
"Martin tolong handle semua pekerjaan disini dulu. Aku mau pergi keluar" Vrish berpesan pada asisten kepercayaannya.
"Tuan mau kemana? Sebentar lagi ada rapat dengan jajaran direksi" ucap Martin yang mengekori Vrish karena tidak mau tuannya pergi lagi meninggalkan rapatnya.
"Batalkan dulu" jawab Vrish enteng. Lalu jemarinya menekan sebuah nomor di dekat pintu lift setelah pintu lift tertutup.
"Aduuuh mereka bakalan marah karena ulahmu bos" gerutu Martin kesal lalu berjalan ke ruangannya dan menelpon jajaran direksi.
Di sisi Vrish.
"Aku tidak boleh kehilangannya lagi" batin Vrish. Lalu berjalan keluar lift dan segera menuju ke arah mobil mewahnya.
"Aku harus menemukanmu, sayang" ucap Vrish menampilkan senyum miringnya dengan memutar kemudinya.
Di tempat Vio.
"Aku harus menghapus semua dataku. Dia pasti datang kemari. Aku harus segera pergi dari sini" gumam Vio dengan melancarkan jari jemarinya mengetik beberapa kata kunci.
"Ranti, masuklah!" titah Vio pada Ranti di seberang sambungan extensionnya.
"Baik, Nona" jawab Ranti dari seberang telepon lalu segera ke ruangan Vio.
Setelah 10 menit berlalu, tiba-tiba pintu didorong dari luar.
Brakkk
Berdirilah sosok Vrish yang diikuti resepsionis didepan meja kerja Vio membuat orang didepannya kaget terperanjat.
Vrish yang melihat pemandangan didepannya mengernyitkan keningnya lalu berjalan mengitari orang dibalik meja kerja ruangan Vio itu.
"Kenapa anda tidak punya sopan santun, tuan?" ucap Ranti. Ya yang dibalik meja kerja itu adalah Ranti. Ranti menyuruh resepsionis itu kembali ke tempatnya dengan isyarat matanya.
Tadi setelah panggilan telepon itu, Ranti yang bergegas masuk ke ruangan Vio itu langsung dikode Vio. Supaya berpura-pura duduk di kursi kebesarannya. Ranti yang tidak tahu apa-apa pada awalnya, sekarang setelah kedatangan tamu tak diundang pun menjadi tahu maksud atasannya itu.
"Nona muda pasti sudah bermain-main dengannya" pikirnya sambil mengamati Vrish yang mengelilinginya seolah tersangka.
"Minggir kamu!" perintah Vrish. Kemudian tanpa menunggu Ranti yang duduk itu minggir, Vrish langsung menyalakan layar monitor yang ada di meja kerja Vio.
Dengan keringat dingin dan wajah yang tegang, Ranti khawatir jika nonanya ketahuan.
"Sial!" umpat Vrish kesal karena tidak menemukan apapun di sana.
"Kamu mau bermain kucing-kucingan denganku? Baiklah kita lihat nanti" batinnya lalu Vrish berjalan keluar ruangan Vio sang Ceo perusahaan dengan raut muka yang dingin dan masam.
__ADS_1
Sedangkan dibalik dinding kamar pribadi yang ada dibelakang kursi Vio kini terbuka lebar. Ruangan yang didesain dengan sangat canggih itu tidak menunjukkan bahwa dinding itu sebenarnya adalah pintu menuju kamar pribadinya. Yang mana dipergunakan disaat dia kelelahan.
"Terimakasih. Lanjutkan tugasmu" titahnya setelah dia keluar. Tentu saja dia tidak akan bertanya karena dia sudah melihatnya dibalik dinding rahasia itu. Segera Ranti berjalan keluar ruangan Vio.
Tanpa terasa waktunya pulang kantor pun tiba. Vio berjalan keluar dari gedung tinggi menjulang itu langsung masuk ke dalam mobil yang dikemudikan Monti.
"Ke mansion" perintahnya dengan wajah dingin dan lelah.
Drrtttt drrttt
"Ya" jawabnya mengangkat panggilan itu.
"....." jawaban dari penelpon memuat raut mukanya berubah masam. Kemudian Vio mematikan sambungan teleponnya dengan wajah bengong.
Vio lalu merebahkan posisi duduknya kesandaran kursi. Tidak lama mobil sampai ke mansion. Setelah mobil berhenti, Vio segera turun menuju ruang kerja papinya.
