Pacar Online Yang Tertukar

Pacar Online Yang Tertukar
Bab 49 Pertarungan Vio


__ADS_3

Seminggu telah berlalu dari kejadian bertemunya Vio dan Prayoga di lorong sebuah supermarket. Kini semua berkas yang harus di selesaikan dalam satu bulan kini sudah 85% hampir selesai sepenuhnya.


Tok tok tok


“Masuk!” seru Vio mempersilahkan masuk.


Ceklek. Suara pintu terbuka memperlihatkan Ranti membawa setumpuk berkas.


“Selamat, siang, nona!” sapa Ranti.


“Hm” jawab Vio tanpa menatap Ranti dengan jari tangannya masih memijat keyboard dan pandangan mata mengarah pada layar laptop.


“Nona, nanti jam dua lebih seperempat kita ada janji ketemu klien di Restoran Black Plates. Asisten Tuan Lang baru saja menghubungi” kata-kata Ranti mengingatkan pada pemilik restoran mewah itu, keluarga Pramudya. Memang keluarga Pramudya tinggal di Pusat Kota. Dan sebagian besar perusahaan berada di Pusat Kota. Bisnis yang ada di Kota Besar hanya ada beberapa saja anak cabang. Namun sangat berkelas dan ternama di Kota Besar.


“Nona. Nona Atmadja” panggil Ranti pada Vio yang sedikit melamun dan tidak sadar akan suara panggilan Ranti sekretarisnya.


“Oh..Baiklah” Vio tersadar dari lamunannya.


“Siapkan apa saja semuanya. Aku akan memeriksanya dalam waktu sepuluh menit” lanjutnya. Vio memang cepat dalam memahami apa yang di abaca. Dengan IQ diatas rata-rata dia cepat mempelajari hal apa saja. Hampir semua hal dia mampu.


Ranti menganggukkan kepalanya. Dan segera kembali menyiapkan berkas untuk diberikan pada atasannya itu. Tidak lama kemudian Ranti kembali ke ruangan Vio dengan berkas yang diperuntukkan untuk janji temu dengan klien dari negeri sebrang. Perusahaan milik papinya yang sedang di handle oleh Vio saat ini adalah perusahaan bidang konstruksi. Lalu untuk perusahaan brandnya Ranti ikut mengurusinya dan untuk pekerjaannya di sini sebagian besar di handle sendiri agar Ranti bisa lebih focus ke bisnis desaignnya.


“Baiklah, sekarang kita kesana” Vio bangkit berdiri dari kursi kebesarannya lalu menuju pintu keluar dan masuk dalam lift yang diikuti Ranti.


Drrttt..drrrtttt

__ADS_1


“Ya. Baiklah” Ranti mengangkat panggilan dari sebrang telepon milik Vio, ponsel khusus untuk pekerjaan.


“Nona, ada masalah dengan brand kita di A&W Group. Kita harus ke sana sekarang. Bagaimana ini, nona? Sedangkan pertemuan hari ini dengan klien kita dari negeri Bambu itu tidak bisa kita cancel. Tuan Lang tidak bisa di nego nona” jelas Ranti yang tampak bingung namun tenang.


“Kamu pergilah ke A&W Group dl. Nanti aku menyusul. Aku pastikan aku akan kesana tepat waktu” jawab Vio tegas tanpa ragu.


“Baiklah, nona” jawab Ranti lalu melangkah terpisah dari Vio setelah keluar dari pintu lift. Vio diantar oleh Monti. Sedangkan Ranti diantar oleh driver perusahaan. Setelah Ranti menghubungi driver perusahaan seperti biasanya di saat Ranti pergi mengurusi perusahaan Keluarga Atmadja yang lain terutama perusahaan Vio pribadi. Ranti yang dapat diandalkan kinerjanya memiliki gaji yang sangat tinggi. Maka dari itu Ranti tidak akan menyia-nyiakan pekerjaannya itu meskipun terasa berat dipundaknya, tapi baginya dilakukan dengan enjoy membuatnya tidak masalah selama hidupnya tidak diganggu oleh laki-laki. Bukan berarti Ranti tidak normal. Awal mengikuti Vio Ranti hanya sseorang pegawai sekretaris seperti pada umumnya, namun karena terbiasa ikut Vio dia lama-lama mengikuti jejak Vio menjadi wanita dingin dan waspada seperti bosnya. Baginya bosnya adalah orang yang berjasa baginya, karena Vio sudah membantu kehidupan keluarganya dulu ketika seorang renteiner dengan kejam memperlakukannya selayaknya budak nafsunya. Saat itu Ranti masih remaja. Dan beruntunglah dengan kedatangan Vio tepat waktu itu menyelamatkan mahkota yang ia jaga jangan sampai terenggut oleh laki-laki yang bukan suaminya kelak. Berawal dari situ, Ranti sedikit demi sedikit belajar bela diri meskipun ilmu bela dirinya masih kalah jauh dari Monti dan Vio. Namun, jika untuk melindungi diri sendiri dari preman-preman kecil masih sanggup dia tangani sendiri. Hal itu tidak pernah dia katakana pada bos perempuannya itu, baginya dengan mengabdi pada pekerjaannya saat ini, adalah sebuah pembalasan hutang budinya dulu. Itulah janjinya dulu. Dan beruntunglah bosnya menerimanya bekerja sebagai sekretaris pribadinya dan menjadikannya orang kepercayaannya.


