
Sampai malam hari kedua sejoli Dirga dan Senja belum juga pulang. Mereka masih betah berlama-lama di tempat favorit mereka. Lagipula nenek Fatma juga tidak menelepon, itu artinya Wulan baik-baik saja.
"Sudah malam, Senja. Kau tidak pulang?" Karena sudah semakin larut Dirga berusaha mengingatkan. Tentu bukan karena di sudah bosan bersama Senja, tapi lebih karena memikirkan kondisi Wulan. Dirga khawatir perempuan itu cemas menanti Senja.
"Sebentar lagi, masih ada yang ingin ku lakukan."
"Apa itu? "
Bukannya menjawab, Senja yang sedang bersandar di lengan Dirga malah beranjak. Gadis itu berjalan beberapa langkah ke depan mendekati bibir pantai.
Dirga yang penasaran ikut bangkit menyusul Senja.
"Aku ingin bicara dengan ayahku. Ada yang harus ku sampaikan. "
Dirga reflek mengerutkan keningnya. Bicara dengan Bayu samudra, bagaimana caranya?bukankah makhluk itu sedang tidak ada di dunia manusia? kurang lebih itulah yang ada di pikiran Dirga.
"Maksudmu kau akan ke dasar laut untuk menemui ayahmu? "
Senja tersenyum mendengar kalimat Dirga yang menurutnya sedikit konyol. Gadis itu menoleh pada pria tampan di sampingnya lalu kemudian menggeleng.
"Aku bisa bicara dengan ayahku tanpa harus bertemu? "
"Benarkah, bagaimana caranya. Apa pakai telefon, tidak mungkin kan? "
Lagi, kalimat Dirga membuat Senja tersenyum bahkan kali ini lebih lebar.
"Di tempat ayahku tidak ada ponsel, Sayang. Kalaupun ada pasti tidak akan jaringan." Senja menjawab sambil mendudukan badannya di atas pasir lalu kemudian mengatupkan tangannya di depan dada. Sementara Dirga hanya memperhatikan dengan pandangan yang makin heran.
Sebenarnya wajar saja kalau Dirga heran, Dia kan memang tidak tahu bagaiamana caranya Senja bisa berkomunikasi dengan ayahnya tanpa harus bertemu. Kalau di dunia manusia ada ponsel yang menjadi alat komunikasi jarak jauh. Tapi kalau di dunia antah barantah, Dirga sama sekali tidak tahu.
"Apa yang mau kau lakukan, Senja? " Pria rupawan bak titisan dewa terus saja penasaran. Terlebih melihat Senja yang mulai memejamkan matanya. Persis seperti orang sedang bersemedi yang pernah ia ketahui di layar kaca.
"Telepati. Aku akan bicara dengan ayahku dengan cara ini."
"Telepati? " ulang Dirga. Seperti pernah mendengar kata itu.
"Hmm. Aku harus fokus, Dirga ... jadi sebelum aku selesai kau tidak boleh menggangguku. Bahkan tidak boleh mengajakku bicara. "
Dirga menggut-manggut mendengar arahan Senja. Satu lagi kejadian aneh dan tak masuk akal akan kembali di lihatnya.
"Ayah, Ayah.. "
Gadis bernetra merah mulai bicara.
"Kau bisa mendengarku? "
"Ya, Senja." Kali ini Bayu dapat langsung merespon panggilan putrinya
"Ibu sudah semakin parah, Ayah. Tidak bisakah Ayah pulang sekarang? "
"Tapi ini belum waktunya, Nak. "
"Aku tahu, Ayah. Tapi ini darurat. Ibu sudah semakin parah. Dia bahkan sudah kehilangan semangat hidupnya. Dia hanya ingin Ayah. " Suara Senja mulai bergetar. Sesak rasanya mengingat kondisi ibunya.
Bayu tak menjawab. Seperti bingung harus menjawab apa. Seandainya Senja dan Wulan tahu betapa makhluk itu juga ingin cepat-cepat menyudahi semedi panjangnya.
"Dan satu lagi, Ayah. Aku akan segera menikah."
"Benarkah?" Hampir tak percaya Bayu mendengar kabar baik itu. Ternyata Dirga benar-benar membuktikan cintanya.
"Iya, Ayah. Apakah ayah tidak ingin mengantarku berjalan di altar? Aku ingin ayah bisa menyaksikan langsung pernikahanku. Aku ingin Ayah ada di hari bahagiaku." Tangis Senja tak terbendung. Tak di pungkiri, ia juga sangat rindu pada Ayahnya. Terlebih dalam kondisi seperti ini.
"Ayah ikut senang untukmu, Nak. Tapi---"
__ADS_1
"Ayah aku mohon pulanglah, sebentar saja." Tak memberi kesempatan ayahnya menolak, Senja buru-buru memenggal ucapan sang Ayah.
