
Sudah tiga jam Rena berada di ruang gawat darurat. Barang tak sedetikpun tidak ada tanda-tanda akan keluarnya dokter memberi kabar. Semua yang ada di sana terlihat panik dan tegang. Bu Hanum pun sekarang menjadi paham. Jadi dia merasa tidak menyesal sudah membantu korban yang ternyata adalah sahabat dari nona muda putrinya. Dia juga tersentuh melihat nona muda putrinya itu hormat padanya yang seorang wanita dari kalangan biasa. Bisa dikatakan bahwa Bu Hanum tahu tentang Vio dari putrinya. Bu Hanum ingin berterimakasih sekali pada Vio.
Waktu terus bergulir. Sudah lima jam lamanya mereka berempat menunggu Rena yang sedang berjuang di dalam sana. Dalam keheningan mereka hanyut dalam pikiran mereka masing-masing. Ranti melangkahkan kakinya untuk pergi ke kantin rumah sakit bermaksud membeli minuman. Saat hendak melangkah meninggalkan mereka bertiga, seorang dokter dengan seragam operasinya membuka pintu dan keluar membuat semua orang yang ada di sana bangkit dari tempat duduknya. Terutama Vio yang langsung sigap menghadap sang dokter.
“Bagaimana kondisi Rena, dokter? Tolong jelaskan padaku!” teriak Vio membuat sang dokter bergidik. Meski dibalut hijab di kepalanya tapi terlihat sangat tegas dan dingin.
“Apakah anda keluarga korban?” tanya sang dokter padanya.
Vio menoleh pada ayah Rena yang ingin berjalan maju. Dia tidak mau Rena berada di dekat ayahnya.
“Aku adiknya” jawab Vio.
“Apakah kau ayahnya? Karena tadi yang mengantarkan ke sini katanya ayahnya” ucap sang dokter kemudian beralih menatap ayah Rena.
“Ya, saya ayahnya, dok. Bagaimana keadaan putri saya?” jawab ayah Rena melangkah maju dengan suara bergetar bercampur panik.
“Maaf, kami sudah membantu semaksimal mungkin operasinya. Saat ini kondisi korban sangat kritis. Jadi kami masih menunggu masa kritisnya. Jika nanti malam korban bisa melalui masa kritisnya itu artinya dia bisa selamat. Hanya belum tahu bagaimana kondisinya nanti. Berdoa saja, Tuan” kemudian sang dokter kembali masuk ke ruang gawat darurat.
“Saya akan ke mushola” kata ayah Rena pada Vio, Bu Hanum dan Ranti. Lalu dia pergi meninggalkan ruang gawat darurat bermaksud untuk berdoa meminta keajaiban.
“Saya akan ke kantin dulu. Permisi” ucap Ranti kemudian pergi ke kantin. Diangguki oleh Bu Hanum. Sedangkan Vio hanya terdiam dengan pikiran yang tegang.
Setelah sepuluh menit berlalu, Ranti kembali dengan bungkusan makan dan minuman. Ranti memberikan makanan dan minuman pada ibu dan nona mudanya.
“Setidaknya minumlah, nak. Dengan minum bisa membuatmu tenang” ucap Bu Hanum karena melihat Vio menolak minuman dan makanan yang diberikan Ranti.
Vio meraih minuman itu lalu meneguknya satu tegukan. Dia sudah tidak berminat pada apapun. Saat ini ponselnya bergetar.
“Ya” setelah menerima panggilan telepon, suasana di ruang tunggu itu semakin mencekam.
“Cari dan tangkap pelaku itu” ucap Vio lagi. Dia tidak akan membiarkan pelaku hidup dengan tenang.
__ADS_1
“Vi!” seru papi Vio, Tuan Atmadja. Papi datang ke rumah sakit bersama Jimy.
“Papi!” Vio berhambur ke pelukan papinya. Yang dia butuhkan adalah sandaran yang nyaman saat ini. Baginya, papinya adalah sandaran ternyaman di dunia.
