Pacar Online Yang Tertukar

Pacar Online Yang Tertukar
Bab 30 Bertemu Clara


__ADS_3

Dua hari sudah Vio menemani Rena.


"Vi, besok kamu kan harus kerja. Kamu pulang aja ya. Aku gak mau kalau nanti gara-gara aku kamu dipecat, Vi" bujuk Rena kepada Vio yang tampaknya masih enggan meninggalkan sahabatnya itu.


"Udah kamu gak usah mikirin itu. Dipecat gampang. Tinggal pulang kesini lagi dan bantuin papi atau aku kerja sama kamu bantuin kamu disini" kekehan Vio mengundang senyum tipis Rena.


"Nah kan sudah bisa tersenyum. Nah gitu dong. Kamu cantik kalau senyum gitu" goda Vio.


"Kan aku emang cantik" canda Rena membalasnya.


"Tentu saja sahabat siapa sih ini?" colek dagunya Rena.


"Isshh" Rena menepis.


"Ren, aku udah nempatin Lili buat bantuin kamu ngurus toko rotimu itu. Sayang kan kalau kamu tutup lama. Kasihan juga para pegawai kamu. Maaf aku tanpa ijin darimu langsung bertindak".


"Iya. Aku tahu apa yang akan kamu lakukan padaku. Tapi Vi...aku masih ingin di rumah. Aku belum bisa bertemu banyak orang. Itu akan mengingatkanku pada ibu" tampak raut muka yang sedih kembali.


"Sudah ah. Ini sudah empat hari lo kamu bersedih seperti itu. Ayo semangat lagi. Pegawaimu membutuhkanmu".


"Vi, maukah kamu membeli tokoku?" pertanyaan Rena itu membuat syok Vio. Secara toko roti adalah cita-cita Rena.


"Apa maksudmu? Kamu sudah tidak membutuhkan toko itu lagi? Ingat Ren disitu adalah kenang-kenangan ibu kamu dan itu yang kamu impikan selama ini"


"Justru karena itu Vi, aku akan selalu sedih jika mengingat perjuangan ibu. Aku ingin menata hatiku dulu Vi"


"Jika kamu ingin menata hatimu ikut aku aja yuk ke Pusat Kota. Biar tokomu itu dihandle oleh Lili aja asistenku. Dia orang yang bisa dipercaya kok. Kamu masih bisa mendapatkan penghasilan tiap bulannya. Bagaimana?" tawar Vio.


"Hmm..sepertinya aku ingin pergi ke luar negeri, Vi. Mudah-mudahan aku bisa cepat menata hatiku"


"Bagaimana jika kamu membutuhkanku? Bagaimana jika kamu membutuhkan sandaran, Ren?" Vio tampak khawatir.


"Kamu jangan khawatir. Aku udah dewasa kan?" sambil menepuk bahu Vio.


"Gak. Pokoknya aku gak rela jika kamu pergi ninggalin aku" Vio merasa kesal. Bagaimana tidak?! Vio hanya khawatir jika nanti disana Rena semakin terpuruk.


"Kamu sayang sama aku kan Vi?"


"Tapi kan..." Vio merasa dilema. Antara mengijinkan atau tidak.

__ADS_1


"Baiklah. Tapi kamu janji ya. Kamu akan menghubungiku setiap saat" Vio menunjukkan jari kelingking kanannya. Dan disambut oleh Rena.


"Janji" kemudian mereka tersenyum dan saling memeluk.


Setelah tiga hari menemai Rena, Vio pun kembali ke Pusat Kota. Rena pun akhirnya pergi ke luar negeri dimana dia ingin menenangkan dirinya.


Vio bertekad untuk membantu mengelola perusahaan papinya. Jika kerjasama perusahaan property dimana Vio bekerja dengan perusahaan keluarga Pramudya selesai maka Vio pun akan segera mengajukan pengunduran dirinya.


"Haaaaaahhh. Aku paling suka udara di sini. Sejuk dan berwarna" ucap Vio yang sudah tiba di apartemennya saat ini.


Drrttt


"Kamu sudah sampai, Vi" pesan itu dari Rena.


"Baru saja. Kamu sampai mana?" tanya Vio balik.


"Aku masih transit nih di bandara Ngurah"


"Hati-hati ya, Ren"


"Siap"


"Semoga kamu mendapatkan kebahagiaanmu, Ren" lanjutnya kemudian Vio pergi membersihkan diri.


Ting


Sebuah notif menyala. "Assalamu'alaikum, Tuan Putri" pesan dari dokter Indra.


Tapi Vio masih berada di kamar mandi. Setelah membersihkan diri Vio bermaksud mau pergi keluar apartemen berbelanja makanan. Sebelum keluar dia membuka sebuah pesan dari dokter Indra.


"Wa'alaikumsalam" jawab Vio.


Lalu tak menunggu terlalu lama pesan itu pun berbalas.


"Tuan Putri apa kabar?" dengan emot senyum.


"Alhamdulillah, baik, dok" balas Vio.


"Aku mau belanja dok keburu lapar. Bye bye" lanjutnya dengan emot tangan melambai.

__ADS_1


"Hati-hati tuan putri"


"Insyaa allah" Vio memang sudah lapar dari tadi perutnya tidak bisa diajak kompromi.


Dia pun segera menuju pintu dan pergi keluar ke sebuah mall terdekat dengan apartemennya.


