
Hari silih berganti berlalu begitu cepat. Kini kaki Vio sudah pulih. Dengan rekomendasi salep obat dokter Issa dari temanny yang ada di luar negeri, kini memar di kaki Vio tampak sudah pulih kembali dan Vio mampu berjalan normal seperti sedia kala.
"Terimakasih, dokter Issa. Kau sungguh dokter terbaik yang pernah aku kenal. Kini kakiku cepat pupih dalam hitungan hampir satu minggu saja" ucap Vio gembira setelah Issa memeriksanya.
"Sudah kubilang berkali-kali panggil aku Issa saja. Kenapa kau susah sekali memanggil namaku saja?" seru dokter Issa.
"Kau kan sedang bekerja memeriksaku. Itu artinya kau seorang dokter bukan?!" jawab Vio menatap senyum dokter Issa yang cantik itu.
"Ya ya ya..kalau ngomong sama kamu tidak bisa didebat" ucap dokter Issa sambil membereskan peralatan medisnya.
"Sebentar lagi persidangan mereka akan dilaksanakan. Ku sarankan kau harus hadir" ucap dokter Issa bermaksud menggodanya.
"Tentu saja aku hadir. Karena akulah korbannya. Kau ini aneh" ucapan Vio itu disambut cengiran kuda dokter Issa.
"Baiklah. Karena sudah selesai maka aku akan kembali ke rumah sakit. Kakimu sudah pulih begitu cepat. Jika nanti kau merasakan nyeri atau apapun itu, teleponlah aku" dokter Issa pamit kembali ke rumah sakit.
"Iya. Aku akan mengganggumu. Bersiap-siaplah" balas Vio menggoda dokter Issa.
"Assalamu'alaikum. Hai!" sapa Vrish pada Vio dan Issa saat Vio mengantarkan dokter Issa sampai ke pintu depan.
"Wa'alaikumsalam. Hai!" balas dokter Issa dan Vio hampir berbarengan.
"Kau ke sini untuk mengunjungi tuan putri?" goda dokter Issa pada Vrish. Bukannya mendapat balasan menyenangkan ataupun senyuman, Issa justru mendapatkan pelototan dari Vrish.
"Okay. Okay. Aku tahu. Tidak perlu kau melihatku seolah matamu hampir copot. Hahahaha" ucap dokter Issa tertawa lalu berlalu.
"Kalau copot maaf aku tidak bisa membantumu. Hahaha" lanjut Issa setelah berjalan mundur berbisik di telinga Vrish.
"Kamu sama dia memang sama saja!" gumam Vrish menggertakkan gigi-giginya.
"Ini undangan persidangan. Persidangan akan diajukan besok pagi. Apakah kau siap?" tanya Vrish yang setelah beberapa hari ini menjadi semakin dekat dengan Vio meskipun mereka masih tampak malu-malu.
"Siap. Bukankah aku harus siap kapanpun itu?" Vio bertanya balik pada Vrish.
__ADS_1
"Baguslah kalau begitu" jawab Vrish singkat.
"Ayo kita jemput Re pulang sekolah. Atau kamu di rumah saja?" ajak Vrish.
"Aku ikut. Pasti Re sangat senang. Sebentar. Masuklah dulu aku akan berganti pakaian terlebih dulu" jawab Vio. Kemudian Vio naik ke lantai atas ke kamarnya dan berganti baju. Tak lama kemudian Vio turun dengan tampilan sederhana berbalut gamis seperti anak remaja yang baru usia pertumbuhan.
"Ayo kita berangkat sekarang. Kebetulan mami sama papi ada urusan di luar jadi rumah terasa sepi" untuk menghilangkan kecanggungan Vio mengalihkan pembicaraan tentang mami dan papinya karena tatapan Vrish yang melihat dirinya tanpa berkedip.
"Emm. Ayo. Apakah kita jadi menjemput Re?" tanya Vio gugup.
"Oh ya ayo" jawab Vrish salah tingkah.
Lalu mereka masuk ke dalam mobil milik Vrish. Vrish melajukan kendaraannya dengan kecepatan sedang karena saat ini dia ingin berlama-lama berada dekat dengan Vio sang pujaan hatinya yang kini duduk di sampingnya.
