
“Apa yang kau lakukan disini? Kau tidak takut dilihat oleh wanitamu itu?” Vio yang kaget saat membuka pintu apartemennya melihat Prayoga masih berdiri di samping pintu itu merasa jengah.
“Tolong dengerin aku dulu, yank” cegah Prayoga mencekal tangannya. Namun seketika di lepaskan karena tatapan tajam Vio kea rah tangannya.
“Heh! Yank. Siapa yang kau panggil? Sepertinya kau salah orang. Maaf aku tidak punya waktu. Permisi” kaki Vio langsung melangkah begitu melihat Ranti muncul dari arah lift.
“Ayo!” ucapnya lagi tapi pada Ranti. Dengan menatap tajam sekilas ke arah Prayoga, Ranti berjalan memutar balik badannya kemudian mengikuti langkah bosnya itu menuju lift.
Disisi Prayoga.
“Arrgghh!” Prayoga mengacak-acak rambutnya sendiri lalu beranjak ke apartemennya. Kebetulan Prisa saat itu sedang pergi keluar membeli makanan ke supermarket di dekat kawasan apartemen elit itu. Supermarket itu buka 24 jam.
“Aku harus berbicara dengannya lagi. Siapa dia? Kenapa bisa tinggal di apartemen mewah ini? Lalu siapa wanita tadi yang bersamanya? Seperti orang penting saja dia” gumamnya sendiri.
“Siapa orang penting itu? Apakah kau membicarakan sesuatu? Jika memang kau bertemu dengan orang penting itu, katakana siapa dia, biar aku melobinya” tiba-tiba Prisa menjawab gumamannya yang membuat tubuh Prayoga membeku. Namun tak lama setelah itu, Prayoga menyadari bahwa Prisa tidak paham apa yang dia bicarakan sendiri jadi dia bisa agak tenang. Lalu dia memutar badannya melihat Prisa yang berada di belakangnya yang baru pulang. Sebenarnya dia tidak perlu bersikap seperti itu pada Prisa. Tapi entah kenapa dia merasa tidak enak jika bercerita.
“Tidak. Tadi ada orang yang bertamu, entah siapa orangnya aku gak kenal tapi dia malah marah-marah gak jelas” ucap Prayoga membuat alasan.
“Tidak mungkin ada sembarang orang bertamu. Pasti kau salah paham dengan orang itu.Apa jangan-jangan dia tamunya Indra temanmu?” jawab Prisa menebak-nebak.
__ADS_1
“Entahlah. Mungkin juga. Sudahlah tidak usah kita pikirkan. Hari ini aku akan memantau perkembangan pembangunan supermarket kita. Apakah kau mau ikut?” pembicaraan pengalihan Prayoga.
“Tidak. Aku lagi malas ikut. Aku akan pergi keluar untuk shoping aja. Kebetulan stok pakaian da**mku habis. Dan belum aku cuci. Kamu tahu kan beberapa hari ini aku yang melobi kesana kemari mencari sponsor buat usaha kamu? Aku ingin merefresh otakku hari ini” nada Prisa yang manja itu membuat lupa Prayoga atas perasaan jengkelnya tadi. Ya, laki-laki mana yang tidak kuat menahan godaan suara manja dari wanita yang seksi seperti Prisa itu? Semakin hari semakin Prisa bertambah cantik karena sekarang berkat usahanya yang nebeng hidup pada Prayoga, melakukan perawatan rutin.
“Hmm baiklah. Kalau begitu aku mandi dulu ya” ucap Prayoga yang menahan hasratnya di hadapan Prisa berjalan ke kamar mandi. Selama Prayoga hidup seatap dengan Prisa, Prayoga harus terus menahan hasratnya, karena hati Prayoga masih ada Violetta. Hanya pelukan dan ciuman yang mereka lakukan. Bahkan saat ini dia tinggal di apartemen mewah milik Indra saja tidur di kamar terpisah. Itulah yang membuat Prisa marah, karena hati Prayoga masih belum bisa dia sentuh. Bukan Prisa namanya jika rencananya tidak berhasil menyentuh Prayoga dan menguasai semua milik Prayoga. Licik.
