
Tok tok tok. Terdengar suara pintu ruangan Vio diketuk oleh seseorang.
“Masuk” seru Vio.
Tampak seorang gadis berparas datar memasuki dengan mengucap salam terlebih dahulu. Kemudian Vio pun membalas salam tersebut dengan memperhatikan raut Ranti menyelidik karena tidak ada yang perlu dibicarakan dengannya kenapa hari ini Ranti pergi ke ruangannya.
“Ada apa?” tanya Vio datar lalu mengambil pena kembali dan kembali menghadapkan pandangannya pada berkas-berkasnya.
“Nona, Tuan Muda Pramudya ingin bertemu. Beliau sudah menunggu nona di luar” Ranti memerhatikan dengan seksama ekspresi wajah atasannya itu. Dia tahu, bosnya itu tidak mau menerima tamu jika tidak membuat janji terlebih dahulu. Tampak bosnya meletakkan penanya kembali. Hal ini membuat Ranti menciut.
Selang beberapa detik dalam keheningan, Ranti pun akhirnya mendapatkan jawaban dengan helaan nafas atasannya itu.
“Haaahh. Mau apa dia kemari? Kenapa dia selalu menggangguku?” Vio mendesah malas bercampur berdebar. Tiba-tiba jantungnya berdebar tak karuan. Lalu menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi kebesarannya.
“Kenapa aku menjadi gugup begini?” ucapnya lagi membatin.
“Baiklah. Suruh ke ruanganku sekarang. Tapi..nanti kamu tetap di sini bersamaku” jawab Vio agak ragu.
“Pasti dia akan membuat masalah. Huft” desah Vio yang di dengar oleh Vrish ketika masuk ruangan Vio.
“Tenang saja aku tidak akan membuat masalah” ucapan Vrish itu membuat Vio terlonjak kaget.
“Kamu kaget?” ucap Vrish lagi yang kini sudah berdiri di hadapan dimana Vio duduk di kursinya.
“Selamat datang di kantor kami, Tuan Muda Pramudya! Mari silahkan duduk” Vio mempersilahkan Vrish dengan menunjuk kursi untuk diduduki Vrish. Lalu Vrish duduk mengikuti sambutan Vio.
“Ada apa anda datang kemari, Tuan?” tanya Vio menatap Vrish tajam. Sedangkan yang ditatap sangat menyukai tatapan tajam itu yang terlihat manis baginya. Sadar akan kelakuannya, lalu Vio menundukkan pandangannya.
Laki-laki yang ada dihadapannya itu hanya tersenyum lebar dan merekah. Tampaknya hari ini tuan muda pramudya sangat bahagia. Itulah pikiran Vio saat melihat itu. Lalu Vrish menoleh ke arah Ranti bermaksud untuk menyuruhnya pergi. Dan hal itu disadari Vio.
“Aku yang memintanya. Tidak baik bukan laki-laki dan perempuan berada dalam satu ruangan?” ucap Vio.
__ADS_1
“Oh ya? Tenang saja aku tidak akan menggigitmu” ucap Vrish tersenyum miring. Lalu menoleh pada Ranti. Dan mengisyaratkan untuk pergi meninggalkan mereka berdua. Lalu Rantipun melihat bosnya. Vio akhirnya menganggukkan kepalanya. Kemudian Ranti baru meninggalkan mereka berdua.
“Baiklah katakan apa maksud kedatangan anda, Tuan?” kata Vio tanpa berbasa-basi.
“Apa aku tidak boleh mengunjungi tunanganku?” jawabnya dengan senyum smirknya.
“Aku sudah mengembalikan cincinmu. Kita bukanlah tunangan” ketus Vio.
“Bilang ke sopirmu, tidak usah menjemputmu. Aku akan menjemputmu pulang dari kantor” setelah mengucapkan itu, Vrish kemudian pergi meninggalkan kantor Vio dengan senyum yang tidak bisa diartikan. Semua pegawai di kantor Vio ternganga melihat tuan muda Pramudya tersenyum merekah. Seolah-olah jatuh cinta.
Saat Vio keluar ruangan, dia terkejut mendapati hampir dari semua karyawan wanitanya berdiri ternganga seolah melihat hantu. Kemudian dia berseru pada semua karyawannya.
“Lanjutkan pekerjaan kalian!” kemudian dia kembali masuk.
Entah kenapa hatinya merasa girang ingin melompat setinggi-tingginya. Mungkin wajahnya sudah bersemu merah.
“Tunggu! Kenapa aku ge-er sekali dia berucap seperti itu? Apa aku harus menelpon Monti atau tidak ya? Nanti mereka berdua curiga. Dan orang rumah. Pasti mereka juga akan curiga jika aku pulang diantar tuan muda yang resek itu” gumamnya sendiri mondar-mandir. Entah kenapa jalan pikirannya tiba-tiba buntu hanya dengan kedatangan Vrish yang tiba-tiba itu.
“Hei! Tunggu! Mau kemana kau? Siapa kau? Nyelonong masuk saja!” tegur keras Ranti menghadang jalan Jimy. Jimy bermaksud untuk menjemput Vio atas perintah tuannya. Kemudian Martin menepiskan tangan Ranti lalu berjalan kembali menuju ruangan Vio. Namun, lagi-lagi Ranti menghadangnya.
Bugh bugh bugh
Ranti berusaha menendang dan memukul Jefry. Dengan tanpa persiapan Jefry pun tersungkur ke lantai.
