
Setiba di lokasi yang sesuai maps yang terlacak dari ponsel Vio, Vrish, Jimy juga yang lainnya menyusun strategi.
“Kau pergilah ke arah belakang gudang itu. Dan kau, pergilah ke arah samping gedung karena sepertinya gedung itu dijaga pengawal dengan ketat. Monti, kau tetaplah di sini memantau keadaan kami. Jika kami dalam bahaya maka kau teleponlah polisi dan ambulan untuk segera ke sini” ucap Vrish pada semua yang ada di situ. Vrish sudah bekerjasama dengan kepolisian kebetulan salah satu sahabatnya ada yang menjabat sebagai seorang polisi. Jadi dia mengandalkan sahabatnya itu.
“Berhati-hatilah. Yang kita hadapi adalah black gangster musuh yang tidak kenal teman” ucapnya lagi.
Mereka semua menganggukkan kepalanya. Mereka lalu maju selangkah demi selangkah dengan pelan mengikuti arahan dari Vrish tadi. Vrish yang maju ke depan dengan langkah pelan dan mengendap-endap melihat situasi di sekitarnya. Dengan membawa senjata api dan pisau kecil yang tajam dia sembunyikan di balik jasnya.
Srekk srekk. Terdengar derap langkah seperti kawanan beberapa orang menuju ke arahnya. Segera Vrish berlari mencari tempat persembunyian. Dan benar sekitar ada tiga orang sedang berkeliling memeriksa keadaan sekitar. Dengan gerakan cepat Vrish mengeluarkan jurus-jurusnya dan memukul telak mereka bertiga. Membuat mereka bertiga tumbang seketika.
Krekkk. Bunyi kretekan leher yang dipatahkan oleh Vrish pada musuhnya. Lalu Vrish mengawasi keadaan sekitarnya dan melangkah maju kembali dengan mata yang tetap waspada.
“Hei!” teriak seseorang yang sudah mengetahui keberadaannya. Kemudian musuh itu mendekatinya dan melawannya. Dengan gerakan cepatnya musuh itu tumbang juga satu persatu karena dengan teriakan itu satu per satu berdatangan.
Vrish yang seorang diri masih sanggup melawan mereka para cecunguk itu sendirian. Setelah mereka tumbang, Vrish melanjutkan perjalanan menuju bangunan seperti rumah mewah namun seperti kosong dan disekitarnya banyak semak-semak. Tepat di depan pintu masuk, saat Vrish akan masuk, terdengar derap langkah dari arah belakngnya. Dia berlari mencari tempat persembunyian.
“Kemana para cecunguk itu? Kenapa kau ceroboh sekali mempekerjakan mereka?! Aku tidak mau tahu jika dia bisa bebas aku akan membunuhmu!” seru seorang wanita dengan suara yang tidak asing di telinga Vrish. Vrish yang tidak bisa melihat sosok wanita yang teriak itu karena bersembunyi di balik dinding samping rumah. Beruntung dia segera menyingkirkan mayat-mayat yang dia tumbangkan.
“Entahlah. Mungkin mereka sedang berkeliling” jawab seorang laki-laki disamping wanita itu.
“Periksa dulu. Jangan ceroboh. Harusnya mereka ada salah satu yang berjaga di depan pintu” titah wanita itu.
“Hmm. Kau benar juga. Baiklah aku periksa dulu” katanya.
“Hei, kamu! Kemarilah! Kemana mereka yang berjaga di depan pintu? Kenapa kau tidak mengawasi mereka?” marah laki-laki itu pada bawahannya.
“Salah satu dari mereka tadi minta ijin ke kamar kecil bos. Mungkin temannya ikut juga, bos” jawab cecunguk itu.
__ADS_1
“Dasar ceroboh kamu! Jangan biarkan mereka pergi semua! Sekarang berjagalah di sini. Kami akan masuk!” ucapnya sambil teriak marah.
“Baik, bos!” jawab bawahannya itu.
Lalu mereka berdua masuk ke dalam. Dan seorang penjaga sudah berada di depan pintu.
“Dia. Apa benar dia yang melakukan ini semua? Kenapa dia bekerjasama dengan black gangster? Apa hubungannya dengan Violetta?” batin Vrish.
“Oh, apakah…” lanjut batinnya.
Kemudian dia berdiri dan menghampiri penjaga pintu lalu memukulnya dengan telak. Namun karena masih sanggup berdiri, Vrish menyayat leher si penjaga pintu.
“Arghh” teriak penjaga pintu. Lalu Vrish menyingkirkan mayatnya.
Vrish berusaha untuk masuk, namun pintu dikunci. Dia berusaha untuk membukanya dengan alat yang dia bawa. Setelah pintu terbuka, dilihat ke dalam sangat sepi.
“Kenapa sangat sepi?” baru saja bergumam Vrish mendengar suara teriakan dari bawah. Segera dia berlari untuk mencari sumber suara. Namun saat dia berlari mencari sumber suara, dia dihadang oleh beberapa kawanan pengawal black gengster.
“Tuan, anda tidak apa-apa?” tanya Jefery saat dia sudah masuk ke dalam bangunan.
“Terimakasih” jawab Vrish menepuk pundak Jefery. Lalu mereka berdua melihat segerombolan anak buah black gengster masuk ke dalam rumah dan menyerang mereka berdua. Tak ketinggalan Jimy pun yang datang dari belakang, ikut bergabung membantu melenyapkan musuh.
“Pergilah! Aku yang akan menghadang mereka disini. Carilah nona muda bersama tuan muda” ucap Jimy. Ucapan itu diangguki Jefery dan Vrish.
