
Setelah Vio meninggalkan ruangan Albert, moodnya menjadi sangat buruk. Jangan tanya kenapa bisa seperti itu. Jelas saja setelah bertemu musuhnya seolah-olah musuhnya itu menjadi takdirnya. Entah kenapa dia merasa bahwa dimana ia berada selalu diikuti oleh Clara.
Begitu Vio keluar ruangan Albert, Vio berjalan berkeliling menuju aula peragaan busana di perusahaan AW Group. Di sana saat Vio melangkahkan kakinya memasuki pintu aula, ia disuguhi sebuah pemandangan yang sangat indah. Ruangan yang luas dan berbagai model busana ditunjukkan di sana.
“Maasyaa allah. Cantik sekali” gumamnya memasang mata kesana kemari.
“Selamat datang, nona. Ada yang bisa kami bantu?” kata sala seorang pegawai di AW Group.
Setelah menjawab, dibelakang sudah muncul Albert, atasannya, memberikan kode dengan menganggukkan kepalanya. Seakan sudah terbiasa dan paham maksud atasannya itu, pegawai tadi langsung meninggalkan Vio.
“Maaf, saya permisi dulu, nona. Masih banyak tugas yang harus kami selesaikan. Silahkan untuk melihatnya” ucap pegawai itu ramah.
“Ya. Terimakasih” jawab Vio. Vio sedari tadi belum menyadari kedatangan Albert karena saking menikmati suguhan luar biasa yang ada di depan matanya itu. Lalu Vio berjalan pelan mengamati satu persatu desain busana yang tampak glamor itu.
“Hmm selera tuan Albert sangat tinggi. Laki-laki yang berselera” gumam Vio berjalan sambal memegang dan melihat hasil desain busana yang terpajang di salah satu sudut.
“Tidak sepantasnya wanita licik itu memakai gaun-gaun itu. Cih, selerea tuan Albert sangat rendah dalam memilih seorang model” decih Vio yang tanpa diketahuinya di belakangnya ada yang mengikutinya. Albert Wilson mendengar semua yang baru saja dikatakan Vio.
“Apakah sebelumnya mereka saling mengenal? Tapi kenapa sepertinya nona Vio tidak menyukai Clara? Apakah ada masalah diantara mereka?” pikir Albert.
“Ehem” deheman Albert membuat Vio terkejut.
“Tu..tuan Albert” ucapnya gugup disertai anggukan kecil dan senyum terpaksa.
“Apakah sudah dari tadi laki-laki ini berada di belakangku? Apakah dia mendengar semua apa yang sudah kukatakan?” batin Vio merasa malu sehingga wajahnya tampak memerah.
“Apakah tuan Albert sudah lama mengikuti saya?” ucapnya selanjutnya mencoba setenang mungkin.
“Ya lumayan. Bagaimana menurut anda nona? Apakah layak untuk bekerjasama?” kata-kata Albert itu menenangkan kembali pikiran Vio. Merasa bahwa Albert tidak mendengarnya melihat ekspresi wajah laki-laki itu tidak mencurigakan.
__ADS_1
“Lebih baik aku pura-pura tidak mendengarnya saja. Sepertinya dia bisa menebaknya dengan melihat wajahnya yang tampak merah itu” batin Albert.
“Sangat cantik” batin Albert.
“Nona, waktunya kita kembali ke kantor. Kita harus menyiapkan beberapa berkas untuk meeting kita hari ini” ucap Ranti membuyarkan segala pikiran mereka berdua dan sepertinya menyelamatkan Vio dari rasa malunya barusan.
“Untung kamu segera datang, Ranti” batin Vio lega.
“Baiklah, tuan. Kami mohon undur diri dulu. Senang mengunjungi perusahaan anda” ucap Vio undur diri dengan menangkupkan kedua tangannya. Kemudian Vio dan Ranti meninggalkan ruangan itu dengan diantar Albert hingga ke depan pintu aula.
“Terimakasih, nona Violetta telah sudi mengunjungi kami” balas Albert dengan menangkupkan kedua tangannya di depan dadanya lalu mengantarnya keluar aula.
Sampai di luar aula Vio dan Ranti menyusuri lorong dan bruukk. Tidak sengaja Vio menabrak seseorang. Vrish.
“Dia? Kenapa ada disini?” batin Vio.
“Maaf, tuan” ucap Vio sambal berdiri membenarkan posisinya dengan bantuan Ranti dengan memalingkan wajahnya. Dia tidak mau Vrish melihatnya.
“Sombong sekali. Apakah ada orang dengan cueknya menjawab seperti yang dia inginkan? Lama-lama ingin kupitak kepalanya biar otaknya bener” omelan Vio itu membuat Ranti tersenyum-senyum. Merasa aneh buat Ranti.
“Tumben bosku hari ini mengomel tidak jelas begini setelah tabrakan dengan laki-laki garing tadi. Apakah konslet ya?” batin Ranti ingin tertawa. Tidak biasanya Vio mengomel yang tidak penting.
“Tidak usah mengataiku” sahut Vio kembali dingin dengan berjalan menatap lurus ke depan tanpa melirik Ranti.
“Tidak berani nona” jawaba Ranti menundukkan kepalanya.
Kemudian mereka sampai di parkiran mobil. Tidak disangka dia mendapati si nenek sihir yang ternyata sudah menunggunya.
“Dunia begitu sempit ya. Tidak kusangka bisa bertemu lagi denganmu..P.E.L.A.K.O.R!” ucapnya menuju ke arah Vio dengan berbisik.
