Pacar Online Yang Tertukar

Pacar Online Yang Tertukar
Bab 50 Si Pembuat Onar


__ADS_3

Di dalam mobil.


“Monti, apakah kau sudah mengawasi gerak gerik Clara Bastian si supermodel itu?” tanya Vio ketika sudah duduk dengan posisi nyaman dan memakai set belt.


“Sudah, nona” jawab Monti lalu menyerahkan hasil penyelidikannya beberapa waktu yang lalu didalam amplop coklat besar.


“Hmm. Kerja bagus! Jadi dia yang bermaksud merusak nama brandku? Be’V Brand. Dia tak akan sanggup merusak nama duniaku” dibukanya amplop besar itu dengan senyum tipis yang kejam.


“Terus awasi dia. Dan beri pelajaran sedikit pada perusahaan orang tuanya. Apakah kamu sanggup Ranti?” kali ini dia bertanya pada Ranti, sekretaris yang multitalent.


“Baik, nona. Nona akan melihat hasilnya besok” jawab Ranti tegas.


“Belok ke arah kanan. Kita akan mengunjungi Puff Pastry” titahnya pada Monti. Perintahnya dijawab Monti dengan anggukan kepala. Lalu mengemudikan mobil sesuai petunjuk bosnya itu. Puff Pastry adalah toko roti milik Rena yang kini dikelola oleh Lili asisten kepercayaan Vio. Ditangannya kini Puff Pastry berkembang sangat signifikan. Namun, untuk ide pembuatan roti adalah semua ide Rena dengan taste yang khas dan unik. Lili hanya membantu mengelola manajemennya saja. Selalu ada rasa yang berbeda di setiap bulannya. Itulah yang membuat pelanggannya semakin hari semakin banyak. Bahkan orderan banyak dari kalangan atas. Itupun ada campur tangan Vio yang pernah mengunggah varian cake yang dibuat Rena dengan caption ‘Puff Pastry’ dengan tidak sengaja berniat memasarkannya. Tapi, siapa sih yang tidak kepincut dengan setiap unggahan seorang Violetta? Meskipun akun tersebut menggunakan nama brandnya, Be’V Brand.


Sesampainya di Puff Pastry, kedatangan Vio yang tidak terduga itu mengundang beberapa karyawan yang ada di sana kagum dengan perawakan yang elegan dan berkelas. Mereka tidak ada yang tahu siapa Vio itu. Dengan dua orang yang berada di sampingnya itu membuat semua para karyawan tampak sungkan.


“Selamat datang di Puff Pastry! Ada yang bisa kami bantu, nona?” sapa salah seorang karyawan wanita yang tampak masih sangat muda baru lulus sekolah menengah atas dengan ramah dan senyuman mengembang tulus yang dilihat Vio dari balik kacamata hitamnya itu.


“Ka..” ucapan Ranti dihentikan oleh isyarat tangan Vio.


Lalu Vio melepas kacamata hitamnya kemudian membalas sapaan ramah karyawan tersebut dengan tersenyum ramah juga dan mengangguk.


“Monti, tunggulah di mobil, kamu Ranti, ikuti aku” perintah Vio kemudian diikuti Monti patuh kembali ke mobil. Viopun berjalan-jalan melihat-lihat terlebih dahulu bermacam-macam aneka roti di etalase diikuti Ranti.


“Nona, apakah saya perlu menghubungi nona Lili? Supaya kedatangan anda disambut olehnya” saran Ranti khawatir akan remehan orang-orang di sana. Karena tampak dari awal Ranti melihat seseorang yang terlihat cuek dan sinis terhadap nona mudanya.


“Tidak perlu” jawab tegas Vio.


“Ranti, tolong kamu ambil keranjang kecil itu. Kita beli beberapa roti yang kita suka” perintah Vio dengan senyum merekah pada Ranti. Dan dengan hanya melihat tatapan tajam Vio saja meski dengan senyuman lebar itu, Ranti paham lalu berjalan mengambilkan keranjang kecil dipojokan pintu masuk.


Setelah diambilkan keranjang kecil, Vio memilih beberapa roti saja kesukaan Vio dan Ranti.

__ADS_1


“Kamu ambillah beberapa dan tidak ada penolakan” ucap Vio pada Ranti.


“Baiklah. Saya akan ke sebelah sana, nona” jawab Ranti yang ternyata matanya sudah mengincar roti kesukaannya saat masuk tadi. Setelah mengambil beberapa roti itu lalu Vio berjalan menuju kasir. Saat hendak berjalan menuju kasir, terdengar suara yang tidak mengenakan di telinga Vio ataupun Ranti.


