
CIIIITTT DARRR BRAAKKKK
“Toloooong! Toloooongg! Toloooong!” teriak seorang ibu yang kebetulan sedang melintas jalan raya sedang ingin menyebrang jalan meminta tolong pada para pengguna jalan yang ada di sekitar.
Tampak semua orang di sekitar jalan itu menghentikan kendaraan mereka dan segera berlarian mendekat tempat kejadian kecelakaan. Terjadi sebuah kecekalaan tunggal.
“Telepon polisi dan ambulan, Pak. Tolong sepertinya dia pingsan” teriak ibu itu lagi pada para bapak-bapak yang ada di TKP (Tempat Kejadian Perkara).
“Kita langsung bawa ke rumah sakit saja! Jika menunggu ambulan pasti datangnya lama” ajak seorang bapak-bapak separuh baya yang kebetulan lewat dan ingin melihat sebenarnya ada apa.
“Ayo Bapak-bapak minta tolong dibantu dibawakan korban ke mobil saya. Saya yang akan membawanya ke rumah sakit” ucap lelaki separuh baya itu yang belum melihat korban. Entah dia sejak pagi mendapat firasat yang tidak enak. Ya, bapak paruh baya itu adalah ayahnya Rena.
Saat korban dibantu diangkat yang tergeletak sekitar dua meter dari jarak mobilnya, ayahnya Rena tampak syok. Ternyata korbannya adalah putrinya sendiri.
“Rena!” teriak ayahnya Rena.
“Bapak, Bapak mengenal gadis ini?” tanya seorang ibu tadi yang teriak minta tolong.
“Iya, Bu. Tolong cepat, Pak angkatkan putriku” segera dia menjadi panik.
“Pak, sepertinya tadi ada yang sengaja mencelakai putri Bapak” keterangan ibu itu mendadak membuat jantung ayah Rena menjadi berdetak sangat kencang. Dia memegang dadanya dan bersandar pada mobilnya.
“Anda tidak apa-apa, Pak?” tanya ibu itu berusaha untuk membantu ayah Rena untuk berdiri kembali namun dia tepis.
“Bu, tolong bisakah ibu ikut saya saat ini? Keterangan ibu sangat kami butuhkan” ucapan ayah Rena mendadak membuat ibu itu semakin pucat. Dia takut jika nanti dia menjadi saksi. Dan raut mukanya dipahami oleh ayah Rena.
“Bu, tolong dia. Dia harus mendapatkan keadilan. Ibu jangan takut. Nanti saya akan melindungi anda” bujuk ayah Rena memohon. Kemudian diangguki oleh ibu itu. Segera mereka masuk ke dalam mobil dan segera melajukan mobil ke rumah sakit.
Setelah sampai rumah sakit, ayah Rena langsung melarikan Rena ke bagian gawat darurat. Dilihat lagi tampak Rena dengan wajah pucat dan bagian kepala mengeluarkan banyak darah. Mungkin terjadi benturan yang sangat keras karena mengakibatkan Rena terpental keluar dari mobilnya. Jika dilihat kecelakaan itu, mobil Rena terguling dua kali dan mungkin itu yang mengakibatkan kepala Rena kena benturan. Air mata ayah Rena luruh begitu saja melihat putri semata wayangnya dalam kondisi seperti ini. Anak yang dia telantarkan. Dia merasakan sesak di dadanya betapa teganya dirinya yang sudah menyakiti keluarganya sendiri. Kini dia merasa menyesal sudah gagal menjadi ayah yang baik. Nafsu bejatnya yang lebih besar itu mengalahkan kasih sayang keluarganya.
Setelah melalui prosedur, Rena segera ditangani oleh dokter. Kini tampak dua orang polisi mendatangi ayah Rena.
“Selamat, siang, Tuan. Maaf apakah benar anda yang sudah membantu korban kecelakaan yang barusan terjadi di Jl. Simpang Sampang?” tanya salah seorang polisi pada ayah Rena.
“Ya. Saya Brawijaya. Dan dia, korbannya adalah putri saya” kemudian ayah Rena menangis tergugu.