“Sial! Nyali juga cewek ini!” batin Jefry sambil bangkit berdiri.
Tanpa membalas pukulan dan tendangan Ranti, Jefry justru berjalan lagi menuju ruangan Vio tanpa menghiraukan halangan dari Ranti. Karena merasa menganggu jalannya, Jefry akhirnya mencekal kedua tangan Ranti dan mendekatkannya pada dinding hingga membuat Ranti terhimpit dan kesal.
“Aku kesini hanya untuk menjemput Nona Muda Atmadja atas perintah tuanku” lalu Jefry menghempaskan cekalannya itu.
Ranti yang memegang pergelangan tangannya yang sakit akibat terlalu kencangnya cekalan laki-laki kekar itu meringis.
__ADS_1
“Seharusnya permisi dulu tidak nyelonong masuk seperti maling!” teriak Ranti yang tentunya didengar oleh Jefry. Jefry terus melangkah masuk ke ruangan Vio tanpa mendengar ocehan Ranti dan tetap memasang wajah datarnya itu. Tentu hal itu tidak diketahui Vio.
Tok tok tok
“Masuk!” seru Vio dari dalam ruangannya.
Lalu tampaklah seorang laki-laki kekar berbadan tinggi tentunya lebih tinggi dari tuan muda aneh itu. Vio mengernyitkan keningnya. Dia belum tahu jika laki-laki dihadapannya itu adalah asisten Vrish. Karena belum pernah melihatnya. Tentu saja bagi Vio itu adalah hal yang tidak sopan mengutus seseorang untuk menjemput dirinya. Sedangkan tadi pagi tuan muda itu bilang sendiri bahwa dia yang akan menjemputnya.
“Nona, Tuan Muda sudah menunggu anda dibawah” ucap Jefry tegas lalu tiba-tiba mengambil tas Vio yang sudah Vio siapkan untuk pulang di atas meja kerjanya.
“Tidak. Tidak perlu kau bawakan. Aku bisa membawanya sendiri. Memangnya aku tidak punya tangan apa?!” ketus Vio merasa kesal. Dalam hatinya merasa kesal, karena orang yang dia nanti tenyata tidak mau naik ke atas menjemputnya. Padahal dia sudah bilang pada Monti untuk tidak mengantarnya pulang tapi untuk mengantar Ranti saja.
Kemudian mereka berjalan dimana Vio berjalan terlebih dulu keluar ruangannya. Kemudian diikuti oleh Jefry. Hal itu dilihat oleh Ranti.
“Ranti, kamu pulanglah bersama Monti. Biar Monti yang mengantarmu pulang” ucap Vio yang melihat Ranti mengamatinya dengan laki-laki datar dan dingin sedingin tuannya.
“Baik, Nona. Terimakasih” jawab Ranti tidak ingin mengecewakan bosnya. Lalu mereka bertiga berjalan saling beriringan.
Setelah sampai di pintu keluar masuk, Vio melihat sebuah mobil mewah Range Rover Sport bertengger di depan pintu masuk. Kemudian Jefry membukakan pintu belakang untuk Vio. Vio sempat ragu untuk masuk.
“Masuklah!” perkataan seseorang itu mengagetkan Vio. Tampak Vrish menurunkan jendela kaca pintu mobilnya yang sedang duduk di depan samping kemudi. Ternyata apa yang dikhawatirkan itu tidak terjadi. Hatinya sedikit lega. Kemudian dia masuk. Tanpa sadar dia melengkungkan bibir mungilnya itu. Semua itu dilihat Vrish dari ponselnya. Tenyata Vrish memasang kamera kecil di mobilnya untuk mengawasi tunangannya itu. Vrish yang melihat itupun tersenyum tipis terlihat bahagia. Sedangkan asistennya itu masih berdiri membeku melihat tuan mudanya itu duduk di depan samping kemudi. Baru kali ini dia melihat dengan mata kepalanya sendiri. Dan apa itu. Senyum menawan tuan mudanya yang selama ini sirna kini kembali terbit. Sekarang dia sudah tahu apa yang membuat tuan mudanya ini selalu berbinar dimatanya.
“Kamu mau terus berdiri disitu terus?!” kata-kata Vrish itu menyentak lamunan Jefry. Hingga Jefry tersadar dan berjalan berputar menuju pintu kemudi. Setelahnya mobil mewah itu melaju meninggalkan perusahaan Atmadja dan sosok Ranti yang terkejut melihat senyum si tuan dingin itu merekah dengan kedatangan nona mudanya.
Tiinn!!
Klakson mobil itu mengagetkan Ranti. Kemudian sosok laki-laki tegap berjalan menghampirinya.
“Apa kamu akan berdiri terus disini?!” kesal Monti karena dari tadi diklakson Ranti tidak mendengarnya.
“Oh ya. Maaf. Mari” kemudian Ranti berjalan menuju mobil bersama dengan Monti. Monti siap mengantarkan Ranti sesuai perintah nona mudanya. Meskipun Monti bersikap dingin tapi hatinya yang hangat itu, selalu gugup jika berada di dekat Ranti. Sang wanita perkasa seperti nona mudanya. Wanita yang dulunya rapuh kini menjelma menjadi wanita kuat dan perkasa. Wanita yang dulu cupu kini terlihat bermuka datar sama seperti nona mudanya. Hanya saja Ranti tidak menyadari itu. Jadi dia merasa biasa saja.
__ADS_1