“Sabar dan ikhlas, sayang. Berdoalah semoga Rena bisa kembali pulih seperti sebelumnya” ucap papi mengelus punggung putri kesayangannya itu.
Melihat keakraban antara ayah dan anak itu membuat hati tuan Brawijaya terasa sakit seperti di tusuk-tusuk banyak pisau. Kini ayah Rena sudah kembali dari mushola yang ada di dekat ruang gawat darurat. Lalu dia berjalan mendekati mereka. Dia bermaksud menyapa tuan Atmadja.
“Selamat malam, tuan Atmadja” sapa Tuan Brawijaya ayah Rena pada Tuan Atmadja. Kemudian Tuan Atmadja mendatangi dan bersalaman dengan ayah Rena, namun dihalangi oleh Vio. Dengan lembut papi mengelus tangan Vio dan memberi isyarat mata tetap mendatangi ayah Rena dan berjabat tangan.
“Maaf, saya baru datang. Semoga ada keajaiban buat Rena, Tuan Brawijaya” papi Vio menepuk pundak Tuan Brawijaya. Dan di amini oleh ayah Rena.
“Aamiin. Terimakasih, Tuan” jawab ayah Rena.
“Saya ayah yang buruk buat Rena. Saya sangat menyesali perbuatan saya, Tuan. Dan saya sudah sholat taubat. Saya memohon untuk dipertemukan dengan Rena. Dan Allah sekarang mengabulkannya. Hanya dengan kondisi yang seperti sekarang ini. Saya terlambat menemuinya dan meminta maaf padanya” tangisnya pecah. Saat ini hati Tuan Brawijaya sangatlah rapuh. Dia butuh penguat.
“Tidak ada kata terlambat, Tuan. Nanti saat sadar, anda bisa menemui Rena dan segeralah meminta maaf padanya” ucapan Tuan Atmadja ini diangguki oleh ayah Rena.
Sekarang para dokter keluar dari ruang gawat darurat. Semua pada maju menghampiri para dokter itu.
“Kita tunggu saja, Tuan. Silahkan anda bisa masuk sekarang. Tapi jangan ganggu pasien” karena merasa ada rambu-rambu dari dokter semua maju bermaksud ikut masuk tapi dihentikan oleh sang dokter.
“Hanya satu orang saja” perintahnya tegas melirik ke semua orang. Sedangkan para dokter yang lain sudah pergi meninggalkan temannya satu itu, yaitu dokter yang sekarang berbicara.
Kemudian ayah Rena masuk. Di dalam sana terlihat seorang perempuan berbaring tak berdaya dengan terpasangnya berbagai alat untuk menunjang kehidupannya. Dengan denyut jantung yang lemah, terlihat dari layar monitor dan wajah pucat pasi itu, masih terlihat sangat cantik persis seperti ibunya. Ayah Rena menghampiri bed Rena. Lalu meraih tangan yang terasa hangat itu dan menitikkan air matanya kembali. dalam hati selalu berdoa memohon keajaiban dari Allah.
“Rena, putriku. Kamu adalah anak yang kuat dan tangguh. Kamu..kamu pasti bisa sembuh. Maafkan papa, nak. Papa..ayah yang buruk untukmu” ucap ayah Rena menangis tersedu-sedu.
Kata-kata itu terdengar oleh Rena namun sayang Rena hanya mendengar suara yang tidak asing itu dan tidak melihat siapa yang berbicara dengannya. Dalam tidurnya, Rena pergi ke suatu tempat yang sangat indah. Disana dia melihat seorang wanita muda cantik yang terlihat persis seperti dirinya sedang duduk di sebuah taman yang ada kolam ikannya. Lalu Rena menghampirinya.
“Ibu!” lalu dia menghambur ke ibunya. Memeluknya erat dan menangis. Dia rindu sekali dengan ibunya.