Di samping ayah Rena berdiri seorang ibu yang ternyata bernama Bu Hanum. Dia berjalan maju ingin mengatakan sesuatu juga.
“Maaf, Pak. Sepertinya Bapak ini syok setelah melihat yang mengalami kecelakaan itu adalah putrinya. Biar saya bantu untuk meceritakannya” usul Bu Hanum wanita paruh baya itu sedikit gugup. Dia hanya merasa kasihan dengan ayah Rena yang sudah bersedih dan menangisi putrinya. Kebetulan dia melihat semua kejadian itu saat berjalan akan menyebrang jalan.
“Baiklah, Ibu siapa?” tanya polisi itu.
__ADS_1
“Saya Hanum, Pak. Kebetulan saya melihat kejadian itu. Dan sebenarnya bapak ini baru lewat setelah kejadian itu. Dan bermaksud untuk membantu korban kecelakaan. Tapi setelah korban diangkat itu bapak ini melihat wajah korban yang ternyata dia adalah putrinya. Sepertinya kecelakaan itu disengaja, Pak. Karena saya melihat kejadian yang begitu cepat itu, saat itu ada dua pengendara sepeda motor di depan mobil korban. Mereka berboncengan dan mereka melemparkan sesuatu pada mobil korban dan terjadilah kecelakaan itu, Pak. Kejadiannya begitu cepat. Setelah itu saya teriak minta tolong pada orang-orang di sana” jelas Bu Hanum yang ternyata adalah ibunya Ranti.
“Berarti ibu melihat semua kejadian itu? Tolong jelaskan pada kami lagi nanti di kantor ya Bu. Datanglah bersama orang tua korban untuk membuat laporan” kemudian kedua polisi itu pergi meninggalkan ayah Rena dan Bu Hanum setelah mendapat jawaban dari Bu Hanum.
“Baik, Pak. Kami akan pergi ke sana setelah korban ditangani” jawab Bu Hanum sebelum kedua polisi itu pergi.
“Terimakasih. Anda sudah membantu kami, Bu” ucap Pak Brawijaya. Bu Hanum hanya mengangguk. Dia sebenarnya ada keperluan saat itu. Dia ingin menemui Ranti di kantornya. Namun, naas kebetulan ada kecelakaan itu.
Kriiing kriiing..suara ponsel jadul berbunyi dari arah kantong baju Bu Hanum.
“Maaf, Pak, saya angkat telepon anak saya dulu” kemudian Bu Hanum menyingkir dari samping ayah Rena dan mengangkat telepon itu. Dari Ranti.
“Assalamu’alaikum, Ibu. Kenapa Ibu lama sekali? Karena hari ini Ranti aka nada meeting, Ibu. Apakah Ibu baik-baik saja disana?” ucap Ranti tampak khawatir terdengar dari suaranya.
“Nak, maaf Ibu belum bisa ke kantor kamu. Ibu saat ini sedang di rumah sakit, nak..” belum selesai berbicara Rantipun semakin cemas dan menyela.
“Di rumah sakit mana, Bu? Aku akan segera kesana sekarang” dia memang tidak ingin keluarganya kenapa-kenapa.
“Dengarkan dulu. Ibu belum selesai ngomong. Ibu sedang menemani keluarga korban. Tadi saat ibu akan menyebrang menuju kantormu terjadi kecelakaan tunggal. Namun sepertinya disengaja. Dan sekarang korban masih ditangani oleh dokter. Ayah korban tampak syok. Ibu tidak tega meninggalkannya sendiri mengahdapi ini. Apalagi nanti jika sudah ada keterangan dari dokter, ibu harus memberikan kesaksian atas kecelakaan yang menimpa korban, nak”
“Baiklah, Bu. Ibu jaga kesehatan ibu baik-baik dan jaga diri ibu juga. Nanti setelah meeting aku akan menemani Ibu. Lima menit lagi Ranti akan meeting. Satu jam lagi, Ranti akan ke sana. Ibu shareloc aja lokasi rumah sakitnya” ucap Ranti yang mengerti kondisi ibunya saat ini.
