
“Kali ini ada tamu special pebisnis wanita sukses dari keluarga ternama di seantero negeri ini, penasaran kan kalian?” seru MC di acara Tuan Bastian.
“Mari kita panggil untuk ke depan ya. Dari keluarga Atmadja. Dan sekarang hasil karyanya sangat digandrungi para anak muda baik dari luar negeri maupun dalam negeri sendiri. Hasil karyanya juga tersebar untuk berbagai kalangan. Beliau juga masih sangat muda. Yuk kita sambut Nona Muda Atmadja, Violetta Anjani Atmadja” teriak MC membuat mata semua orang tertuju pada sosok anggun dan elegan yang sedang berjalan maju ke depan.
Sepasang mata membelalak seakan tak percaya. Mereka adalah Prayoga dan Clara.
“Ti..tidak mungkin. Pasti papa salah mengundang orang” batin Clara.
“Papa, apa papa tidak salah mengundang tamu?” bisik Clara pada papanya.
“Enggak. Memang benar dia yang papa undang. Kau tahu dia adalah seorang pebisnis yang paling berpengaruh selama ini. Maksud papa, papa ingin mengajaknya bekerjasama” jawab papanya lalu tersenyum pada Vio dan berjalan ke arah Vio.
“Selamat datang, Nona Atmadja. Terimakasih sudah berkenan hadir pada acara pembukaan retail baru kami. Oya, kenalkan beliau anak muda yang masih membutuhkan arahan dari Nona Atmadja tentunya dalam berbisnis. Tuan Prayoga. Pemilik retail ini, Nona sedangkan yang membantu proses pembangunan adalah perusahaan kami” ucapan Tuan Bastian itu membuat kaget Prayoga.
“Hmm. Licik kau tuan Bastian” batin Vio dengan tetap memasang senyum palsu.
“Terimakasih juga atas undangannya, Tuan Bastian” ucap Vio dengan menganggukkan kepala pada Prayoga. Prisa yang dari tadi di sampingnya, memegang lengannya erat mengisyaratkan bahwa Prayoga tidak boleh berhadapan dengan cinta onlinenya. Prayoga hanya bisa tersenyum pada Vio.
“Senang berkenalan dengan anda, No..na Atmadja” sapa Prayoga gugup.
Tangan Prisa mencubit lengannya. Prisa merasa tidak senang. Vio yang melihat itupun menyeringai puas. Lalu mengangguk. Prayoga hana tersentak kaget karena dicubit. Ranti yang berada di belakang Vio itupun terus menatap ke arah Prayoga. Apalagi saat pandangan matanya bertemu dengan wanita yang ada di sampingnya Prayoga. Ranti semakin tidak menyukainya. Dia selalu bersikap waspada dengan orang-orang disekelilingnya. Prayoga yang sadar dengan tatapan seseorang yang berada di belakang Vio itu pun melirik sekilas. Dia berpikir bahwa kemanapun kekasih onlinenya itu pergi pasti ditemani oleh sang bodyguard perempuan itu. Dia juga merasa bahwa pasti akan sangat sulit untuk bertemu dengan Vio lagi. Apalagi setelah masalahnya di café waktu itu.
“Sepertinya Tuan Prayoga sudah pandai dalam berbisnis. Buktinya mampu menggaet anda, Tuan Bastian. Bukankah sangat sulit untuk mendapatkan bantuan dari Bastian Group?!” sesungguhnya kata-kata Vio itu mengejek Tuan Bastian. Namun, bukannya tersindir, justru Tuan Bastian merasa bangga mendapatkan pujian dari keluarga Atmadja.
“Hahaha..Nona Atmadja bisa juga memuji” ucap Tuan Bastian.
“Oh iya, apakah anda istrinya Tuan Prayoga? Sepertinya anda khawatir dengannya jika terlepas dari genggaman anda, Nona” Vio yang tersenyum ramah itu bertanya pada Prisa.
“Bukan”
__ADS_1
“Iya” jawaban Prayoga dan Prisa berbarengan. Mereka berdua saling menoleh dan menatap.
