
Terlihat pemberitahuan email di ponsel Vrish. Sebuah email masuk dari perusahaan property Vio dan Farel bekerja. Sebuah email yang isinya jadwal kerjasama dua perusahaan. Karena minggu depan adalah terlaksananya kerjasama itu. Kerjasama yang sangat menguntungkan bagi perusahaan property kecil karena berhasil menjalin kerjasama dengan perusahaan ternama milik keluarga Pramudya.
Di akhir membaca email terdapat pesan yang sangat lucu "Hai! Ucapkan terimakasih! Ucapkan terimakasih!" disertai gambar tiga anak ayam lucu sedang berdansa kemudian diakhir dansanya menunjukkan pantatnya sambil digoyang-goyangkan lucu sekali.
Vrish tampak terkejut. Namun setelahnya, dia menyunggingkan bibirnya ke atas tersenyum tipis. Baginya hal itu untuk pertama kalinya bagi dia mendapat email dengan disertai kata penutup. Secerdas-cerdasnya dia, baginya ini pertama kalinya dia mendapatkan dari orang lain. Biasanya dia yang mengirim ke asistennya.
"Hmm siapa orang dari perusahaan property itu? Berani sekali dia mengirimiku gambar seperti itu" batinnya.
Selain pandai bela diri, Vio juga termasuk perempuan multitalenta. IQnya yang tinggi diatas rata-rata itu mampu mengoperasionalkan sistem komputer bahkan jaringan-jaringan berbagai macam kode sudah bisa disebut seorang hacker. Namun lagi-lagi Vio tidak pernah memperlihatkan itu. Maminya sudah pernah berpesan padanya ketika masih kecil bahwa bersikaplah normal. Sebenarnya bagi Vio apa yang ada di otaknya itu ya normal tapi kenapa maminya bisa berpesan seperti itu. Itu dikarenakan persaingan bisnis papinya. Banyak orang yang menginginkan anak yang jenius namun hanya dijadikan boneka bisnisnya saja. Mami tidak mau Vio diculik. Karena dulu Vio sempat diculik ketika usianya empat tahun.
Sebagai anak yang terlahir jenius Vio masih mengingat hal itu semua. Di tengah penculikan itu, ada anak kecil yang tidak sengaja melihat beberapa orang dewasa membawa anak perempuan kecil yang sedang memberontak. Si anak kecil laki-laki itu berpikiran untuk menyelamatkannya. Namun sampai di tempat penyekapan, Vio dibius sehingga pingsan akibat selalu memberontak dan teriak. Kemudian karena pengaruh kekuatan orang tuanya si anak laki-laki kecil itu, Vio bisa terselamatkan. Saat itu orang tua Vio baru pindah ke Kota Besar ke kampung halamannya. Jadi meskipun sesama dari kalangan pengusaha ternama, papi Vio adalah pengusaha ternama luar negeri di Andalusia. Sedangkan orang tua laki-laki kecil itu pengusaha ternama dari dalam negeri yang disegani. Dan yang orang tua laki-laki kecil itu hanya bertindak di belakang layar. Alias bawahannya ya gaess. Dan Vio pun diantarkan pulang hingga pintu rumah tanpa memberi tahu identitas mereka.
Vio yang sampai sekarang tidak mengetahuinya hanya terlihat samar ada anak laki-laki yang bergegas menghampirinya untuk melepaskan ikatannya itu berharap suatu saat nanti bisa bertemu dan tentunya entah bagaimana caranya. Orang tua Viopun juga tidak tahu siapa yang menyelamatkan putri semata wayangnya itu. Harapan keluarga Vio kelak akan mengucapkan terimakasih padanya.
Kembali ke Vrish.
Tiba-tiba Vrish teringat masa kecilnya. Dimana sosok kecil itu selalu teringat didalam benaknya.
"Cantik" batinnya ketika mengingat kejadian kala itu.
Tok tok tok..
"Masuk" perintah Vrish. Ketukan pintu itu membuyarkan lamunannya tentang masa lalunya itu.
Laki-laki tegap nan tampan itu pun masuk. Sosok yang selalu berada disamping tuan mudanya itu siapa lagi kalau bukan Martin asisten pribadi kepercayaannya.
"Tuan, tuan besar meminta anda untuk pulang sekarang" ucap Martin setelah menganggukan kepalanya tanda hormat.
__ADS_1
"Ada apa?" tanya Vrish mengernyitkan keningnya. Setahunya jika papanya menyuruhnya pulang pasti ada hal mendesak.
"Tuan besar akan menjelakan pada tuan" ucapnya menganggukkan kepala.