“Pelakor tidak mampu membeli roti yang lebih mahal rupanya. Hahaha..dasar wanita tak berguna. Kamu hanya karyawan biasa mana mungkin kamu sanggup membeli roti mahal disini? Lihatlah roti yang kamu beli” ejek Clara yang ternyata sudah ada di sana. Clara suka sekali membeli roti di Puff Pastry dikarenakan rasanya yang unik sesuai dengan harganya. Ya ada harga ada rupa lah ya. Sedangkan Vio memang tidak suka roti yang terlalu manis. Maka dia mengambil roti yang dia suka saja memang bentuknya kecil tapi harganya sangat pas bagi Vio. Roti kecil itu harganya sangat mahal dengan rasa yang sangat enak dan pas di lidah Vio. Itulah kenapa roti itu tidak banyak diketahui para pelanggan. Karena hanya orang tertentu saja yang memiliki selera tinggi. Sebenarnya roti itu adalah roti unggulan dari Puff Pastry, hanya bentuknya yang kurang menarik itu tidak banyak penggemarnya.


Ucapan Clara tidak ditanggapi Vio. Ranti yang mendengar itu langsung berjalan mendekat namun isyarat mata Vio mengatakan biarkan dan tetap disitu, akhirnya hanya membuat Ranti diam mengamatinya dari jauh.


“Apa kau dungu pelakor? Bahkan kau tak layak berada di toko ini” maki Clara pada Vio yang sudah terlihat geram namun dia tahan, karena dia tidak mau terlihat bodoh hanya untuk melayani omongan tidak penting itu. Namun beberapa tatapan tajam para konsumen itu membuat Vio jengah lalu mengabaikannya saja.


Vio memang tidak memakai pakaian branded, dia hanya memakai pakaian dengan hasil rancangannya sendiri. Namun tidak dia pasarkan dan jual belikan. Apa yang dia pakai dia yang merancangnya sendiri, maka dari itu banyak orang yang tidak tahu nilai pakaiannya. Lebih tepatnya terlihat biasa saja.


Karena geram dengan perkataan Clara itu, Vio memposisikan tubuhnya lebih tegak dan tersenyum lebar seolah tidak terjadi sesuatu dengannya.


“Maaf, nona, apakah anda berbicara pada saya? Sepertinya iya” ucap Vio setelah pura-pura menoleh ke kanan dan ke kiri lalu pura-pura tersenyum.


Orang di hadapannya itu kelihatan kesal dengan reaksi Vio. Dia pikir lawannya itu akan tersulut emosi tapi ternyata dugaannya salah.


Brakkk


Vio terjatuh dan roti pilihannya tercecer kemana-mana.


“Makanya jangan berani denganku” dengan kata-kata sinis dan menekan menjajarkan posisinya pad Vio dan membisiki di telinga Vio.


Vio yang mendengar pun hanya tersenyum smirk.


“Baiklah, kamu yang memulainya maka aku yang akan mengakhirinya” batin Vio lalu bangkit tersenyum tipis yang nyaris tidak terlihat.


Setelah puas, Clara langsung meninggalkan Vio begitu saja dengan kepala menengadah dan terlihat kesombongan di wajahnya.


“Oh, hai, nona Ranti! Senang bertemu dengan anda di sini!” sapa Clara ketika bertemu ketika Ranti hendak menghampiri Vio.

__ADS_1


“Hm!” jawab Ranti dongkol, karena melihat bosnya dianiaya. Dengan kode mata Vio, Ranti yang selalu paham, tidak menanggapi Clara lagi yang berjalan menuju kasir dan Ranti berjalan kembali untuk memilih roti lagi.


“Ternyata ada ya pelakor itu. Ku kira hanya di tivi tivi itu lo. Pelakor itu biasanya berpenampilan glamour tapi di sini ternyata pakaiannya tidak seindah dan semewah namanya ya meskipun terlihat berkelas sih. Tapi, aku kok ragu sih. Ohh ya yang terpenting kan hidupnya tercukupi bukan?!” ucap salah satu karyawan di sana yang sedang melayani Clara. Karyawan itu salah satu penggemar Clara. Makanya dia sangat membela Clara. Terlihat dia ikut berkomentar.


