Pacar Online Yang Tertukar

Pacar Online Yang Tertukar
Bab 47 Ingin membangun hidup baru


__ADS_3

“Bagaimana kondisinya?” tanya Vio pada Rena setelah melihat Rena keluar dari ruang operasi.


“Hiks hiks hiks..huuuu” tangis Rena berhambur ke dalam pelukan Vio. Dengan terkejut Vio mencoba memberikan pelukan erat dan menenangkannya dengan mengusap-usap punggung Rena.


“Duduklah dulu” perintah Vio menuntun Rena ke kursi tunggu di depan ruang operasi.


“Tenangkanlah dulu dirimu” masih memeluk Rena dan memberikan bahunya pada sahabat tersayangnya itu.


Rena yang masih menangis tersedeu-sedu itu masih bertahan dalam sandaran Vio. Dengan kedipan mata Vio pada Vrish, Vrish pun paham dengan isyarat gerakan mata Vio mengarah ruang operasi. Lalu Vrish pun mencari dokter dan memanggilnya.


Tak lama setelah itu, dokter keluar dari ruang operasi mengabarkan bahwa Rio telah meninggal dunia beberapa menit yang lalu.


“Siapa yang akan bertanggung jawab atas meninggalnya tuan Rio disini?” tanya sang dokter melihat mereka bertiga bergantian.


“Saya” jawab Vrish.


“Baiklah. Silahkan ikuti saya” kata sang dokter.


“Kamu ajak dia pulang dulu saja. Nanti aku kabari lagi” ucap Vrish pada Vio.


“Tidak! Aku akan tetap di sini sampai pemakamannya selesai” jawab Rena.


“Tidak Ren. Kamu harus pulang. Masih ada Raykanda. Dia pasti akan lapar jika kamu lama berada di luar. Dan tidak baik bagi ibu menyusui datang ke pemakaman. Aku akan mengantarkanmu pulang” tolak Vio yang tidak ingin Rena kelelahan karena dia masih mengASIhi baby Re.


“Tapi kamu tidak tahu, Vi. Aku harus bisa mengantarkannya di hari terakhirnya. Aku akan ikut” jawab keras kepala Rena.


Vrish yang melihat dan mendengar itu kemudian memberi isyarat pada Vio yang sedang menatapnya dengan anggukan kepala.


“Baiklah. Tapi kamu jangan sampai kelelahan. Jika kamu merasa lelah katakanlah” jawab Vio menyerah.


“Ya” jawab Rena disertai anggukan kepala.

__ADS_1


Setelah dua jam pengurusan jenazah Rio dan pemakamannya selesai, kini waktunya Rena, Vio dan Vrish pulang ke apartemen Vio. Vrish mengantarkan Vio dan Rena terlebih dulu karena waktu sudah menunjukkan malam.


Setelah sampai di apartemen Vio, Rena dan Vio langsung menuju kamar mandi yang ada di lantai bawah untuk mandi terlebih dahulu sebelum Rena memegang baby Re. Setelah mengantarkan Vio dan Rena pulang, Vrish kemudian pulang dijemput Martin.


Keesokan paginya.


“Selamat pagi, mami!” ucap Vio pada mami yang sedang ada di dapur untuk melakukan aktivitasnya seperti biasa di rumahnya yaitu memasak.


“Pagi, anak mami tersayang. Emuach” jawab mami sambil membalas mencium pipi Vio.


“Hmmmmm lezat sekali. Kenapa mami gak buka restoran aja? Kan mamiku ini pandai sekali membuat lidah orang ketagihan” seloroh Vio yang mencomot makanan yang sudah matang di meja makan.


“Kan kamu tahu papi bagaimana, sayang” jawab mami yang masih menumis sayuran.


“Selamat pagi, semua!” sapa Rena dengan tersenyum tipis dengan mata membengkak.


“Pagi” jawab mami dan Vio yang hampir bersamaan.


“Apa semalaman kamu nangis gak berhenti-berhenti?” tanya Vio yang dipelototi maminya namun tidak menggubrisnya sama sekali.


“Dan kau juga mencintainya?” sela Vio yang dijewer maminya itu.


“Aduh aduh mami ini apa-apaan sih?! Sakit tau, mi” Vio mengaduh memegang daun telinganya yang memerah itu. ya, Vio tidak memakai hijabnya karena tidak ada laki-laki di dalam apartemennya.


“Makanya kalo ngomong itu yang bener” mami marah.


“Hahaha..” tawa Rena mengundang decak kaget mami dan Vio yang membuat mereka berdua saling menatap heran.


“Gak apa-apa, mi. Begitulah Vio. Kan mami tahu sendiri putri kesayangan mami itu seperti apa?!” ucap Rena dengan tertawanya. Baginya Vio selalu bisa menghiburnya. Maka dari itu dia sangat menyayanginya seperti adiknya sendiri.


