
“Bagaimana kondisinya?” tanya Vio pada Rena.
“Hiks hiks hiks..huuuu” tangis Rena.
Kini mereka ada di rumah sakit tempat Rio dirawat. Vrish menelepon Vio untuk membawa Rena ke rumah sakit. Awalnya Rena tidak mau karena hatinya masih sakit atas perbuatan Rio. Tapi jika bukan karena pertolongan Rio, mungkin nyawa anaknya tidak bisa selamat. Akhirnya dengan berat hati dia pun menuruti permintaan Vio. Dan setelah dia mendengar penjelasan Rio, Rena sedikit memaafkannya.
Saat Vrish menelepon Vio sebelumnya.
Drrrttt drrttt
Panggilan telepon itu langsung diangkat oleh Vio karena Vio memang kebetulan memegang ponselnya yang bermaksud ingin mengabari maminya.
“Assalamu’alaikum. Ya ada apa?” jawab panggilan telepon dari Vrish.
Vrish yang ragu-ragu malu menjawabnya karena dia memang jarang sekali mengucap salam bahkan menjawab salam pun hanya dalam hatinya.
“Wa’alaikumsalam” jawab Vrish terbata.
“Oya, tolong kamu ajak Rena ke sini. Kata dokter kondisinya kritis. Sekarang!” lanjut Vrish memerintah.
Belum dijawab oleh Vio sambungan telepon sudah terputus sepihak. Vio harus memberitahu Rena. Meskipun dia tidak yakin bahwa Rena akan setuju. Tapi bagaimanapun juga dokter yang memintanya. Vio pun melangkahkan kakinya menuju kamar Rena.
“Ren, Vrish baru saja meneleponku. Kondisi Rio kritis. Kata dokter dia membutuhkanmu. Aku akan mengantarmu ke sana” kata Vio hati-hati khawatir melukai hatinya Rena setelah dia memasuki kamar Rena dengan ijin Rena. Vio tahu Rena membutuhkan waktunya untuk sendiri. Tak lama maminya Vio pun datang ke apartemennya Vio setelah mendengar kabar dari Bi Ros saat menanyakan kabar baby Re.
“Assalamu’alaikum, Vi, Ren. Gimana kabarmu, Ren?” sapa mami tiba-tiba memasuki kamar yang sekarang sudah ditempati Rena dan bayinya. Seketika Rena menangis tersedu-sedu seakan mengadu pada ibunya. Mami memeluknya erat memberitahukan bahwa Rena tidak sendiri.
“Mami bagaimana bisa tahu? Baru saja Vio mau telepon mami tapi Vrish meneleponku meminta Rena untuk datang ke rumah sakit sekarang karena kondisi Rio sangat kritis” ucap Vio melirik Rena yang masih berada dalam pelukan mami.
Mamipun paham dengan lirikan Vio itu.
“Ren, pergilah dulu. Mungkin ada yang perlu disampaikan padamu. Pergilah, nak. Mami akan menjaga baby Re. pergilah dengan Vio. Bukankah dia berkorban untuk kalian?” bujuk mami melepas pelukannya.
Tatapan mata Rena mengarah pada mami mencari sebuah kebenaran dan kebijaksanaan yang terlihat di mata mami. Kemudian Rena mengangguk pelan.
“Kalau begitu ayo sekarang kita kesana. Keburu tidak bisa mendengar penjelasan darinya” bergegas Vio mengambil tas kecilnya dan handphonenya serta jaket. Tanpa berganti pakaian Vio segera meluncur ke rumah sakit bersama dengan Rena yang juga hanya mengenakan jaket.
“Tenanglah, Ren. Mungkin dia punya penjelasan yang akan disampaikan padamu. Mungkin itu sangat penting” ucap Vio mencoba menenangkan Rena yang sedari dari tampak gelisah.
“Entahlah, Vi. Aku merasa bersalah tapi hatiku juga merasa sakit. Dan itu entah kenapa hatiku merasa gelisah seperti ini” jawab Rena menggigit jarinya.
__ADS_1
“Kita doakan dia akan selamat” kata Vio.
“Aamiin” jawab Rena kembali.
Sesampainya di rumah sakit, setelah perjalanan tidak sampai 10 menit dengan kecepatan penuh, mereka bergegas berlari sepanjang koridor rumah sakit mencari ruangan yang diberikan oleh Vrish.
“Kalian sudah datang” seru Vrish membuat Vio dan Rena menoleh setelah mereka berdua menoleh ke kanan dan ke kiri mencari ruangan operasi.
