Pacar Online Yang Tertukar

Pacar Online Yang Tertukar
Bab 71 Kembali ke Kota Kenangan


__ADS_3

Setelah menempuh perjalanan panjang, akhirnya mereka tiba di bandara Kota Besar. Setelah turun dari pesawat, Vio, Ranti dan Re menghirup udara segar kota penuh kenangannya itu.


“Ehhhh haahhhh! I am coming” ucap Vio lirih. Setelah itu berjalan mengikuti langkah keluarganya. Vio sangat senang melihat Re selalu melengkungkan bibirnya lebar-lebar itu dan berlari kecil sambil berseloteh ria bersama opa omanya di barisan paling depan.


“Is this really our city, Opa?” tanyanya menggunakan bahasa Inggrisnya dengan lancar pada opanya. Dia selalu menggunakan bahasa Inggrisnya dengan lancar selama hidup di luar negeri karena lingkungannya di sana. Hanya dalam rumah saja bersama Vio dan Ranti menggunakan bahasanya sendiri.


“Yes, of course” jawab Opanya. Lalu mereka berjalan menuju mobil yang sudah dipersiapkan oleh Monti.


“Apa kabar, Monti?” tanya Vio setelah melihat Monti semakin terlihat segar dan semakin tampan setelah lima tahun kepergiannya. Sebenarnya dulu Monti diperintah papinya untuk mengikuti Vio saja, namun Vio mengatakan bahwa kinerja Monti sangat dibutuhkan di dalam negeri karena perusahaannya sangat membutuhkannya. Kehidupan Monti juga sudah berubah semenjak berangkat umroh bersama dengan kedua orang tuanya yang memintanya untuk menemaninya.


“Alhamdulillah baik, Nona. Maaf, Nona, Mama dan Papa saya menitipkan pesan terimakasih banyak berkat bantuan Nona Muda, mereka berdua bisa berangkat umroh” ucap Monti dengan senyum tipis. Dan pernyataan itu mendapat senyuman hangat dari nona mudanya, Violetta.


“Tidak perlu sungkan begitu. Sampaikan salamku juga. Jika memerlukan sesuatu sampaikanlah insyaa allah kami akan membantu selama kami mampu” mendengar perkataan nona mudanya yang sangat rendah hati itu hati Monti merasa bersyukur memiliki seorang majikan dari keluarga miliarder namun selalu rendah hati kepada siapa saja kecuali musuhnya ya.


“Terimakasih, Nona” Monti menganggukkan kepalanya lalu menutup pintu mobil dan segera berjalan berputar ke bagian kursi kemudi.


“Assalamu’alaikum, Paman. Aku Re, anak kesayangan semua orang. Apakah paman sudah punya pacar?” pertanyaan Re yang polos itu membuat semua orang dewasa di dalam mobil itu tercengang kaget dan gemas tertawa. Hanya Monti yang merasa ketegangan itu sejenak.


“Be..belum, Tuan Muda” jawab Monti gugup. Justru hal ini mengundang tawa banyak orang di situ.


“Kenapa kamu terlihat gugup, Mon? apakah ada seseorang yang kamu sukai di dalam sini?” goda papi hingga membuat raut wajah Monti bersemu merah hingga ke telinga. Monti kembali menenangkan dirinya yang tiba-tiba gugup oleh sebuah pertanyaan seorang anak kecil seperti tuan mudanya yang selama ini dia dengar bahwa tuan mudanya sangatlah cerdas.

__ADS_1


“Tidak, Tuan Besar” lalu dia mengemudikan laju mobil menuju mansion.


“Jika ada tidak masalah katakan saja. Biar aku yang melamarkannya untukmu” kata papi melirik ke arah Ranti. Papi tahu dengan tatapan Monti pada Ranti setelah melihat Ranti tiba. Papi yang melihat senyum tipis dan wajah sumringah Monti itu menatap dalam bodyguardnya yang kini menjelma asisten pribadi perusahaannya. Ternyata Monti sangat cakap bekerja di perusahaannya. Monti begitu cepat menguasai apa yang dia berikan jadi tuan Atmadja tidak perlu mendiktenya terlalu lama.


Kata-kata papi itu ditimpali mami.


“Iya. Katakan saja, nak. Kami akan mendukung pilihanmu”.


“Tapi Vio yang harus menyeleksinya terlebih dahulu. Apakah dia pantas atau tidak? Dan apakah gadis itu akan tetap mengijinkannya untuk tetap bekerja sebagai asisten kita atau justru tidak. Jika tidak maka sudah kupastikan akan ku tending dia” kata-kata Vio membuat terenyuh hati Monti. Dia merasa diperlakukan sebagai keluarga. Bukan seorang bawahan saja. Tiba-tiba bibirnya tersenyum bahagia.


“Lihatlah tiba-tiba dia tersenyum gembira. Paman, apanya yang lucu? Apakah Paman suka dengan ucapan mamiku?” pertanyaan polos Re selalu mengundang tawa semua orang.


“Itu karena kita semua adalah keluarga, sayang” jawab Vio yang paham dengan arti senyum bahagianya Monti. Syukurlah, dia merasa bahagia jika orang-orang disekitarnya itu merasa bahagia.


Tak terasa setelah perjalanan jauh menuju mansion dari bandara, kini mereka telah tiba di mansion.


