
Di sebuah tempat yang sangat gelap dan hening kini Vio berada. Dengan tangan diikat dan mata ditutup dengan kain penutup mata.
"Argghh!" teriak Vio setelah sadar dari biusnya namun tak bisa karena mulutnyapun diikat dengan kain. Begitu pula dengan kedua kakinya. Ya kini Vio telah diculik oleh seseorang yang belum tahu siapa penculiknya.
"Hahahaha!" tawa seorang pria. Suaranya sangat asing ditelinga Vio.
"Bagaimana, nona? Apakah kau ingin mengatakan sesuatu? Hahahaha" suara tawa pria itu mengejeknya.
Kriiing kriing. Bunyi suara ponsel sang penculik.
"Ya, bos. Baik" ucap si pria itu.
"Hahaha. Selamat tidur cantik!" lalu terdengar derap langkah pria itu menjauh meninggalkan Vio seorang diri.
"Ahhh ahhh ahhh!" teriak Vio yang berusaha memanggilnya. Namun tak ada yang kunjung datang. Kali ini nasibnya sungguh sial. Setelah hidup di luar negeri dan merawat Re, dia pelan-pelan meninggalkan dunia bawahnya. Jadi untuk kewaspadaan untuk menyerang lawan sekarang sudah tidak membawa senjata rahasia.
Karena pergelangan tangannya terasa perih akibat jeratan tali yang kencang maka dia menghentikan usahanya dari melepaskan ikatannya. Apalagi dia merasa lelah untuk saat ini.
Di lain sisi.
Setelah Jimy bertemu dengannya, mereka berdua meminta detektif beserta anak buahnya untuk mencari Vio. Lalu Jimy meminta pada Vrish untuk berpencar.
Jimy yang ingin berpencar mencari nona mudanya sendiri. Jimy kembali ke taman itu dia yakin pasti ada petunjuk di sana. Vrish yang pergi bersama detektif rahasianya mempelajari petunjuk kamera cctv yang ada di sepanjang jalan. Namun naas kendaraan yang dibawa penculik itu tak terlihat jelas. Vrish sudah mencoba berbagai cara namun masih belum dapat hasilnya.
"Sial! Siapa dia? Kenapa dia berani sekali menculiknya? Apa motifnya?" amarah Vrish memuncak.
Sedangkan di pihak Jimy, dia menemukan petunjuk dari nona mudanya. Dia menemukan sebuah bros yang terjatuh milik nona mudanya. Dia masih ingat bros itu dipakai nonanya malam ini. Dengan menggunakan instingnya, dia mencari kira-kira kemana arahnya nonanya dibawa pergi. Lalu dia melangkah dan terus melangkah. Akhirnya dia menemukan petunjuk sebuah topi. Sepertinya topi itu milik dari penculik itu. Jimy tak menyerah. Dia mengerahkan anak buahnya menyusuri taman kota malam itu juga. Tapi anak buahnya tidak menemukan apapun selain barang yang dia temukan.
"Selidikilah pemilik topi ini" perintah Jimy pada bawahannya itu. Kemudian bawahannya menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
Mereka pergi meninggalkan taman kota malam itu juga. Begitu pula Jimy. Jimy yang begadang berusaha untuk memecahkan kemana nonanya dibawa harus bertanggung jawab.
Drrttt drrttt. Getaran suara ponsel Jimy dari anak buahnya.
"Selamat malam, Tuan! Kami sudah menemukan siapa pemilik topi itu" Jimy yang mendengar itu terkesiap dan langsung bangkit kembali. Dia pun pergi meninggalkan apartemennya.
Setelah sampai pada tempat yang dijanjikan oleh anak buahnya itu, Jimy meraih data yang diberikan anak buahnya itu dengan tergesa-gesa.
"Sabar, bro!" ucap anak buahnya itu yang sekaligus temannya itu.
"Kamu mau digantung sama majikanmu?" tanyanya lagi pada Jimy yang seorang detektif itu.
"Lihat!" ucap detektif itu.
Jimy pun mendekatinya. Meraih dan melihat topi itu. Setelah melihat topi itu lalu dia menatap temannya itu heran dan mengernyitkan keningnya.
Jimy yang membuka topi itu, menoleh pada temannya itu. Seolah bertanya, "ya, dia geng yang lumayan berbahaya".
"Halo! cepatlah kau kesini!" perintah Jimy pada Vrish dari seberang panggilan ponselnya.
Tak lama Vrish ke rumah teman Jimy.
"Bagaimana? Apakah ada perkembangan dengannya?" tanya Vrish seketika sampai. Jimy langsung menyodorkan sebuah topi yang diperkirakan milik dari penculik itu.
"Black gangster?!" ucap Vrish yang mengetahui simbol tengkorak dan sabit itu.