“Mmm bagaimana kondisinya?” tanya Vio setelah menelan ludahnya karena lelah berlari kesana kemari. Tampaklah keringat sebesar butiran jagung memberitahukan pada Vrish bahwa gadis di depannya ini tampak kelelahan.
“Masuklah” titahnya pada Rena dengan memberi isyarat menolehkan kepalanya pada ruang operasi di depannya setelah sang dokter tadi keluar bermaksud untuk menanyakan pada Vrish apakah sudah disampaikan permintaannya.
“Kamu tunggu di sini” tarik Vrish ketika Vio akan mengikuti Rena ke dalam karena tangannya di Tarik oleh Rena.
“Ishhhh. Ngapain sih di tarik segala kayak begitu?” sungut Vio marah.
“Ssshhh! Maaf disini rumah sakit ruang operasi harap pelankan suara kalian dan jangan bertengkar di sini!” tegur sang dokter tanpa sungkan pada Vrish lagi karena sudah membuat kebisingan di ruangan tersebut. Seketika mereka berdua terdiam dan saling menatap.
“Awas kau!” kata-kata Vio itu masih terdengar oleh dokter yang mau masuk k eruang operasi.
“Jangan ribut!” kata dokter itu sambil mengisyaratkan telunjuk tangannya ke depan mulutnya.
Di dalam ruang operasi.
Rena yang sudah memasuki ruang operasi itu, merasakan dinginnya ruangan itu membuat tubuhnya membeku.
“Kemarilah” titah sang dokter. Membuat Rena bingung dan tidak tahu harus melakukan apa. Karena berpikir apa yang harus dia lakukan Rena masih terdiam berdiri di belakang pintu. Hingga membuat dokter itu menghela nafas dan membuangnya kasar.
“Mendekatlah” lanjutnya. Kemudian Rena mendekat.
“Anakkuuu..” gumam Rio lirih yang nyaris tak terdengar. Hal ini membuat Rena ingin membenci laki-laki yang sudah tak berdaya di depannya ini.
Pandangan mata Rena tertuju pada seluruh tubuh Rio yang usai dioperasi memindai lukanya yang tertusuk pisau.
“Senjata itu merusak ginjalnya” ucap lirih sang dokter itu. kemudian dokter itu meninggalkan Rena berdua dengan Rio masih di ruangan operasi.
Tiba-tiba Rio membuka matanya perlahan hingga menemukan sosok yang pernah ia sakiti.
“Re..Ren..” ucapnya lirih membuat Rena tersentak kaget. Rena masih menatapnya intens menunggu apa yang akan dikatakan padanya.
__ADS_1
“Ren. A..aku mi..minta ma..maaf. Ijinkan aku untuk menjelaskan semuanya padamu” ucap Rio terbata-bata karena lukanya sangat sakit. Rena hanya sanggup menganggukkan kepalanya.
“Waktu itu, sebenarnya aku lakukan dibawah kesadaranku. Aku tidak tahu apa yang aku lakukan. Setelah terbangun ku ingat kembali apa yang sudah aku lakukan. Aku piker waktu itu aku hanya bermimpi” kata-kata Rio terjeda mencoba mengambil udara sebanyak-banyaknya karena dadanya mulai merasa sesak.
“Ren, Fifi sudah menuangkan obat ke dalam minumanku. Sebelumnya dia sudah menawariku, hanya saja aku tidak mau berurusan dengannya. Tak kusangka sepupuku sendiri sudah menjebakku. Ku mohon maafkan aku, Ren” Rio menatap dalam bola mata Rena yang sudah menangis tanpa suara itu. melihat bagaimana reaksi wanita yang dulu sangat dia cintai hingga saat ini. Rena hanya terdiam mendengarkan dengan seksama penuturan Rio. “Akankah orang yang sedang dalam bahaya antar hidup dan matinya berbohong?!” itulah yang ada di dalam pikiran Rena saat ini.
“Aku tahu kamu berpikir bahwa aku berbohong bukan?!” senyuman tulus dari seorang Rio itu menunjukkan tidak adanya kebohongan.
“Jika kamu tidak berbohong lalu kenapa kamu mengakuinya di penjara?” tanya Rena hendak marah namun tercekat karena masih ingat di rumah sakit.