“Alhamdulillah sudah sampai kita” ucap Oma lalu turun menggandeng tangan cucunya masuk mansion. Di depan pintu sudah menyambut banyak ART atau maid dengan senyuman hangat terutama Bi Ani dan Bi Ros. Mereka menyiapkan sambutan kecil untuk tuan muda mereka, Re dengan memasang banyak balon yang dibentuk beraneka macam dan penuh warna itu. Beruntunglah Re tidak pernah pilah pilah. Jadi dia selalu suka dengan apa saja yang membuat hatinya nyaman dan hangat.


“Horeee. Sekarang aku pulang. Terimakasih semuanya sudah menyambut aku, mami juga onty pulang. Semua dekorasinya bagus aku suangat menyukainya” ucap Re polos seperti anak seusianya.


“Aku bisa ketemu sama mama, papa dan nenek kan Oma?” celotehnya lagi dengan riang seorang anak yatim piatu itu membuat hati mami sedih dan bahagia. Sedih karena merasa anak sekecil itu sudah di tinggal oleh kedua orang tuanya yang meninggal dengan mengenaskan. Sedangkan dia merasa bahagia karena hidupnya sekarang semakin berwarna dengan kehadiran Re yang sangat tampan cerdas dan menggemaskan. Mereka para maid menyambutnya dengan bahagia dan terharu.

__ADS_1


“Sekarang kita ke kamar yuk. Membersihkan diri habis itu kita makan siang. Setelah itu Re mau tidak kita menjenguk mama, papa juga nenek?” ajak mami dengan tetap menggandeng tangan mungil Re dengan menaiki anak tangga satu persatu.


“Oma, rumah oma sama opa sangat besar dan indah ya tidak seperti di panggilan video. Rumah oma sama opa seperti istana” ucap Re yang membuat oma sama opa tertawa. Opa langsung menggendongnya dari belakang. Dia merasa gemas dengan cucunya itu.


“Kamu suka my boy?” tanya tuan besar Atmadja pada cucunya.


“Suka sekali Opa. Kenapa tidak dari dulu aku tinggal di sini saja bersama oma dan opa? Kenapa Re harus tinggal di luar negeri sama mami sama onty?” pertanyaan itu membuat hati tuan dan nyonya besar Atmadja itu bersedih. Lalu mereka dengan tenang menampilkan senyuman terbaik mereka.


“Karena mami selalu ingin berada dekat dengan kamu, sayang. Karena mami saaaangat mencintai kamu dan Re juga tidak bisa tidur jika tidak di peluk sama mami bukan?” jawaban itu mengundang Re tertawa.


“Hahaha..oiya ya Oma. Re sangat menyukai bau badan mami. Mami Re itu memang yang terbaik. Re sangat mencintai mami” ucapan polos Re itu membuat hati Vio yang mendengarnya dari belakang saat dia memasuki pintu mansion seketika menitikkan air mata. Ranti yang tahu semuanya itu juga merasa sedih melihat nona mudanya itu menangis. Dia tahu persis bagaimana cara nona mudanya itu merawat anak dari sahabatnya itu yang penuh dengan cacian dan makian banyak orang yang membencinya bahkan nona mudanya tidak pernah menganggap itu semua. Karena yang terpenting bagi nona mudanya hanyalah selalu membuat bahagia putranya itu.


Monti yang melihat pujaan hatinya masih berdiri terpaku itu kemudian menghampirinya mencoba untuk mengambil barang-barang bawaan tuannya itu. Tanpa sengaja tangan Monti menyentuh tangan Ranti. Hal itu membuat hati Ranti berdesir dan gugup seketika. Wajahnya yang bersemu merah itu kini mengalihkan pandangan Vio. Semenjak Ranti memperhatikan Vio tersadar dan mengusap air matanya yang melihat mami, papi dan putranya menaiki tangga satu persatu naik ke lantai atas itu.


“Bagaimana tawaran papi? Berlaku’kan? Jika kau tak bergerak cepat maka akan ada yang mengkhitbahnya. Selamat menikmati hari-harimu yang menyedihkan itu. Hahaha” ucap Vio langsung pergi meninggalkan mereka berdua di pintu utama yang masih berdiri membeku. Kemudian Vio pun menaiki tangga ke lantai atas.


Setelah mendengar ucapan Vio itu, mereka berdua menjadi gugup dan wajah mereka menjadi merah sehingga memalingkan wajah mereka secara berlawanan.


"Dasar, Nona Muda. Awas kau, Nona. Tapi benar juga perkataan nona muda" batin Monti merasa kesal karena sudah dari bandara tadi nona mudanya menggodanya.


“Hei! Apa kalian akan terus berdiri di situ tanpa menaruh barang-barang nona dan tuan?” sekarang Bi Anipun ikut-ikutan nona mudanya menggoda mereka lalu pergi sambil tersenyum. Bi Ani yang sedari awal sudah memperhatikan sikap Monti dan Ranti saat mengambil barang-barang bawaan tuannya itu tampak salah tingkah dan malu-malu maka dia tak segan menggodanya. Kini Ranti sungguh ingin menutupi wajahnya dengan sesuatu yang penting tidak terlihat oleh Monti, lelaki yang selama ini telah menghuni hatinya.

__ADS_1


Lalu ranti pun pergi meninggalkan Monti mengikuti arah Bi Ani tadi. Karena semua barang bawaan nonanya sudah beralih ditangan Monti. Lalu kini Monti juga berjalan menaiki tangga ke lantai atas untuk menaruh koper ke lantai atas di ruang keluarga.


__ADS_2