Pacar Online Yang Tertukar

Pacar Online Yang Tertukar
Bab 21 Kembali ke Apartemen


__ADS_3

"Malam, kak!" sapa Vio kepada Farel tampak habis melaksanakan kewajibannya. Buktinya masih memakai mukenanya saat turun ke bawah.


"Hm" jawab cuek Farel.


Vio yang gak terima dicuekin itu berlari ke arah dimana Farel duduk bersandar kemudian duduk disebelah Farel dan menaikkan kaki kirinya.


"Helloooo, tuan perfect! Jahat sekali kau mengacuhkanku yang datang dari jauh tidak disapa dengan hangat malah dicuekin" seraya menatap tajam ke arah Farel.


"Kakak gak rindu nih sama adek kecilmu yang cantik ini?" lanjut Vio yang masih diacuhkan begitu saja sambil mengedipkan kedua matanya bermanja.


Bukan jawaban kata melainkan toyoran kepala oleh Farel lalu Farel berdiri dan naik ke atas untuk membersihkan diri.


"Heii, tuan kejam jutek dan lain sebagainya. Awas kau ya. Huft!" teriak Vio tidak terima namun menyerah juga hingga mendengus kesal.


"Pasti kelelahan tuh orang!" pikir Vio yang sudah mengetahui bagaimana watak dari Farel jika banyak pekerjaan.


Saat makan malam semua makan dengan hening karena sepertinya Farel banyak yang dipikirkan. Makan malampun sudah selesai. Kini ketika di meja makan, tiba-tiba Farel ingin bicara sama Vio.


"Ke ruang kerjaku sekarang" perintah Farel lalu bangkit berdiri dan diikuti Vio.


Setiba di dalam ruang kerja Farel, Vio bertanya "Ada apa, kak? Apa masalah kerjaan?"


"Duduklah baru bertanya" ucap Farel kemudian menyuruhnya duduk. Viopun menurutinya.


"Kamu tahu, Vi perusahaan cabang yang ada di Kota Elit? Disana membutuhkan tenaga yang handal. Direktur bagian pemasaran telah melakukan korupsi besar-besaran hingga merugikan perusahaan hingga milyaran. Kamu tahu kan maksudku?" lanjut Farel setelah 3 menit dalam keheningan dan yang pada akhirnya menghela nafas panjang.


"Aku tahu kakak akan dipindah tugaskan di sana bukan? Lalu apa yang kakak pikirkan? Pindah ya pindah saja" tebakan Vio memang tidak pernah meleset dengan tatapan tajam.


"Kamu kenapa seenaknya ngomong begitu? Kamu gak kasihan sama Siska?" Farel balik bertanya.


"Kakak ini kok ribet banget sih. Ya tinggal diajak pindah lah. Lagipula kan kak Siska itu sedang mengandung yang sebentar lagi akan melahirkan butuh suami siaga bukan adik siaga" sewot Vio yang tahu maksud Farel. Namun itu hanya untuk ngerjai Farel. Mana mungkin jika Siska tidak mau ikut terus ditelantarkan Vio. Pastilah Vio akan turut menjaganya meskipun tidak bisa full time.


"Kamu adik yang gak ada pekanya sama sekali" dengus Farel kesal.


"Kak, kamu tahu aku kan gimana. Ngapain kakak tanya-tanya seolah tidak percaya padaku sama sekali" sewot Vio lagi.


"Tapi kakak harus membicarakan hal ini pada kakak ipar dulu" lanjut Vio.


"Kamu tahu siapa nanti yang akan menggantikan posisiku sebagai kepala divisi pemasaran?! Kalo aku menginginkanmu, Vi. Hanya saja keputusan itu ada ditangan pimpinan perusahaan" ucap Farel.


"Ah tidak mau. Justru aku kembali karena mau membicarakan hal ini padamu, kak"

__ADS_1


"Apa yang ingin kamu bicarakan padaku?"


"Ck..mami memintaku buat membantu papi mengelola perusahaannya. Kakak tahu kan perusahaan papi ada dimana-mana. Siapa lagi kalo bukan aku yang membantunya?!" terang Vio.


"Eh, kak, kakak aja ya yang membantu papi ya? Kakak kan udah jadi anak kesayangan mami sekarang. Jadi tidak ada yang salah kan ikut membantu" lanjut Vio.


"Gak. Aku hanya ingin fokus ke pekerjaanku saat ini. Lagi pula aku ingin membangun usaha sendiri. Kamu tahu kan usaha wedding organizer yang sementara ini dikelola kakak iparmu itu? Semakin hari semakin berkembang. Mungkin ini rejeki anak kami. Tapi aku ingin fokus ke situ saja. Kasihan Siska. Nanti tugasnya hanya akan mengurusi anak dan rumah saja biar aku yang kerja. Hanya masih membutuhkan banyak modal dan siapa yang akan mengelola jika Siska ikut pindah? Tempat itu sangat Jauh, Vi?"


"Lalu bagaimana dengan mutasi itu? Apakah kakak ragu? Atau mau diambil? Tapi jika tidak diambil maka sebagai sanksinya kakak pasti diturunkan jabatannya"


"Ya. Mau bagaimana lagi?"