“Ya. Aku masih mencintainya, Vi, mi. Dia adalah cinta pertamaku. Sebelum Haris. Jika bukan karena ibunya dan Fifi, mungkin kami sudah menikah. Namun, kita tidak boleh berandai-andai bukan? Ini adalah takdirku. Aku tidak bisa hidup bersama dengan cinta pertamaku tapi dia mampu memberikan kenangan yang paling berharga dalam hidupku meski dengan cara yang salah. Sungguh hatiku tidak bisa berbohong setelah mengetahui yang sesungguhnya, Vi, mi” lalu Rena kembali menangis dan Vio pun segera bangkit dan memeluk sahabatnya itu. Vio hanya mampu diam mendengarkan tangis pilunya.

__ADS_1


“Dia bilang bahwa dia mengakui kesalahan yang tidak pernah dia lakukan hanya karena dia ingin menebus kesalahannya padaku dengan masuk dalam penjara. Dia melakukan itu semua agar Fifi tidak menyakitiku. Tapi Fifi malah semakin nekad karena dia tahu bahwa Rio tidak mau membantunya. Dan ibunya Rio menyesalinya dan ingin meminta maaf padaku. Tapi aku malah pergi menjauhinya dan menolaknya karena aku tidak tahu, Vi” tangisan Rena mengingatkan Vio pada sosok Fifi. Hatinya menjadi geram dan marah. Seketika dia mengepalkan kedua tangannya.


“Aku akan membalaskannya untukmu, Ren” batin Vio.


“Sudah ikhlaskanlah. Bukankah sekarang kamu masih ada Raykanda? Dia yang akan menemanimu dan mengobatimu. Ingat masih ada dia. Anggap saja hadiah dari cintamu itu” hibur Vio tersenyum pada Rena dengan melepas pelukan Rena.


“Kamu benar, Vi. Vi, apa boleh nanti aku ikut kamu ke luar negeri saja? Aku ingin menenangkan hatiku dari ini semua. Aku ingin memulai hidup baru hanya denga Re” ucap Rena tiba-tiba. Jika itu memang bisa membuat Rena tenang dan akan jauh lebih bahagia maka Vio akan menurutinya. Biarkan usaha toko rotinya tetap dikelola oleh asisten Rena orang kepercayaan Vio dulu. Nanti dia sambil mengawasi dari luar negeri.


“Baiklah” jawab Vio singkat. Mami pun terlihat lega.


“Mami pasti akan merindukan cucu mami baby Re” ucap mami berpura-pura sedih.


“Kan mami mulai lagi. Mami kan bisa bolak balik ke sana ke sini. Kayak gak biasa aja sih. Ihhhh” jawab Vio membuat ketawa mami dan Rena.


Jam di kantor Vio.


“Ranti, tolong kamu ke ruanganku sebentar” titah Vio pada Ranti lewat extension yang dijawab Ranti balik.


Tok tok


Tidak menunggu lama tampaknya Ranti sudah sampai.


“Masuk!” Rantipun masuk.


“Duduklah” ucapnya lagi pada Ranti hingga Rantipun menurutinya duduk di depannya.


“Ada yang bisa saya bantu, nona?” tanya Ranti sopan.


“Sebulan lagi aku akan meninggalkan perusahaan ini. Papi memintaku mengurusi perusahaan di luar. Nanti tolong kamu bantu papiku untuk mengurus perusahaan bersama dengan Jimy. Jimy adalah asisten papi. Tolong kamu juga persiapkan semua kerjasama dengan A&W Group. Jadi nanti sementara kamu membantuku dengan A&W Group selama aku tidak ada. Tapi jika ada hal penting kamu hubungi aku maka aku akan pulang. Jika itu memang tidak bisa kamu handle. Mengerti? Oya satu hal lagi. Tolong kamu jangan sebar luaskan kepergianku. Aku tidak mau semua orang mengetahuinya. Apalagi A&W Group tahu. Katakan pada mereka bahwa aku terlalu sibuk. Semua bisa lewat kamu. Aku akan memberi surat kuasa untukmu” titahnya pada Ranti.


“Kenapa nona Atmadja tidak mau memberitahukan pada A&W Group ya? Padahal jika sampai A&W Group tahu pasti kerjasama itu bisa dibatalkan atau bahkan dituntut karena sudah meninggalkannya dan melempar tanggung jawabnya. Namun, benar sih bahwa A&W Group itu justru yang akan kelabakan jika ditinggalkannya sih, secara dia yang mencarinya terlebih dulu dan ada beberapa poin kerjasama itu mengatakan bahwa pihak kesatu bisa melakukan apa saja yang tidak ada sangkut pautnya dengan pihak kedua. Aku akui bahwa siapa yang berani melawan nona Atmadja pasti akan disikat” batin Ratih dengan wajah yang tersenyum lucu itu. Sehingga mengundang tanya dipikiran Vio.

__ADS_1


“Tidak usah membatinku. Aku tahu apa yang aku lakukan” ucapan Vio itu mengagetkan Ranti lalu Ranti tampak malu. Dia tidak ingin berurusan dengan Clara yang sombong itu. Biarkan dia menganggapnya orang biasa. Karena itu dia meminta Ranti untuk tidak menyebarluaskannya.


“Kembalilah. Bereskan semua pekerjaanmu setelah itu aku akan mengeceknya” perintahnya yang diangguki Ranti. Lalu Ranti bangkit berjalan keluar menuju ruangannya.


__ADS_2