“Ya, nak. Kamu berkonsentrasilah dalam meeting ya. Demi nona muda kamu yang sudah menolong kita dulu. Bekerjalah dengan tulus dan ikhlas ya, nak” kata-kata bijak dari ibunya, membuat Ranti selalu menitikkan air mata. Dia sangat menyayangi ibunya.
Sedangkan keluarga Atmadja belum tahu mengenai kabar ini. Apalagi Vio yang saat ini dengan santainya menikmati pemandangan laut di halaman belakang. Dan perasaannya yang sedang buruk itu entah kenapa seolah telah terjadi sesuatu pada Rena. Ingin sekali dia menghubungi sahabat rasa saudara kandung itu. Kemudian dia memfoto laut dan mengirimkannya pada Rena. Dan tampak isi pesan itu masih centang satu yang tandanya belum aktif.
“Kenapa tidak aktif? Coba aku telepon dengan nomor biasa” kemudian Vio memencet nomor Rena dengan telepon biasa. Di saat itu juga terdengar suara operator yang mengatakan bahwa diluar jangkauan. Kemudian dia mencoba sekali lagi. Dan alhasil jawabannya juga sama. Karena semakin gelisah dan memiliki firasat buruk, dia menelpon rumah.
“Assalamu’alaikum, Mami. Rena apakah di rumah? Kenapa ponselnya tidak aktif ya, Mi? Perasaan Vio tiba-tiba gak enak, Mi” ucap Vio khawatir.
“Iya, Vi. Mami juga tidak tahu. Dari tadi mami juga menelponnya juga tidak aktif. Baby Re saat ini sedang rewel, Vi. Kamu kalau bisa pulang sekarang ya. Bantu mami diemin baby Re” jawaban mami semakin membuat Vio tidak tenang.
“Baik, Mi. Vio segera pulang sekarang” jawab Vio. Lalu bergegas ke kamarnya dan berganti pakaian.
“Bi Hawa, Wuri, tolong jaga vila dengan baik seperti biasa ya. Aku harus pulang sekarang” ucap Vio tegas.
“Baik, Nona” jawab Bi Hawa dan Wuri hampir bersamaan.
Kemudian muncul Hasan.
“Nona, mobil sudah siap di depan” ucap Hasan.
__ADS_1
“Terimakasih. Tolong kamu jaga mereka dan rumah ini dengan baik juga” titahnya pada Hasan. Lalu melangkahkan kakinya dengan tergesa-gesa.
“Nona, jangan tergesa-gesa ya, Non. Sepertinya Nona ada masalah” ucap Bi Hawa.
Vio yang tergesa-gesa itu berhenti melangkahkan kakinya. Dia berbalik dan tersenyum.
“Terimakasih, Bi sudah diingatkan” kemudian berbalik kembali dan pergi meninggalkan vilanya dengan mobil yang berbeda.
Dengan kecepatan tinggi Vio kini telah sampai di mansion orang tuanya. Saat melangkah masuk dan segera ke kamar mandi setelah mengucap salam, dan membersihkan diri, Vio yang sudah mendengar tangis baby Re saat memasuki pintu rumah, hatinya sangat teriris. Dia menghampiri maminya.
“Assalamu’alaikum, Mami, Baby Re. Eleh-eleh anak Mami. Nangis kenapa?” kini baby Re beralih didalam pelukan Vio.
“Waalaikum salam. Iya kamu denger sendiri kan nangisnya begitu kencang dan tidak mau diam dari kepergian Rena. Biasanya juga tidak seperti ini meskipun ditinggal Rena mengecek toko rotinya” keluh maminya ikut sedih mendengar suara tangis baby Re yang menyayat hati.
Setelah satu setengah jam menangis di pelukan Vio, akhirnya baby Re tertidur dalam gendongan Vio. Vio yang tampak lelah mendiamkannya, akhirnya merasa lega. Namun Vio khawatir jika baby Re terbangun dari tidurnya, baby Re menangis kencang seperti tadi. Jadinya Vio tidak menaruh dalam boks bayinya.
Drrrttt drrttt.. dering ponsel Vio. Tertera sebuah nama asistennya. Ranti. Saat hatinya ingin memarahinya karena merasa sudah mengganggu tidur baby Re, justru hatinya dibuat membeku mematung mendengar kabar dari asistennnya itu. Ponselnya terjatuh yang mengakibatkan baby Re terbangun dan menangis kencang kembali karena kaget. Setelah mendengar tangisan bayi, Vio tersadar dari syoknya.