"Sudah ah aku mau tidur capek. Semua keputusanmu itu yang terbaik. Semangat kak!" Vio berusaha menyemangatinya.


Ceklek


Vio dan Farel terkejut melihat Siska membuka pintu dan masuk dengan raut wajah yang sedih namun tetap tersenyum.


"Ambil saja. Nanti kapanpun aku bisa menyusul jika aku sudah melatih Mira untuk mengelolanya dan berjalan dengan baik. Jangan khawatirkan aku. Disini juga ada keluargaku ada mama juga Vio. Nanti selama kamu di sana aku akan minta mama untuk menemaniku di sini. Bagaimana?" ucap Siska dengan senyum terpaksa. Padahal selama kehamilan Siska tidak mau berjauhan dengan suaminya itu.


Keputusan sudah diambil, Siska akhirnya akan menyusul setelah urusan disini dapat tertangani dengan baik.


Keesokan harinya. Sebelum ke kantor, Vio langsung ke apartemennya. Mempersiapkan dirinya. Apartemen yang sederhana namun berkesan bersih dan tertata membuat nyaman bagi siapa saja yang melihatnya.


"Iya, Bu" jawab Vio sembari melangkah ke dalam kamarnya.


"Ahh, harum sekali" mencium aroma harum kamarnya.


Selang 2 jam Vio berangkat menuju kantornya. Tumpukan berkas sudah menantinya. Seminggu lagi jadwal kerjasama dengan Abadi Group harus sudah tersusun rapi.


"Hah. Seminggu lagi bakalan ketemu sama si pria aneh itu. Ternyata pria aneh itu dingin juga..." tiba-tiba terbesit wajah pria aneh itu. Si pria aneh itu sedang menatapnya tajam.


Vio memukul-mukul kepalanya. "Kenapa dia muncul?" dia teringat akan tatapan tajam Vrish sewaktu di acara anniversary mami papinya.


Saat itu..


"Kemarilah, nak perkenalkan ini keluarga Pramudya. Dan dia lelaki yang tampan itu adalah putra bungsu dari keluarga Pramudya, namanya Vrish" kenalkan papi kepada Vio.


"Selamat ya, om, tante atas anniversarynya. Semoga langgeng dan dilimpahi kebahagiaan" ucap Vrish menjabat tangan disambut dengan pelukan papi Vio.


"Terimakasih, nak. Begitu juga denganmu" sahut papi dilanjutkan uluran tangan maminya Vio.

__ADS_1


Kemudian Vrish lanjut menatap Vio dengan dingin kemudian tersenyum sekilas dan menganggukkan kepala kepada Vio.


"Hai!" sapa Vrish.


"Hai!" jawab Vio.


"Hahahaha..." tawa papanya Vrish. Hingga membuat canggung Vio dan Vrish. Membuat mereka menundukkan kepalanya.


"Sudah lah Pak Pramudya jangan menggoda mereka. Biarkan mereka berinteraksi sendiri" Papi Vio.


"Baiklah" jawab Pak Pramudya dengan senyuman riang.


Perkenalan singkat itu rupanya membawa Vrish terpaku sejenak. Tidak di Kota Surabaya dan Pusat Kota bahkan di Kota Besarpun dia bertemu kembali. Apakah ini pertanda jodoh? "Ah tidak! Cewek aneh yang menyebalkan. Ngatain orang sesuka hatinya ini ternyata anak dari teman papa. Bahkan rekanan di dunia bisnisku. Kenapa dunia serasa sempit ya?" batin Vrish termenung.


Drrrttt drrrtttt


Vrish mengangkat ponselnya. Dilihatnya tertera nama Prisa. (Hah ternyata ya gaess nomornya belum dihapus sama Vrish😪)


Setelah berpikir agak lama, Vrish berdiri dan ijin meninggalkan aula. Dan mengangkat panggilan itu ketika sudah berada di luar.


"Hm" suara Vrish.


"Vrish kumohon biarkan aku menjelaskannya padamu semuanya. Terjadi kesalahpahaman, Vrish. Tolong percayalah padaku" suara wanita dari sebrang telepon.


"Tidak perlu" tegas Vrish lalu menutup panggilan teleponnya.


Kemudian berbalik bermaksud masuk kembali.


Brukkk


Dadanya menabrak seseorang tanpa dia lihat. Kemudian terdengar suara merdu seorang gadis.


"Apa kau tak lihat saat berjalan?"


Suara itu suara Vio. Entah kenapa suara itu sangat nyaman didengar oleh Vrish.


Hanya tertegun Vrish menatap Vio hingga menoleh memperhatikan kepergian Vio kemudian tersadar dengan suara deheman dari Martin.


"Ehemm!"


"Ada apa? Kenapa kamu kemari?" tajam sorot mata Vrish.

__ADS_1


"Tuan, saya sudah menyelidiki riwayat dari Prisa" jawab Martin.


"Hm" kemudian Vrish melangkah masuk dan bergabung kembali dengan keluarganya. Martin pun pergi.


__ADS_2