Pacar Online Yang Tertukar

Pacar Online Yang Tertukar
Bab 20 Kembali bekerja


__ADS_3

Tak terasa waktupun bergulir begitu cepat. Vio harus kembali bekerja. Waktu cutipun habis. Sudah seminggu Vio ijin sebenarnya Vio ingin berangkat tiga hari yang lalu tapi keadaan tidak memungkinkan. Jadi dia minta ijin tambahan ke Farel karena sahabatnya lebih membutuhkannya.


Tiket pesawat sudah dipesan jauh-jauh hari lewat online. Kini saatnya Vio mengepak beberapa pakaian yang dia perlukan saja karena di apartemen sederhananya sudah banyak pakaian. Sebenarnya hari ini hari yang membuatnya bahagia karena sudah akan berangkat kerja berkutat dengan hobinya. Selain dia jadikan profesinya hal mendesain itu merupakan hobinya semenjak kecil.


Tok tok tok


Ceklek


"Vi.."


"Iya, mi. Ada apa?" Vio menoleh menatap mami yang sudah masuk kamar Vio setelah mengetuk pintu.


"Resign aja, Vi. Kamu bisa membantu papi mengelola perusahaan papi" bujuk mami memberengut.


"Mami, maafin Vio. Vio masih suka kerja cari uang sendiri. Vio gak mau bergantung sama papi terus. Vio ingin merasakan seperti papi. Bertanggung jawab pada diri Vio. Jika nanti sudah waktunya Vio kembali pasti Vio akan kembali membantu mengelola perusahaan papi. Bukankah sudah dibantu sama kak Dewa?!". Dewa adalah asisten kepercayaan Pak Atmadja. Dewa masih muda usianya 32 tahun. Statusnya sudah menikah dan sudah memiliki seorang gadis mungil berusia 2 tahun yang sedang lucu-lucunya. Dari sekian banyak asisten papi, hanya Dewa yang dipercayai papinya Vio membantu mengelola semua perusahaan Atmadja.


"Tapi kan kamu anak mami papi satu-satunya kan. Jadi bagaimanapun juga semua yang akan meneruskan usaha papi ya kamu, Vi" ujar mami sedih.


"Iya, mi. Vio tahu kok. Tapi untuk saat ini biarkan Vio berkelana dulu ya. Ihhh...mami jelek kalo manyun gitu" sambil mencubit pipi mami supaya mami tersenyum.


"Kualat loh kamu nyubit mami" sewot mami menangkis tangan Vio.


"Mami masa sama anak sendiri bilang gitu. Mami, omongan itu doa loh. Mami mau anaknya kualat beneran?!" jawab Vio cemberut gantian.


Mami yang melihat itu pun tertawa melihat wajah anak gadisnya yang lucu.


"Kenapa wajahmu tidak berubah ya, nak? Dari bayi hingga sekarang masih sama. Eleh eleh mami jadi kangen sama kamu waktu masih bayi. Aduuuhh bayinya mami udah gede juga nih. Bikin kangen terus nih" ucap mami sambil memeluk Vio dan memperlakukan Vio seperti anak balita saja.


"Ihh mami. Vio ga suka diginiin. Kayak anak kecil tahu gak mi" lepas Vio dari pelukan maminya.


"Assalamu'alaikum, mami, Vio" suara papi menyapa dari lantai bawah.

__ADS_1


"Mi, papi sudah pulang. Ayo kita turun" Vio segera bergegas berlari menuju papinya berada. Laki-laki cinta pertamanya. Laki-laki yang selalu dia rindukan dan puja.


"Hati-hati, nak. Jangan lari ah. Nanti jatuh loh" peringatan papi selalu seperti itu masih sama seperti waktu Vio masih kecil.


Kemudian Vio langsung meluncur memeluk papinya dengan erat dan mencium aroma tubuh papinya yang selalu harum dan maskulin. Segar dan menyejukkan bagi Vio.


"Wa'alaikumsalam. Papi beneran nih ninggalin pekerjaan papi buat Vio?" Vio bertanya sambil mendongak dan masih memeluk papinya.


"Iya dong. Bahkan papi akan ada rapat jam 2 siang nanti. Tapi papi batalkan demi tuan putri cantiknya papi ini" ucap papi dengan mentowel hidung Vio.


Kemudian mereka berjalan menuju ruang makan untuk makan siang. Kemudian mengantar Vio ke bandara. Sebenernya mami ingin mengantarkan Vio namun Vio tidak mengijinkan. Bagi Vio perjalanan jauh itu sangat membuat capek mami papinya nanti. Meskipun bisa naik pesawat pribadi namun Vio lebih senang naik pesawat seperti orang-orang pada umumnya. Lebih seru dan asyik.


Di Pusat Kota.


Akhirnya Vio kembali menghirup udara segar di Pusat Kota. "Finally. Sampai juga di sini. Pekerjaan..i'am coming..." seru Vio dengan menghela nafas panjang-panjang.


Ting tong


Ceklek


"Surpriiise" Siska pun terkejut mendapati Vio sudah ada di depan matanya. Terharu dengan kedatangannya yang tiba-tiba Siskapun memeluk Vio erat begitu pula Vio membalas pelukan hangat Siska yang sudah seperti kakak perempuan baginya.


"Assalamu'alaikum" salam Vio begitu memasuki rumah Siska.


"Hmm kenapa gak kasih kabar dulu? Kan kakakmu bisa menjemputmu di bandara" ujar Siska sembari menutup pintu.