"Emm nanti setelah menjemput Re kita mampir dulu ke taman bermain. Kita ajak Re pasti dia menyukainya. Lalu..setelah itu kita fitting baju buat pernikahan kita minggu depan. Sekalian kita ajak Re. Bagaimana?" ucap Vrish agak gugup mengawali pembicaraan. Biasanya dia akan berdebat dengan wanita di sampingnya tapi tiba-tiba dia menyatakan perasaannya waktu di rumah sakit dan mengkhitbahnya di depan kedua orang tuanya. Dia merasa bahwa dirinya saat ini sangat lucu.
Vrish yang entah sejak kapan mendengar suara manja wanita pujaannya ini, merasa bahagia dan membuatnya sebagai candu. Suara lembut dan hangat menurut Vrish. Entah kenapa sekarang saat mau tidur Vrish selalu menelpon Vio hanya untuk mendengar suara Vio saja. Baru setelahnya dia bisa tidur. Lama dalam perjalanan, akhirnya mereka sampai di sekolah Re.
"Mami! Akhirnya mami sama paman menjemput Re sekolah. Re senang sekali. Akhirnya Re bisa seperti teman-teman Re yang lainnya" teriak Re saat menjumpai mami dan Vrish menjemputnya.
"Selamat siang Tuan Muda, Nona Muda. Syukur alhamdulillah kalian menjemputnya. Dan baru kali ini saya melihat wajah Re penuh dengan senyuman bahagia. Semoga maminya Re dan Tuan, bisa menjemputnya kembali di lain hari. Itu akan menjadi motivasi paling tinggi buat anak" sapa ibu guru Re.
"Selamat siang Bu Ria. Insyaa allah akan kami usahakan untuk menjemput Re. Terimakasih atas hari ini Bu buat putraku" senyum mengembang di wajah Vio. Namun berbeda dengan raut wajah Vrish. Tampaknya Vrish tetap memasang wajah dingin dan datar tanpa senyuman di wajahnya.
"Sama-sama Mami Re" jawab guru Re.
"Salim dulu sama bu Guru, sayang" sahut Vio pada Re. Lalu Re salim sama gurunya.
"Assalamualaikum Bu Ria. Re pulang dulu ya. Sampai jumpa besok pagi" pamit Re kemudian berlari ke dalam mobil.
"Kami pamit pulang dulu Bu Ria. Assalamualaikum" pamit Vio lalu berbalik menggandeng lengan Vrish. Karena Vio sadar bahwa wajah menyeramkan Vrish hanya akan menakuti guru Re.
__ADS_1
Vrish yang digandeng itu merasa sangat senang lalu meraih tangan Vio. Vio yang tidak sadar itu hanya melenggang mempercepat langkahnya supaya cepat sampai ke dalam mobil.
"Jika kau lakukan seperti ini terus pasti hari-hariku akan sangat berwarna" ucap Vrish membisiki telinga Vio. Seketik Vio melepas pegangannya namun ditahan Vrish sehingga dengan terpaksa dia memegang lengan Vrish.
"Mami, kenapa lama sekali? Re sudah lapar" rajuk Re yang kecapekan.
"Anak mami apakah lelah?" Re tidur dulu ya habis ini kita akan pergi makan atau mau mampir ke vila dulu?" tawar Vio.
"Vila? Apa kau punya vila di sini?" tanya Vrish tiba-tiba membungkam mulut Vio.
"Katakan padaku!" titahnya.
"Iya. Dulu pertama kalinya kembali dari luar negeri aku tinggal di sana. Dan sewaktu..kau mengejarku malam itu" jelas Vio tampak ragu.
"Kau tenanglah. Mami memiliki kekayaannya sendiri. Begitu pula aku. Mamaku meninggalkan hartanya untukku. Jadi kau jangan khawatir jika nanti kau memberi uang kepada mamiku. Kami tidak akan menghabiskan uangmu" tiba-tiba Re berceletuk mengingat vila maminya disebut.
"Maksudku tidak seperti itu. Kau anak kecil lebih baik diam saja" ucap Vrish datar.
"Jika kau kejam padaku maka aku tidak akan merestui pernikahan kalian" sewot Re.
"Aku tidak kejam. Hanya saja usiamu lebih kecil dari pikiranmu" jawab Vrish.
"Sudah sudah. Kalian tidak akan berdebat lagi. Jika berdebat aku akan turun sekarang" ancam Vio.
"Jangan!" seru Vrish dan Re berbarengan.
"Maka lanjutkan mengemudinya dengan baik" lanjut Vio.
Maaf kakak-kakak readers..
Masih bisa up sekali aja dalam sehari dikarenakan nyambi kerja jadi pulang kerja baru bisa up lagi. Itu pun sekali 😔
Maaf ya Readers 🙏
__ADS_1