Pacar Online Yang Tertukar

Pacar Online Yang Tertukar
Bab 31 Rena Hamil


__ADS_3

Waktu berlalu begitu cepat. Sudah dua bulan ini, Rena belum ada kabar sama sekali. Vio selalu berusaha mencarinya dengan koneksinya. Rena termasuk anak yang cerdas. Dulu di sekolah selalu juara. Antara Vio dan Rena beda tipis soal juara tapi mereka bukan ingin menjadi saingan namun saling memotivasi satu sama lain. Bagi Rena dan Vio prestasi itu sebuah bonus. Selama Rena meninggalkan kotanya, usahanya dikelola oleh Lili asisten Vio. Dan kini berkembang sangat pesat. Sudah membuka dua cabang usaha itu dikelola Vio. Bukan karena dibantu Vio soal keuangan namun teknik pemasarannya yang sangat diluar nalar. Usaha itu akan dikembalikan kepada Rena setelah kepulangannya.


"Siapa siiiihh yang telepon terus ahhh. Ganggu orang mau tidur aja" dering telepon sedari tadi memang membisingkan pendengaran Vio. Apalagi hari sudah larut malam. Dengan malas-malasan Viopun mengangkatnya.


"Assalamu'alaikum. Siapa sih malam-malam gini ganggu tidur orang aja?".


"Wa'alaikumsalam, Vi" suara itu sepertinya tidak asing bagi Vio. Matanya seketika membulat sempurna.


"Ren..Rena!!" teriaknya padahal hari sudah larut. Vio terkejut mendapat telepon dari orang yang selama ini dia rindukan. Hanya Rena teman yang baik dan tulus bagi Vio. Maka dari itu Vio tidak punya teman. Karena baginya Rena sudah seperti kakaknya.


"Ouhhhh Rena sayang! Kemana saja kau! Kenapa tidak ngabari aku sama sekali? Ha? Apa kamu sudah lupa denganku? Dengan saudaramu yang imut ini? Katakan padaku mimpi apa kamu baru sekarang menelponku!" teriak Vio marah. Ingin memarahi sahabat kesayangannya itu namun hati berkata tidak bisa.


"Hahahaha..sudah kuduga kamu akan marah seperti ini. Maaf aku baru mengabarimu. Aku benar-benar menata hati dan pikiranku. Maafkan aku, Vi. Aku benar-benar tidak pernah melupakanmu. Kamu yang terbaik buatku. Aku sayang kamu, Vi" terdengar suara yang benar-benar tenang dan lembut seperti sedia kala.


"Aku juga sayang sama kamu, Ren. Lalu kapan kamu kembali? Apakah kau sudah siap? Sekarang katakan padaku bagaimana kabarmu? Apakah kau baik-baik saja?" tanya Vio tampak khawatir.


"Alhamdulillah aku baik-baik saja. Aku sudah siap untuk pulang. Dan aku tidak akan pulang sendiri. Akan ada yang menemaniku pulang. Tunggulah aku di Pusat Kota oke? Aku akan pergi menemuimu. Bye bye Vioku sayang. Mmmuaachhh" begitulah sahutan Rena diseberang sana. Tampak Rena sekarang bahagia.


"Hei!!!" ketika hendak bicara lagi teleponnya malah sudah ditutup oleh Rena.


"Huh! Sudah menjadi kebiasaan deh Rena ini. Selalu seperti itu. Kalau bukan Rena kupitak kepalanya sampe benjol" sambil memonyongkan bibirnya.


Jam dua dini hari, Vio menoleh melihat jam weker di atas nakas. "Sekalian aja ah tahajud. Makasih Ren sudah bangunin aku" gumam Vio lalu beranjak ke kamar mandi untuk berwudlu sambil tersenyum ikut bahagia mendengar suara Rena bahagia.

__ADS_1


"Tunggu! Eh..siapa yang Rena maksud itu ya? Siapa yang akan menemaninya? Apakah dia ketemu jodohnya disana? Ahhh, Rena akhirnya kamu menemukan tambatan hatimu lagi. Uhuyyyy...yeyyyy..awas kamu, Ren!" setelah berhenti selangkah, Vio melanjutkan langkahnya kembali untuk menunaikan ibadah sunahnya kepada Sang Khaliq.


Keesokan harinya.


Selama dua bulan itu, proyek kerjasama dengan perusahaan Vrish berjalan lancar dan cepat terselesaikan hanya tinggal menjalankan pembangunannya saja yang bisa sambil diawasi dari jarak jauh. Ya berkat ide Violah proyek itu berjalan dengan sangat cepat . Asisten Martin pun berulang kali memuji kehebatannya tentu saja memujinya dibelakang layar tanpa Vio ketahui dan orang lain kecuali dirinya. Karena baginya hanya tuan mudanyalah yang hebat. Hmm dasar asisten robot. Yang berjalan sesuai titah sang empunya alias bosnya.


Rencananya Vio ingin mengundurkan diri minggu depan. Kebetulan minggu depan adalah awal bulan sekaligus akhir tahun. Jadi segala laporan pekerjaan di akhir tahun nanti akan Vio laporkan dengan sedetail-detailnya nanti. Vio sudah berulangkali ditelepon papinya untuk segera mengelola bisnisnya yang ada di luar negeri asalnya, Andalusia. Hanya Vio yang bisa mengelolanya.