“Mm maksud kami, kami akan segera menjadi suami istri. Begitu, Nona Atmadja” jawab Prisa.
“Oh syukurlah kalau begitu. Semoga lancer perjalanan kalian” jawab Vio yang sudah tak merasakan apa-apa lagi setelah semalam dia menuntaskan kesedihannya yang telah berlarut itu. Ranti yang merasa khawatir dengan nonanya itu, semakin merapatkan berdirinya di belakang nonanya. Monti yang sejak tadi hanya bisa memperhatikan dari tempat duduk Vio di kursi VVIP itu ingin menggelengkan kepalanya. Dia tahu jika Ranti merasa khawatir terhadap nona mudanya itu.
“Oiya, Nona, kenalkan ini putri kami, Clara Bastian. Dia bekerja seorang supermodel di A&W Group. Jika nanti brand anda mengadakan acara, maka hubungilah dia, nona” ucap Tuan Bastian yang tidak tahu malu itu pada Vio.
Vio yang mendengar itupun rasanya ingin muntah, namun dia hanya menjawab sekedarnya saja.
“Oh sungguh?! Baiklah”
“Te..terimakasih, nona” jawab Clara dengan senyum terpaksa. Kali ini dia merasa kalah. Namun bagi Clara tidak untuk esok ataupun lusa. Hati harus tetap dia menangkan. Dia sudah mengincar Tuan Muda Pramudya. Baginya sudah di ijinkan masuk ke mansion utama milik keluarga Pramudya itu saja sudah membuatnya sangat beruntung.
Clara yang tidak percaya itu sekarang percaya setelah perkataan papanya. Namun, dia masih kukuh dengan kesombongannya, untuk mempertahankan dan merebut Tuan Muda Pramudya. Kemudian dia berjalan maju melangkah mendekati Vio.
“Jangan karena kamu adalah nona muda, aku akan diam. Aku akan tetap mempertahankan perjodohan itu. Clara tidak akan pernah kalah” ucapnya optimis.
“Oh, ya. Silahkan saja kalau begitu. Kita bersaing secara sehat. Siapa yang kalah harus mengakui bahwa dia kalah” entah kenapa Vio merasa tertarik untuk menantang Clara si sombong itu.
“Sepakat” jawab Clara lalu melangkah mundur. Vio sudah merasa gerah dan bosan dengan acara itu. Sedangkan saat ia hendak melangkah menuju kursinya, MCnya mengatakan dengan teriak.
“Waow lihatlah siapa yang datang juga malam ini?” kata-kata itu mengundang para tamu untuk menoleh ke pintu masuk.
Setelah Vio tahu bahwa tamu yang dimaksud itu hendak memasuki pintu masuk adalah Vrish, Vio langsung berjalan maju menuju kursinya. Tapi sebelum itu dia berpamitan pada Prayoga. Karena Tuan Bastian dan Clara sudah berjalan menyambut Tuan Muda Pramudya.
“Maaf, Tuan Prayoga, kami permisi dulu” ucap Vio menganggukkan kepala. Prayoga yang dipamiti itu terbengong rasa tidak ikhlas Vio meninggalkan tempat itu diam membeku. Prisa yang menjawab perkataan Vio.
“Ya, Nona Muda Atmadja. Terimakasih atas kehadirannya” Prisa merasa lega setelah melihat kepergian Vio.
__ADS_1
“Kita pulang dari pintu belakang saja” ucapnya pada Ranti dan Monti lalu keduanya mengikutinya dari belakang Vio. Mereka pun keluar dari acara pembukaan supermarket Prayoga tanpa bersitatap dengan Vrish.
Setelah Vio berjalan menuju pintu keluar melalui pintu belakang, Vrish melihat sekelebat bayangan sosok yang dia kenal.
“Dia juga ada di sini” entah kenapa hatinya sangat senang. Tiba-tiba wajah dinginnya yang disegani banyak orang itu membuat orang-orang di sekitarnya itu terpaku melihat tuan muda Pramudya menampilkan senyuman terbaiknya. Baru kali ini mereka melihat dengan mata kepala mereka sendiri tersenyum tampak dari raut wajahnya memiliki mood yang cerah padahal tadi saat datang wajahnya tampak dingin dan tidak baik.