Sampai di Restoran mewah Black Plates, Vio segera menuju meja yang sudah di pesan oleh kliennya.


“Good afternoon, Mr. Lang! Sorry for my delay” ucap Vio pada kliennya dengan sedikit membungkukkan badannya dan menangkupkan kedua tangannya di depan dadanya dengan Bahasa Inggris.


“No problem. We also just arrived. Are you really alone, miss Atmadja?” jawab tuan Lang yang menatap Vio dengan tatapan aneh. Mata elang Vio yang menangkap ada yang tidak beres tetap bersikap tenang.


“Ya, saya sendirian. Bukankah anda bisa mentranslate pembicaraan kami?” tanya Vio pada orang yang berdiri di samping tuan Lang.


“Baiklah, tuan Lang terimakasih sudah mengundang perusahaan kami untuk bekerjasama dengan perusahaan anda. Hal apa yang membuat anda tertarik untuk bekerjasama dengan perusahaan kami?” tanya Vio sambil menyantap makanan yang baru saja disajikan oleh manager restoran langsung.


“Hahaha. Jangan tergesa-gesa nona. Awalnya saya pikir yang akan datang adalah tuan Atmadja. Namun tidak saya sangka sekarang yang memegang kendali adalah nona Atmadja. Hmm putri tuan Atmadja sangat cantik dan anggun. Sangat menarik” tawa yang misterius itu sudah dipahami Vio yang sudah berpengalaman menghadapi banyak karakter klien.


Berbeda dengan Vio yang masih dengan santi menyuapkan makanan ke dalam mulutnya dengan tanpa sungkannya namun terkesan berkelas dan elegan, tuan Lang menatap Vio dengan tatapan yang sulit di mengerti dan liar.


Selesai menghabiskan makanannya, Vio langsung berdiri dari kursinya. Dia merasa bahwa kerjasama ini tidak bisa dilanjutkan.


“Maaf, tuan Lang. Sepertinya kami menolak kerjasama ini. Terimakasih atas makan siangnya. Sangat enak suguhannya” segera Vio berjalan menuju pintu keluar dari ruang private VVIP. Namun segera dicegah beberapa laki-laki berperawakan tinggi dan kekar berbadan besar. Dengan sontak kekagetannya, Vio menoleh ke arah tuan Lang yang tersenyum miring dan jahat. Namun dapat dilihat tuan Lang, wanita dihadapannya itu terlihat sangat tenang dan sorot mata kejam. Jika dia sendirian berada di private room itu hanya dengan nona Atmadja, mungkin dia akan merasa ketakutan melihat tatapan kejam matanya. Tapi sekarang, dia tidak sendiri, dia bersama dengan para pengawal yang terlatih, jadi dia tidak perlu takut menghadapi seorang wanita.

__ADS_1


Dengan kode mata tuan Lang, para pengawalnya itu langsung menyerang Vio dengan ingin menangkap Vio. Vio yang sejatinya jago bela diri itu, langsung menendang dan memukul mereka ketika tangan kanannya akan membuka knop pintu private room. Vio sudah curiga saat masuk tiba-tiba seorang pengawal menutup pintu private room.


Tuan Lang tidak tahu jika wanita yang dia hadapi saat ini adalah buka sembarang orang yang mudah dihadapi. Satu persatu para pengawal tuan Lang dipukul habis-habisan dan kalah telak oleh Vio. Hanya satu pengawal yang sebanding dengan Vio yang tidak pernah menyerah. Dengan senjata rahasia, tuan Lang berusaha untuk melemparkan senjata rahasia kea rah Vio. Namun jangan salah, tingkat kewaspadaan Vio sangat tinggi, dia mampu menangkis senjata yang dilemparkan ke arahnya dari lengan tangan tuan Lang yang tersembunyi rapi. Dengan wajah sedikit pucat, tuan Lang kaget.


“Bagaimana bisa dia menangkis senjataku? Hmm ternyata kemampuannya sangat hebat” batin tuan Lang dengan bahasanya tentunya.


