
Setelah kejadian tadi di depan rumah Rena, Rena menjelaskan pada Vio. Padahal Rena sudah pindah rumah dari ruko yang pernah dia tinggali bersama ibunya ke rumah yang begitu luas halamannya dengan dikelilingi pagar yang tinggi. Tapi kenapa Fifi masih bisa mengetahuinya. Bahkan Rio, lelaki sekaligus ayah biologis Raykanda.
Setelah Vrish menuntun Vio ke dalam rumah dan menemani Rena, Vrish berjalan keluar rumah kembali untuk membantu korban disini yaitu Rio. Segera Vrish memanggil ambulance sebelum dia menuntun Vio masuk ke dalam rumah. Setelah ambulan datang dan membawa Rio ke rumah sakit, Vrish bermaksud pamit untuk menemani Rio sebagai saksi dan memberikan penjelasan pada pihak rumah sakit.
“Kamu tidak apa-apa?” tanyanya pada Vio.
Pertanyaan itu dijawab dengan anggukan oleh Vio. Vrish mengambilkan kotak P3K terlebih dulu sebelum meninggalkan mereka di rumah.
“Tidak usah biar aku sendiri” tolak Vio saat Vrish akan mengobati memar tangannya akibat dicakar oleh Fifi dengan kukunya yang panjang.
“Diam saja” ucap Vrish datar lalu mengobati lukanya di bagian punggung tangannya.
“Kamu pergilah. Awasi Rio. Aku akan memanggil Ranti” ucap Vio menatap Vrish yang mengobati lukanya itu. Setelahnya, Vrish berdiri dan berjalan menuju pintu keluar setelah mendapati Ranti datang setelah dihubungi Vio.
Setelah kepergian Vrish, Vio ingin menenangkan Rena terlebih dulu.
“Ranti, tolong kamu pergi dulu membelikan makanan buat Rena” titahnya pada Ranti.
Perintahnya itu diangguki oleh Ranti. Setelah kepergian Ranti, Vio mendekati Rena dan memeluknya. Rena menangis tersedu-sedu seperti anak kecil.
“Menangislah” hanya itu yang mampu diucapkan oleh Vio saat ini.
“Aku akan membalas perbuatannya ini untukmu dan anakku” batin Vio geram dengan mengelus punggung Rena.
“Huuuuhuhuhu..hiks hiks” tangis Rena mengundang bayinya ikut menangis yang tadi sudah diam berada dipelukan ibunya. Seketika Rena mengakhiri tangisnya dan menghapus air matanya lalu menatap bayinya yang berada di pangkuannya kemudian menciuminya dengan kasih sayang.
“Boleh aku tanya, Ren?” tanya Vio hati-hati.
“Aku akan menceritakan semuanya” ucapan Rena terjeda sejenak menghela nafasnya panjang. Setelah agak tenang, Rena kemudian menceritakannya dengan lancar.
“Saat aku tadi berada di luar sedang duduk-duduk di luar menunggu kedatanganmu, tiba-tiba ada wanita gila itu menerobos masuk saat satpam melarangnya. Waktu begitu cepat tiba-tiba dia mengambil Re dari pangkuanku dan menodongkan pisau itu pada...hiks hikss” ucapan Rena terjeda karena merasa sedih mengingatnya.
“Dia mendongkanpisau itu pada Re. Anakku masih sangat kecil kenapa dia bisa jadi korban?” tangisan pilu seorang ibu membuat hati Vio sedih dan geram.
__ADS_1
“Lalu bagaimana Rio bisa ada di sini?” tanya Vio penasaran.
“Tiba-tiba dia masuk mengikuti Fifi. Sepertinya laki-laki itu mengikutinya. Akupun tidak tahu yang sebenarnya. Kejadian ini begitu cepat. Membuatku masih syok, Vi” ucapnya lagi dengan terisak dipeluk Vio kembali.
“Sudah sudah tidak usah cerita lagi. Tenangkan dirimu. Malam ini aku akan membawamu ke apartemenku bersama baby Re” ucap Vio sambil mencoba tersenyum.
Kata-kata Vio itu diangguki Rena yang tampak pasrah. Mungkin lebih baik dia ikut dengan Vio ke apartemennya saja.
“Bi, tolong kamu kemasi barang-barang Rena dan baby Re segera. Juga kemasi barang-barangmu. Kita akan pindah ke apartemenmu untuk sementara waktu” perintah Vio pada Bi Ros.
“Baik, nona” jawabnya kemudian berlalu meninggalkan mereka bertiga di ruang keluarga.
Terdengar ucapan salam dari suaranya Ranti yang berjalan masuk ke dalam rumah tepatnya di ruang tengah. Tanpa aba-aba, diapun mengerti tatapan Vio. Segera dia menuju dapur dan menyiapkan semuanya untuk mereka makan.
“Ren, makan dulu ya. Jika kamu tidak makan, Asimu akan sedikit yang keluar. Kasihan kan Raykanda” bujuknya pada Rena yang masih sibuk memandangi wajah bayinya itu.
