Pacar Online Yang Tertukar

Pacar Online Yang Tertukar
Bab 56 Melakukannya untuk yang pertama kalinya


__ADS_3

“Apa yang kau lakukan padanya?!” teriak Prayoga pada Prisa.


“Kau! Justru apa yang kau lakukan dengannya?! Sehingga kau berani sekali menamparku. Hah!” teriak Prisa ganti.


“Arrgggh!” Prayoga mengacak rambutnya kesal pada Prisa. Sudah susah-susah untuk bertemu dengan Vio tapi malah dikacaukan Prisa.


Beruntung mereka bertengkar saat sudah berada di apartemen. Jika tidak pasti akan membuat malu diri mereka sendiri.


Setelah kejadian di café tadi, setelah Prisa mengguyur Vio air minum, Prisa yang melihat perempuan itu ternyata Vio, yang sudah membuat Prayoga tiba-tiba sikapnya berubah, setengah kaget karena Vio adalah tetangga sebelah apartemen yang ditinggali saat ini.


“Jadi kau perempuan itu yang sudah membuatnya berubah!” teriak Prisa menuding Vio yang masih duduk santai memandangi Prisa dan Prayoga bergantian.


“Ternyata kau pelakor. Kau wanita ular..” sebelum menyelesaikan ucapannya, sebuah tangan melayang di pipi mulusnya.


“Ayo kita pulang!” Prayoga menggandeng tangan Prisa tapi dihempaskan Prisa dengan kasar dan mata yang melotot menatap Prayoga marah. Lalu menoleh ke arah Vio dan menunjuk Vio.


“Kau harus menerima pembalasanku” ucap Prisa dengan satu tangan melayangkan ke pipi Vio. Namun tak berhasil karena Vio sudah menangkisnya terlebih dulu. Monti dan Prayoga yang menyaksikannya pun kaget hamper saja mereka berdua maju menangkis tangan Prisa.


“Kau tidak takut tangan mulusmu ini terluka, Nona?” Viopun menghempaskan kasar tangan Prisa.


“Jika kau ingin menjelaskan sesuatu, jelaskan padanya yang sebenarnya” lanjutnya menoleh pada Prayoga. Kemudian Vio membalikkan badannya berjalan menuju mobilnya yang diikuti oleh Monti.


Kembali lagi ya.


“Dia adalah pacar onlineku. Yang tertukar denganmu. Tapi entahlah dia bertemu dengan pacarmu yang tidak jelas itu atau tidak. Apa kau sudah ingat dimana kita saling tertukar?” ucap Prayoga sambil mendudukkan bokongnya ke sofa empuk di ruang tamu.


Penjelasan ini membuat Prisa terbelalak kaget. Bagaimana mungkin bisa tertukar dan akhirnya kembali bertemu. Dia selalu mengira bahwa apa yang terjadi saat itu seperti permainan dalam sebuag game yang bias pergi dan mempermainkan kapanpun dia mau. Baginya pertemuan yang tertukar itu hanya sebuah hal yang biasa yang pada akhirnya tidak akan berlanjut seperti saat ini. Hal ini membuat Prisa semakin sadar bahwa dimata Prayoga, Vio adalah cintanya. Hal itu dapat dia lihat dari tatapan mata Prayoga. Sama seperti halnya dirinya, dia menganggap bahwa Prayoga tidak akan sampai bisa memiliki perasaan yang sesungguhnya terhadap pacar onlinenya itu. Dunia online hanya sebatas hal yang semu, bukan yang sesungguhnya. Maka dari itu dia tidak pernah benar-benar memiliki perasaan terhadap Vrish pacar onlinenya juga. Apalagi dia tidak tahu siapa Vrish itu. Dan bagaimana kehidupannya. Setelah bertemu dengan Prayoga dia justru memanfaatkannya karena dia wanita yang materialistis.


“Lalu apa kau akan kembali padanya? Dan kau akan membuangku begitu saja?” tanya Prisa menatap tajam Prayoga kemudian berlalu menuju kamarnya lalu membantingnya dengan kencang.


Prayoga belum sempat menjawabnya Prisa sudah pergi meninggalkannya begitu saja. Hatinya merasa bersalah. Karena dari awal dia sudah tidak jujur. Entah hubungan seperti apa yang dia miliki bersama dengan Prisa. Baginya Prisa adalah teman yang sangat membantunya mewujudkan mimpinya menjadi pebisnis retail yang lumayan berkembang pesat. Maka dari itu dia tidak pernah bisa dan mau menyentuh Prisa seperti yang pernah Prisa tawarkan sebelumnya. Menurut Prayoga tempat ternyamannya adalah bersama Vio. Dia bisa merasakan kenyamanan di hati dan pikirannya meski hanya dengan mendengar suaranya saja.