"Lihat ibu dan hadiri pernikahan ku. Aku mohon, Ayah.. " Masih dengan isak tangisnya, gadis pemilik iris merah mengungkapkan permohonannya. Permohonan terbesar untuk ayahnya yang sekarang entah berada di sana.
"Ayah, Ayah.. " Panggil Senja karena ayahnya tak lagi bersuara.
"Kalau Ayah masih bisa mendengarku. Aku mohon pulanglah demi aku dan juga ibu. "
Usai mengatakan itu. Senja menghela nafas dalam-dalam lalu perlahan mulai membuka netranya. Ia kemudian menoleh ke samping kanannya. Di tempat pria berahang kokoh tengah fokus memperhatikannya dengan pandangan penuh tanya. Senja bicara dan menangis sendiri. Demi Tuhan Dirga heran melihatnya.
"Kau sudah siap? " tanyanya karena Senja sudah menoleh padanya.
Gadis itu hanya mengangguk.
"Aku tidak bisa mendengar suara ayahmu. Apa hanya kau yang bisa mendengarnya? "
Kembali Senja mengangguk.
"Lalu kenapa kau menangis, Senja. Apa ayahmu tidak bisa pulang? "
"Entahlah, Ayah bilang belum waktunya. "
"Apa itu berarti kita masih harus menunggu?"
"Mungkin, kenapa, apa kau sudah lelah menunggu? " Senja beranjak sembari menghapus sisa air matanya. Ia benar-benar tak tahu lagi harus berbuat apa sekarang.
"Tidak bukan begitu. Aku hanya kasihan pada ibumu. Bukankah kau bilang hanya ayahmu yang bisa menyembuhkan ibumu? " Dirga mendekati gadis bernetra merah dan membantunya berdiri. Cukup iba juga melihat gadis itu bicara sambil menangis tadi.
"Ya begitulah. Sayangnya ayah belum bisa pulang. " Raut wajah Senja kembali Sendu mengingat bagaimana nasib sang ibu kedepannya.
Dirga yang tak tahu harus berkata apa hanya bisa mensuport dengan mengusap lembut kepala Senja. Kepala yang sedang di penuhi beban pikiran cukup berat.
"Aku harus pulang sekarang. Sudah terlalu malam. Takut ibu menunggu. " Senja menyambar tasnya yang tergeletak di kursi di bawah pohon nyiur. Meski sebenarnya masih ingin bersama Dirga tapi gadis itu teringat kondisi ibunya di rumah.
Keduanya berjalan beriringan menuju area parkir.
Namun di tengah perjalanan, langkah Senja di buat berhenti mendadak karena ucapan Dirga.
"Eum boleh aku menginap di rumahmu, Senja?"
"Hah? " Senja membulatkan matanya sambil menatap Dirga.
"Apa aku tidak salah dengar, kau mau menginap di rumahku? "
"Yah, aku ingin menjenguk ibumu, sekaligus ingin menemanimu menjaga ibu. Boleh kan? "
Senja menggaruk-garuk kepalanya. Bingung harus menjawab apa. Seumur hidup tidak pernah ada satupun pria yang pernah menginap di rumahnya. Tapi pria ini---
"Boleh tidak? " Dirga mengulang pertanyaannya karena melihat Senja yang justru terdiam. Sebenarnya ia ingin berkata ia, tapi apa ibu dan neneknya nanti akan setuju?
"Kita tanya ibu dan nenek dulu ya, aku takut mereka tidak setuju. "
Dirgantara langsung mengangguk. Benar, Senja masih tinggal bersama orang taunya, jadi mau tidak mau dia juga harus meminta izin dari mereka.
Tiba di rumah keduanya sudah hampir pukul sebelas malam. Nenek yang membukakan pintu.
"Maaf, Nek. Aku terlambat pulang." Gadis itu tertunduk merasa bersalah karena harus membangunkan neneknya malam-malam begini.
"Tidak apa, masuklah lalu istirahat. Sudah malam."
Senja mengangguk mengiyakan permintaan neneknya.
"Tapi aku tidak sendirian, Nek. Ada Dirga juga ... Eum Dirga ingin meningap di rumah kita, apa boleh? " Senja bertanya hati-hati, takut Neneknya menolak. Karena di tempatnya memang tidak lazim pria menginap di rumah gadis sedangkan mereka belum menikah.
__ADS_1
"Iya, Nek. Aku ingin sekalian menjenguk bibi Wulan. "
Nenek Fatma tersenyum simpul. Meski tahu bukan hanya itu tujuan Dirga. Tapi wanita tua itu cukup bisa memaklumi.
