
Hari ini adalah hari persidangan untuk mengadili para penjahat itu. Vio yang sudah siap menghadapi para penjahat itu berjalan tegap ditemani sang kekasih serta maminya juga Ranti. Papinya tidak bisa menemaninya karena harus bertemu dengan klien penting dari luar negeri.
'Kemana dia? Katanya dia akan menemaniku. Tapi kenapa dia lama sekali?' batin Vio mencari Vrish menengok kesana dan kemari yang diperhatikan oleh Mami juga Ranti sedari tadi. Vio merasa cemas. Entah kenapa saat bertemu kembali dengan Vrish dia memjadi ketergantungan pada Vrish. Jika tidak berada di dekatnya maka dia akan merasa khawatir.
"Tenanglah dia akan datang. Mungkin dia terlambat sedikit. Kau juga tahu kan dia orang yang sangat berpengaruh di dunia bisnis. Mungkin dia masih mengurus sesuatu hal sebentar, nak" sahut mami saat menemukan kecemasan di wajah putrinya itu.
"Nona muda, ayo tunjukkanlah pada mereka bahwa nona itu nona muda yang tangguh. Lalu kenapa setelah dekat dengan tuan muda itu, nona menjadi ketergantungan padanya? Aduhhh nona mudaku yang paling ku sayang, ayo kemana tangguhnya nona itu! Aku tidak suka nona jadi lembek begini" Ranti pun merasa kesal melihat nona mudanya yang berubah melankolis itu.
"Diam kau! Wajar dia seperti ini karena ini baru pertama kalinya dia berada di ruang pengadilan dan jatuh cinta. Jadi dia akan membutuhkan dukungan dari pacarnya itu. Kau belum merasakannya. Sebentar lagi kalau kau merasakannya sendiri maka kau akan tahu rasa" Nyonya Atmadja menjitak kepala Ranti.
"Aduhh mami! Putri ini sedang bucin mami! Jadi jangan bicarakan tentangku nanti. Aku tidak akan sebucin itu" elak Ranti memegang kepalanya yang tidak sakit itu meskipun dijitak mami Vio.
"Hei kau ini tidak mendukungku malah bikin kesal orang begitu. Kalau kau tak bucin nanti jangan panggil namaku! Kau yang kaku itu sekarang bisa begini kan? Kau itu sama Monti sama saja. Sama-sama kaku. Kalian cocok" ujar Vio melenggangkan kedua tangannya di pinggang.
"Uhukkk uhukkk. Hukk hukkkk" Ranti tiba-tiba terbatuk saat menenggak minumannya di tumblernya.
"Nah kan makanya jangan suka ngeledek orang. Kualat baru tahu rasa" ledek Vio bergantian.
"Hati-hati minumnya, sayang! Kau ini. Temannya sedang kesedak gak dibantuin malah diledek terus. Sudah kalian jangan berdebat lagi. Berdoalah supaya berjalan lancar persidangannya" ujar mami Vio dengan mengelus punggung Ranti.
"Apakah saya terlambat?" suara berat itu tiba-tiba mengagetkan semua yang ada disana terutama Vio. Seketika dia melonjak berlari menghampiri Vrish dan hendak memeluknya. Vrish yang sudah siap memeluknya itu kembali kecewa setelah dihadang oleh Ranti. Vio justru memeluk Ranti.
"Hehehe. No peluk-peluk. Belum muhrim. Okay!" lalu Ranti menarik tangan nona mudanya. Dia merasa bahwa nona muda adalah segalanya baginya. Dia tidak mau nona mudanya lupa akan dosanya jika berpelukan dengan laki-laki yang belum halal.
Sedangkan Vrish yang kecewa itu mendengus kesal pada Ranti sahabat Vio itu.
"Awas kau!" gumamnya lirih. Namun masih didengar oleh Vio juga Ranti.
"Tidak usah ngedumel. Aku sudah menyelamatkan kalian dari api neraka. Dari para setan" sahut Ranti berjalan menggandeng nona mudanya menuju kursi tunggu.
Vio yang malu itu merasa geli melihat kelakuannya sendiri. Dia tidak sadar menghampiri Vrish tunangannya itu. Beruntunglah Ranti menyelamatkannya. Jika tidak, dia akan merasa malu. Jadi begini jika bucin. Dia akan lupa akan statusnya. Sangat berbahaya bukan?! Sepertinya hal sepele namun dampaknya akan sangat besar. Vio yang berjalan di depan Vrish, menoleh ke belakang melirik Vrish akan tetapi kepalanya diluruskan kembali oleh Ranti.
"Jahat banget kamu sudah menghalangiku untuk menyapanya sekarang melarangku untuk melihatnya" ketus Vio.
__ADS_1
"Itu bukan jahat, nona. Aku hanya mengingatkanmu. Coba seandainya aku tidak ikut. Tentu nona sudah lupa dosa. Aku baik kan nona?" Ranti membisikkan ditelinga Vio dengan senyum yang dibuat-buat imut sekali.
"Kamu jelek!" kesal Vio melihat senyum Ranti itu.
