
Setelah pergi memeriksakan kandungan Rena, Vio menginap di rumah Rena. Melihat Rena kesusahan dengan kehamilannya yang sudah membesar itu, Vio merasa kasihan. Usia kehamilan yang sangat rawan bagi ibu hamil yang hidup sendirian. Hidup sebatangkara. Sebenarnya Rena memiliki ayah yang cukup kaya. Namun karena temperamen ayahnya sangat buruk, yang mengkhianati ibunya Rena dengan menikah lagi diam-diam membuat Rena membenci ayahnya dan tidak mau mengenal ayahnya lagi. Apalagi kedatangan Rena waktu pergi ke rumah ayahnya dan istri mudanya itu diusir ayahnya karena dianggap meminta-minta untuk biaya pengobatan ibunya. Meski saat diusir, ibu tirinya itu bersikap lembut. Ya istri muda ayahnya itu wanita yang lembut. Awalnya istri mudanya itu tidak tahu apabila suaminya itu sudah menikah. Mereka jatuh cinta begitu saja tanpa mempertanyakan asal usul yang sebenarnya. Saat istri mudanya tahu ketika Rena menemukan keberadaan ayahnya, dia juga syok merasa dibohongi. Namun karena dia sangat mencintai suaminya yang tak lain ayah Rena itu juga.
"Kenapa menatapku seperti itu, hm?" tanya Rena disertai anggukan kepala.
"Tidak. Aku hanya berpikir bahwa kamu itu wanita yang sangat kuat. Semoga kelak anak ini tumbuh seperti ibunya. Jadi anak yang kuat" kata Vio sambil mengelus perut Rena. Kata-kata Vio itu ditanggapi Rena dengan senyuman hangat.
Keesokan harinya jadwal Vio sangat padat lagi. Beruntung ada Ranti sekretaris yang bisa diandalkan juga ada Jimy yang siap membantu kapanpun.
"Atur jadwal untuk mengunjungi AW Group. Kalau bisa besok pagi" ucap Vio pada Ranti saat di ruang kerjanya.
"Baik, nona" lalu Ranti berbalik menuju ruangannya untuk menghubungi asisten AW Group.
Setelah mengatur jadwal dan disetujui, Vio mengadakan meeting yang akan membahas kerjasama brandnya itu. Meeting yang hanya dihadiri para pejabat penting seperti CFO (Chief Financial Officer), CIO (Chief Information Officer), CMO (Chief Marketing Officer) serta COO (Chief Operations Officer). Mereka semua pejabat tinggi yang akan mengurusi kerjasama brandnya. Dikarenakan kualitas yang sudah mendunia, maka Vio tidak akan menganggap remeh kerjasama itu. Ia ingin menampilkan yang terbaik dari brandnya.
Setelah meeting selesai, Vio berjalan pulang menuju rumah. Vio sudah menyuruh asisten rumah tangga untuk menemani Rena selama dia tidak disisinya.
Sebelum sampai rumah, Vio mengarahkan kemudinya menuju penjara dimana tempat pria bejat yang sudah menodai Rena.
Sampai di penjara pria bejat yang ditemuinya hari ini tampak lusuh dan menyedihkan. Padahal waktu itu dia tampak dengan sombongnya jika dia sudah puas membalas perbuatan Rena. Namun saat ini tampak jauh berbeda. Wajahnya yang dulu gagah kini tampak kurus tak terawat.
"Ada apa kau menemuiku?" katanya lirih dengan wajah kuyu memprihatinkan.
__ADS_1
"Tampaknya hidup di sini sangat menyiksamu. Baiklah tanpa basa basi aku akan memberitahukan padamu" ucap Vio dingin.
"Katakanlah" jawab pria itu.
"Sebentar lagi Rena akan melahirkan. Namun kini hidupnya tampak lebih bahagia. Tapi jika semua ini bukan karena ulahmu Rena akan jauh lebih bahagia sekarang. Tapi karena kau. Hidup Rena hancur! Aku tidak akan melepaskanmu!" kata-kata Vio itu mengeluarkan aura membunuhnya terdengar sangat menakutkan tapi juga membahagiakan bagi pria yang sudah dicengkeram kerahnya oleh Vio.
"Be..benarkah dia hamil? Apakah itu a..anakku?" tanyanya tidak percaya dan tersenyum bahagia. Meski takut pada Vio, tapi dia harus tetap mempertanyakannya.
