Pacar Online Yang Tertukar

Pacar Online Yang Tertukar
Bab 87 Terungkap siapa dia


__ADS_3

"Katakanlah! Siapa yang menyuruh kalian?!" bentak Vrish pada para cecunguk itu. Kaki mereka diikat dan digantung ke atas. Wajah mereka memar bonyok karena banyak pukulan dari Hendrik.


Vrish mengisyaratkan Hendrik untuk memukulnya kembali. Namun ternyata nyali para cecunguk itu ciut juga.


"Amm..ampuni kami, Tuan. Ka..ka..kami akan mengatakannya" ucap salah satu dari dua pelaku yang masih selamat dari ledakan itu. Hanya badannya penuh dengan luka akibat ledakan itu.


"Hm!" meski hanya sebuah deheman tapi sangat mengerikan bagi para musuh itu.


"Di..dia..."


"Jangan kau katakan pada mereka!" sahut temannya marah.


"Kau mau mati ditangan mereka?" akhirnya para pelaku berdebat. Hal itu menjadi tontonan yang membosankan bagi Vrish.


"Kau tidak mau mengatakannya? Baiklah" ujar Hendrik.


"Aaaaaaaa!" teriakan itu bagaikan lolongan meminta tolong akibat sengatan listrik pada luka-lukanya. Hendrik menyiksanya atas isyarat Vrish.


"Tu..tuan. Jangan sakiti kakak saya lagi!" teriak laki-laki cecunguk itu yang ternyata mereka adalah saudara.


"Dia adalah penerus dari bos kami black gengster. Prayoga Baskara" jawab adik cecunguk itu.


'Apa? Dia menjadi ketua dari Black Gengster? Apakah dia sudah bodoh?' batin Hendrik. Hal ini membuatnya semakin geram.


"Dia?" ucap Vrish lirih.


"Dimana dia!" bentak Hendrik.


"Dia ada di Kota Je" setelah mendapatkan jawabannya, Vrish beserta Hendrik segera pergi dari markasnya.


"Segera kita berangkat dengan helikopter. Ku dengar kota itu banyak bomnya. Jadi kita harus hati-hati. Kita gunakan helikopter lalu kita serang dari atas. Jangan lupa bahwa mereka sudah memasang kamera pengintai jalur udara jadi sewaktu-waktu pesawat kita bisa ditembak dari bawah" ucap Vrish membuat Hendrik seolah tak percaya mendengar sebuah tempat yang dipenuhi dengan bom.


"Tuan yakin akan ke sana?" tanya Hendrik ragu-ragu. Sebenarnya dia sudah tahu lokasi itu. Karena Prayoga sebenarnya adalah adiknya. Hanya dia tidak percaya jika adiknya mengikuti jejak yang salah. Sebenarnya dia tidak tahu siapa bos dari black gengster sesungguhnya. Hanya dia tahu adiknya pasti diperalat oleh bos dari mafia itu. Dia tidak mau jika tuan mudanya terjadi kenapa-kenapa.


"Tuan, biarkan saya saja yang ke sana" ujar Hendrik menatap tajam tuan mudanya.


Vrish balik menatapnya dengan membaca bola mata Hendrik. Dia tahu bahwa ada hal yang disembunyikan Hendrik.

__ADS_1


"Baiklah. Kau urus semuanya. Aku percaya padamu" ucap Vrish menepuk pundak Hendrik dan tersenyum miring.


Segera Hendrik pergi meninggalkan tuan mudanya sendirian di markas. Sekali tepuk beberapa pengawalpun menghampirinya.


"Terus awasi dia. Jangan sampai kalian lalai" ucap Vrish lalu pergi meninggalkan markasnya.


Mereka mengangguk patuh. Lalu mereka memposisikan diri mereka seolah sudah terbiasa dengan aturannya.


Vrish segera melajukan kendaraannya ke apartemennya. Dia membersihkan dirinya. Habis itu dia mengistirahatkan tubuhnya sebentar karena merasa sangat lelah.


Tanpa terasa jam sudah menunjukkan hampir menjelang malam. Vrish segera bangun dan membersihkan dirinya kembali lalu bersiap untuk pergi ke rumah sakit. Namun sebelum ke rumah sakit dia ingin mengunjungi Re kecil. Entah kenapa hatinya tiba-tiba menyukai anak kecil itu.


"Apa kabar boys?" tanya Vrish setelah sampai di mansion keluarga Atmadja pada Re kecil. Kini mereka berada disebuah taman bermain yang sudah didesain sedemikian rupa untuk Re kecil. Nyonya Atmadja yang mempersilahkan masuk Vrish karena semenjak kejadian baku tembak malam itu, Re menjadi sangat pendiam.


"Apa kau ingin sesuatu?" tanya Vrish lagi karena yang ditanya tidak kunjung menjawabnya.


"Ayo kita jalan-jalan ke taman depan komplek. Apa kau mau? Disana sedang banyak orang yang bermain layang-layang. Apa kau mau lihat?" bujuk Vrish. Re yang menoleh setelah mendengar kata layang-layang itu menatap datar Vrish.


"Kau mau?" tanya Vrish lagi.


"Aku hanya ingin tahu kabar mamiku. Aku tidak mau mamiku kenapa-kenapa" ucap Re menundukkan kepalanya sedih.