"Bukannya dari dulu nona?!" Ranti tak mau kalah menjawab nona mudanya. Ya Ranti sekarang berani menjawab nona mudanya karena Vio akan merasa tak nyaman dia menjadi asisten teman atau sahabat yang kaku.
"Terserahlah!" Vio semakin kesal.
"Ada apa? Kenapa kalian bertengkar lagi? Sudah seperti anak kecil lagi" tanya mami Vio saat melihat wajah keduanya yang satu manyun dan yang satu berwajah cerah merekah.
"Tidak apa-apa, mami. Ranti hanya memberikan motivasi pada nona muda saja kok. Iya kan nona muda? Supaya nona muda semakin semangat. Caiyo nona! Semangat!!!" teriak Ranti menyemangati Vio lalu memeluk nyonya Atmadja. Begitulah Ranti kini yang sudah sangat dekat dengan keluarga Atmadja. Atas perintah nyonya Atmadjalah Ranti memanggil mami padanya. Karena nyonya Atmadja merasa bahwa Ranti anak yang sangat baik dan bertanggung jawab atas hidup anaknya. Dimata nyonya Atmadja tidak ada bodyguard atau asisten atau pekerja jika dia sudah merasa dekat dan baik hati.
"Violetta Andjani Atmadja!" panggil seorang petugas pengadilan yang menandakan bahwa kasusnya sudah akan dimulai.
"Saya!" kemudian Vio masuk ke dalam ruangan dimana begitu dia masuk ke dalam dia melihat wajah-wajah para musuhnya. Kedua tangannya mengepal marah. Hanya raut wajahnya yang dibuatnya santai. Dia tidak mau dituduh membuat spekulasi-spekulasi yang tidak jelas. Banyak wartawan di dalam ruangan maupun di luar ruangan tadi. Namun karena dijaga ketat oleh para pengawal keluarga Atmadja membuat para wartawan tidak bisa berkutik.
Di sana nampak ada wajah Prisa, Tuan Bastian juga Clara. Dan terakhir secara tidak sengaja dia bersitatap dengan Prayoga. Dimana Prayoga sebagai saksi. Mantan pacar onlinenya. Dia semakin sakit dan kecewa. Hal itu dapat dilihat dari sorot matanya Vio yang melihat Prayoga. Dengan wajah memelas dan terlihat polosnya itu menatap Vio. Mungkin di hati Prayoga dia masih mencintainya namun karena ulahnya dia merasa malu bersitatap dengan Violetta. Pandangan Prayoga perlahan menunduk. Hal itu dilihat oleh Vrish dari luar. Vrish sementara tidak masuk ke dalam ruangan karena dia hanya ingin menunggu kabarnya melalui pengacara keluarganya. Nanti saat ada panggilan untuknya baru dia akan masuk. Lalu Nyonya Atmadja juga Ranti masuk berjalan di belakang Vio.
"Silahkan duduk, nona Atmadja" perintah seorang petugas.
Setelah beberapa jam sidang kasusnya, akhirnya Vio keluar bersama mami juga Ranti.
"Bagaimana perasaanmu sekarang?" tanya Vrish yang sedari tadi melihat raut wajah kekasihnya itu yang tampak sangat tenang semenjak sidang dimulai. Sebenarnya Vrishlah yang menyerahkan segala bukti dia yang mengurus persidangan ini agar cepat selesai. Sebenarnya dia tahu hasilnya karena pengacaranya Vio adalah teman baik dari Vrish. Dan semua berjalan seperti yang dia kehendaki. Dalam kasus itu semua menjadi panjang dan merembet kepada kasus Tuan Bastian. Tuan Bastian dijatuhi hukuman berlapis atas kasus penggelapan uang dan kasus percobaan pembunuhan berencana meskipun dia hanya membantu putrinya.
Untuk Clara si nenek sihir itu dijatuhi hukuman yang setimpal sesuai perbuatannya. Sedangkan Prisa dijatuhi hukuman ringan karena sudah membantu terbongkarnya kedok keluarga Bastian. Dari terbongkarnya kejahatan Tuan Bastian itu merembet ke tantenya Vrish. Tante Lisa. Tante Lisa juga turut membantu kejahatan Tuan Bastian selama ini dalam penggelapan uang. Juga karena Vrish sudah menemukan bukti dari mantan karyawan perusahaannya yang diluar negeri beberapa tahun igu yang dihukum oleh Vrish sudah membongkar semua kedok tantenya. Berdalih sayang terhadap Vrish karena Vrishlah yang akan mewarisi seluruh harta papanya Vrish itu maka tante Lisa gelap mata dan dendam. Apalagi saat mamanya Vrish masih hidup pernah menyinggung pada tante Lisa bahw mama Vrish telah tidak sengaja melihat tante Lisa membubuhkan racun pada minuman suaminya itu. Hingga tante Lisa itu membuat sebuah kecelakaan yang tragis pada mama Vrish. Dan papa Vrish sangat mempercayai Lisa adiknya itu.
