Pacar Online Yang Tertukar

Pacar Online Yang Tertukar
Bab 48 Kemarahan Vrish


__ADS_3

Ketika berjalan pulang, Vio mampir ke supermarket dekat kawasan apartemen elit. Dia ingin membelikan Rena susu buat ibu menyusui dan beberapa buah-buahan segar. Kebetulan stok dikulkas hampir habis. Di kawasan elit itu, terdapat sebuah supermarket yang lumayan besar. Disana semua bahan juga tersedia komplit.


Tiba-tiba, Dug Braakk..


"Ahh" jerit Vio memegangi bahunya yang sakit tertabrak seseorang. Suara itu terdengar hampir nyaring di sepanjang ruangan supermarket. Hampir semua orang kaget dan menatapnya. Jeritan itu diakibatkan oleh seseorang yang sudah menabraknya tanpa sengaja karena setengah berlari yang tergesa-gesa kemudian dampaknya juga menjatuhkan beberapa barang disana. Beruntunglah barang-barang itu bukan barang pecah belah. Semua barang itu adalah pampers dan beberapa susu ibu hamil yang letaknya satu rak.


"Ma.." ketika seorang laki-laki itu ingin mengucapkan kata maaf, dia terlihat kaget dan jantungnya berdebar sangat kencang dengan mata yang membelalak lebar.


"Pra..Prayoga" lirih Vio juga tampak kaget.


"Vi..Vio" ucap Prayoga juga terbata-bata kaget.


Segera Vio tersadar dan segera mengembalikan semua barang-barang itu ke atas rak.


"Maaf, mas, mbak. Saya sudah membuat kebisingan dan menjatuhkan barang-barang ini. Saya tidak sengaja. Maafkan saya" ucap Vio seraya menyimpuhkan kedua telapak tangannya didepan dadanya pada karyawan dan karyawati yang kebetulan sedang menata barang-barang.


"Saya yang harusnya meminta maaf karena semua ini kesalahan saya. Jika bukan karena saya yang menabraknya, barang-barang ini tidak akan jatuh. Sekali lagi maafkan saya" sahut Prayoga.


"Sa.." saat ingin mengatakan sesuatu tiba-tiba tangan Vio ada yang menariknya. Vrish yang mengikuti Vio sejak pulang dari kantor dan membuntuti Vio yang keluar dari perusahaannya itu melihat kejadiannya lalu segera menarik tangan Vio untuk dia bawa pulang.


Viopun kaget kembali karena merasa ada yang menarik tangannya dari belakang. Setelah beberapa langkah Vio menghempaskan tangannya dari genggaman tangan Vrish setelah tersadar.


"Ishhh. Lepaskan! Sakit!" ucap Vio menghempaskan tangannya lalu memegang pergelangan tangannya yang merasa kesakitan akibat digenggam begitu kencang.


Vio menatap Vrish yang wajahnya merah padam itu. Wajah yang tampak marah dan terasa hawa dinginnya. Tatapan mata yang sulit dimengerti itu menatap Vio sangat tajam seolah ingin memangsanya.


"Kenapa dia begitu marah?" batin Vio yang tak terdengar oleh siapapun.


"Kenapa kamu terlihat marah begitu?" tanya Vio dengan suara lirih.


"Entahlah. Aku juga sulit mengartikan kenapa hatiku merasa kesal saat mereka saling menatap dan sepertinya mereka saling mengenal satu sama lain" batin Vrish yang tidak dapat didengar oleh siapapun.


"Siapa dia?" tanya Vrish marah yang entah kenapa emosinya tidak dapat dia kendalikan melihat tunangannya bersitatap dengan laki-laki lain.


"Dia..." jawaban Vio menggantung pertanyaan Vrish hingga Vrish menunggu jawabannya dengan rasa marah.


"Aku temannya" jawab Prayoga. Hingga mengundang Vrish dan Vio untuk saling menoleh ke sumber suara. Jawaban Vio tersela oleh Prayoga.