__ADS_1
“Nak, kamu sudah datang. Tapi sebelum itu lepaskanlah segala beban beratmu itu. Ibu akan menunggumu di sini” kata-kata ibunya itu membuatnya bingung. Lalu ibunya pergi meninggalkannya sendiri. Dia juga bingung dimana dia saat ini karena merasa asing dengan tempat baru ini.
“Dimana aku?” gumam Rena.
“Rena, kembalilah pada papa, nak. Papa sangat merindukanmu. Maafkan papa, nak” suara itu terdengar kembali. lalu dia berlari mengejar arah suara itu.
“Rena, kamu sudah sadar, nak” senyum mengembang di bibir sang ayah.
Saat hendak keluar memanggil dokter, tangan ayah Rena dipegang erat Rena menandakan tidak usah memanggil dokter. Lalu ayah Rena kembali duduk di samping bed Rena.
“Nak, Papa meminta maaf atas semua kesalahan papa. Papa adalah ayah terburuk yang kamu punya. Maafkan Papa, nak. Papa berdosa padamu dan ibumu. Maafkan papa, nak” ayah Rena menangis tersedu-sedu.
“Pa..pa..Re..re..na su..su..dah maa..aafin paa..pa. R..Rr..Re..na..sa..yaang sss..saa..ma pa..pa..” tangis sang ayah semakin pecah dan memeluk putrinya pelan menciumi kening putrinya dengan dalam. Rena pun menangis. Dengan deras air matanya keluar. Kemudian ayah Rena pergi keluar atas permintaan Rena untuk memanggilkan Vio.
“Dia ingin bertemu denganmu, nak” segera Vio berlari masuk menemui Rena setelah mendengar itu.
Hatinya yang panik bercampur gembira bahwa Rena sudah sadar itu memasuki pelan bed Rena.
Rena menoleh dan tersenyum padanya. Segera Vio menghampirinya dan menggenggam tangan sahabatnya itu.
“Vi” senyum terbaiknya diberikan pada sahabat terbaiknya itu.
“Sudah jangan banyak bicara dulu. Kata dokter kamu kalau sadar belum diijinkan banyak bicara dulu” ucap Vio menitikkan air mata sambil tersenyum.
“Jangan nakal lagi ya” ucap Rena lirih masih menampilkan senyuman hangatnya.
“Vi..terimakasih kamu sudah..menjadi saudariku yang terbaik. Bahkan..yang terbaik melebihi dari segalanya. Apa yang kamu punya selalu kau berikan juga untukku. Kasih sayangmu sangatlah berarti bagiku. Vi..to..long sa..sayangi Raykanda seperti putra kandungmu. Aku ti..tip Re sama ka..mu. Pa..pa..to..long maafkan papaku ya” ucap Rena terbata-bata.
“Kamu ngomong apa sih Re. Baby Re akan tetap sama kamu. Sudah kamu sudah terlalu banyak bicara” tangan Rena menarik tangan Vio.
“Berjanjilah padaku, Vi. Maafkan papaku, aku sudah memaafkannya. Ibu bilang aku harus melepaskan beban berat hidupku. Beban itu adalah rasa dendamku pada papaku”
__ADS_1
“Vi..a..ku..titip Re ya. Sampaikan pada mami papi. Aku sangat menyayangi mereka. Terimakasih sudah menjagaku dan menyayangiku seperti menyayangimu. Aku sa..yang..kaa..li..aaan. Ibu sudah menungguku. Ashhadu..allaa..ilaaha il..lallah..wa..ashhadu anna muhammadur rasulullah” itulah kata-kata terakhir Rena. Seketika tangis Vio pecah dan mengundang banyak orang mendadak seperti terkena jantungan. Kemudian papi Vio memanggil dokter setelah mendengar teriakan anaknya dan melihat di kaca sempit di pintu gawat darurat. Segera para dokter tadi menghampiri ruang gawat darurat.
“Maaf, Nona Rena sudah meninggalkan kita semua” kata-kata sang dokter membuat Vio lemas. Dan tubuhnya luruh ke lantai. Papi yang sigap menopang tubuh putrinya itu. Semua kini berduka atas nama Rena.