Tak lama kemudian Prisa keluar dari kamar dengan dandanan wajah yang tebal menggenggam sebuah tas kecil. Terlihat mencolok dan pakaian yang seksi itu mampu mengundang para pria hidung belang akan mengerubunginya.

__ADS_1


“Mau kemana kamu?” Prayoga yang sudah berdiripun, menghampirinya dan menarik tangannya masuk ke dalam kamarnya supaya Prisa mengganti pakaiannya yang agak sopan lagi.


“Lepasin!” teriak Prisa menghempaskan tangannya dari cengkraman tangan Prayoga.


“Kalau kau ingin pergi, ganti pakaianmu itu dengan yang lebih layak untukmu” ucap Prayoga membuat Prisa semakin kesal. Lalu tertawa miring.


“Apa kau peduli padaku sekarang? Urusi urusanmu itu” ucap Prisa berlalu meninggalkan Prayoga. Karena tidak mau terjadi apa-apa dengan Prisa, Prayogapun mengikutinya.


Sepanjang perjalanan Prayoga menelponnya. Namun alhasil karena amarahnya, Prisa tidak mengaktifkan ponselnya.


“Sial!” umpatnya membanting ponselnya.


Mobilnya terus mengikuti kemana arah taksi di depannya itu melaju. Tak berselang lama, taksi itu berbelok ke arah sebuah club malam ternama di kota itu. Kemudian dilihatnya kaki seorang wanita yang sudah dia kenal turun dari sebuah taksi. Prayoga pun segera mencari tempat parkir untuk memarkirkan mobilnya. Lebih tepatnya mobil milik Indra temannya.


“Kenapa pelampiasan kemarahanmu itu pergi ke tempat-tempat seperti ini?” gumamnya lirih lalu memarkirkan mobilnya dengan sangat lihai. Segera ia turun dan bergegas berjalan menuju pintu club malam yang dijaga ketat dua orang security dengan postur tinggi tegap berbadan kekar dengan dibalut seragam berwarna serba hitam itu.


Setelah melewati pintu masuk dan keamanan tadi, mata Prayoga memandang ke berbagai arah untuk mencari sosok Prisa.


“Hai, tampan! Ada yang bisa aku bantu? Kemarilah bergabunglah denganku” ujar seorang tamu wanita yang ditemani beberapa temannya sambil menggoyangkan gelas minumannya dengan berisikan minuman berwarna biru itu.


“Ayo berdansalah denganku” ujar tamu wanita yang lain.


Akhirnya Prayoga bertanya ke meja bartender.


“Kemana arah perginya wanita ini?” tanya Prayoga menunjukkan foto Prisa pada seorang bartender.


“Ke arah kamar 408, Tuan” jawab bartender.


“Kamar? Kenapa dia memesan kamar? Dengan siapa dia?” tanyanya lagi.


“Saya tidak tahu tuan. Sepertinya tadi saya lihat ada beberapa laki-laki yang mengajaknya ke kamar 408 karena dia duduk sendiri di sini, Tuan” jawab bartender lagi.


“Baiklah. Terimakasih” ucapnya lalu berjalan ke kamar 408.

__ADS_1


Brakkk. Suara pintu dibuka dengan keras oleh Prayoga. Seketika mata Prayoga terbelalak lebar mendapati pemandangan di depannya. Melihat adegan dimana posisi Prisa yang sudah mabuk berat itu tampak akan digagahi para pria hidung belang. Seketika tangannya mengepal dan berjalan maju menendang para pria itu.


Bughh bughhh bughh.


Prayoga memukul dan menendang tiga pria yang juga tampak sedang mabuk. Kemarahan Prayoga melihat Prisa dengan kondisi pakaian yang hampir setengah telanjang itu, membuat tiga pria itu tersungkur begitu saja. Kekuatan mereka bertiga tidak sebanding kekuatan Prayoga karena mereka sudah sangat mabuk. Setelah menyelesaikan urusannya dengan para pria mabuk itu, Prayoga berjalan mendekati Prisa menjongkokkan dirinya dan memakaikan jaketnya ke tubuh Prisa. Prisa yang setengah sadar itu mengoceh sendiri dalam gendongannya.