"Anda mengetahuinya, Tuan?" tanya Jimy yang mencurigai Vrish. Pertanyaan Jimy itu diangguki oleh Vrish.
"Orang itu penculik bayaran. Mereka dibayar tinggi oleh seseorang. Mereka tidak akan bekerja jika tidak mendapat bayaran yang tinggi karena yang mereka cari adalah uang. Mereka juga mencari lawan yang sepadan dengannya. Jadi mereka tidak akan pernah main-main. Mereka akan menuntaskan tugasnya sampai selesai. Mereka tidak akan pandang bulu akan perintah orang yang sudah membayarnya. Dan jika nona mudamu bisa mengajak mereka bernegosiasi mungkin dia akan dilepaskan. Tapi bisa juga mereka akan meminta semuanya dari nona mudamu itu. Kita harus berhati-hati dengan mereka. Sekali kita menyinggungnya, mereka tidak akan pernah mau bekerjasama lagi dan langsung menebas sanderanya" ucap Vrish membuat Jimy mengeraskan rahang-rahangnya.
__ADS_1
"Siapa yang berani membayar mereka dengan bayaran tinggi? Jika tidak dari kalangan pebisnis, dia tidak akan mampu membayarnya" ucapnya lagi membuat Jimy menoleh kembali Vrish.
"Aku akan membawanya kembali. Aku berjanji" ucapnya dalam hati lalu pergi meninggalkan Jimy dan temannya.
Di mansion orang tua Vio.
"Gimana, Pi putri kita? Apakah ada kabar dari Jimy?" baru menanyakan kabar putrinya, sebuah suara kendaraan terdengar dari dalam mansion membuat papi dan maminya Vio melangkah keluar rumah.
"Selamat malam, Tuan Atmadja!" sapa seseorang laki-laki gagah dan tampan pada kedua orang tua Vio, Vrish.
Plakkk. Sebuah tamparan mendarat di pipi mulus Vrish. Ya papi Vio menampar Vrish. Tuan Atmadja tahu semua ini karena ulah dari perbuatan Vrish. Nyonya Atmadja terkejut karena baru seumur hidupnya baru kali ini dia melihat suaminya itu main tangan karena kehilangan jejak putri semata wayangnya.
"Sudah ku bilang jangan kau dekati putriku. Kau sudah menyakitinya. Kini setelah dia kembali, kau justru membuatnya hilang dari kami!" teriak Tuan Atmadja yang dadanya dielus istrinya untuk bersabar.
"Arrghh" Tuan Atmadja mengerang kesakitan didadanya. Namun dia tahan kembali.
"Papi! Sudahlah. Tenangkan dirimu. Jangan kamu salahkan dia dulu. Ayo masuk dan duduk dulu ke dalam, nak" ucap nyonya Atmadja menasehati suaminya lalu menoleh melihat Vrish. Vrish yang ditampar hanya meringis menahan perih diujung bibirnya. Lalu masuk mengikuti langkah kedua orang tua Vio.
"Maafkan saya, Tuan. Saya tidak pernah menyakiti putri anda. Untuk kejadian waktu itu, saya tidak sengaja menolong Clara yang waktu itu tersandung hampir terjatuh. Jadi saya menolongnya. Saya tidak tahu jika Vio melihat saya waktu itu dalam keadaan seperti yang dia lihat. Malam itu saya berniat untuk menghitbahnya namun saat Vio meminta ijin ke toilet Clara juga ada disana. Saya tidak tahu jika kejadiannya akan seperti ini. Vio pergi tanpa alasan yang jelas. Setiap harinya saya hanya bisa ke bar namun tidak untuk mabuk. Dan suatu kejadian memalukan itu hanya sebuah salah paham" ucapan Vrish disela oleh Tuan Atmadja.
"Sebuah salah paham?" teriak Tuan Atmadja. Sedangkan nyonya Atmadja menenangkannya dan menatap dalam sorot mata Vrish yang mengatakan kejujuran.
"Kita dengarkan saja dulu, pi" pinta istrinya.
"Clara memberi obat pada minumanku yang membuatku tidak sadar. Dan kejadian seperti itulah yang tersebar diinternet. Tapi saya tidak pernah menyentuhnya" jelas Vrish menundukkan kepalanya.
"Hah! Tidak menyentuhnya. Itu hanya kata-katamu. Tapi kami tidak tahu kejadian yang sebenarnya" Tuan Atmadja masih tampak marah. Sebenarnya Tuan Atmadja sudah tahu yang sebenarnya hanya dia ingin mendengar penjelasannya sendiri. Karena Tuan Atmadja sudah menyelidiki kejadian yang sebenarnya. Semua hanyalah siasat licik Clara.
"Saya berjanji akan membawa putri anda pulang dengan selamat, Tuan!" kemudian Vrish bangkit dan pergi meninggalkan mansion orang tua Vio.
__ADS_1