Saat dipersilahkan duduk oleh Tuan Bastian dan menunjukkan kursinya, justru Vrish lebih memilih tempat duduk yang tadi diduduki oleh Vio tanpa dia sadari. Saat hendak mengatakan pada tuan muda Pramudya, langkah tuan Bastian berhenti setelah Prayoga menyampaikan pesan Vio jika dia pamit terlebih dulu. Sehingga tuan Bastian mengurungkan niatnya itu.
Prayoga yang merasa mengenal Vrish pun maju dan menyapanya.
“Selamat datang, Tuan Muda Pramudya. Maaf kami tidak melakukan penyambutan yang meriah” kata-kata Prayoga itu membuat Vrish menoleh. Karena sudah menyelidiki siapa Prayoga, Vrish pun hanya berdehem. Clara yang sangat antusias itu slalu mencoba mendekati Vrish, tapi usahanya selalu gagal karena selalu dihadang oleh Martin. Kini Vrish datang ditemani asistennya, Martin. Martin yang sedari awal mengetahui Clara pun tidak suka. Prisa yang belum menyadari bahwa Vrish itu adalah pacar onlinenya selama ini, ikut menyambut Vrish dengan senyum merekah. Tangannya spontan melepaskan genggaman dari lengan Prayoga.
“Wah tampan sekali. Orang terkenal juga. Wah seandainya aku bisa mengenalnya” batin Prisa menatap Vrish.
Vrish yang sadar ada yang menatapnya dia bersikap biasa saja. Kemudian mereka mengikuti acara kembali dengan meriah. Vrish sebenarnya merasa bosan. Sebenarnya dia hadir dikarenakan atas perintah papanya untuk menggantikan dirinya. Dia meminta ijin untuk ke belakang. Martin yang ingin mengikutinya, dilarang oleh Vrish. Akhirnya Martin menunggu di kursinya. Vrish berjalan sendiri menuju toilet.
Setelah keluar dari toilet, seorang wanita mencegatnya. Prisa. Vrish yang melihat itu sangat muak. Prisa bukanlah tipenya.
“Hai, Tuan Muda. Kita ketemu di sini ternyata. Kenalkan, Prisa” Prisa mengulurkan tangannya pada Vrish.
Suara itu disadari oleh Vrish, bahwa dia merasa tidak asing.
“Suara itu. Ah sudahlah pasti aku salah” batin Vrish.
“Tuan, bagaimana kalau kita bekerjasama?” tiba-tiba Prisa dengan beraninya menawarkan dirinya untuk mengajaknya bekerjasama.
Vrish yang mendengar itu sangat tidak senang. Entah kenapa hatinya sangat tidak muak. Dia tidak suka dengan para wanita yang suka mendatanginya dan merayunya. Bahkan agresif terhadapnya. Dia tak mau menggubrisnya. Dia berjalan begitu saja melewatinya. Namun, lengannya dicekal oleh Prisa. Vrish menatap tangan yang memegang bajunya itu merasa risih. Prisa yang tahu genggamannya itu ditatap dengan tatapan tidak suka itu semakin senang untuk dia jadikan tantangan untuk mendapatkan tuan muda Pramudya. Dia suka itu. Kemudian melepaskannya.
“Baiklah. Kita lihat saja nanti. Kamu akan jatuh ke dalam pelukanku” gumamnya. Hal itu tidak sengaja dilihat Clara ketika hendak masuk ke toilet.
__ADS_1
“Jangan sampai kau mendekatinya. Kami sudah dijodohkan” ucap Clara menghampiri Prisa dengan gaya jalan yang angkuh.
“Jika kalian dijodohkan, dia pasti akan menghampirimu begitu tiba di sini. Tapi buktinya dia bahkan tidak melirikmu sedetikpun” ucapan Prisa itu membuat Clara kesal dan mengepalkan tangannya. Kemudian Prisa segera berlalu dari depan pintu toilet.