__ADS_1
“Jadi kau tidak takut menyinggungku? Kau tidak takut kariermu hancur?” balas Vio marah karena sudah dikatai pelakor.
“Oh, ya? Aku takut. Seberapa besar kekuatanmu itu? Apa kau bergurau? Apa kau mengancamku? Kau hanya wanita biasa yang tidak memiliki kekuatan apapun. Kau hanya seorang desainer biasa tidak ada istimewanya yang mencoba merayu tuan Albert Wilson untuk mengajaknya bekerjasam bukan? Hah dasar wanita licik kamu. Sudah pelakor sekarang mencoba merayu pemilik dunia modeling ternama di negeri ini” ejek Clara dengan memutar memindai Vio dari bawah ke atas dari belakang ke depan. Bak detector saja ya. Hehehe..
“Kamu…” Ranti yang sedari tadi ingin menjambak rambut Clara itu sudah ingin membludak emosi di ubun-ubunnya itu. Ingin memuntahkannya bak lahar panas yang mampu membakar mulut pedas Clara. Namun dicegah Vio dengan isyarat tangannya.
“Baiklah. Kalau begitu aku ingin melihat kekuatan besarmu itu” balas Vio membuat semakin marah Clara yang sudah mau maju menampar Vio, namun dicekal oleh Ranti. Vio yang berjalan dengan dingin itu tanpa menghiraukan apa yang akan dilakukan oleh si nenek sihir itu. Dia serahkan pada Ranti. Lalu dia masuk ke dalam mobil mewahnya.
Ranti menghempaskan tangan Clara dengan kasar tanpa kata-kata kemudian pergi meninggalkan Clara menuju mobil Vio. Tak lama kemudian Ranti masuk ke dalam mobil.
“Jalan!” perintah Ranti pada sopirnya untuk segera menjalankan mobilnya. Ya selama bekerja Vio selalu menggunakan jasa sopir pribadi yang sekaligus mampu mengawalnya kemana-mana merangkap sebagai bodyguard.
Dalam mobil yang ada hanya keheningan semata. Vio yang tampak diam duduk dengan aura yang dingin itu memenuhi mobilnya membuat Ranti bernafas sesak. Vio yang tahu itu hanya ingin mengingatkan Ranti.
“Berhati-hatilah terhadapnya. Dia wanita licik yang mampu berbuat apa saja” ucapnya dingin.
“Baik, nona” jawab Ranti dengan anggukan kepala.
“Tolong kamu awasi wanita yang bernama Clara, Mon. Jangan biarkan dia menyinggungku” perintahnya pada Monti sopir pribadinya sekaligus bodyguardnya.
“Baik, nona” jawab Monti. Bodyguard dengan badan besar dan kekar dan wajah yang datar itu memiliki skill ilmu beladiri yang cukup tangguh. Monti itu dulunya adalah kakak angkatan di sekolah beladirinya. Ilmunya yang hamper setara dengan Vio itu pernah bertarung dengan Vio saat ujian beladiri dulu waktu masih sekolah. Tapi karena keadaan yang menjungkir balikkan membuat keluarga Monti harus tetap bertahan demi sekolah Monti. Hingga akhirnya Monti melamar pekerjaan sebagai security di perusahaan Vio. Disitulah Vio tahu saat memeriksa berkas-berkas pelamar pekerja. Melihat nama Monti tanpa berpikir panjang Vio langsung menjadikan bodyguardnya dengan gaji yang sangat tinggi. Dengan memberikan gaji tinggi itu sebenarnya niat Vio hanya ingin membantu Monti karena Monti adalah tulang punggung keluarga. Dia masih memiliki dua orang adik yang masih membutuhkan biaya sekolah dan kuliah. Monti adalah laki-laki dingin sepanjang Vio kenal, namun jangan ragukan performanya. Dia selalu professional. Namun hatinya hangat ketika berkumpul dengan keluarganya.
“Apakah mereka satu perusahaan? Ya benar. Mereka adalah pasangan yang serasi. Bukankah pria aneh itu dijodohkan dengan nenek sihir itu? Hah! Buat apa aku pikirin” ucap Vio dalam hati yang tidak mampu didengar kedua orang di depannya itu.
Selama Vio kembali ke Kota Besar, wajah yang datar dan dingin selalu Vio tunjukkan ke orang-orang di sekitarnya. Apalagi semenjak Vio melihat berita yang menayangkan Prayoga memiliki tunangan. Hatinya berubah menjadi dingin tak tersentuh. Hanya orang-orang yang dia anggap keluarga hatinya melunak dan hangat.
“Ranti, nanti setelah rapat, tolong kalian temani aku ke mall” ucapan Vio mengagetkan kedua orang yang duduk di kursi depan. Ranti dan Monti saling melirik heran.
“Tumben bos kita meminta kita menemaninya ke mall” batin mereka.
__ADS_1
“Sudah tidak usah saling berpandangan. Nanti kalian akan jatuh hati” tegur Vio yang melihat pandangan Monti dari spion yang ada di depan dan melihat reaksi berlebihan mereka berdua. Dalam hati Vio hanya ingin tertawa melihat mereka heran. Ya selama ini, Vio hanya akan ke mall sendiri tanpa mengajak siapapun. Dia hanya merasa jenuh dengan hidupnya. Apalagi pekerjaan yang semakin banyak dan perusahaan papinya selama dipegang Vio semakin berkembang pesat dan semakin banyak yang mengajaknya bekerjasama.