__ADS_1


Vrish yang mendengar itupun menoleh ke arah Prayoga dan melirik Vio yang terlihat begitu tegang. Dengan senyum smirknya yang terlihat sinis itu mengatakan, "Oh ya? Kenapa aku tidak mengetahuinya? Kalau begitu kenalkan. Saya tunangannya". Kemudian Vrish berjalan ke arah Prayoga dengan menjabat tangan memperkenalkan dirinya. Dan tentu saja hal itu tanpa balasan sambutan. Bagi Vrish tidak masalah. Dari situ Vrish tahu bahwa mereka berdua saling berhubungan.


Dapat dilihat bahwa Vrish sangat posesif. Namun itu semua diluar kesadarannya. Karena bagi Vrish, Vio adalah tunangannya.


"Sudah ayo pulang" seru Vio pada Vrish. Vrish pun menoleh lalu menatap Prayoga kembali dan tersenyum tipis.


"Aku akan menyelidikinya" pikir Vrish kemudian membalikkan badannya dan menyusul Vio.


"Ternyata kamu sudah bertunangan" batin Prayoga melihat kepergian mereka berdua.


"Dan kenapa kamu berada di lorong ini? Susu ibu menyusui, pampers anak-anak?" batinnya lagi setelah sadar mengetahui bahwa Vio tadi berdiri di lorong ini.


"Apa kamu sudah punya anak?" batin dan pikirannya sangat membuatnya semakin bingung.


"Hai! Aku cari kamu kemana-mana ternyata kamu disini. Sedang melihat apa disini? Kenapa kamu menatap ke arah sana?" tanya Prisa mengikuti arah tatapan Prayoga.


"Ah, tidak apa-apa. Ayo segera ke kasir jika sudah selesai" ucap Prayoga mengalihkan pertanyaan Prisa lalu berbalik arah menuju kasir. Prisapun menganggukkan kepalanya.


"Yuk!" jawabnya sambil menggandeng lengan tangan Prayoga.


Akhirnya Vio tidak jadi berbelanja apapun atas apa yang sudah terjadi.


"Bukan urusanmu!" ketus Vio tanpa menolehnya. Saat ini Vio memang diantar oleh Vrish. Monti sudah disuruh pulang dulu oleh Vrish tadi begitu Vio memasuki area supermarket. Dan itu tanpa Vio ketahui.


"Lihat!" kata Vrish dengan menunjukkan cincin di jari manis Vio itu dengan mengangkat tangan Vio.


"Jadi, bagaimana? Masih berspekulasi?" ucap Vrish tersenyum miring.


"Kau!" kata Vio mendelik pada Vrish. Lalu kembali memposisikan duduknya seperti semula.


"Ini!" Vio melepas dan memberikan kepada Vrish cincin tunangannya.


Hal itu membuat Vrish marah dan seketika menghentikan mobilnya mendadak. Beruntung jalanan tidak terlalu ramai.


"Kau buta ya!" seru Vio kesal.


Sedangkan yang diajak bicara diam seribu bahasa menatap ke depan dengan rahang yang mengeras. Tak lama Vrish pun menoleh lalu memakaikan kembali cincin itu. Namun ditangkis oleh Vio. Hal itupun membuat Vrish semakin geram sehingga terdengar gemelutuk giginya.

__ADS_1


Kemudian Vrish menancapkan gasnya kembali berjalan dengan kecepatan diluar batas. Itu membuat Vio ketakutan dan berpegangan pada pegangan di atas pintu sampingnya.


"Kau mau membunuhku ya? Apa kau gila?" teriak Vio semakin kesal.


"Kenapa dia marah seperti itu? Apa aku sudah menyinggungnya? Bukankah sikapku itu wajar sudah melepas cincin pemberiannya yang hanya bohongan itu?" batin Vio menatap Vrish lekat.


Sedangkan orang yang sedang ditatapnya itu tetap duduk terdiam di kursi kemudinya dengan pandangan fokus ke depan.


