
Ceklek
Bunyi pintu kamar terbuka. Tampaklah pemandangan indah di depan mata. Tampaklah seorang wanita yang sangat dia cintai dan sudah menjadi istrinya dalam beberapa hari ini. Ternyata waktu dan tempat yang memisahkan mereka tak sanggup Vrish jalani. Di setiap harinya setiap waktu dia sangat merindukan rubah kecilnya ini. Terlihat olehnya, rubah kecilnya tertidur di sebuah sofa cantik dengan memeluk sebuah pigura. Hanya Vrish tak tahu apa isinya dalam pigura itu.
Kemudian perlahan dia mendekati istrinya dan memandang wajah imutnya itu ketika tertidur. Istri kecilnya ini tertidur pulas sangat cantik. Dengan rambut panjangnya tergerai indah. Senyum manis dan hangatnya terukir dibibir seksinya.
Dia mendekati istri kecilnya lalu mencium keningnya pelan. Tampak istrinya menggeliat lalu tertidur kembali. Saat ini pigura yang didalamnya terdapat sebuah foto itu terjatuh. Beruntunglah Vrish menangkapnya dengan cepat. Sebuah foto pernikahan sewaktu di KUA. Dirinya dan rubah kecilnya berdiri berdampingan dimana dirinya sedang menatap dengan tersenyum dan rubah kecilnya itu yang menunduk malu.
"Kau merindukanku, rubah kecil? Kenapa kau tak menghubungiku dan memintaku kemari? Dasar kau keras kepala" lirihnya menatap wajah istrinya lamat-lamat.
Lalu Vrish meletakkan foto itu ke atas meja disamping sofa. Saat kedua tangannya itu hendak menggendong istrinya terlihat begitu samar bekas air mata yang meluncur di pipi sang istri. Lalu diamati kembali kedua mata istrinya. Tampak memerah seperti habis menangis.
'Apa kau habis menangis? Kenapa kau menangis?' batinnya bertanya-tanya heran.
Kemudian dia menggendongnya untuk dipindahkan ke atas ranjang di samping sofa cantik itu. Setelah meletakkan istrinya ke atas ranjang tanpa gangguan kini Vrish yang sudah sangat merindukan istrinya itu tampak melepas sepatunya dan hendak ke kamar mandi. Namun dia mendengar ocehan kecil dari istrinya dalam tidurnya.
"Siapa dia? Kenapa semua yang kucinta mengkhianatiku? Kenapa kau lakukan itu, Vrish?" mendengar namanya disebut dia semakin penasaran.
"Apa yang dia bicarakan? Kenapa dia..." seketika ucapannya berhenti. Lalu dia berjalan keluar kamar dan menghubungi Martin.
"Cek CCTV butik Bunda Hesti sekarang juga!" entah apa yang dipikirkan Vrish mungkin tebakannya adalah benar.
"Baik siap laksanakan bos!" jawab Martin memberengut.
"Ah kau mengganggu acaraku saja bos!" kesal Martin yang kini sedang berjalan berdua dengan Tiwi keliling vila. Vila saat ini dalam keadaan sepi karena Re sedang sekolah dan pulang sekolah Re minta dijemput oleh Opanya. Re ingin bermain bersama Raka. Dia sangat menyayangi Raka.
Tak berselang lama, Martin memberikan rekaman CCTV itu pada Vrish.
"Padahal kau itu bisa melacaknya sendiri kenapa minta bantuanku?" sungut Martin menghampiri Vrish sambil menyerahkan buktinya.
"Bukankah kau ku bayar karena ini juga?!" balas Vrish membuat Martin bungkam.
"Ah kau ini sudah menggangguku saja" ucap Martin melirik kesana kemari gusar. Hal itu diamati Vrish.
"Apa kau sudah merayunya?" tebak Vrish memahami isi otak sahabatnya itu.
__ADS_1
"Siapa yang merayunya?!" lalu Martin pergi meninggalkannya. Vrish yang sudah mendapatkan bukti rekaman cctv nya itu segera untuk mengeceknya. Saat melewati ruangan yang mengarah ke sebuah garasi mobil itu, Vrish menengok dan melihat isi garasi.
Saat sudah melihat-lihat isi garasi, Vrish yang hendak kembali ke kamar, tidak sengaja melihat sebuah mobil berwarna putih yang posisinya paling ujung dekat pintu keluar garasi. Vrish melihat plat nomor kendaraan itu. Ternyata mobil ini pernah dia lihat hanya saja dia tidak ingat dimana dan kapan.
Lalu Vrish kembali ke kamar. Dia ke kamar mandi dulu untuk mencuci tangan dan kakinya. Lalu setelah dia selesai dia duduk ke sofa cantik itu dan mengecek rekaman cctv di butik Bunda Hesti.
Saat Vrish melihat ada sebuah mobil warna putih masuk pelataran butik dan dia melihat seseorang seperti hendak turun dari mobil namun urung itu lalu setelah beberapa menit kemudian mobil putih itu pergi meninggalkan pelataran parkir butik Vrish mengamatinya detail.
'Hmm seperti aku kenal mobil ini. Tapi dimana ya?' dia mencoba mengingat mobil itu. Saat dia teringat lalu dia mengecek rekaman itu plat nomor mobil yang sedang berjalan memutar arah itu.
"Jadi, kau pergi ke sana dan melihat kejadian tadi pagi di sana?" gumamnya kemudian bangkit dan mencari sopir yang mengantarkan istrinya tadi pagi. Setahu dia hanya ada seorang sopir di vila ini seperti yang pernah istrinya sampaikan tempo lalu. Kemudian dia mencari Hasan.