"Saat itu aku sudah membenci diriku sendiri. Karena sudah menodaimu tanpa bisa melawan keinginanku saat itu. Diriku yang sudah diliputi keinginan yang memuncak. Entah apa yang kurasakan waktu itu yang ada didalam pikiranku hanyalah kamu. Aku berpikir itu hanyalah mimpi. Namun setelah aku terbangun aku menemukan noda darah disampingku dan merasakan kepalaku yang sangat sakit. Waktu itu masih antara sadar dan tidak Fifi menarikku untuk meninggalkanmu sendirian di kamar di sebuah gudang itu. Bodohnya aku, aku meninggalkanmu sendirian disana" kata-katanya terjeda lalu menoleh pada Rena.
"Jika kamu ti..dak ma..u me..maafkan aku. Tidak apa-apa, Ren. Aku tahu kamu membenciku. Maka aku ingin menebusnya dengan mengakui tuduhan itu. Aku menyesali perbuatanku itu. Dan saat aku terbebas tanpa syarat, aku pergi mencarimu untuk mengucapkan kata maaf padamu. Lalu kutemukan Fifi di jalan seperti sedang mencari sesuatu. Dan aku pun mengikutinya. Aku tidak ingin terjadi sesuatu pada anakku dan kamu wanita yang masih setia menghuni hatiku sekaligus....ibu dari anakku" ucapnya terjeda kembali dengan menampilkan senyum tulus yang dipaksakan.
"Aa..aku bahagia, Ren bisa memiliki anak bersamamu. Meskipun dengan cara yang salah yang tidak kita inginkan. Tapi tolong jagalah anak kita dengan baik. Aku titip anak kita padamu, Ren" ucapnya lagi dengan senyum kesakitan.
"Tapi darimana kamu tahu kamu punya anak denganku?" tanya Rena yang sudah dari tadi inhin dia tanyakan.
"Waktu itu, temanmu menemuiku dipenjara. Dan mengatakan jika kamu hamil. Saat itulah kebahagiaanku itu muncul dan aku berjanji dalam hatiku, aku akan menjaganya sekuat yang aku bisa. Meskipun itu da...ri jaaaa..uh" dengan nada bicara yang sudah ngos-ngosan itu terlihat sesak membuat Rena semakin takut dan panik. Saat hendak keluar, Rio meraih tangannya Rena.
"Ren, tolong. Maafin aku, Ren. Aku sangat men...cin...ta..i..mu" ucap lirih Rio lalu menghembuskan nafas terakhirnya dan melepaskan genggaman tangan Rena. Rio meninggal dunia karena luka yang mengoyak organ dalamnya.
Hal itu membuat Rena panik dan teriak histeris.
"Tidakkkk!!!!!"
"Tolong dengerin aku, yo. Jangan tinggalin aku, yo!" teriak Rena dari dalam ruang operasi.
"Kamu dari tadi berbicara terus tanpa memberiku kesempatan untuk mengatakan yang sesungguhnya padamu. Huuu huhu" isak Rena bersimpuh dibawah ranjang Rio tertidur.
"Aku sebenarnya juga mencintaimu. Tapi karena ibumu waktu itu mengancamku untuk menyakiti ibuku, maka aku harus menolakmu berulang kali. Hingga waktu itu tiba, saat terakhir kamu ingin melamarkupun aku menolakmu mentah-mentah dan aku mengatakan aku tidak mencintaimu namun yang sesungguhnya aku sangat mencintaimu. Tapi karena ibumu menunjukkan foto antara dirimu dan wanita lain, aku menjadi sangat membencimu dan berusaha melupakan semuanya hingga setiap bertemu denganmupun aku harus bisa mengontrol emosiku. Hingga Harispun menghiburku dan menerimaku apa adanya membuatku luluh untuk mencintainya. Dan saat hatiku sudah mulai menerimanya, dia justru meminggalkanku. Dan sekarang...kamu. Huhuuu" isaknya tergugu.
Setelah beberapa detik menenangkan dirinya dia menuju pintu keluar dan memanggil dokter.
"Bagaimana kondisinya?" Vio yang bertanya pada Rena.
"Hiks hikss huuu huu..." hanya itu yang bisa membuat Rena lega.
Kemudian sang dokterpun memasuki ruang operasi. Tak lama kemudian, Rio dinyatakan meninggal dan Vrish mulai mengurus jenazahnya. Atas permintaan Rena, Rio dimakamkan di tempat yang tidak jauh dari jarak rumah barunya. Setelah kepengurusan kematian Rio, semua meminggalakn rumah sakit dan segera memakamkan Rio di tempat pemakaman umum di dekat rumah Rena.
__ADS_1