“Kau itu pembohong. Kau sudah menamparku demi wanita itu. Apa kurangku darinya? Kenapa kau jahat sekali padaku? Aku sudah membantu usahamu menjadi besar. Kenapa kau menyakiti hatiku?” kata-kata Prisa itu membuat Prayoga diam tak merespon ocehan orang mabuk.


“Kau tahu? Aku sangat menyukaimu. Kau sudah membuatku jatuh cinta. Dulu aku bermaksud memanfaatkanmu. Tapi kenapa aku sekarang kena karmanya? Kenapa kau membuatku jatuh cinta? Hm? Hahahaha” ucapnya lagi. Dan kali ini membuat Prayoga berhenti berjalan seketika membeku. Dia tahu jika Prisa memanfaatkannya. Tapi dia tidak pernah berpikir bahwa wanita dalam gendongannya itu akan jatuh cinta dengannya.


Setelah perjalanan sepuluh menit dari club malam itu, mereka berdua sudah sampai di apartemen. Tiba-tiba Prisa yang mencium bibirnya membuat Prayoga membeku seketika saat akan meletakkan Prisa ke atas ranjangnya. Ciuman itu semakin lama semakin membuat Prisa semakin menuntut lebih namun, Prayoga masih diam tak berkutik.


“Tolong aku! Kenapa tiba-tiba tubuhku terasa panas? Prayoga, kenapa tubuhku semakin panas? Ada apa dengan tubuhku? Tolong peluk aku lebih erat, Prayoga” Prayoga yang tidak tahu ada apa dengan Prisa itu, meletakkan Prisa ke atas kasur. Prayoga merasa karena mabuknya Prisa sangat buruk jadi Prayoga bermaksud untuk meninggalkannya istirahat dulu. Namun tiba-tiba, tangan Prisa menariknya dengan kencang hingga tubuhnya yang setengah berdiri tegap itu tidak seimbang dan akhirnya jatuh ke dalam pelukan Prisa.


“Tolong peluk aku. Suhu tubuhku terasa panas” Prisa yang memeluk Prayoga erat itu membuat Prayoga kembali tak berkutik. Prayoga yang akhirnya diam menurut akhirnya ikut berbaring disisinya. Hal yang tidak disangka-sangkapun terjadi. Prisa tiba-tiba menanggalkan pakaiannya satu per satu. Hal ini membuat Prayoga kaget dan hendak berdiri. Lagi-lagi tangan Prisa menariknya agar tidak pergi.


“Tolong jangan pergi. Tolong bantu aku tubuhku sangat panas. Tubuhku sangat ingin dipeluk sekarang” Prisa mendekatkan dirinya merebahkan kepalanya ke dalam dada bidang Prayoga.


“Tolong kamu hentikan ini semua! Jangan bersandiwara lagi!” bentak Prayoga yang sudah tidak tahan dengan kemolekan tubuh Prisa yang sintal dan seksi itu yang sudah nampak polos tanpa sehelai benangpun. Prayoga yang berusaha menjauhkan dirinya itu tak berdaya dengan cengkeraman kuat dari seorang Prisa.


“Prayoga tolong aku. Saat ini aku tidak tahu kenapa tiba-tiba tubuhku ingin kau c*m*u? cepatlah tolong aku, Prayoga” Prisa mengeluarkan air matanya tanpa isakan tangis tapi dengan permohonan memelas di wajahnya.


“Apa para pria bede**h itu sudah mencampuri minuman Prisa dengan sesuatu? Setahuku, semabuk-mabuknya seseorang tidak akan meminta dic*m*u seperti ini” batin Prayoga yang tanpa sadar jari jemari Prisa sudah lincahnya me****s milik Prayoga sehingga Prayoga tersadar dan mele***h lalu menatap wajah Prisa yang seolah menghiba itu.


“Baiklah. Kau yang meminta” ucapnya lalu meladeni permintaan Prisa yang ternyata dibawah pengaruh obat per******g dari ketiga pria di club malam tadi. Kemudian mereka melakukannya untuk yang pertama kalinya bagi keduanya.


Silahkan dipikir sendiri ya readers 🤔. Othor tidak mau menambah pikiran yang jauh melayang 😄.


Yukk readers dukung karyaku ini ya..


Komen, like and subscribe bahkan vote ku tunggu ya


Terimakasih 🙏🤗🥰😘

__ADS_1


__ADS_2