Kemudian dengan tenang dia menenangkan kembali baby Re supaya tertidur kembali. Setelah tertidur kembali, Vio meletakkan baby Re ke dalam boks bayinya dan meminta baby sitternya untuk menjaganya. Dia segera menghampiri maminya yang sudah berada di dalam kamar mami papinya.
“Mi, Rena kecelakaan. Vio sekarang mau ke rumah sakit. Mami tolong jagain baby Re di rumah ya” Vio menangis sejadi-jadinya dalam pelukan maminya. Mami yang mendengar itu ikut menangis. Rena yang sudah dia anggap putrinya itu kini telah berjuang antar hidup dan matinya.
“Ya segeralah temani Rena. Kabari Mami jika terjadi sesuatu ya. Mami akan memberi tahu papi. Semoga Rena baik-baik saja” ucap mami mengelus pundak putrinya yang diangguki Vio.
“Bersikaplah dengan tenang, nak” pesan mami sebelum Vio pergi ke rumah sakit.
Kemudian tak lama Vio tiba di rumah sakit dan berlari menuju ke ruang gawat darurat. Disana tampak Ranti asistennya dan seorang ibu serta ayah Rena. Vio belum pernah bertemua dengan ibu Hanum ibunya Ranti. Tapi dia sudah mengenal ayahnya Rena.
“Ranti, bagaimana keadaan Rena saat ini? Kenapa bisa terjadi kecelakaan? Apa yang sudah terjadi?” dia terlalu malas untuk menyapa ayahnya Rena. Karena dia sudah menelantarkan Rena sejak kecil. Membiarkannya berjuang sendiri bersama ibunya yang sakit-sakitan.
“Nona, tenanglah. Semuanya bisa dijelaskan ibu saya, Nona” Ranti memeluk ibunya yang berdiri disampingnya. Ranti juga sudah menjelaskan semuanya. Dan bahkan meminta ijin setelah meeting selesai.
“Ibu kamu?” tanya Vio lalu menyambut tangan ibu Hanum untuk bersalaman dan mencium tangan ibunya Ranti itu dengan takzim. Bu Hanum dan Ranti pun kaget. Seketika Bu Hanum melepas tangannya kembali. Dia merasa sangat bangga dan kagum melihat kebesaran hati nona muda putrinya yang sudah menyelamatkan nyawa putrinya dari para bedebah itu dan bahkan membantu perekonomian keluarganya kala itu.
“Sudah, nak tidak perlu sungkan” ucap Bu Hanum.
“Saya Hanum ibunya Ranti. Kebetulan tadi saya….” Bu Hanum menjelaskan semuanya panjang lebar. Hingga membuat Vio mengepalkan kedua tangannya dan terlihat sangat marah.
Ranti yang melihat kemarahan nona mudanya itu sudah hafal, namun berbeda dengan tuan Brawijaya, dia terlihat sedikit takut melihat raut muka Vio. Apalagi Vio tampak tidak menyukai dirinya. Ingin menyapanya namun dia urungkan kembali.
"Selidiki cctv Jl. Simpang Sampang dan sepanjang jalan yang menuju ke arah Jl. Simpang Sampang" ucap Vio pada seseorang dari balik sambungan telepon. Kemudian dia terduduk lemas di bangku penunggu. Ayah Rena mengikutinya. Dan memulai berbicara.
__ADS_1
"Terimakasih atas perhatianmu pada Rena, nak. Kamu adalah keluarga yang baik baginya. Saya menyesal sudah menelantarkannya juga ibunya dulu. Saya sangat menyesalinya" ayah Rena menangis tergugu di samping Vio. Bu Hanum kaget mendengarnya. Ranti yang sudah mendengar kisahnya Rena hanya terdiam tidak ingin ikut campur.
"Semoga Rena bisa memaafkanmu" dengan tatapan tajamnya Vio menoleh menatap Tuan Brawijaya. Sedangkan yang ditatap masih meratapi kesedihannya.