Vrish sudah menyalip banyak kendaraan. Dengan piawai Vrish mengemudikan mobilnya dalam hitungan satu menit sampai di apartemen mewah Vio.


Setelah Vio turun tanpa ada sepatah katapun yang keluar dari mulut kedua manusia yang sedang kacau dan entah berantah itu, Vrish langsung meninggalkan Vio dengan menancapkan pedal gasnya dengan kecepatan penuh. Bak ditelan bumi, mobil mewah sport mewah itu dalam sekejap menghilang dari pandangan Vio.


Sampai di apartemen, Vio masuk dengan wajah masamnya.


"Assalamualaikum" sahutnya pada orang rumah. Namun nampaknya apartemen tampak sepi tidak ada yang menjawab salamnya.


"Kemana Rena dan mami ya? Kok sepi? Bi Ros mana ya?" tanyanya pada dirinya sendiri sambil melangkahkan kakinya mengitari seluruh ruangan di apartemennya. Namun hasilnya nihil.


Drrrttt Drrrttt


"Vi, aku sama baby Re di mansion mami sama papi. Tadi papi menjemput mami dan papi memaksaku untuk tinggal di mansion. Kamu makanlah dulu sepulang kerja ya. Tadi mami sudah memasak makanan kesukaan kamu. Diangetin dulu setelah mandi. Aku di mansion mami papi sampai kita akan ke luar negeri ya. Soalnya mami memintaku menginap di mansionnya" pesan dari Rena membuat lega hati Vio.


"Baiklah. Kamu disana yang heppy ya. Jika pekerjaan aku sudah beres semua aku akan pulang" balas Vio melalui pesan juga. Setelahnya dia berjalan menuju kamar mandi dan segera membersihkan dirinya. Kemudian setelah selesai diapun segera menyantap masakan maminya tanpa menghangatkannya terlebih dahulu. Baginya sama saja.


"Hmm kangen juga sama baby Re" gumamnya setelah makannya selesai.


Setelah makan selesai, Vio berjalan menuju ruang kerjanya dan membuka komputernya. Dia mendapatkan sebuah pesan dari teman dunia mayanya. Sebenarnya dia tidak tahu siapa orang itu yang hampir setiap hari mengiriminya email. Ketika dia cari alamat IPnya dan mencari datanya, ternyata lawannya juga pandai tidak bisa dilacak olehnya. Jadi hal itu merupakan sebuah tantangan baginya.


"Selamat datang! Hai, bertemu lagi!" sebuah anak ayam berjoget di layar komputernya.


Setelah mengirim balasan email, diapun kembali ke kamarnya.


"Sampai jumpa! Bye bye!" ucapan anak ayam itu sangat menggemaskan dengan menggoyangkan ekornya membelakangi. Vio akhirnya merasa lelah dan masuk ke dalam kamarnya. Segera dia merebahkan dirinya ke atas kasur.


Di lain sisi, Vrish.


Setelah sampai di apartemennya, Vrish marah membanting pintu. Seumur hidupnya dia tidak pernah merasa dipermalukan seperti tadi ketika bersama dengan Vio.

__ADS_1


"Sial! Awas saja kau menjauhiku. Aku tidak akan melepaskanmu. Dengan kau melepas cincin ini bukan berarti kau bisa bebas pergi dariku. Akan ku simpan cincin ini dan aku pastikan akan ku pakaikan kembali ke jari manismu" ucap Vrish dengan senyum miringnya yang dingin.


"Cari tahu tentang pria yang bernama Pra..Prayoga" titahnya pada seseorang utusannya di seberang telepon sana. Dia melakukan panggilan telepon dan memerintahkan seseorang untuk menyelidiki Prayoga. Ada hubungan apa dengan Violetta tunangannya itu. Sehingga tunangannya melepaskan cincin pemberiannya. Kemudian dia menutup panggilan teleponnya.


__ADS_2