"Tuan besar sudah menunggu anda, Nona" ucap Jimy yang sudah menunggu di depan pintu menyambut kedatangan Vio. Vio yang melangkahpun hanya mengangguk berjalan mendekati papinya.
"Papi, assalamualaikum" panggil Vio yang melihat papinya memandang ke luar jendela.
"Waalaikumsalam. Putri papi sudah pulang" menampilkan senyuman hangatnya menyambut tangan Vio yang menciumnya takzim dan memeluknya.
"Duduklah" titah papinya.
"Sudah. Dan papi tidak usah khawatir tinggal 15% penyelidikan itu selesai dan waktunya nanti sebelum aku berangkat ke luar negeri, Vio akan mengumumkannya. Serahkan saja padaku, pi" ucapnya meyakinkan papinya. Dia tahu jika papinya khawatir seperti itu, sudah ada yang memprovokasinya. Dan Vio tahu itu siapa dalangnya. Hanya tinggal sedikit dia akan mendapatkan bukti kongkritnya.
"Baiklah. Tangani dengan baik. Sekarang kembalilah ke kamarmu. Rena dan baby Re sudah menunggu kedatanganmu" ucap Tuan Besar Atmadja.
"Ya" jawab Vio tersenyum lebar.
Kemudian Vio berjalan keluar meninggalkan ruang kerja papinya dan berjalan menuju kamar baby Re.
"Assalamualaikum, Raykanda. Eleh eleh kamu kangen gak sama mami? Cupp cupp" ucap Vio pada baby Re sambil menciuminya dengan gemas tanpa mengganti pakaian dl.
Baby Re tampak senang seolah tahu siapa Vio.
"Kamu sudah pulang?" tanya Rena tiba-tiba dari arah pintu kamar mandi.
"Re, kita akan segera ke luar negeri"
"Finally" jawab Re.
Drrttt drrtttt. Tampak sebuah panggilan dari Prayoga.
__ADS_1
"Ada apa dia telepon?" batinnya bertanya heran.
Namun, panggilan itu dia silent jadi tidak ada yang mengganggunya lagi.
Ting. Sebuah pesan chat masuk.
"Cafe Jl. Sindoro 45 jam 20.00" bentuk isi chatnya Prayoga pada Vio.
Pesan itu tidak dibalas Vio.
"Kamu harus keluar lagi?" tanya Rena tak sengaja melihat sekilas isi chat tersebut. Vio hanya menganggukkan kepalanya.
Tak berselang lama, sudah menunjukkan jam setengah delapan. Vio memenuhi undangan tersebut karena ingin menjelaskan semuanya pada laki-laki itu.
"Monti ikut aku sekarang" titahnya pada Monti.
"Ya, Nona Muda" jawab Monti.
Setelah memasuki mobil, Vio yang tampak lebih segar dan sangat menggemaskan itu, tampak lebih cerah.
Memakan waktu setengah jam perjalanan itu. Kaki jenjang yang tertutupi dengan kain celana melangkah lebar dan pakaian yang tampak serasi dibalut dengan asesoris kacamata hitamnya terlihat sangat anggun. Prayoga yang melihatnya turun dari mobilpun terkesima. Vio berjalan menghampirinya. Mereka berdua tidak tahu jika mereka ada yang mengikutinya.
"Silahkan duduk" Prayoga mempersilakan duduk Vio yang hanya dijawab dengan anggujan kepala.
Vio yang duduk pun bertanya tanpa basi basi.
"Kenapa memanggilku? Apakah begitu penting?"
"Ya. Sangat penting. Ini tentang perasaan.." belum juga Prayoga melanjutkan pembicaraannya itu, tiba-tiba Prisa yang sudah mengikuti Prayoga pun marah menghampirinya.
"Jadi kalian memiliki hubungan?"
"Tak kusangka jika wanita itu kau!" ujarnya lagi.
Vio yang mendengar itu hanya terdiam duduk memandangi wanita di depannya.
Byurrr. Prisa bergerak lebih cepat dan mengguyurkan segelas air putih minuman Prayoga yang ada dimeja Prayoga.
Vio masih dengan santainya tidak menanggapi Prisa meluapkan emosinya.
"Nona muda!" ucap Monti. Lalu berhenti saat tangan Vio memberi isyarat.
"No..nona muda? Apa maksudnya ini" tanya Prayoga bingung.
__ADS_1