"Wulan sudah tidur. Tapi kalau kau memang ingin meningap silahkan saja. Yang penting tahu batasan. "
"Tentu, Nek. Aku akan tidur di sofa. " faham apa yang di maksud nenek, Dirga langsung mengangguk.
Ketiganya kalau masuk ke dalam rumah.
"Apa ibu tidak bangun sejak sore tadi, Nenek? " tanya Senja sambil berjalan.
"Menjelang petang tadi ibumu bangun. Tapi sepertinya sekarang sudah tidur lagi. "
Untuk memastikan ucapan neneknya, Senja dan Dirga melihat langsung ke bilik ibunya. Dan benar saja, perempuan paruh baya itu sudah terlelap.
Senja akhirnya menutup kembali kamar ibunya. Ia menemani Dirga sebentar di ruang tengah kalau kemudian naik ke kamarnya untuk beristirahat karena malam memang sudah cukup larut.
Senja fikir ia akan langsung bisa terlelap. Namun sampai lewat tengah malam, gadis itu masih terjaga. Netranya sulit terpejam. Mungkin karena banyaknya pikiran yang mengganggu nya atau karena ada pria tampan sendirian di ruang tengah rumahnya, entahlah.
Yang jelas karena tak bisa tidur Senja memutuskan untuk turun melihat Dirga yang tengah berbaring di sofa.
"Hey belum tidur? " terkejut pria itu melihat Senja tahu-tahu sudah ada di sampingnya. Pria itu masih menonton televisi karena dia sendiri pun tak bisa tertidur.
"Aku tidak bisa tidur, " jawab Senja lirih.
"Kenapa, karena ada aku disini? "
"Mungkin." Godaan pria bermata tajam itu di jawab Senja dengan anggukan kepala. Tak segan mengakui karena memang begitulah adanya. Selain ibunya. Keberadaan Dirga saat inilah yang membuat mata nya enggan terpejam.
"Kemarilah, temani aku nonton. " Dirga yang sedang berbaring langsung merubah posisinya menjadi duduk. Sejujurnya sejak tadi pria itu juga sangat suntuk. Ia ingin memanggil Senja tapi takut ketahuan nenek. Seandainya ia bisa ingin rasanya melakukan telepati supaya ruhnya bisa berpindah ke kamar Senja.
Beruntung gadis itu sekarang sudah ada di hadapannya. Jadi Dirga merasa sudah tidak perlu lagi ber-telepati seperti yang ada di pikiran konyolnya.
Senja mendekat lalu duduk tepat di samping pria itu dan tangan Dirga bergerak cepat dengan merangkul pundak senja untuk bersandar di lengannya. Posisi mereka saat ini menjadi duduk setengah berbaring.
"Nenek mu sudah tidur kan? " setelah beberapa saat menonton sambil sesekali berbincang, tiba-tiba Dirga menanyakan soal itu.
"Mungkin, kenapa? "
Pertanyaan yang mengundang senyum simpul dari sudut bibir Dirga.
"Tidak ada, "
Senja ikut tersenyum. Sedikit banyak ia sudah bisa menduga apa yang ada di pikiran pria tampan itu.
"Jangan tersenyum begitu, kau membuatku tidak tahan. "
"Tidak tahan kenapa? " Senja masih pura-pura tidak tahu.
Dirga menoleh kebelakang sambil celingukan memperhatikan sekeliling ruangan. Memastikan tidak ada makhluk lain yang sedang mengawasi pergerakan meraka.
Setelah merasa aman, pria itu kemudian mencuri satu ciuman dari pipi Senja.
"Aku ingin menciummu sejak tadi, tapi takut nenek atau ibumu melihat. "
"Mereka sudah tidur, " bisik Senja sambil kembali tersenyum. Senyum yang membuat Dirga jadi menuntut lebih.
Tanpa ragu lagi dia langsung mengecup bibir Senja. Menyesapnya pelan namun penuh perasaan. Senja merespon balik. Ia juga menye*ap bibir Dirga membuat pria itu seperti melayang-layang karena ini untuk pertama kalinya gadis itu melakukan perlawanan.
Cukup lama bibir keduanya bertaut sebelum akhirnya ciuman Dirga turun ke leher. Agar semakin mempermudah aksinya, Dirga sengaja membaringkan Senja di sofa panjang itu.
Dia menyapu seluruh bagian leher itu dengan bibir dan juga lidahnya, bahkan sesekali benda bertekstur kenyal itu juga menggelitik rongga telinga Senja. Membuat si empunya telinga mulai menggeliat kan badannya.
__ADS_1
Dirga memang pria mesum yang tak kenal tempat. Ia tak peduli kalau sekarang sedang berada di rumah senja. Pria berdada bidang itu terus saja melanjutkan aksinya mencumbu gadis setengah manusia itu. Tanpa sadar kalau ada sepasang mata yang sedang memperhatikan mereka.