Kini Vrish menampilkan senyum miringnya merasa puas. Awalnya sidang itu berjalan alot karena menyangkut tantenya yanh selalu berdalih dan membuat banyak alibi yang tidak masuk akal. Namun semenjak Vrish disuruh masuk ke ruang sidang itu, semua bukti terpampang di sana dengan sangat jelas. Tante Lisa tidak mampu berkutik lagi.
"Kau anak tidak tahu balas budi. Kau tega menjebloskan tante ke penjara. Kau sudah hebat sekarang. Kalau bukan karena tante, kau tidak akan tumbuh sehebat ini" teriak tante Lisa yang kini ikut menjadi tersangka.
"Aku tahu tante membentukku sehebat ini hanya untuk memanfaatkanku bukan? Sangat disayangkan bahwa tante orang yang sangat aku sayangi sudah berkhianat pada keluarga tante sendiri. Papa akan kecewa mendengar hal ini" ujar Vrish dengan tenang dengan gaya kedua tangannya dimasukkan pada kedua saku celananya. Dia memang tidak memberitahu papanya tentang kasus ini. Namun dia akan berencana memberitahukan papanya sepulang dari persidangan ini. Lalu dia melihat tante Lisa beserta antek-anteknya dibawa para polisi.
"Kau tega padaku Vrish!" teriak Clara. Hal ini menjadi tontonan semua orang. Vio yang melihat itu hanya berdiri diam menyaksikan kejadian hari ini. Hatinya merasa lega. Dan dia merasa kasihan pada Vrish karena tante yang harusnya memberikan kasih sayangnya tulus itu mengkhianatinya. Memang pengkhianatan yang paling menyakitkan adalah pengkhianatan yang dilakukan oleh orang terdekat kita. Apalagi orang itu sangat kita sayangi.
__ADS_1
"Cuih!" Clara meludah ke arah Vio yang berada di belakang Clara. Beruntung Vio terhindarkan karena dihalangi oleh Prayoga. Vio yang melihat itu hatinya menjadi tersentuh. Namun, hatinya sudah terlanjur sakit. Akibat ulahnya yang tidak bertanggung jawab, dia menjadi korban penculikan oleh anak buahnya yang diperalat Clara.
"Maafkan aku, Vi. Aku sudah melakukan banyak kesalahan padamu. Karena kebodohanku keteledoranku kamu menjadi korban penculikan itu. Tolong maafkan aku" pinta Prayoga dengan wajah sendu memelasnya.
Vio yang mendapati tatapan wajah Prayoga pacar onlinenya itu dilihatnya masih sama seperti dulu beberapa tahun yang lalu melalui video call. Hanya hatinya kini sudah mati untuk Prayoga. Dan jauh di lubuk hatinya dia sudah tidak mempermasalahkan kesalahannya. Karena Vio tahu ini semua bukan murni kesalahannya. Jika dia tahu bahwa yang menjadi incarannya waktu itu adalah dirinya maka Payoga tidak akan melakukan kejahatan itu. Vio menunduk dan berbalik berjalan ke arah maminya juga Ranti. Kini Prayoga harus mempertanggungjawabkan segala perbuatannya atas kasusnya yang lain. Vrish yang melihat kekasihnya berjalan ke arah maminya itu menunduk dan menitikkan air matanya yang lalu dengan segera diusapnya dengan menampilkan senyuman indah pada mami juga sahabatnya itu. Kemudian Vrish berjalan menghampiri Clara.
"Kau sudah menyentuh cintaku dan menyakitinya. Kau harus dihukum seberat-beratnya!" jawab Vrish singkat. Kemudian Clara digiring oleh para petugas.
Lalu Vrish menghampiri Vio dan meraih tangan Vio untuk segera meninggalkan tempat itu.
"Vi!" panggil Prisa. Vio menoleh dan berhenti.
"Vi, aku minta maaf padamu. Tolong maafkan aku, Vi. Aku menyesal. Aku telah gelap mata" ucapan Prisa itu mendapatkan sorotan tajam dari Ranti. Lalu Prisa beralih pada Vrish.
"Vrish, maafkan aku. Aku memang bukan pacar online yang baik bagimu. Ternyata Allah menakdirkan pacar online yang tertukar yang jauh lebih baik. Semoga kalian menjadi pasangan yang bahagia" lalu Prisa digelendeng oleh para petugas.
"Alhamdulillah semua sudah berakhir, nona muda. Inilah waktunya nona bisa merasakan hidup bebas bahagia bersama Re" ujar Ranti menghampiri Vio juga Vrish.
"Kau tidak usah mengikuti kami!" teriak Vrish.
"Hei tuan! Akan kau bawa kemana nona mudaku?" teriak Ranti kesal pada Vrish.
"Sudah ayo ikut mereka dari belakang" sahut maminya Vio.
"Ayo Monti kita jalan" ucapnya pada Monti yang sudah menunggu dari tadi.
Nah ini penampakan Tante Lisa ya gaesss😋
Yuukk readers dukung Author yah
Supaya tetep semangat mengetik dan berpikirnya 🥰🤗
__ADS_1
Happy Reading Readers🤗😘😘