyum bahagia dan penuh makna. Baru kali ini dia melihat senyuman cerah di wajah bosnya itu.
Waktu berganti sore.
Hari ini jadwal Vio begitu padat sehingga dia melupakan temu janjinya terhadap Rena untuk menemaninya kontrol kandungannya.
Tok tok tok
"Masuk!" jawabnya dari dalam ruangannya.
"Ya ada apa Ranti?" tanyanya setelah melihat Ranti yang telah masuk ruangannya.
"Nona Vio, hanya sekedar mengingatkan saja bahwa sore ini Nona Vio dan Nona Rena ada janji dengan dokter kandungan. Baru saja dokter Ida menelepon mengingatkannya" lapor Ranti kepada Vio.
"Astaghfirullah! Kenapa aku sampai lupa. Baiklah Ranti tolong kamu rapikan berkas-berkas ini. Besok aku pelajari lagi. Dan kalau sudah selesai kamu juga harus pulang. Tidak ada lembur. Ingat jaga kesehatanmu juga. Terimakasih. Bye!" sambil memegang tangan Ranti Viopun buru-buru pergi meninggalkan Ranti sebelum mendengar jawaban Ranti.
__ADS_1
Ranti yang melihatnya tersenyum menggeleng-gelengkan kepalanya. Dia berpikir apakah dia sudah benar mengikuti bos yang gila kerja sampai sering melupakan sesuatu hal yang penting? Sehingga apakah akan membuatku tua di sini sebagai alarmnya? Huft. Si bos yang gila kerja tapi baik hati. Itu versinya juga versi bawahannya lainnya.