Vio yang melihat raut muka tuan Lang terlihat pucat itu, tersenyum smirk, melihat kekalahannya sendiri. Lima pengawal laki-laki kekar banding satu orang wanita berbadan langsing dan mungil. Dengan isyarat kode mata tuan Lang, pengawal itu berhenti menyerang. Segera Vio berhenti dan sedikit membungkukkan badannya lalu keluar dari restoran mewah itu.


Tanpa Vio sadari, ada yang memperhatikan dari CCTV dari ruang pengawasan CCTV di restoran itu tersenyum lebar. Dia adalah Vrish. Awalnya Vrish sudah curiga dengan kedatangan tuan Lang yang membuat janji di restorannya. Saat itu dia kebetulan datang melakukan sidak ke restorannya itu dan melihat daftar pemesan tamu VVIP. Disitu tertera nama tuan Lang. Nama pengusaha dari luar yang awalnya tidak dipermasalahkan. Namun saat melihat dari layar CCTV di ruang pengawasan CCTV itu, dia melihat tatapan mata liar dari tuan Lang setelah kedatangan tamunya yang ternyata Vio. Awalnya dia ingin membantunya, namun saat di lihat dari kamera CCTV, ternyata tunangannya itu tangguh juga. Tontonan itu membuat Vrish tersenyum puas. Membuat heran para pegawai yang ada di ruangan itu heran dan ikut merasa senang karena baru pertama kalinya melihat atasannya itu tersenyum. Meskipun kejadian itu hanya sebentar saja.


Vio yang merasa tenang itu, kembali berjalan menuju ke arah parkiran mobilnya yang dikemudikan oleh Monti.


“Nona, apakah anda baik-baik saja?” tanya Monti melihat punggung tangannya lecet tergores cakaran dari lawannya tadi.


“Maaf, nona, saya tidak tahu apa yang terjadi di dalam” lanjut Monti merasa bersalah.


“Tidak apa-apa. Bukankah aku yang memintamu tadi untuk tidak mengantarkanku ke dalam?! Sudah, ayo kita ke A&W Group. Kasihan Ranti” jawab Vio berjalan masuk ke dalam mobil saat dibukakan pintu mobil oleh Monti. Monti hanya sedikit membungkukkan badannya lalu menutup kembali pintu mobil dan segera melajukan kendaraannya meninggalkan pelataran Restoran Black Plates. Restoran yang didominasi warna hitam dan abu-abu.


Setelah tiga puluh menit perjalanan, mereka berdua sampai di perusahaan A&W Group. Kali ini Vio membiarkan Monti ikut mengawalnya. Setelah Vio dan Monti berjalan ke arah dimana Ranti dan manager Albert bersitegang di dalam ruang rapat A&W Group itu. monti yang berjalan di belakang Vio itu mengundang banyak tatapan mata kagum dari para pegawai wanita di sana. Monti memang laki-laki kekar dengan tubuh atletis dan berwajah tampan. Hanya kulitnya yang kecoklatan itu menambah kesan seksi bagi par wanita. Namun tidak bagi Vio. Di hati Vio tidak ada perasaan apa-apa terhadap bodyguardnya itu. Hati Vio sudah mati.


Setelah sampai di ruang rapat dan masuk, semua orang terdiam. Dengan aura yang kejam dari Vio, membuat banyak orang bergidik ngeri saat bertatapan dengan sorot matanya. Lalu pikiran mereka teralihkan dengan keberadaan mereka yang berada di perusahaan tempat mereka berkerja di perusahaan atasannya sendiri.


“Nona” sapa Ranti.


“Jika kalian merasa bahwa brand kami yang melakukan kesalahan. Terjadi pemalsuan terhadap brand kami, maka kami akan melakukan cek ulang dan menindak tegas karyawan kami. Namun ketika kami menemukan sesuatu yang janggal, maka kami juga akan menindak tegas terhadap perusahaan kalian ini. Kami bahkan mampu membeli perusahaan bosmu ini. Katakan pada bosmu tuan Albert, bahwa kami akan menunda melakukan pembuatan brand kami untuk acara fashion kalian sampai kami menemukan siapa yang berani membuat kekacauan ini. Permisi” setelah mengucapkan itu, Vio berjalan menuju pintu keluar ruang rapat dengan langkah lebar dan diikuti oleh Ranti dan juga Monti. Saat mereka keluar dan berjalan ke arah lift turun, masih terlihat rasa kagum dan banyak mulut menganga menatap Monti. Ranti yang merasa sadar melirik ke arah Monti laki-laki yang berjalan di sampingnya.

__ADS_1


“Tidak usah ikut menatapku seperti mereka” kata-kata datar Monti yang tiba-tiba itu mengagetkan Ranti itu tanpa menoleh ke Ranti. Tanpa di ketahui mereka berdua, Vio mendengar dan melirik dari sudut ekor matanya, dan tersenyum tipis.


__ADS_2