Di persimpangan jalan menuju mall, sebuah mobil ferari berwarna merah keluaran terbaru membunyikan klakson. Vio kira mobil itu membunyikan klakson karena ada yang menghalangi jalannya. Namun itu tidak mungkin karena persimpangan itu lampu merah. Vio yang memang spontan menoleh pun menjadi terkejut karena ternyata yang mengendarai mobil mewah itu adalah teman kencan buta sehari Vrish. Hal itu membuat Vio memutar matanya jengah. Sambil berjalan Vio tak menggubrisnya.


"Hei! Pelakor!" sontak teriakan Clara itu membuat banyak orang memandangnya. Ya pengemudi mobil mewah itu Clara. Dengan sombongnya Clara memaki Vio ditengah jalan. Vio yang pada dasarnya cuek itu berlalu begitu saja tanpa menggubrisnya. Dia menganggap teriakan itu seperti sebuah peribahasa yang sering dikenal banyak orang "Biarkan anjing menggonggong kafilah berlalu".


Seperti itulah yang ada dipikiran Vio. Vio segera berlalu dari kerumunan lalu lintas. Tatapan tajam orang-orang di sana sangat menyebalkan.


"Cewek gila. Fisik aja yang normal tapi otak dan mulutnya abnormal" gumam Vio.


Setiba di pintu masuk mall ternyata ada yang mencekal tangannya. Ya Clara. Clara mengikutinya.


"Kau, pelakor! Ternyata tinggal di kawasan kumuh ini. Ternyata selera Vrish rendahan. Vrish tidak selevel denganmu. Kenapa kamu mengejarnya? Apa kamu kekurangan uang? Jika kurang, aku bisa menambahi bulananmu. Kamu mau berapa, asalkan tinggalkan Vrish. Aku tahu kamu hanya tunangan bohongan Vrish. Jika memang kalian bertunangan maka keluarga Vrish tahu. Dan kalian sudah berbohong" cerocos Clara didepan umum. Tentunya hal itu membuat Vio malu. Akan tetapi bukan Vio namanya jika kalah telak terlebih dulu.


"Hei kau teman kencan buta sehari. Meskipun aku tidak selevel dengannya tapi dia lebih memilihku. Tidak malukah kau sudah ditolak didepan umum tapi malah mengataiku pelakor. Siapa yang merebut siapa, siapa yang mengatai siapa. Semua sudah jelas bukan?! Awas! Minggir! Calon istri tuan muda Pramudya mau lewat" senyum sindir Vio melenggang melewati Clara begitu saja setelah menghempaskan tangannya.


Si gadis angkuh itu mengejarnya karena merasa terhina. Lalu tiba-tiba mendorong Vio dari belakang. Namun naas, ketika bermaksud mendorong Vio dari belakang, justru dialah yang jatuh terjerembab karena Vio sudah mendengar langkahnya. Ilmu bela dirinya tidak sia-sia ternyata bukan?! Lawan sekecil gadis angkuh Clara itu tidaklah ada apa-apanya.


Terdengar banyak suara tawa dari pengunjung di sana. Bahkan Viopun juga menertawakannya. Bagaimana tidak, melihat mulutnya yang tiba-tiba jontor terbentur lantai hingga pecah berdarah dan rambut yang dibuat ikal bergelombang serta terawat jadi awut-awutan itu sudah terlihat seperti nenek sihir yang menjadi tontonan idola anak-anak kala itu.


Vio berlalu tanpa menolongnya. Seakan-akan dia tidak tahu dan tidak mengenalnya. Terdengar teriakan dari wanita sihir itu. Bagaimana tidak, bentuk wajahnya sudah seperti nenek sihir.


"Dasar pelakor! Awas kau! Apa lihat-lihat! Wanita itu sudah merebut tunanganku!" teriaknya seperti orang gila.


Waktu berbelanjapun berlalu. Vio berbelanja banyak makanan. Baik yang siap saji maupun yang harus dimasak dulu.


Saat tiba di apartemen, bunyi ponselnya berdering.


"Ya, Ren" sambil membuka pintunya apartemennya.


"Vi, aku sudah sampai. Kamu baik-baik aja ya di sana. Nanti kalau ada apa-apa aku kabari kamu. Aku lelah aku istirahat dulu ya. Bye Vi" ditutuplah sambungan telepon oleh Rena yang hanya mengabarkan bahwa ia sudah sampai di tempat dimana ingin menenangkan hati dan pikirannya. Tempat yang indah yang terkenal dengan kenangan terindah itu berada di sebuah pegunungan bebas polusi dan tampak asri. Ternyata Rena tidak jadi ke luar negeri. Hanya dia tidak mau Vio atau bahkan siapapun tahu keberadaannya.


"Ya. Kamu juga, Ren. Jaga diri baik-baik ya" lirihnya pada ponsel yang sudah mati sambungan teleponnya.


"Kamu harus kuat, Ren. Aku akan selalu menunggu kabarmu" gumam Vio pada dirinya sendiri yang tentu saja tidak didengar oleh Rena.

__ADS_1


Lalu Viopun masuk ke dalam apartemen. Segera ia berjalan menuju dapur dan memasukkan belanjaannya ke dalam kulkas. Setelah itu Vio memasak untuk dirinya sendiri. Bagi Vio rasa masakannya lumayan enak. Maka dari itu Vio lebih suka memasak ketika waktunya senggang.


__ADS_2