Saat Prayoga tiba di supermarketnya yang masih tahap proses pembenahan, Prayoga membuat janji dengan koleganya, Tuan Bastian papanya Clara Bastian. Tuan Bastian merasa tertarik dengan hasil presentasi Prisa yang memiliki tujuan dan banyak peluang yang selama ini dia incar yaitu kawasan yang sangat strategis yang dimiliki supermarket ini. Sebelumnya, dia sudah menawarkan dengan harga tinggi namun, pemilik lama tidak mau memberikan dengan alasan tidak akan pernah menjualnya. Tapi kenapa sekarang bisa menjadi milik seorang Prayoga pebisnis kecil yang baru menanjak levelnya. Hal itulah yang membuatnya tertarik untuk menanam saham dan membantu proses pembangunannya.
“Syukurlah, tuan Prayoga prosesnya sudah 90% kini tinggal menata berbagai produk dan SDMnya” ucap tuan Bastian dengan senyum penuh arti yang berada dilantai basement bersama Prayoga.
“Ya, tuan Bastian. Semua ini berkat bantuan anda” jawab Prayoga tersenyum ramah.
“Papa!” teriak Clara memanggil tuan Bastian.
“Hai, putriku! Kenapa kau ke sini? Bukankah kau harus kembali ke Pusat Kota?” tanya tuan Bastian pada Clara putrinya.
Sekejap mata Prayoga membelalak tak berkedip dan tak percaya melihat supermodel yang pernah dia lihat di tivi itu. Merasa kagum dan tertarik melihat kecantikan Clara yang paripurna karena dibubuhi polesan make up agak tebal dan pewarna bibir yang berwarna merah menyala itu menambah kesan seksi bibir tebal seorang Clara Bastian sang supermodel yang wajahnya dibingkai dengan kacamata hitam sehingga menambah kesan glamour.
“Apakah dia kolega papa?” tanya Clara seraya menunjuk ke arah Prayoga dengan kepalanya lalu melepas kacamata hitamnya.
__ADS_1
“Sungguh cantik” gumamnya yang terdengar di telinga tuan Bastian.
“Meski kau pebisnis kecil tapi kalua bukan karena aku mengincar lokasi usahamu ini maka aku tidak sudi untuk memperkenalkan anakku padamu” batin tuan Bastian yang memiliki pikiran licik sama halnya dengan anaknya.
“Oh ya, kenalkan. Dia putri semata wayangku, Clara pekerjaannya sebagai supermodel” lalu Prayoga menjulurkan tangannya untuk berjabat tangan namun, naas gayung pun tak bersambut.
“Hai! Saya Prayoga Baskara. Senang berkenalan dengan anda yang seorang supermodel” Prayoga yang menarik tangannya kembali merasa malu tapi dia pura-pura menahannya.
“Heh! Memang putriku ini tipenya sangat tinggi. Sangat tahu keinginan papanya” batin tuan Bastian bangga.
“Hm ya” jawab Clara menatap sekilas Prayoga lalu menoleh ke papanya.
“Pa, hari ini aku mau ke mansion keluarga Pramudya. Tante Lisa mengajak bertemu. Hah sebetulnya aku malas jika bukan karena ingin mendapatkan ponakannya itu. Aku ke sini karena tadi aku waktu lewat melihat mobil papa. Dan memastikan papa saja” jawab Clara menatap papanya sembari memakai kecamata hitamnya lagi.
“Pergi dengan siapa” bisik Clara membuat tubuh tuan Bastian tiba-tiba membeku seketika. Anaknya itu memang tahu kebusukan papanya. Yang suka bermain perempuan. Sebenarnya Clara kasihan sama mamanya, tapi karena sifat mamanya tidak jauh berbeda yang tamak, jadi Clara bersikap cuek. Tapi Clara tidak suka jika papanya sering berada di luar, sedangkan dia membutuhkan papanya. Itu yang membuat Clara sangat sombong dan arogan. Kurangnya perhatian dari orang tuanya. Hidup dari keluarga yang kaya tapi tidak harmonis di dalamnya.
“Clara pergi dulu, papa. Sampai jumpa di mansion nanti malam” lanjut Clara lalu berjalan memutar menuju arah mobil sport mewahnya di pinggir jalan.
“Ma..maaf. Baiklah tuan Prayoga, sekarang saya ijin kembali ke kantor. Jika nanti membutuhkan sesuatu sampaikan saja pada sekretarisku” ucap tuan Bastian yang diangguki Prayoga dan saling berjabat tangan itu, kemudian berjalan ke arah dimana mobilnya terparkir dengan rapi.
__ADS_1
Setelah kepergian tuan Bastian, “Lihat saja nona sombong. Siapa yang akan mencari siapa” lirih Prayoga dengan senyum smirknya mengingat tatapan Clara meremehkannya.