“Pelakor sekarang tidak hanya wanita berpenampilan yang terbuka tapi juga tertutup juga bisa ya jadi pelakor. Mau jadi apa dunia ini? Apakah dunia ini akan kiamat?” selorohnya lagi.


Ranti semakin geram tidak menyukai karyawan yang sedari awal dia lihat terlihat sinis tadi. Akhirnya dia berjalan maju disetujui ataupun tidak dia harus berjalan kea rah Vio. Tiba-tiba sebelum dia maju menghampiri Vio, keluarlah Lili sedikit membungkukkan badan.


“Selamat datang, nona muda Atmadja! Mohon dimaafkan saya terlambat menyambut kedatangan nona muda. Harap memaafkan saya!” ucap Lili merasa bersalah karena tidak mengetahui kedatangan Vio. Jika dia tidak mendapat laporan dari tangan kanannya, maka dia tidak akan tahu. Tangan kanannya itu merasa kondisi akan semakin panas maka dia harus segera memanggil manager Lili.


“Tidak apa-apa. Jangan sungkan begitu. Aku hanya ingin tahu saja bagaimana perkembangan toko ini” perkataan Vio itu membuat semua karyawan di sana menjadi diam dan ada yang tampak pucat pasi. Tidak percaya bahwa wanita yang sudah di remehkan itu ternyata adalah atasan manager Lili.


“No..nona Atmadja?! Apakah dia anak dari keluarga Atmadja?! Siapa dia? Bukankah pemilik toko roti ini adalah Nyonya Rena? Kenapa manager Lili harus hormat padanya?” batin karyawan sinis yang sudah menyindir Vio tadi.


“Nona, apakah anda baik-baik saja? Maafkan atas kelalaian saya, nona!” ucap Ranti dengan raut muka yang merasa bersalah.


“Sudahlah, bukankah tadi aku yang memintamu untuk diam?! Sekarang bayarlah ke kasir semua roti ini” jawab Vio dengan wajah datar dan dingin.


Tiba-tiba suasana toko terasa dingin dan sesak dengan aura bawaan Vio yang terlihat dingin dan menakutkan. Beruntunglah saat kemunculan manager Lili, Clara sudah keluar toko. Jadi dia tidak tahu siapa Vio sebenarnya.


“No..no..nona, tolong maafkan atas kelakuan saya. Sa..saya tidak tahu jika nona mengenal manager Lili. Tolong maafkan saya, nona” tiba-tiba karyawan sinis itu menghadang jalan Vio yang hendak keluar dari toko, karena merasa dia takut jika manager Lili mendengar cerita dari karyawan lain tentangnya hari ini.


Manager Lili yang mendengar itupun akhirnya mengeluarkan kemarahannya. Sebenarnya sering dia mendengar dari para karyawan lainnya mengadu dan membuat laporan tentang keburukan Lani, si karyawan sinis itu. Dan kebetulan hari ini dia mendengar sendiri tadi saat Lani memaki seseorang, yang ternyata yang di maki Lani adalah atasannya sendiri.


“Lani! Kamu ke ruangan saya!” bentak Manager Lili.


“Nona, minta maaf saya sudah gagal memimpin mereka” ucap manager Lili dengan membungkukkan badannya sebelum dia mendengar jawaban apa yang dilontarkan padanya dari atasannya itu.


“Kamu tahu apa resikonya” hanya seperti itu jawaban Vio. Ranti yang sudah selesai dari kasir berjalan menghampiri Vio dan mengikuti Vio berjalan di belakangnya dengan setia. Vio berjalan menuju mobilnya dimana Monti sudah siap membukakan pintu buat bosnya itu.


“Kalian bekerjalah yang baik dan benar. Siapapun dia layani mereka dengan sebaik-baiknya. Tidak boleh menghina atau mencaci siapapun yang mengunjungi toko kita” teriak manager Lili dan diangguki semua karyawan yang ada di sana seolah tidak percaya bahwa atasan mereka yang menyamar sebagai pembeli.

__ADS_1


“Baik, manager Lili” jawab serentak karyawan Puff Pastry. Lalu setelahnya manager Lili meninggalkan mereka menuju ke ruangannya dimana sudah menunggu Lani karyawan yang selalu membuat onar di tokonya selama ini. Lili mempertahankannya karena kinerja Lani yang sangat cekatan. Tapi ternyata mulutnya yang cekatan dalam hal menghina orang lain juga apalagi pelanggan Puff Pastry, tidak bisa ia tolerir lagi karena SP 2 sudah Lani terima.


__ADS_2