Pacarku Setengah Manusia

Pacarku Setengah Manusia
Selamat jalan, Ayah ... Ibu


__ADS_3

"Buu... " Senja menatap tubuh Wulan yang sudah terbujur kaku. Matanya terpejam sempurna. Kulitnya yang sepucat kapas menandakan tidak ada lagi aliran darah dalam tubuhnya.


Wulan menghembuskan nafas terakhirnya hari ini atau tengah malam tadi. Wanita itu sudah tak lagi kuasa melawan sakit dan energinya yang sudah terkuras habis. Setelah berjuang sekian lama, ia akhirnya sampai pada titik terakhir dalam hidupnya.


Air mata Senja mengalir deras menatap jasad orang yang sangat di kasihinya itu. orang yang paling mengerti dia. Orang yang selalu ada untuknya.


Nenek Fatma dan Dirga yang berdiri di sampingnya hanya mampu mengusap punggung gadis itu, untuk sekedar memberi Senja kekuatan. Mereka membiarkan gadis itu menumpahkan segala kesedihannya karena mereka juga merasakan hal yang sama.


Bayu samudra yang ternyata masih berada di sisi Wulan sampai ajal menjemputnya juga tak bisa berkata banyak. Mereka semua larut dalam kedukaan yang mendalam.


Bayu meski dalam keadaan sakit yang luar biasa tetap setia menunggu sang istri hingga akhir hayatnya. Seharusnya makhluk itu sudah kembali ke asalnya untuk melanjutkan semedinya. Namun ia berubah pikiran. Ia ingin menunggu Wulan hingga detik terakhirnya. Kendati untuk itu ia harus menahan sakit yang luar biasa.


Bagi Bayu percuma saja dia melanjutkan semedinya kalau pada akhirnya Wulan tetap akan pergi juga. Toh setelah Wulan pergi dia juga sudah tidak lagi bisa berada di dunia manusia. Kecuali dia mencari energi dari pasangan baru. Tapi sumpah demi apapun Bayu tidak ingin melakukan itu. Cintanya hanya untuk Nawang Wulan dan tidak akan ia bagi dengan siapapun atau makhluk dari jenis apapun.


Bayu juga tak lagi segan menunjukan wajah aslinya di depan semua orang. Wajah pucat pasi dan mata merah nya tak lagi ia sembunyikan. Toh semua orang juga sudah tahu siapa dia sebenarnya


Sesaat lagi, jenazah Wulan akan di masuk kan ke dalam peti mati untuk kemudian di kremasi. Senja memegang tubuh dingin itu untuk terakhir kalinya.


"Selamat jalan, Bu. Berbahagialah di sana." Lirih gadis itu dengan air mata yang terus menggenang. Berat. Berat sekali rasanya melepaskan ibundanya pergi untuk selamanya.


Wajah wajah duka jelas tergambar disana. Orang-orang yang mengenal ataupun dekat dengan Wulan turut serta memberi penghormatan terakhir untuk wanita berhati lembut itu.


Bayu memegang erat tangan Senja yang terasa sangat lemas. Ia berusaha menguatkan putrinya


"Tenanglah, Nak. Ibumu akan tetap bahagia disana." Bayu samudra paham betul bagaimana kesedihan putrinya. Ia sendiri juga merasa cukup sedih karena sebentar lagi juga akan berpisah dengan putri tercintanya.

__ADS_1


Pukul dua belas tiga puluh atau dua belas jam setelah Wulan meninggal. Jenazahnya akhirnya di bawa ke ruang khusus untuk di kremasi. Di bawah tatapan pilu orang-orang yang menyayanginya. Wanita itu pergi meninggalkan kediaman nya atau lebih tepatnya meninggalkan dunianya.


Dan malam harinya, di temani suami dan juga ayahnya, Senja menaburkan abu dari jasad Wulan ke laut lepas. Sesuai permintaan Wulan, ia ingin abu jenazahnya di tabur ke lautan lepas. Laut tempat pertama kali ia bertemu dengan suaminya. Wanita itu ingin laut juga menjadi peristirahatan terakhirnya.


"Selamat, Jalan Ibu. " Sekali lagi Senja mengucapkan kalimat perpisahan itu dengan lelehan bening yang kembali tumpah.


Sesaat setelah Senja menaburkan abu jasad Wulan, Bayu samudra pun pamit undur diri dari hadapan anak dan menantunya.


"Orang yang paling Ayah sayang sudah pergi, Nak. Jadi Ayah juga harus pergi. Sudah tidak ada lagi kekuatan Ayah untuk berada di sini." Kalimat itu ia ucapkan dengan gemetar. Kesedihan yang mendalam tak bisa di sembunyikan nya.


