Pacar Online Yang Tertukar

Pacar Online Yang Tertukar
Bab 57 Menangis lagi


__ADS_3

Setelah pergumulan panas itu, malam pertama melakukan hubungan intim bagi Prayoga dan juga Prisa, Prisa nampak kelelahan. Dia tertidur pulas dengan memeluk tubuh kekar Prayoga yang juga masih tertidur pulas setelah pertarungan hebat semalam. Pertarungan yang sangat panas dilakukan oleh keduanya hingga subuh tadi.


Karena merasa dia memegang sesuatu yang kenyal dan kekar, Prisa terbangun dengan kepala yang sangat sakit.


“Arrghhh. Kenapa kepalaku terasa sakit sekali?” ucapnya memegangi kepalanya. Tanpa sadar ucapannya itu membangunkan Prayoga yang berada di sampingnya.


“Ada apa?” tanya Prayoga bangun dengan mengucek matanya.


Tiba-tiba Prisa berteriak.


“AAAAAAA! A..Apa yang kau lakukan di sini?” Prisa tidak pernah jika hal ini akan terjadi. Meskipun dia pernah menggoda Prayoga tapi tidak pernah terbesit Prayoga akhirnya mau melakukan dengannya sebelum ada ikatan pernikahan seperti yang pernah di ucapkan Prayoga padanya.


“Ke..kenapa..” lanjutnya menatap dirinya yang polos lalu berganti menatap Prayoga dengan badan yang juga setengah polos karena bagian bawahnya masih tertutup selimut berwarna silver itu.


“Bukankah semalam kamu sudah mendorongku untuk melakukannya? Aku sudah mencoba mempertahankan keperjakaanku tapi kamu memaksaku untuk melakukannya” ucap Prayoga lalu mengambil posisi tidurnya kembali membelakanginya.


“A..apa? Aku memaksamu? Tapi aku tidak mengingatnya sama sekali. Aarghh..sakit” ucap Prisa mencoba mengingatnya kembali. Terdapat kilatan-kilatan memori saat dia menarik Prayoga kemudian ingatan saat mereka men****h berdua yang hanyut dalam kenikmatan sesaat. Hal itupun membuatnya kemudian tersenyum bahagia. Meskipun dia kini tersadar bahwa di bawah sana terasa sakit saat dia hendak berjalan menuju kamar mandi.


“Sshh. Ternyata sakit sekali” gumamnya ketika beringsut dari ranjangnya mengaduh. Hal ini terdengar oleh Prayoga dan membuatnya bangkit dari tidurnya bermaksud membantu Prisa berjalan. Dia tahu kalau Prisa merasa kesakitan karena bagaimanapun karakter Prisa, dia selalu menjaga kehormatannya demi hal yang percuma. Hal ini kali pertama bagi Prisa dan dirinya karena dengan penglihatannya yang menuju sprei terdapat noda merah. Namun, Prisa menggelengkan kepalanya.


“Kenapa aku bisa gila seperti itu? Tapi aku senang akhirnya Prayoga menyentuhku” batinnya dengan menatap Prayoga lalu berjalan terseok-seok ke kamar mandi.


Prayoga yang melihat itupun merasa kasihan. Tapi bagaimana lagi, hasratnya semalam tidak terbendung lagi melihat tawaran dari Prisa dan melihat kemolekan tubuhnya yang selama ini hanya dibalut dengan pakaian yang serba kekurangan itu.


Saat kejadian di café waktu itu, yang dialami Vio.


Setelah menangkis tangan dari Prisa, Vio meninggalkan café tersebut dengan marah.

__ADS_1


“Astaghfirullahal ‘adziim. Ada ya orang seperti itu” batinnya memegang dadanya. Dia berusaha meredam amarahnya. Jika tidak, jangan tanyakan apa yang akan dia lakukan.


“Monti, antarkan aku pulang ke mansion” perintahnya lalu menyandarkan posisi tubuhnya pada sandaran kursi penumpang.


“Baik, Nona” jawab Monti patuh.