"Mamimu baik-baik saja boys. Setelah dari sini paman akan menjenguknya. Kamu baik-baiklah dirumah bersama oma. Okay! Menurutlah sama oma kamu. Mamimu pasti akan sangat bangga padamu. Jika kamu sedih, mamimu pasti ikut sedih" ucap Vrish lalu mengelus kepala Re. Dipandangnya Re dengan dalam.


'Jika dilihat dengan teliti, tidak ada kemiripan. Ya hanya sekilas mereka terlihat mirip' batinnya memandangi bocil didepannya.


"Boys, bolehkah aku bertanya sesuatu?" pertanyaan Vrish membuat Re menoleh dan menatapnya dengan tajam. Re tahu apa yang akan Vrish tanyakan. Kemudian Re kembali menundukkan pandangannya.


"Baiklah, sepertinya kamu tidak mau. Paman akan pergi dulu kalau begitu. Apa kau mau nitip salam untuknya?" kalimat itu membuat Re melonjak senang.


"Apa aku boleh ikut?" tanyanya dengan wajah tersenyum.


'Anak ini tampak sangat mencintai maminya. Lalu dimana suaminya? Kenapa tidak kelihatan juga batang hidungnya. Suami macam apa dia?' batin Vrish.


"Tidak usah mengumpat ayahku" sahut Re membuat Vrish kaget.


'Apa?! Dia bisa membaca pikiranku?' batin Vrish kaget.

__ADS_1


"Tidak usah memakiku" sahut Re kembali.


"Kau anak kecil sudah jadi peramal saja. Anak kecil tidak diijinkan masuk ke rumah sakit. Jadi kau diam dirumah saja. Itu baik untukmu" elus kepala Re gemas dan membuat rambut Re berantakan.


"Hei! Rambutku jadi berantakan!" marah Re malah semakin membuat Vrish gemas dan terlihat lucu. Marahnya Re persis dengan marahnya Vio, pujaan hatinya.


Hal ini membuat Vrish sangat sedih. Seketika dia terdiam menunduk terpaku. Sikap Vrish membuat Re penasaran dengan diamnya Vrish. Lalu menoleh dan menatap Vrish.


"Kau kenapa?" tanya Re.


"Hei! Kau kenapa?" Re menepuk tangan Vrish yang membuat kaget Vrish.


"Oh tidak apa-apa. Paman pergi dulu" ucap Vrish lalu bangkit berdiri dan membalikkan badannya kemudian berjalan pelan memikirkan Vio. Entah kenapa dia sangat sedih melihat keadaan Vio seperti sekarang.


"Nak, kamu mau kemana?" tanya nyonya Atmadja begitu melihat Vrish melintasi ruang makannya.


"Maaf Tante saya pamit ke rumah sakit dulu. Karena saya belum melihat kondisi putri tante" kata-kata Vrish itu membuat Nyonya Atmadja sangat antusias. Hal ini membuat Vrish berpikir bahwa Nyonya Atmadja akan ikut dengannya.


"Kalau begitu tante nitip makanan buat Vio dn papinya ya. Bisakan?" ucap Nyonya Atmadja begitu bersemangat.


"Bisa Tante. Akan saya bawakan sekalian" jawab Vrish.


"Sebentar akan saya siapkan dulu" ucap Nyonya Atmadja diikuti Vrish ke sana kemari dari belakang. Dengan begitu Vrish tahu makanan kesukaan Vio.


"Apa kau mau makan dulu nak?" tanya Nyonya Atmadja yang melihatnya sedang mengamati makanan Vio.


"Oh tidak tante. Aku hanya ingin tahu saja makanan kesukaan putti tante seperti apa" jawab Vrish jujur.


"Dia suka dengab chicken steak, balado terong, telor asin, juga sayur asem. Ini juga ada ayam bakar kesukaannya dengan saus keju dan sambal terasi. Disini tante juga bawain bubur sumsum supaya badannya terasa enak. Karena papinya bilang Vio ingin bubur sumsum yang tante buat. Apa kau ingin mencobanya?" jelas panjang lebar nyonya Atmadja.


"Boleh tante jika tidak merepotkan" jawab Vrish tersenyum tipis karena sebenarnya dia tidak suka bubur. Tapi untuk menghargai pemilik rumah dia sebagai tamu tidak ingin menolaknya.


"Tidak. Kau tidak perlu sungkan begitu. Sebentar tante ambilkan ya. Duduklah dulu" ucap Nyonya Atmadja selayaknya pada anaknya sendiri. Segera nyonya Atmadja mengambilkan bubur sumsum di dalam mangkok kecil.


"Silahkan dimakan sedikit demi sedikit. Maaf tante tahu kamu tidak suka bubur bukan?! Maka dari itu tante ambilkan kamu sedikit saja" ucapan nyonya Atmadja membuatnya membeku karena selama ini tidak ada yang memperhatikan sedetail ini terhadap dirinya. Bahkan tantenya saja tidak sampai seperti itu. Dia merasakan kasih sayang nyonya Atmadja begitu tulus.


"Oh ya, terimakasih tante" lalu Vrish menyuapkan buburnya sedikit demi sedikit. Dia tercengang saat memasukkan makanannya ke dalam tenggorokannya.

__ADS_1


"Ini sangat enak tante. Pasti putri anda sangat menyukainya. Alhamdulillah sudah habis, tante. Terimakasih banyak atas jamuannya tante" ucap Vrish. Lalu dia segera berpamitan untuk pergi ke rumah sakit.


__ADS_2