“Kamu juga ya. Re sudah bobok. Kita makan di sini saja ambil jagain Re” pinta Rena pada Vio. Lalu Vio menatap Ranti, seketika Ranti melaksanakan perintah bosnya itu.
“Selidiki kejadian hari ini” perintahnya pada Ranti.
“Baik, nona” jawab Ranti.
Kemudian selang satu jam, mereka pergi meninggalkan rumah Rena menuju ke apartemen Vio. Ya Vio memang lebih suka tinggal di apartemennya sendiri. Dia lebih suka hidup mandiri. Meski anak tunggal hal itu tak membuatnya tumbuh menjadi anak yang manja dan suka menghamburkan kekayaan orang tuanya.
Setelah sampai, mereka masuk ke dalam apartemen Vio yang sudah disiapkan tadi oleh Vio setelah Rena tenang dan menghubungi ARTnya.
“Ima, tolong kamu bawa tas nona Rena ke kamar tamu atas ya. Dan tunjukkan kamar Bi Ros juga” ucap Vio memberi perintah pada Ima asisten rumah tangganya.
“Baik, nona” jawab Ima.
“Mari nona Rena saya tunjukkan kamarnya dan baby Re” ucap Ima pada Rena lalu diikuti Rena dan Vio. Saat ini Vio yang menggendong baby Re. Sepertinya ini akan menjadi malam yang panjang bagi baby Re. tidurnya yang terlihat lelap sangat menggemaskan.
Setelah sampai atas, “Re, sekarang ini adalah kamarmu. Saat ini kamu dan Re tinggallah disini senyamanmu tidak ada batasan” ucap Vio tersenyum hangat lalu menyodorkan baby Re pada Rena untuk ditidurkan di tempat tidurnya. Vio memang sudah menyiapkan segala sesuatunya jika sewaktu-waktu Rena dan baby Re menginap. Sebuah box bayipun terdapat di samping ranjang tempat Rena tidur nanti. Ya apartemen Vio memang mewah, tapi hanya terdapat kamar utama 2 dan 2 kamar asisten rumah tangga.
__ADS_1
Rena meletakkan baby Re kedalam boksnya yang berwarna biru itu. kemudian Rena pun segera membersihkan dirinya ke kamar mandi. Sementara Vio menjaga baby Re supaya jika terbangun ada yang menjaganya. Setelah melihat Rena keluar dari kamar mandi, Vio segera beranjak untuk keluar kamarnya Rena.
“Vi, terimakasih, ya. Kamu sudah mau menampungku dan baby Re” ucapan terimakasih Rena dengan senyum tulusnya itu membuat Vio sedih. Dia tidak suka jika ada yang menyingungnya.
“Sudahlah lupakan. Sekarang istirahatlah. Tenangkan pikiranmu dan hatimu. Ingat bersujud dan selalu minta sama Allah untuk senantiasa melindungi kita” tepuk bahu Rena, Vio lalu keluar kamar Rena.
Setelah keluar dari kamar Rena, Vio berjalan ke kamarnya yang terletak ada di depan kamar Rena. Luas kedua kamar itu memang sama luasnya, hanya kamar Vio menghadap arah perbukitan yang indah. Vio menyukainya. Segera setelah membersihkan dirinya, Vio menelepon Ranti setelah Ranti pulang tadi. Ranti tidak pulang namun pergi menyelidikinya.
“Bagaimana? Apa yang kamu dapat?” tanya Vio pada Ranti yang ada di seberang telepon.
“Baiklah” kata Vio selanjutnya. Setelah menutup sambungan teleponnya, Vio menelpon Monti.
“Bagaimana? Apakah dia jera?” tanya Vio pada Monti di seberang sana.
“Aku akan ke sana besok pagi” lanjutnya setelah mendapatkan jawaban dar Monti.
Di rumah sakit.
Vrish yang mengurus keadaan Rio di rumah sakit tepatnya di ruang operasi, menghubungi bawahannya untuk mengawasi tunangannya dan teman tunangannya itu.
“Kamu jaga mereka” perintahnya melalui sambungan telepon.
Bertepatan menutup teleponnya, dokter keluar dari ruang operasi.
“Dengan keluarga korban?” tanya sang dokter yang masih memakai seragam operasinya.
“Bagaimana keadaannya dokter?” tanya balik Vrish.
“Tu..tuan muda Pramudya? Kon..kondisinya kritis tuan. Karena tusukan itu mengenai salah satu ginjalnya dan membuat ginjalnya rusak. Tadi dia sempat memanggil anakku. Tolong tuan muda panggilkan anaknya. Bawalah anaknya ke sini” permintaan dokternya itu membuatnya sempat bingung. Tapi seketika dia mengingatnya kembali, bahwa tadi yang diperebutkan adalah seorang bayi. Apakah itu anaknya?
“Tapi anaknya masih bayi dok” jawab Vrish.
“Kalo begitu bisa istrinya yang dibawa kemari. Mungkin ada yanga dikatakan korban” lalu dokter meninggalkannya sendirian.
__ADS_1