Setelah sampai di mansionnya


Lampu yang gelap tiba-tiba terang. Vio yang berjalan lesu menyusuri anak tangga pun menghentikan langkahnya. Terdengar langkah mendekatinya lalu menepuk pundaknya. Viopun membalikkan tubuhnya didapatinya mami yang sedang menatapnya sendu. Sebenarnya mami merasa kecewa dengan putri semata wayangnya, namun setelah melihat sorot mata putrinya yang terlihat sedih itu, dia menjadi tidak tega untuk mengungkitnya. Kejadian di café tadi secara kebetulan mami melihatnya. Saat dia akan maju membantu putrinya, Rena memegang tangan mami untuk tidak mencampuri urusan Vio. Karena Rena tahu, sahabatnya itu bisa menyelesaikannya sendiri. Selama yang dia tahu, Vio adalah wanita hebat dan kuat dibalik kelembutannya. Sehingga mereka berdua hanya melihat adegan itu dari parkiran saja. Saat itu, Rena ingin mengambil pesanannya di toko perlengkapan baby yang letaknya bersebelahan dengan café itu, namun karena mami tidak membiarkannya untuk pergi sendiri maka mami memutuskan untuk menemaninya.


Karena Vio ditatap maminya yang seolah tahu perasaannya saat ini, Viopun tak tahan untuk segera memeluk maminya. Kemudian disandaran maminya itu, dia menumpahkan segala rasa yang dia pendam hanya bersama Rena sahabatnya juga Farel. Dia tidak ingin mami dan papinya tahu tentang kisah percintaannya yang gagal lagi.


“Hiks hiks..huuuu” pecah tangisannya terlihat pilu.


“Menangislah. Tapi berjanjilah pada mami, setelah ini jadilah Vio mami yang tangguh” ucap mami mengelus rambut putrinya yang sesenggukan.


Setelah puas menangis, kemudian Vio melepaskan pelukannya.


“Maafin anak mami ya, mi. Sudah membuat mami kecewa” Vio tahu pasti mami sudah mengetahuinya. Karena dia lebih tahu sifat maminya.


“Gak apa-apa. Hal ini menjadikanmu bertambah dewasa bukan?” ucapan mami tersenyum mengelus kepala Vio.


“Tidurlah. Sudah larut malam” lanjut mami.


Lalu Vio melangkah menaiki tangga. Sampai di depan kamarnya, Rena menunggunya di kamar seberang kamar yang ditempati Rena saat ini.


“Kamu belum tidur?” Vio menghampiri Rena.

__ADS_1


“Kamu masih berhubungan dengannya?” pertanyaan Rena yang tajam dan penuh amarah itu mengundang Vio menatap menyelidik sorot mata Rena tajam.


“Apakah mami tahu dari ceritamu?” tanya Vio.


“Kami melihatmu di café” lalu Rena melangkahkan kakinya ke sofa yang berada di dekat kamar mereka disusul oleh Vio.


“Mami hampir marah melihat putri semata wayangnya disakiti oleh orang lain. Jika aku tidak mencegahnya, mungkin mami akan sangat marah pada kalian. Bagaimana pandangan orang-orang tentang nama baik keluarga” ucap Rena.


“Vi. Bukankah kamu sudah bilang bahwa kamu sudah melupakannya? Bahkan kamu sudah berjanji tidak akan menangisinya. Lalu kenapa kamu dibawah barusan menangis? Hm? Cengeng!” lanjut Rena mengejeknya lalu tersenyum menggelengkan kepalanya.


“Ya. Ternyata masih sakit. Disini” sambil menunjuk ke dadanya.


“Aku sudah menyelesaikan semua pekerjaan di sini. Tinggal peragaan busana dari A&W Group lusa dan setelah dari sana ada acara di pembukaan retail baru milik keluarga Bastian. Untuk toko rotimu,


Alhamdulillah semua terhandle dengan baik oleh Lili. Besok Lili akan kemari menemuimu. Memberikan laporannya padamu. Kamu bisa bekerja dari rumah” lanjut Vio dengan senyum tulus pada Rena.


“Istirahatlah. Berjanjilah bahwa setelah kita ke luar negeri, kita akan menjadi orang baru dengan hati yang baru” kata Rena memberikan pelukan sebelum dia beranjak ke kamarnya.


“Iya” jawab Vio mengiyakan. Kemudian mereka berdua pergi ke kamar masing-masing.


Karena hari ini sungguh melelahkan dan menguras tenaganya membuat Vio ingin berendam air hangat seperti kebiasaannya jika dia merasa capek.


Kemudian dia ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


Drrttt drrtttt. Ponselnya bergetar pesan dari Ranti. Vio membukanya usai dari kamar mandi setelah lima belas menit berlalu berendam di kamar mandi.


“Nona, peragaan busana itu diajukan besok pagi karena tuan Albert ingin mempercepat acaranya. Beliau harus mengikuti meeting di luar negeri lusa”

__ADS_1


“Baiklah. Rubah jadwal untuk besok pagi dipindahkan ke lusa hari” balas Vio. Lalu karena kelelahan Viopun tertidur.


__ADS_2