"Kemarin aku udah chat kak Farel. Tapi kak Farel sibuk katanya" jawab Vio sembari duduk di sofa dan merebahkan tubuhnya di sana.


"Tapi tahu kan kalo kamu kembali saat ini?" tanya Siska dengan membawa minuman jus jeruk kesukaan Vio.


"Enggak sih, kak. Kak Farel belum tahu kalo aku balik hari ini. Karena aku gak bilang kalo balikku hari ini. Aku hanya bilang mau balik, gitu" ucap Vio santai sembari duduk dan meminum jusnya.

__ADS_1


"Ahhh segarnya" Vio meminum jusnya hingga tandas.


"Ucapin alhamdulillah" tegur Siska menampilkan senyum hangatnya.


"Iya..hehee..alhamdulillah" Vio menampilkan deretan gigi putihnya yang rapi.


"Kamu ini bukannya langsung pulang ke apartemenmu malah ke sini. Gimana kabar mami sama papi?" tanya Siska menggelengkan kepalanya heran sama Vio. Habis minum jus hingga tandaspun jemari lentik Vio langsung mencomot camilan didepannya sambil rebahan. (Jangan ditiru ya gaesss 🤭)


"Kakak gak merindukan aku? Tapi aku merindukan kakak. Aku mau nginep di sini boleh kan, kak? Tentu saja boleh dong. Haha..lagi pula aku bawain kakak oleh-oleh asli Kota Besar loh, kotaku. Yang terkenal dengan ciri khas oleh-olehnya. Apa hayo tebak?!" Vio langsung terperanjat memposisikan tubuhnya agar duduk dengan nyaman tentu saja sambil menaik turunkan kedua alis melengkungnya.


"Mami papi alhamdulillah baik sehat kok kak. Lalu gimana debaynya? Beberapa waktu lalu sebelum aku pulang kan sempet sakit. Sekarang bagaimana?" sambil menyomot camilan lagi dan merebahkan lehernya ke sofa.


"Tentu saja boleh dong. Rumah jadi rame kan kalo ada kamu. Memangnya oleh-oleh apa sih yang kamu bawa?" tanya Siska kemudian.


"Wah parah nih kak Siska. Masak Kota Besar kakak tidak tahu ciri khasnya?" memicingkan matanya lalu kembali mengambil camilan.


"Bukankah terkenal dengan makanan Sop Seafoodnya yang rasanya tiada duanya itu?" jawab Siska. Ya Kota Besar memang terkenal dengan makanannya terutama Sop Seafoodnya. Yang rasanya terkenal endulita.


"Ya bener sih. Tapi ada lagi, kak. Ah kakak kirain tahu. Eh tapi tidak banyak orang yang tahu sih. Sebenarnya hanya beberapa orang ternama di sana saja yang tahu kak. Hehe.." kepalanya dijitak oleh Siska.


"Kak, kenapa sih sekarang suka jitak kepalaku. Ketularan sama kak Farel iihh" rengeknya manja.


"Teng teng...nih buat Kak Siska. Dan ini buat debaynya nanti" Vio memberikan hadiah itu pada Siska sambil menepuk perut Siska yang sudah membesar.


"Woww..cantik sekali. Alhamdulillah ini yang kakak inginkan. Vioooo kamu tahu saja kalo kakak lagi pengen barang ini sih" ujar senang Siska mendapatkan hadiah dari Vio berupa gelang emas berkombinasi giok berwarna hitam mengkilap berumur ratusan tahun. Begitu pula buat debaynya nanti. Gelang emas itu couple ibu dan anak. Cantik sekali. Ya Kota Besar terkenal dengan emas bermata giok langkanya atau biasa disebut warga asli Kota Besar black jadeite. Maka dari itu hanya orang-orang seperti keluarga Atmadja atau ternama saja yang mengetahuinya. Konon katanya giok itu menandakan kebahagiaan dan keberuntungan. Disitu juga ada sertifikat keasliannya. Vio sudah memesannya jauh-jauh hari begitu mendengar Siska hamil.


"Hadiah ini terlalu mahal, Vi. Aku gak bisa menerimanya. Justru aku khawatir akan hilang, Vi" tolak Siska kemudian.


"Barang yang sudah diberikan tidak boleh dikembalikan. Kakak mau membuat Vio sedih. Kakak gak mau nih nganggep Vio adiknya kak Siska? Kak..." hela nafas panjangnya Vio.


"Kakak..harga gelang itu tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan kasih sayang kak Siska dan kak Farel. Aku mendapatkan kak Farel dalam hidup Vio itu sesuatu yang sangat berharga. Kak Farel begitu menyayangiku bahkan aku dianggap pengganti Mentari, almarhumah adiknya kak Farel. Itu yang selama ini aku ingin dapatkan, kak. Aku hanya putri semata wayang dari keluarga Atmadja yang menginginkan seorang kakak laki-laki. Dan sekarang aku mendapatkannya. Aku bersyukur, kak dan berterimakasih sama kak Farel tentunya juga sama kak Siska yang sudah menyayangiku sama seperti kak Farel. Aku sayang sama kalian berdua" peluk Vio tiba-tiba menangis dan disambut Siska dengan mengelus punggungnya terharu.

__ADS_1


"Dan sekarang bertiga bukan? Apa kamu lupa sama keponakanmu di dalam sini? Hemm?" lepas pelukan Siska sambil mengamggukkan kepalanya sebagai tanda menanyakannya kemudian memeluknya kembali.


Yaa begitu sempurna hidup Vio ya gaess. Tapi mungkin ini hanya ada di cerita disini. Hehe...


__ADS_2