Begitu pula dengan kabar Prayoga. Sudah tiga bulan semenjak kejadian itu baik Prayoga ataupun Vio tidak saling menghubungi. Hanya Vio pernah mendengar berita bahwa seorang pengusaha mini market yang ada di Kota Surabaya itu sudah berhasil mengadakan event-event dibeberapa kota sebagai nara sumber pengusaha mikro yang sukses. Hal itu dilihat Vio sekilas. Karena Vio sudah berangsur untuk melupakannya. Apalagi diacara televisi itu ketika Prayoga tampil sedang didampingi seorang perempuan cantik yang tampak narsis bagi Violetta. Bagaimana tidak narsis? Itulah pertama kalinya Prisa memaksa Prayoga ikut tampil ditambah Prisa juga berperan penting dalam tiap usaha Prayoga. Berkat dialah usaha mini marketnya maju seperti sekarang. Prisa tampak antusias dibandingkan Prayoga.


Semua berkas sudah disampaikan ke asisten Martin dan Farel. Disaat menjelang makan siang setelah dari pagi sibuk mengurusi berkas dan design proyeknya tiba-tiba suara ponsel Vio berbunyi mengagetkannya.


Triiiing...triiiingg


"Halo assalamu'alaikum, Ren. Kamu dimana? Biar aku jemput sekarang" jawab Vio tampak antusias.


"Ya. Sekarang aku sudah di bandara. Jemputlah sekarang tuan putri" suara dari seberang ponselnya sangatlah lembut nyaman didengarkan.


Viopun pergi keluar meninggalkan kantor. "Pak, maaf aku ijin telat sebentar ya. Mau jemput Rena di bandara" ijin Vio pada Farel kepala divisinya di ruangan Farel dan didapati dengan anggukan kepala oleh Farel.


Vio segera melajukan mobilnya ke bandara. Saat tiba dibandara, dari kejauhan Vio melihat sosok yang dia kenal tengah berdiri di pintu luar. Membawa dua buah koper kecil dan besar serta tas jinjing dengan busana yang dipadu padankan gaun panjang dengan outer sepinggul serta topi warna putih serta kacamata yang membuatnya lebih santai dan rileks. Namun dibalik penampilan yang rileks itu terlihat jelas ketulusan dan kelembutan. Wajah itu bisa dinilai semua orang. Siapa lagi kalau bukan Rena.


Vio tidak melihat siapapun disana selain Rena yang menunggu dirinya sendirian. "Katanya ada yang menemaninya. Mana? Aku gak melihatnya" batin Vio sambil menyetir melajukan arahnya ke tempat Rena berdiri.

__ADS_1


"Tapi...tunggu! Apa itu?" gumam Vio tampak melihat sesuatu yang aneh pada diri Rena.


"Kamu akan memberikan penjelasannya padaku nanti, Ren" lanjutnya bergumam sendiri.


Setelah sampai, Vio turun dan menghampiri Rena.


"Hai! Apa kabar kamu sayang?" sapa Rena sambil memeluk Vio.


"Kamu yang apa kabar? Hm kamu berhutang penjelasan padaku nanti. Ayo masuk. Pegel ntar kaki kamu itu" ucap Vio gemas pada Rena sambil menyeret koper Rena dan memasukkan ke bagasi bagian belakang mobil. Mereka naik dan melaju meninggalkan bandara. Sepanjang perjalanan Vio selalu manyun memonyongkan mulutnya membuat Rena gemas. Wajah sahabatnya itu sangat menggemaskan. Bayangkan saja sudah baby face tubuhnya mungil wajah cantiknya yang berkulit putih bak boneka porselen itu tiada bandingannya bagi Rena.


"Tenang aja nanti aku jelaskan sejelas-jelasnya" kedip satu mata Rena pada Vio menggodanya.


Vio hanya bisa mengernyitkan keningnya heran melihat keceriaan di wajah sahabatnya itu. Tapi itu lebih bagus bagi Vio daripada melihat Rena bersedih begitu dalam.


Setelah sampai apartemen Vio, mereka masuk. Vio membawa Rena untuk menginap di apartemennya selama Rena membutuhkannya. Kamar yang lain dalam apartemen Vio sudah dibersihkan dan ruangan selalu harum meski tidak ditempati.


"Ini kamarmu. Maaf tempatku sangat sederhana bahkan sangat jauh sederhana" antar Vio ke depan kamar yang akan ditempati oleh Rena.


"Ini sudah lebih dari cukup Vi. Bahkan masih lebih mewah dari rumahku di sana" ucap Rena sambil mengelus lengan Vio.


"Sekarang kamu istirahat dulu. Aku tadi pagi masak. Kalau kamu mau bisa angetin sendiri. Pokoknya rumahku rumahmu. Semuanya ada di dapur. Kamu bisa menggunakannya. Atau mau aku belikan sesuatu?"


"Tidak perlu. Aku akan istirahat dl sementara kamu kembali bekerja. Aku akan menunggumu di sini. Dan aku akan menjelaskan semuanya padamu nanti" ucap Rena tersenyum lembut.

__ADS_1


"Baiklah. Kalau begitu aku kembali ke kantor dulu ya. Pulang nanti aku belikan camilan untukmu juga jabang bayimu ini" ucap Vio sambil mengelus perut Rena. Ya yang aneh pada tubuh Rena adalah perut buncitnya. Rena hamil.


__ADS_2