Beruntunglah Monti mengundang bala bantuan dari Tuan besarnya sesuai perintah dari Tuan Atmadja.
“Kau tidak apa-apa?” tanya Hendrik, utusan yang ternyata datang dari keluarga besar Pramudya pada Jimy yang datang tepat waktu. Mereka tidak tahu jika tuan besar Pramudya setelah mendengar cerita yang sesungguhnya, langsung bergerak cepat untuk membantu sahabatnya itu setelah selama hampir lima tahun pula, Tuan Atmadja tiba-tiba bersikap ketus dan menjaga jarak dengannya. Padahal selama ini mereka selalu berteman dengan baik. Pertanyaan itu hanya diangguki Jimy karena Jimy sedang sibuk membereskan mayat-mayat yang bergelimpangan.
__ADS_1
Kemudian terdengar suara senjata dari arah belakang mereka yang hendak menembak menargetkan mereka berdua. Saat Jimy menoleh ke belakang, sebuah gagang senjata laras panjang itu dipukulkan pada kepala Jimy. Jimy yang mendapati itu spontan ambruk tersungkur ke lantai. Kemudian Hendrik tiba-tiba berbalik dan menyerang dengan membabi buta mereka semua. Dia memanggil teman-temannya dengan hate. Lalu tak berselang lama, teman-temannya beserta utusan dari keluarga Atmadja berdatangan mengepung tempat tersebut.
Vrish yang sudah menemukan lokasi sumber suara teriakan itu, kaget karena tiba-tiba menjadi sunyi. Sebuah ruangan bawah tanah yang gelap tidak ada ventilasi udara sama sekali sangat pengap. Setelah meraba-raba saklar barangkali menemukan saklar lampu. Setelah menemukan saklar lampu, dilihatnya tempat itu kosong.
“Sial! Mereka sudah pergi. Kemana mereka membawa Vio pergi? Darah? Berani menyentuh hatiku, maka akan dia akan setor nyawa padaku” lirihnya geram mengusap darah di lantai itu dengan rahang yang mengeras. Lalu dia bangkit dan memeriksa ruangan terlihat sebuah ruangan rahasia. Setelah dia periksa dinding itu, ternyata sebuah pintu rahasia menuju terowongan bawah tanah. Saat hendak menelpon seseorang, ponselnya bordering.
“Tuan, cepat keluar! Mereka sudah keluar membawa nona muda, Tuan!” panggilan dari Monti yang kini mengejar keberadaan nona mudanya itu dengan Hasan, yang ternyata sudah diberi tahu oleh Re untuk ikut membantu menyelamatkan maminya. Setelah ikut dengan Vio, Hasan sudah belajar ilmu bela diri dan Vio yang waktu itu sebelum berangkat ke luar negeri, membekali Hasan untuk mengikuti pelatihan dari pelatih yang direkomendasikan oleh Vio.
“Akan ku kirim lokasinya” Monti mematikan panggilannya lalu focus terhadap kendaraan yang melaju cepat di depannya itu yang sedang membawa nona mudanya itu.
“Cepat bereskan kekacauan disini. Kau ikut aku” ucap pada Jefery dan Jimy. Lalu mereka bergegas pergi dari area itu dan menuju ke mobil. Sedangkan Hendrik membereskan semua kekacauan itu.
Di posisi Re.
“Cepat paman! Mereka tampaknya menuju ke sebuah area perkebunan” ucap Re pada sambungan telepon yang sudah terhubung di Bluetooth mobil yang dikendarai Hasan.
“Baik, Tuan kecil” jawab Hasan.
“Kau bergeserlah. Biar aku yang mengemudi. Cara mengemudimu sangat lambat” ucap Monti yang tidak percaya pada Hasan bermaksud untuk menggantikannya mengemudi karena dia merasa sudah berpengalaman selama ikut nona mudanya.
“Sudahlah. Nikmati duduk manismu disitu. Kau akan lihat bagaimana caranya aku mengemudi dengan benar” jawab Hasan dengan bibir menyungging ke atas mantap. Dan benar, Hasan mengemudi dengan benar dan bahkan lebih baik dari Monti.
Monti yang merasa takjub itu berkata, “Kau sungguh belajar mengemudi dengan benar”. Monti tetap menatap kedepan. Dia tidak mau musuhnya lolos. Lalu dia mengirim lokasi yang sudah diberikan tuan kecilnya pada Vrish.
“Aku hanya belajar dari nona muda” jawaban Hasan itu membuat Monti tercengang. Lalu dia berpikir logis. Tentu saja anak muda ini akan belajar dari nona mudanya. Secara dia masih bawahan nona mudanya. Siapapun yang bekerja dengannya harus benar-benar terlatih dalam bela diri maupun berkendara.
“Dia mengajariku apa yang tidak bisa aku pelajari. Dan sekarang waktunya aku gunakan ilmu yang sudah aku dapatkan untuk menyelamatkan nona muda, bukan?” ucap Hasan sembari menatap lurus ke depan tanpa menoleh ke sampingnya.
__ADS_1
“Sudah selesaikah ngobrol kalian? Kalian focus ke mami. Jika kalian kehilangan jejak akan ku hajar kalian” tiba-tiba suara Re kecil mengagetkan mereka berdua yang ternyata sambungan telepon itu belum dimatikan oleh Re. hal itu membuat melongo keduanya.
“Tidak perlu melongo. Focus ke depan!” hal itu membuat keduanya semakin kaget. Darimana tuan kecilnya tahu mereka melongo kaget seperti itu?! itulah yang ada di dalam pikiran mereka berdua.