Vio tidak mau menggubrisnya. Dia hanya melirik pria itu. Dilihatnya sekilas senyuman tulus diwajah pria itu. Namun Vio tidak mau transaksi dengannya. Biarkan hukumannya berjalan sesuai dengan hukum yang berlaku.
"Bi..bisakah ka..kamu sampaikan padanya? Tolong ma..maafkan aku. Aa..aaku laki-laki bejat yang tak pantas menjadi ayah dari anak itu. Maafkan aku" ucapnya menunduk meneteskan air mata.
"Tentu saja kamu tidak pantas menjadi ayahnya. Karena anak itu akan tumbuh dengan baik meski tanpa ayahnya" ucap Vio lalu meninggalkan pria itu yang masih menangis menyesali perbuatannya. Entah kenapa laki-laki itu selama dalam penjara dihinggapi rasa penyesalan yang amat dalam. Meski Fifi berulangkali membujuknya agar tidak menjadi pria lemah dan tidak menyesali perbuatannya. Tapi sepupunya itu benar-benar sangat menyesali perbuatannya hasil dari hasutan Fifi itu.
Sepulang dari penjara ditengah jalan antara iya dan tidak Vio seolah melihat sosok yang pernah dia lihat. Prayoga. Setelah Vio menepikan mobilnya lalu Vio menyusuri arah pandangannya sepanjang jalan namun tidak menemukan sosok yang dia maksud itu.
"Ah pasti salah lihat" ucapnya lalu meninggalkan lokasinya itu.
Sampai di rumah Vio merebahkan tubuhnya kekasurnya. Setelah dirasa lebih relaks dia bangkit berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Saat ini rumah tampak sepi karena papi sedang menangani bisnis di luar negeri. Sedangkan mami mengikuti papi. Papi kalau tanpa didampingi mami tidak akan pernah bisa.
Setelah membersihkan dirinya Vio berjalan turun menuju ke ruang tengah untuk menonton acara televisi.
__ADS_1
"Pemirsa mari kita sambut tuan Prayoga yang saat ini menjadi inspirasi bagi pengusaha mikro ya. Dimana beliau memiliki proses karier yang sangat bagus...." kata MC di salah satu statiun televisi itu.
Disaat bersamaan Vio membelalakkan matanya dan menajamkan pendengarannya.
"Benarkah?..." ucapnya lirih.
Setelah itu di mencari datanya. Karena intensitas kesibukannya membuatnya lupa untuk berhubungan dengan penyelidikan pencarian data. Bahkan dunia bawahnya dia serahkan pada Jimy.
Dengan jari lentiknya yang menekan-nekan keyboard itu tampaklah sesuatu yang memunculkan semua data Prayoga. Kemudian dia prin dan baca hasilnya dengan seksama.
Matanya membulat sempurna saat mengetahui bahwa dia sudah memiliki tunangan bernama Prisa. Yang tak lain adalah mantan pacar online Vrish. Ya entah kenapa Prayoga memutuskan bertunangan dengan Prisa. Tentu saja hal itu masih membuat Vio merasa kecewa. Orang yang diharapkannya kembali lagi ternyata sudah benar-benar membuatnya sakit hati. Ternyata meskipun online sakitnya masih terasa sama.
"Hahhh. Kenapa aku jadi begini lagi?" ucapnya pada dirinya sendiri.
"Aku tidak boleh menangisinya lagi. Hufftt. Terimakasih" entah kepada siapa dia ucapkan yang jelas dia merasa lega. Entah kenapa dia merasa ikut bahagia melihat statusnya Prayoga sekarang.
Tiba-tiba dia tidak sengaja melirik sebuah cincin tunangannya yang masih tersemat di jari manisnya. Lalu dia tersenyum tanpa sadar.
"Bagaimana kabar pria aneh itu ya? Mengapa aku bisa melupakannya?" ucapnya lalu tertawa sendiri.
Setelah itu Vio menutup leptopnya dan beranjak menuju kamarnya.
__ADS_1
"Lebih baik aku tidur saja. Duuuhhh betapa lelahnya hari ini. Maka nikmat Tuhan mana yang kau dustakan. Ya Robb.." katanya lalu membuka pintu kamatnya.