Lalu Vrish langsung beranjak berdiri bermaksud pulang ke mansion papanya. Ketika hendak masuk ke lift, dia berpapasan dengan Clara yang hendak menemuinya.
"Vrish" terkejut berpapasan namun berbinar matanya dengan senyum merekah menghampiri Vrish.
Vrish hanya menatapnya datar. Lalu meskipun banyak mata menatap Clara tajam namun tak berani berghibah. Mereka melanjutkan pekerjaannya kembali.
"Vrish tunggu sebentar mau kemana?" tanya Clara yang mengejar Vrish menuju lift.
Vrish hanya masuk melangkah diam. Kemudian pintu lift tertutup meninggalkan Clara sendirian disana dengan tatapan merendahkan. Clara menoleh melihat suasana didalam ruangan tersebut.
"Apa yang kalian lihat!" bentaknya kepada semua karyawan yang ada di sana. Lalu diapun membalikkan badannya pergi meninggalkan kantor Vrish dengan hati yang dongkol. Merasa dipermalukan oleh Vrish.
"Kamu lihat saja Vrish nanti. Jika tidak jatuh ke dalam pelukanku bukan Clara namanya" gumamnya dengan menggertakkan giginya ketika masuk ke dalam lift.
Dengan senyum di wajah tampannya yang blesteran itu, menampakkan wajah tampan yang terlihat awet muda itu dan dengan kedua tangan berada di saku kanan kiri piyamanya, berkata "Akhirnya kamu datang juga, nak".
"Duduklah dulu" pinta papanya yanh menatap putranya dengan senyuman hangat itu.
"Katakanlah, pa. Aku siap mendengarnya" ucap Vrish.
Entah apa yang akan dikatakan papanya itu Vrish sudah siap mendengarnya.
"Kamu tahu bisnis papa satu-satunya yang di luar negeri yang tanpa diketahui orang lain?" ujar papa Vrish.
__ADS_1
"Ya" jawab Vrish.
"Pergilah kesana diam-diam. Lalu selidikilah siapa yang berani bermain hingga Jefery menemukan hal ganjal dalam perusahaan itu. Kau tahu perusahaan itu nilainya ratusan trilliun? Jika sampai jatuh maka nasib negeri di sana akan berdampak pada rakyatnya. Karena negeri di sana sangat bergantung dengan perusahaan kita. Ingat jangan sampai ada yang tahu siapa pemilik perusahaan itu" jelas panjang lebar papa Vrish.
"Pergilah besok malam. Kamu akan dijemput Jefery di bandara" titah sang papapun tak dapat dia tolak. Karena satu-satunya perusahaan yang paling penting di salah satu negeri asal papanya itu berhubungan dengan rakyat negeri Erland.
Karena produk yang digunakan oleh penduduk Erland di sana adalah hasil produk dari perusahaan papanya Vrish. Bahkan para karyawan di sana saja tidak ada yang tahu siapa pemilik perusahaan itu. Dibawah kerjasama dengan pemerintah setempat penduduk tahunya perusahaan itu milik pemerintah dikarenakan si pemilik yang misterius.
Namun, bagi siapa saja yang memasuki perusahaan itu akan dapat merasakan aura dingin misterius si pemilik.
"Baiklah. Aku akan meminta Martin untuk mengurusi perusahaan di sini"
"Papa akan pergi ke perusahaan bersama Martin. Kamu jangan khawatir"
"Baiklah" sambil menatap papanya datar, jari jemari Vrish mengetuk meja.
"Satu lagi. Berhati-hatilah dengan dalang dibalik semua itu" peringatan papanya.
"Ya" lalu Vrish bangkit dari duduknya dan meninggalkan mansion papanya.
"Vrish" panggil tantenya.
"Ya"
"Benarkah Clara hari ini datang ke kantormu? Kenapa kamu tidak mau berbicara dengannya Vrish? Cobalah dulu sayang berteman dengannya" pinta tantenya itu dengan wajah memelas. Namun bukan Vrish namanya jika berbelas kasihan. Hati Vrish tidak bisa dibohongi. Entahlah baginya yang ada di dalam hatinya dia belum berminat berdekatan dengan perempuan kembali setelah kejadian dengan mantannya dan Prisa.
"Aku tidak suka. Tante jangan memaksaku. Jika tante sayang padaku maka jangan membicarakan tentang wanita itu" lalu Vrish pergi meninggalkan mansion papanya diikuti oleh Martin.
__ADS_1
"Aku akan pergi. Tolong kamu tangani dulu perusahaan bantu papa" ucap Vrish ketika sudah berada di dalam mobil mewahnya kepada Martin.
"Baik, tuan" jawab Martin lalu melajukan mobilnya menuju perusahaan kembali.