"Apa tadi pagi istriku ke butik Bunda Hesti?" tanya Vrish dingin pada Hasan.
"Ya, tuan" jawab tegas Hasan. Karena dia pun terlihat kesal pada suami nona mudanya itu.
"Apakah kau yang mengantarkannya?" tanya Vrish lagi.
"Iya, tuan" jawab Hasan lagi.
"Apa dia melihatku di sana bersama dengan seorang wanita?" pertanyaan Vrish itu tidak ragu lagi.
"Lihatlah! Kalian belum melihat semuanya" Vrish memberikan rekaman itu dibagian akhir pada Hasan.
"Benarkah Tuan tidak ada hubungan dengan wanita itu?" tanya selidik Hasan.
"Lihatlah dari rekaman itu. Jika aku ada hubungan dengan wanita itu, maka aku juga akan membalas pelukannya dan tidak akan meninggalkannya. Kau bisa tanyakan pada Martin!" kemudian Vrish mengambil ponselnya lalu berbalik berjalan menuju kamar istrinya.
"Maafkan saya tuan! Saya sudah berani kesal dengan anda. Maafkan saya" akhirnya Hasan menyadari kesalahannya.
"Tidak apa-apa. Apa yang kau lakukan sudah benar. Karena kau sangat peduli dengan nona mudamu. Tapi tidak baik terlalu berlebihan" lalu Vrish berjalan kembali setelah menghentikan jalannya saat mendengar penyesalan Hasan.
Ceklek. Vrish membuka pintu kamar istrinya dan mendapati istrinya masih tertidur pulas. Vrish yang berjalan menuju ranjang istrinya kemudian ikut naik dan tidur bersama istrinya. Dihirupnya kuat-kuat aroma tubuh dari istrinya. Vio yang menggeliat tak sadar itu membelakangi suaminya yang tidur disampingnya. Direngkuhnya tubuh kecil istrinya itu ke dalam pelukannya.
'Akan aku jelaskan semuanya setelah kau terbangun nanti, sayang' batin Vrish yang memeluk erat serta menciumi rambut istrinya yang beraroma khas itu. Dielusnya rambut Vio yang sangat indah itu lalu memejamkan matanya dan ikut tertidur disamping istrinya.
__ADS_1
Sinar terik matahari yang muncul dari sela-sela jendela kamar itu membuat Vio terbangun dan menggeliat. Namun dirasa badannya ada yang menindihnya karena terasa berat dan sesak untuk menggeliat Vio membuka matanya yang berat karena sedari pagi menangisi orang tercintanya sehingga membuatnya tertidur. Dia kaget dan spontan mendorong Vrish yang tengah tidur disampingnya dan memeluknya erat. Bukannya terdorong terjatuh atau minggir tapi justru Vrish mengeratkan pelukannya tak mau mundur atau turun bagun.
"Kau! Kenapa kau bisa ada di sini? Si..siapa yang sudah.."
"Mami dan papi yang memberitahuku" sela Vrish lalu menciumi aroma istrinya yang wangi khas itu.
"Minggir. Aku tidak bisa bernafas!" berontak Vio.
"Tidak. Aku tidak akan minggir. Nanti kau lepas lagi" ucap Vrish yang maish memejamkan matanya.
"Lepas? Apa maksudnya?" tanya Vio yang sepertinya sedang lupa masalahnya.
"Apa kau sudah lupa bahwa kau ini sudah memiliki suami? Kenapa kau malah pergi ke sini tapi tanpa ijin dariku? Apa kau melarikan diri dariku lagi?" tanya Vrish yang kini masih memeluk istrinya erat.
"Aku sudah ijin tapi kau justru dihubungi sangatlah susah. Ya iyalah susah karena sedang asyik berduaan dengannya kan?" Vio yang terus memberontaknya itu membuat sebuah gesekan yang luar biasa terhadap Vrish.
"Diamlah. Jangan bergerak terus. Kau akan tahu akibatnya" ucap Vrish yang tidak dimengerti Vio. Istrinya terus memberontak hingga gesekan itu menimbulkan sebuah benda yang tiba-tiba mengeras dalam hitungan detik itu dibelakangnya Vio. Vio yang merasakan sesuatu itu tidak tahu dan dengan polosnya bertanya pada suaminya itu.
"Apa yang ada dibelakangku itu? Kenapa seperti ban yang dipompa?" ucap Vio membuat geli suaminya itu.
"Kau sangat polos rupanya. Kau sudah membuat juniorku terbangun. Kau harus bertanggung jawab" ancam Vrish lalu memutar posisi tubuh istrinya yang kini berada di bawahnya. Dikungkungnya dan dikunci rapat tubuh istrinya itu.
"Ap..apa yang akan kau lakukan?" gugup Vio yang khawatir Vrish akan meminta jatahnya.
"Meminta pertanggung jawabanmu" Vrish mencium kening istrinya lembut. Hal ini membuat berdesir jantung keduanya. Debaran jantung mereka yang mengalun cepat dan kencang itu terdengar oleh keduanya disuasana kamar yang begitu sunyi.
...****************...
...😁😁 yuuk kita tunggu kelanjutannya...
...Maaf author kerja dulu ya...
...Nanti sambung lagi...
...Nantikan bab-bab terakhirnya ya🤗...
__ADS_1
...Happy reading...
...🥰🥰🤗...