"Ayaah.. " Senja memeluk erat makhluk itu. Tangisannya pecah tak terbendung. Dalam waktu yang bersamaan dia harus kehilangan dua orang yang sangat berarti dalam hidupnya.


Dirga pun melakukan hal yang sama. Dia memeluk Bayu samudra sambil menangis. Sungguh sebuah kisah pilu yang harus di jalani oleh Bayu dan Wulan.


Ketiganya berpelukan erat sambil menangis. Percayalah, jika ada satu hal yang paling menyakitkan dalam hidup, itu pasti saat kita kehilangan orang-orang yang tersayang.


Bayu mengangguk sambil melepaskan pelukannya.


"Jaga Senja baik-baik. Kalian harus hidup bahagia." Bayu menepuk-nepuk pundak Dirga.


"Baik, Ayah, " jawabnya sambil menahan tangis.


Bayu samudra kemudian mengecup kening Senja sambil memeluknya sekali lagi.


"Hiduplah dengan baik, Nak ... Kami akan tetap meyayangimu ... selalu. "

__ADS_1


Usai mengatakan itu Bayu kemudian berjalan pelan menerobos lautan. Meninggalkan dunia yang sudah mempertemukannya dengan pasangan sejatinya.


Saat badannya sudah terendam sebatas perut. Makhluk itu menoleh pada anak dan menantunya. Ia kemudian melambaikan tangannya sebagai tanda perpisahan untuk yang terakhir kalinya sebelum akhirnya wujudnya menghilang di telan lautan.


"Ayah.. " lirih Senja menyaksikan Ayahnya benar-benar sudah menghilang. Di sampingnya Dirga hanya mampu memeluknya sambil mengusap puncak kepala gadis itu


EPILOG


Senja dan kedua anaknya menaburkan bunga-bunga segar ke lautan lepas. Beberapa meter dari tempatnya, sang suami memperhatikan mereka sambil tersenyum.


Hari ini adalah tahun ke delapan semenjak kepergian Wulan dan Bayu. Setiap tahun tepat di tanggal kematian Wulan, Senja dan anak-anak nya pasti akan melakukan ritual menabur bunga di lautan. Senja menganggap laut adalah makam ibu dan juga Ayahnya. Sebab itulah ia selalu melakukan hal itu sebagai bentuk penghormatan kepada kedua orang tuanya.


Biasanya setelah mereka menabur bunga, tak lama kemudian mereka akan melihat penampakan Wulan dan Bayu di tengah lautan. Keduanya seolah menyambut kedatangan anak dan cucu mereka.


Di tempat ini, di tanah kelahiran Senja. Kisah tentang Bayu dan Wulan menjadi legenda turun temurun yang terus di ceritakan. Bahwasanya tempat ini pernah menjadi saksi dua makhluk berbeda dunia yang saling menyinta. Kisah Bayu dan Wulan juga membuktikan kalau cinta sejati itu memang benar-benar ada. Dan Senja adalah bukti nyata dari kisah itu.


Senja Wulan samudra, makhluk setengah manusia yang kini sudah bertransformasi menjadi manusia seutuhnya merasa cukup bangga bisa menjadi bagian dari kisah itu. Kelak ia juga akan membagikan kisah itu pada putra-putrinya.


"Ibu, lihatlah Nenek dan Kakek sudah datang." Putri bungsu Senja yang berumur tiga tahun menunjuk ke tengah lautan. Senja dan putra sulungnya mengikuti arah telunjuk gadis itu dan mendapati sosok Bayu dan Wulan sudah berada di tengah lautan. Keduanya melambaikan tangan sambil tersenyum pada Senja dan anak-anak nya.


Senja dan kedua buah hatinya ikut tersenyum dan melambaikan tangan. Tapi hanya Senja dan anak-anak nya yang bisa melihat penampakan itu. Dirgantara tidak. Namun meski begitu, pria itu tetap ikut tersenyum menyaksikan kebahagiaan anak dan istrinya yang bisa bertemu dengan kedua orang tua ataupun kakek dan neneknya.


Setiap orang tuanya muncul, Senja bisa melihat senyum lepas keduanya. Senja yakin disana mereka bahagia. Sama seperti kebahagiaan nya disini.


Dirgantara Noza Sanjaya benar-benar membuktikan ucapannya. Ia menepati janjinya dengan selalu berusaha membahagiakan dan memberi yang terbaik untuk anak dan istrinya.

__ADS_1


Untuk semua yang telah mereka lalui, pria itu juga membuktikan kalau cinta sejati itu memang benar-benar ada.


                END


__ADS_2